My Affair

My Affair
BAB 23



"Felix, teruskan untuk menghabisi pelan pelan Alexsander Grup. Gue menunggu berita selanjutnya." ujar Jero dengan nada bahagia, karena Felix sudah berhasil melaksanakan satu tugasnya. Tugas penting yang sudah mulai dilaksanakan. Tugas yang pada akhirnya akan membuat semua orang akan mengenal siapa Jero sebenarnya. Peperangan yang sudah mulai dilontarkan oleh Jero yang selama ini selalu diam dan menerima dengan lapang dada, tetapi lama kelamaan menjadi dendam yang tidak bisa terelakkan lagi. Ibarat api dalam sekam yang siap melahap apapun yang masuk ke dalamnya.


"Jero, bagaimana kalau kita selesaikan masalah kapal dengan imigrasi ini, setelah itu baru kita lakukan target berikutnya. Nggak asik kalau main langsung habis." ujar Felix.


"Tapi loe yang minta supaya kita menghabisinya dengan cara pelan pelan. Kalau main langsung, mending gue hajar aja database perusahaan yang gampang gue tembus itu. Loe juga bisa ngerjainnya. Jero tapi loe ingin membuat semua ini menjadi luar biasa untuk mereka ingat. Gue hanya melakukan sesuai yang loe perintahkan. Kalau loe minta habisi, maka dengan secepat kilat akan gue habisi." lanjut Felix mengingatkan kalau Jerolah yang meminta dirinya untuk bekerja pelan pelan.


Jero terdiam, dia memang meminta Felix untuk melakukan semuanya dengan pelan pelan. Jero kemudian mengingat semua kejadian yang telah dialaminya selama ini. Kejadian pahit yang membuat dia hancur sehancur hancurnya sebagai seorang laki laki. Kejadian dimana semua luka itu tidak akan bisa diobati, walau pun dengan obat termahal di dunia sekalipun. Luka yang luar biasa membekasnya.


"Baik Felix, gue ikut dan kembali ke rencana semula." ujar Jero yang sudah kembali bisa menetralkan rasa marahnya.


Jero mematikan ponsel miliknya secara sepihak.


Setelah selesai menghubungi Felix, Jero berjalan keluar dari kamarnya yang terletak di belakang mansion, dia berjalan ke arah mansion utama, dia ingin memastikan keadaan Vian saat sekarang ini. Sebelum menuju mansion utama, Jero memastikan kalau mobil Juan Alexsander belum terparkir di garase. Setelah memastikan bahwa mobil Juan Alexsander tidak ada di garase barulah Jero masuk ke dalam mansion utama. Jero kemudian naik ke lantai dua mansion itu untuk menuju kamar Vian yang tadi ditinggalkannya tidak terkunci. Semua lampu yang ada di mansion sudah padam, hanya tinggal lampu ruang utama saja yang menyala.


"Sepertinya Tuan Muda itu tidak akan pulang malam ini, atau dia akan pulang dalam keadaan mabuk dan membawa wanita lain lagi." ujar Jero sambil melangkah ke kamar Vian.


Jero membuka pintu kamar Vian, dia melihat Vian masih tertidur. Jero kemudian menutup pintu kamar itu kembali. Jero hanya ingin memastikan kalau Vian dalam keadaan baik - baik saja, tidak memikirkan kejadian yang sudah terjadi berulang ulang kali.


Jero kemudian masuk ke dalam kamar. Jero menatap lama Vian dalam tidurnya. Jero memandang dan meresapi keberadaan Vian, dan mengingatnya dalam ingatan tajam Jero. Wanita yang selama ini di jaganya, tetapi hanya karena keserakahan orang tua untuk sukses di dunia bisnis, malah menikahkan anak tunggalnya dengan seorang pengusaha muda yang sama sekali tidak mencintai putri mereka, malahan selalu menghina dan menganiaya putri mereka.


" Tuan dan Nyonya Bramantya, kalian juga akan menanggung akibat dari semua perbuatan kalian kepada Vian. Saya berjanji akan membuat kalian bertekuk lutut di hadapan Vian, karena kesalahan yang telah kalian perbuat kepadanya." ujar Jero dengan nada pelan tetapi dingin. Siapapun yang melihat wajah Jero sekarang akan lari terbirit birit karena Jero sama sekali tidak menutupi kemarahannya.


Vian merasakan ada seseorang yang berada di dalam kamarnya. Vian terbangun, dia langsung berlari ke sudut ranjang, saat memastikan kalau yang berdiri itu adalah seorang laki - laki.


"Jangan, jangan tampar dan sakiti aku lagi. Kamu bunuh saja aku, aku sudah tidak kuat kamu siksa terus." ujar Vian setengah berteriak.


Jero naik ke atas ranjang Vian, dia sengaja tidak bersuara sama sekali. Vian semakin menjauh dari jangkauan Jero. Dia sangat takut dengan pria yang sekarang berada di dekatnya itu.


"Vian" panggil Jero dengan lembut.


Vian mendengar suara itu, tetapi dia masih tetap melekatkan lututnya ke dadanya. Nafas Vian masih terdengar memburu karena rasa takut yang amat sangat.


"Vian" panggil Jero sekali lagi.


"Jero" ujar Vian yang sudah bisa mengenali suara siapa itu.


"Iya" jawab Jero dengan lembut.


"Jero, takut" ujar Vian dalam pelukan Jero.


"Hay, hanya aku, kamu aman. Dia tidak ada di rumah. Sekarang kamu tidur lagi ya." ujar Jero sambil membaringkan Vian kembali ke ranjang besarnya itu.


Vian kemudian memejamkan mata indahnya. Nafasnya sudah kembali teratur. Jero melepaskan pelukannya dari Vian. Jero berdiri lama di dekat ranjang Vian, Jero tidak ingin lama lama memeluk Vian karena dia tau kalau nafsunya akan sangat liar pada malam hari. Jero ingin memiliki Vian seutuhnya saat mereka sudah dihalalkan. Bukan pada saat seperti sekarang ini.


Setelah memastikan keadaan Vian yang baik - baik saja, Jero kembali menutup pintu kamar itu. Dia kembali turun menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang mansion. Pada saat Jero mau turun itulah, terdengar bunyi pintu ruang utama di gedor dari luar. Jero melangkahkan kakinya menuju pintu utama, dia melihat Tuan Muda Juan Alexsander yang dalam keadaan mabuk sedang di papah oleh dua orang wanita yang berpenampilan luar biasa seksinya.


Jero menunggu sekali lagi, dia berada tepat di belakang pintu utama, dia ingin melihat siapa yang telah menggedor pintu rumah, apakah Tuan Muda yang sedang mabuk itu atau salah satu dari dua wanita yang seksi tersebut. Jero mulai berhitung, tepat pada angka tiga terdengar kembali gedoran yang cukup kuat, Jero melihat kalau yang menggedor adalah Tuan Muda yang dalam keadaan mabuk itu dan seperti sedang sekarat.


"Ada ternyata orang yang mabuk, kepalanya berada di gundukan empuk wanita, bisa menggedor pintu. Mabok apa loe bro, mabok pejunt." ujar Jero geleng geleng kepala melihat tingkah dari Tuan Muda yang sedang banyak masalah itu.


"Masalah sudahlah berat, eeeee elo enak enakan mabok sambil pulang bawa dua wanita. Dasar pria somplak loe." ujar Jero memaki maki Juan Alexsander dari balik pintu rumah.


Setelah puas memaki maki Juan Laexsander dari balik pintu, barulah Jero kemudian membukakan pintu ruang utama. Juan Alexsander yang melihat siapa yang membukakan dia pintu menatap lama Jero. Dia menatap Jero dari atas sampai ke bawah.


"Apa Bik Ina udah pakai celana panjang ya malam malam?" ujar Juan Alexsander berbicara sambil masih tidak mengangkat kepalanya dari tempat yang sangat empuk itu.


"Maaf Tuan, saya bukan Bik Ina" Ujar Jero yang luar biasa kesal saat dikira sebagai perempuan, apalagi Bik Ina yang usianya jauh di atas usia Jero.


"Bik Ina sudah tidur. Saya Jero, Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu? Apa Tuan Muda mau diantar ke kamar?" tanya Jero berbasa basi sambil menahan rasa mual dari perutnya saat mencium aroma alkoholll dari mulut Juan Alexsander.


Kalau mau mengikutkan kata hati dan egonya, Jero sangat luar biasa malas mengatakan hal yang ingin mengantarkan Tuan Muda Juan Alexsander ke dalam kamarnya, apalagi dalam keadaan mabuk dan juga telah siap menampar orang yang disayangi oleh Jero. Tambah lagi sekarang Tuan Muda itu sedang dibopong oleh dua wanita cantik dengan penampilan terlalu wow untuk dilihat.


"Tidak, saya tidak mau diantarkan lelaki kayak kau. Saya akan diantarkan oleh dua permaisuri saya ini. Mereka akan memberikan saya kehidupan yang sangat luar biasa nanti malam." ujar Juan Alexsander tertawa mengejek Jero. Juan menatap kedua wanita itu.


Kedua wanita menatap Juan sambil tersenyum. Mereka berdua memang akan memberikan pelayanan yang uwou kepada Juan malam ini. Demi cuan cuan yang akan mengisi dompet dan rekening mereka. Mereka sangat tau dan hafal kalau seorang Juan Alexsander akan memberikan uang bayaran yang lebih dan sangat besar, kalau mereka bisa melayani semua permintaan gilanya selama di ranjang.


"Hahahahahahahaha"


Juan Alexsander kemudian pergi dari hadapan Jero dengan tertawa terbahak bahak. Juan sudah berhasil menghina Jero untuk malam ini. Jero menatap kepergian Tuan Muda yang luar biasa sombong itu.


"Elo akan terima akibatnya Juan Alexsander. Elo sudah merebut apa yang bukan menjadi hak loe. Gue akan datang dan menghancurkan semuanya. Tunggu saat itu datang Juan Alexsander. Tunggulah saat itu." ujar Jero sambil menatap dingin punggung Juan Alexsander, seorang penguasa dari negara I. Seorang pengusaha muda yang diperhitungkan sepak terjangnya di dunia bisnis.