My Affair

My Affair
BAB 38



Jero sore hari selepas beristirahat pergi keluar kamar. Dia berencana akan membersihkan mobil yang sering dipakainya untuk mengantarkan Vian ke rumah sakit. Jero sudah mengambil slang panjang dan juga sabun untuk mencuci mobil itu.


Dret dret dret ponsel milik Jeri bergetar dengan kencang. Jero merogoh saku celananya, dia melihat nama Felix muncul di layar ponsel miliknya.


"Ngapain ni anak nelpon, apa ada yang penting?" ujar Jero bertanya tanya kenapa Felix bisa menghubunginya. Kebiasaan Felix dan Bram, akan menghubungi Jero tanpa diminta karena ada sesuatu yang genting telah terjadi.


Jero kemudin mengangkat panggilan dari Felix.


"Hallo Felix, ada apa?" ujar Jero sambil berjalan menjauh dari mansion Juan Alexsander. Jero terus berjalan keluar dari mansion.


"Loe dimana Jero?" ujar Felix balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Jero.


"Gue yang nanyak duluan, elo balik nanyak ke gue. " ujar Jero dengan kesal saat dia bertanya Felix malah balik bertanya. Jero sangat tidak suka akan hal seperti itu. Bagi Jero, pertanyaan dijawab, bukan dijawab dengan pertanyaan lagi.


"Sorry Jero. Gue bukan bermaksud buat loe kesal. Tapi tolong jawab pertanyaan gue terlebih dahulu, loe sedang dimana?" tanya Felix kekeh pertanyaannya harus di jawab oleh Jero terlebih dahulu.


"Gue sedang jalan dari mansion menuju tukang jual nasi goreng gerobakan. Puas loe!!" ujar Jero memberitahukan kepada Felix dimana posisi dia saat sekarang.


"Jadi ada apa Felix?" ujar Jero kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk Felix.


"Ini sudah ke dua kalinya gue bertanya hal yang sama ke elo Felix. Jangan sampai untuk yang ketiga kalinya. Bisa ngamuk gue ke elo. Elo tau kan, gue tidak suka mengulang pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Jadi, sekarang jawab pertanyaan gue!!" ujar Jero dengan penekanan setiap kata kata yang di keluarkan dari mulutnya yang seksi itu.


"Wow jangan marah marah Tuan Muda Jero." ujar Felix mulai bercanda dengan Jero.


"Tuan Muda Felix, kalau tidak ada yang penting gue bisa matikan panggilan ini. Anda pahamkan Tuan Muda Felix" ujar Jero yang sudah keluar sifat aslinya.


Felix harus berpikir ulang untuk tidak bercanda lagi dengan Jero. Kalau tidak alamat telpon akan diputus oleh Jero, dan Felix tidak akan bisa menghubungi Jero lagi, sampai Jero membuka blokir nomor Felix.


"Jadi, ada apa Felix?" ujar Jero dengan nada dingin.


Jero benar benar kesal dengan ulah Felix saat ini.


"Loe bawa ponsel satu lagi bukan?" tanya Felix kepada Jero.


"Ada, kenapa?" tanya Jero tidak mengerti dengan maksud Felix menanyakan apakah dia membawa ponselnya satu lagi atau tidak.


"Gue kirim sesuatu ke ponsel loe sekarang" ujar Felix.


Felix kemudian mengirimkan sebuah berita besar ke ponsel milik Jero. Jero langsung membuka pesan chat yang dikirim oleh Felix. Dua buah pesan dengan format yang berbeda. Satu dalam format video sedangkan yang satu lagi dalam format pdf.


Jero membuka yang berupa format video terlebih dahulu. Jero menonton video tersebut. Jero tersenyum bahagia melihat apa yang ditampilkan oleh berita gosip ternama tersebut.


Setelah selesai menonton pesan chat yang di kirim Felix berupa video, Jero kemudian membuka file dengan format pdf tersebut.


Jero membaca klipingan berita surat kabar nasional tersebut. Lima jenis surat kabar dari nama nama yang terkenal menampilkan berita yang luar biasa itu sebagai headline news mereka hari ini. Jero semakin tersenyum dan tertawa membaca berita tersetersebut, berita yang akan membuat nagari menjadi gempar.


"Bagaimana Jero?" tanya Felix kepada Jero.


Felix sudah bisa membayangkan ekspresi Jero saat ini. Ekspresi paling bahagia yang bisa di ekspresikan oleh Jero.


"Siapa pelakunya Felix?" ujar Jero bertanya kepada Felix.


"Gue sama sekali tidak meminta loe ataupun Bram untuk melakukan hal yang sangat besar ini." ujar Jero yang mengingat kalau dia memang sama sekali tidak meminta Felix dan Bram atau anggotanya yang lain melakukan tindakan se ekstrim ini.


"Bukan gue atau pun Bram, bahkan yang lainnya. Kami aja sama sama terkejut dengan elo" ujar Felix mengatakan kepada Jero kalau dia dan Bram tidak ada melakukan hal itu.


"Terus loe dapat dari mana semua berita yang akan membuat Tuan dan Nonya Besar Alexsander mati berdiri ini?" tanya Jero yang memang sangat penasaran dengan bagaimana cara Felix mendapatkan berita hangat tersebut.


"Jadi, tadi gue meeting dengan pimpinan grub Wijaya. Salah satu asisten mereka terlihat sibuk melihat sebuah video siaran langsung gosip bisnis televisi ternama. Dia kemudian memperlihatkan video tersebut kepada Presiden Direktur Wijaya Grub. Presiden Direktur tersebut tersenyum saat melihat video yang sedang tayang itu" ujar Felix menceritakan bagaimana dia sampai tau permasalahan Video tersebut bisa masuk ke akun gosip seputar pebisnis negara I.


"Jadi, pelakunya adalah Presiden Direktur Wijaya Grub?" tanya Jero kembali kepada Felix.


"Ya, mereka" jawab Felix dengan pasti.


"Dari mana elo tau kalau memang mereka pelakunya?" tanya Jero yang masih ragu kalau dalang di balik tersebarnya video itu di televisi dan media massa nasional adalah pekerjaan dari Presiden Direktur Wijaya Grub.


"Dia sendiri yang berbicara ke gue dan Bram saat meeting itu." ujar Felix menjawab kepada Jero.


"Wow ini makin seru. Apa menurut loe ada dendam pribadi atau dendam perusahaan? Setau gue tidak pernah ada kontrak kerjasama antara Alexsander Grub dengan Wijaya Grub" ujar Jero mengingat ingat kerjasama yang dilakukan oleh dua perusahaan besar itu.


"Bukan masalah kerjasama tapi ini adalah dendam pribadi Jero. " jawab Felix memberitahukan kepada Jero.


"Sepertinya semakin asik Felix. Apa gue bisa datang ke tempat loe sekarang? Capek telinga gue mendengar cerita loe" ujar Jero yang ingin langsung mendengar dari Felix bagaimana cerita sebenarnya yang terjadi.


"Bisa, loe langsung aja ke mansion. Gue dan Bram sudah di mansion. Tapi saran gue, loe ungsikan lah Vian dulu kemana. Sepertinya akan ada perang lanjutan yang terjadi di mansion itu" ujar Felix memberikan saran kepada Jero untuk mengantarkan Vian ke tempat yang aman.


Jero berpikir sesaat, kemaren saja masalah tidak serumit ini Vian tidak bisa makan malam. Apalagi kalau sudah sebesar ini. Dijamin Vian akan jadi tempat penampilan Juan Alexsander nantinya.


"Oke sip, gue akan mengantarkan Vian ke rumah sahabatnya Ranti. Setelah dari situ nanti gue akan langsung ke mansion." ujar Jero memberitahukan rencananya kepada Felix dan Bram.


"Oke. Sepertinya loe harus bertindak cepat. Gue takutnya nanti Juan Alexsander keburu pulang atau Tuan dan Nyonya itu yang duluan datang sebelum loe sempat membawa Vian pergi" ujar Felix meminta Jero untuk bertindak cepat menangani masalah Vian.


"Oke.Gue pulang dulu." ujar Jero dengan tergesa gesa kembali pulang ke mansion.


Jero berjalan cepat menuju mansion. Dia harus berkejaran dengan waktu dan amarah yang sebentar lagi akan meledak dari Tuan dan Nyonya besar Alexsander.


Jero sampai di mansion bertepatan dengan Vian yang baru saja turun dari lantai dua mansion. Vian berencana menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan yang sempat disimpannya di almari dapur.


Vian kemudian berjalan menuju Jero. Dia menynda niatnya untuk ke dapur mengambil cemilan yang diinginkannya.


"Ada apa Jer? Sepertinya luar biasa penting sekali?" tanya Vian sambil berdiri di sebelah Jero.


"Penting sekali" jawab Jero dengan nada serius.


Vian yang melihat Jero bersikap serius mengubah gaya berdirinya. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Vian menatap ke arah Jero dengan tatapan serius dan rasa ingin tahu yang sangat besar.


"Ada apa?" tanya Vian sekali lagi kepada Jero yang masih terdiam.


Jero memikirkan bagaimana cara dia memberitahukan kepada Vian. Tidak mungkin Jero memperlihatkan video yang dikirim. oleh Felix kepada dirinya dengan ponsel yang berbeda.


Saat Jero sedang panik memikirkan bagaimana cara memperlihatkan rekaman video dan juga potongan pdf majalah nasional itu, dua buah pesan chat dikirimkan oleh Felix memakai nomornya yang lain.


Felix melakukan hal itu karena tahu Jero tidak akan bisa berpikir sehat sore itu. Makanya Felix dan Bram memutuskan membantu Jero dengan cara tersebut.


"Ada apa?" ujar Vian sekali lagi dengan nada yang sudah tidak sabaran akan mendengar berita yang dibawa oleh Jero dari luar.


Jero kemudian mengambil ponselnya yang baru saja bergetar karena ada notifikasi pesan chat yang masuk. Jero membuka pesan itu dan memperlihatkan kepada Vian.


Vian ternganga melihat rekaman video itu. Ditambah dengan membaca potongan berita surat kabar yang isinya sama dengan rekaman video yang tersebar tersebut.


"Dari siapa kamu dapat Jero rekaman ini?" tanya Vian kepada Jero.


"Dari sopir mobil Tuan Presiden Direktur Wijaya Grub Vian" ujar Jero berbohong kepada Vian dari mana dia dapat. Padahal sebenarnya memang dari perusahaan Wijaya Grub.


"Aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak mau terlibat dalam masalah ini lagi. Cukup sudah semalam aku terlibat. Kali ini aku tidak mau terlibat lagi" ujar Vian dengan nada frustasi. Vian memang tidak ingin ikut campur lagi dalam masalah yang dibuat oleh Juan Alexsander.


"Aku ada ide, bagaimana kalau kamu mengatakan kepada Bik Ina kalau rumah sakit sedang butuh kamu. Terus kamu aku drop ke sebuah kamar hotel, atau tempat sahabat kamu" ujar Jero memberikan ide kepada Vian untuk pergi dari mansion dengan alasan ada panggilan mendadak dari rumah sakit.


Vian terlihat berpikir sesaat, ide itu dipikir oleh Vian sebagai ide yang sangat menarik. Vian sendiri tidak memiliki ide yang lain untuk bisa pergi dari mansion Juan Alexsander ini.


"Bagaimana Vian, kamu setuju atau tidak?" ujar Jero bertanya kepada Vian.


"Jangan pikir terlalu lama Vian. Kamu harus memutuskannya sekarang sebelum Tuan dan Nyonya besar datang serta Juan pulang dari perusahaan" ujar Jero memberitahukan kepada Vian kalau waktu mereka untuk pergi sangat mepet.


"Oke kita berangkat." ujar Vian.


"Kamu cari bik Ina, biar aku yang ambil tas dan juga ponsel kamu di kamar" ujar Jero membagi kerja antara dirinya dengan Vian.


Kalau Vian yang harus ke lantai dua pergi mengambil perlengkapannya akan membutuhkan waktu yang lama. Makanya Jero meminta Vian untuk pergi mencari Bik Ina ke bagian belakang rumah.


"Bik Ina, aku harus kembali ke rumah sakit. Ada operasi yang harus aku lakukan sekarang. Kalu nanti suami aku pulang tolong sampaikan. Aku juga sudah meninggalkan pesan melalui ponselnya" ujar Vian memberikan alasan yang logis dan masuk akal kepada Bik Ina.


"Baik Nyonya Muda, nanti akan saya sampaikan kepada Tuan Muda. Nona diantar oleh Jero bukan?" tanya Bik Ina memastikan Vian pergi ke rumah sakit diantar oleh Jero atau pergi sendiri.


"Saya diantar oleh Jero, Bik Ina. Nggak mungkin saya bawa mobil sendiri." jawab Vian kepada Bik Ina.


Jero yang sudah kembali dari mengambil barang barang Vian, mencari Vian ke bagian belakang mansion. Ternyata Vian sedang mengobrol dengan Bik Ina.


"Nyonya Muda, kita siap berangkat?" tanya Jero kepada Vian.


"Oke sip. Bik Ina, aku berangkat dulu ya. Jaga rumah baik baik. Jangan lupa sampaikan pesan aku nanti ya" ujar Vian berpamitan kepada Bik Ina.


Jero dan Vian kemudian masuk ke dalam mobil. Jero langsung menggeber laju mobil itu. Dia takut pas mobilnya keluar dari gerbang mansion, berselisih dengan mobil Juan Alexsander atau mobil Tuan dan Nyonya Besar Alexsander.


Untung saja saat itu mobil Jero tidak berselisih dengan salah satu dari dua mobil tersebut. Setelah berada agak jauh dari mansion, barulah Jero memelankan laju mobilnya.


"Kita kemana Vian?" tanya Jero yang masih tidak tahu akan membawa Vian kemana sore ini.


"Boleh aku minta sesuatu ke kamu?" tanya Vian menatap Jero dengan tatapan memohon.


Jero menjadi salah tingkah dibuatnya. Dia tidak. mungkin menolak permintaan Vian. Sedangkan di sisi lain, Jero ingin mengetahui kenapa Presiden Direktur Wijaya Grub berani melawan Alexsander Grub. Jero benar benar berada di persimpangan jalan.


"Jero" ujar Vian memanggil Jero agar kembali fokus dengan obrolan mereka.


"Iiii iya, apa yang mau kamu minta sayang?" ujar Jero yang sudah memutuskan semuanya dengan baik dan benar.


"Bagaimana kalau kita pergi ke hotel aja. Aku nggak mau berlama lama di rumah sakit. Aku juga malas ke sana" ujar Vian menyuarakan keinginannya.


"Oke, kamu aku antar ke sebuah hotel yang aman" uajr Jero yang akan mengantarkan Vian ke hotel. milik Bram. Salah satu hotel yang menjamin privasi pengunjung yang menginap.


"Tapi aku pengennya kamu juga tinggal di situ. Bukan aku saja. Kamu mau aku jadi gabut dan nggak jelas apa yang akan aku lakukan. " ujar Vian yang akhirnya mengatakan inti permasalahan kenapa dia memohon kepada Jero.


"Oke baiklah aku akan menemani dirimu di hotel itu. Mana mungkin aku akan membiarkan kamu sendirian di sana, sedangkan kamu membutuhkan aku" ujar Jero yang sudah mengambil keputusan yang menurutnua tepat untuk saat ini.


'Masalah yang lain besok saja gue temui Felix dan Bram' ujar Jero di dalam hatinya.


Jero kemudian membelokkan mobil masuk ke kawasan parkir area hotel. Jero memarkir mobilnya di tempat yang tidak terlihat dari jalan depan hotel.


Setelah memarkir mobilnya, Jero dan Vian kemudian masuk ke dalam hotel. Jero melakukan chek in seperti yang dilakukan oleh tamu hotel yang berkunjung.


Resepsionis menatap lama ke arah Jero. Jero mengangguk memberikan kode kepada resepsionis hotel. Resepsionis pun paham dengan kode yang diberikan oleh Jero.


Setelah melakukan prosesur chek in, Jero dan Vian langsung masuk ke dalam lift dan menuju kamar tempat mereka akan menghabiskan waktu malam ini. Menghabiskan waktu kabur untuk tidak melihat kejadian drama di mansion Juan Alexsander