My Affair

My Affair
BAB 136



"Kamu juga sayang, udah mulai lagi ya, berani lawan aku" ujar Jero kepada Vian.


Jero menatap jahil ke wajah Vian. Dia ingin menggoda Vian dengan tatapannya. Jero sangat tahu kalau Vian tidak sanggup di tatap lama lama oleh Jero. Vian akan menjadi salah tingkah sendiri karena tatapan mata yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.


"Hahaha hahaha. Nggak sayang nggak. Aku lanjut masak dulu. Nanggung" ujar Vian yang langsung kembali berkutat dengan dapurnya.


Vian tidak ingin ke rumahnya diketahui oleh Bram Felik dan juga Tama. makanya Vian memutuskan untuk, melanjutkan acara masuknya yang hanya tinggal satu masakan lagi untuk menu makan malam mereka.


masakan terakhir yang akan dibuat oleh Vian merupakan masakan yang diminta oleh Jero dan menjadi pintu masuk oleh pihak untuk meminta perjalanan memakai kereta api menuju negara F dan negara G. Vian berencana untuk meminta terima kasih kepada sambel mangga saat dia nanti menikmati makan malamnya.


Jero melihat Vian sedang mengulek sambal mangga, Sampai diri dari tempat duduknya dan berjalan menuju Vian. Jero ingin melihat dari jarak dekat bagaimana cara Vian mengolah sambal mangga yang diinginkan oleh Jero sejak tadi.


Vyan yang sedang serius mengolah sambal mangga itu, menjadi kaget saat kedatangan Jero yang secara mendadak sudah berada di sisi sebelah kiri tubuhnya.


" Hai Sayang kenapa kamu mendadak datang dan sudah berada di sebelah kiri aku?" tanya Vian kepada Jero.


Vian lumayan kaget karena kedatangan Jero yang datang mendadak seperti itu. Vian sama sekali tidak menyangka kalau Jero akan datang melihat dirinya yang sedang mengolah sambal mangga yang diminta oleh Jero saat mereka berada di perusahaan tadi siang.


Jero tetap melihat ke arah Vian. Jero terus saja memperhatiakan apa yang dilakukan oleh Vian dalam proses pembuatan sambal mangga


" sayang kamu kenapa memperhatikan aku terus saja" kejar Vian yang sudah protes karena ulah Jero yang terus memperhatikan dirinya saat mengolah dan membuat sambal mangga yang diinginkan oleh Jero dan keluarga besarnya itu.


" sabar sayang, sambal mangga keinginan Sayang sedang diolah sayang" ucap Bram mulai menjahili Jero kembali.


"Haha haha haha. Bram Bram, lihat gaya lu ngomong persis banget sama Vian ngomong ke Jero. Manja manja gimana gitu" ujar Tama yang langsung ngakak saat mendengar Bagaimana cara bra mengatakan atau mengeluarkan kata-kata seperti cara Vian berbicara kepada Jero selama ini.


" eh Bang lu jangan salah sangka. lu udah pernah belum nengok gimana Kakak ipar gue kalau marah dan kesel sama Jero?" Ucap Bram yang kumat kelakuan usilnya untuk mengerjai Jero dan Vian yang sekarang sedang berada di dapur. Kesibukan mereka berdua sangat berbeda sekali. Satu sibuk mengulek sambal mangga sedangkan yang satu lagi sibuk melihat cara membuat sambal mangga.


" emang gimana kalau Vian marah?" ujar Tama Yang penasaran bagaimana keadaan saat Vian sedang marah kepada Jero.


Bram kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dia memasang ekspresi seperti orang yang sedang bingung untuk mengatakan Bagaimana keadaan yang terjadi kalau Vian sedang marah kepada Jero.


" segitu parahnya kalau Vian sedang marah?" ujar Tama yang mengambil kesimpulan sendiri dari ekspresi yang ditampilkan oleh peran kepada dirinya saat ini


" Yah memang seperti yang Abang pikirkan" bicara Bram yang sangat senang melihat tanah langsung mengerti dengan ekspresi yang diberikan oleh bank saat menjawab pertanyaan dari Tama tadi.


" sayang kita di gosipin mereka berdua" ujar Vian memberitahukan kepada Jero sambil berbisik kalau dia dan Jero sedang digosipkan oleh Bram dan Tama.


" biarin aja mereka gosipin kita berdua sayang. mereka sendirian capek. kita enjoy aja atau mereka memang sudah seperti itu terus" ujar Jero menjawab apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini kepada dirinya.


"haha haha haha. bener juga ya sayang biarin aja mereka gosipin kita berdua, yang capek mereka kok ya" ujar Vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya sebentar ini.


Bram dan Tama yang sama sekali tidak mendapatkan balasan dari Vian dan Jero atas apa yang mereka katakan berdua akhirnya memutuskan untuk diam saja. mereka kedua kemudian melanjutkan obrolan yang lain. sedangkan Felix yang tetap berada di tempat duduknya hanya diam saja melihat dan menyimak apa yang dilakukan oleh empat manusia yang berada di dekatnya saat ini. Felix sama sekali tidak berminat untuk membully atau ikut serta dengan apa yang dilakukan oleh Bram dan Tama terhadap Abang dan juga kakak iparnya itu.


" Yes. Akhirnya selesai" ujar Jero sambil mengangkat sambal mangga yang telah selesai dibuat oleh Vian.


ciri kematian membawa sambal mangga tersebut menuju meja makan. Vian, Felix, Bram dan Tama menyusul Jero yang telah duduk di kursi miliknya.


" kalian berdua masih ingin menyindir gue dan Vyan?" tanya Jero kepada Bram dan Tama yang tadi membicarakan mereka berdua.


Jero Berencana untuk mengerjai Bram dan juga Tama. Jero berencana untuk pura-pura melarang Bram dan Tama untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh Vian


Tetapi sebelum semua hal yang ada di dalam pikiran Jero itu terjadi. Vian sudah terlebih dahulu menginjak kaki Jero yang berada di bawah meja.Vian tidak suka ada keributan di atas meja saat mereka sedang makan atau baru akan mulai makan.


" apa saja yang main injak-injak kaki aku segala" kata merekJero yang protes kakinya diinjak oleh Vian dengan cukup keras saat dia akan mulai mengatakan kepada Bram dan Tama untuk tidak diizinkan makan malam bersama dengan mereka


" sengaja supaya kamu tidak bikin ulah dan membuat keributan di meja makan. Aku tidak suka karena itu" Jawab Vian sambil menetap ke arah Jero.


Jero sama sekali tidak menyangka kalau kakinya akan diinjak cukup keras oleh Vian, saat Jero berencana untuk mengerjaj Bram dan Tama.


Bram sudah terlihat ingin ketawa saat Jero mengatakan kalau kakinya sakit diinjak oleh Vian. Bram teringat dengan semua yang di dengar oleh Bram tentang apa yang dikatakan oleh Vian tadi. Vian sama sekali tidak ingin adanya keributan saat mereka makan malam sehingga Bram memutuskan untuk diam saja dan tidak jadi mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya dan juga tidak jadi tertawa saat melihat bagaimana lugonya Jero mengatakan kalau kakinya diinjak oleh Vian di bawah meja.


" udahlah Abang,Bram. Kapan makannya ini aku udah lapar" ujar Felix yang langsung saja mengambil nasi tanpa mendahulukan Jero untuk mengambil nasi tersebut terlebih dahulu.


" Oke kita makan" kata Jero yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Felix sebentar ini.


Mereka semua memang sudah sangat lapar karena seharian beraktivitas dan hanya menikmati makan siang saja tadi di perusahaan Jero tepat pada pukul setengah satu siang. Sekarang memang sudah selayaknya mereka untuk makan malam. Makanya Felix sudah tidak sabar lagi untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Vian di atas meja makan