
"Sayang, tapi kamu tadi ngomong kalau kamu males ke rumah sakit, karena ingin mencari semua file untuk mengurus perceraian, kenapa masih ngobrol di sini sayang?"
Jero mengingatkan Vian atas keinginannya untuk mencari semua file yang dibutuhkan oleh Vian untuk mengurus perceraiannya itu. Jero sangat sangat bersemangat supaya Vian bisa bercerai dengan Juan Aleksander. Jadi mau tidak mau pastinya Vian akan bisa menikah dengan dirinya dan semua keinginan Jero Asander akan terwujud.
Mereka berdua sekarang sedang duduk di taman belakang sambil menatap ke arah bunga bunga anggrek dan mawar yang menjadi koleksi Vian saat dirinya pindah dan tinggal di mansion utama keluarga Asander. Bunga bunga yang memang sengaja di beli oleh Vian untuk dirawatnya saat dia tidak diizinkan oleh Jero untuk bekerja kembali di rumah sakit. Tetapi sekarang dia sudah diizinkan oleh Jero untuk kembali bekerja, tetapi Vian sudah bertekad di dalam dirinya kalau dia tidak akan menyia nyiakan bunga bunga yang selama ini telah di rawat oleh Vian dengan segenap jiwa dan raganya. Sampai sampai saat mereka pergi liburan kemaren, Vian selalu bertanya kepada maid apakah sudah menyiram koleksinya atau belum, sampai dengan memberikan pupuk dan menyapu tempat itu saja masih di telpon oleh Vian, saking sayangnya Vian kepada tanaman yang sudah dengan susah payah ditanam oleh dirinya selama ini. Sehingga untuk memutuskan tidak merawat mereka lagi, merupakan sebuah keputusan terberat yang harus diambil oleh Vian.
"Bener juga ya sayang" jawab Vian yang baru ingat kalau dia tidak jadi bekerja di rumah sakit karena dia ingin mengumpulkan dokumen dokumen untuk perceraian dirinya dengan Juan Aleksander. Entah kenapa Vian bisa lupa dengan tujuan pertamanya itu, setelah semua drama yang terjadi di mansion besar Asander dalam beberapa hari ini. Drama yang sebenarnya terjadi itu hanya sebuah kegiatan yang sangat tidak dilakukan dengan niat hati mereka, tetapi hanya dilakukan karena kelucuan dari mereka masing masing.
"Tapi sayang, aku nggak tau dokumen apa yang harus aku serahkan sewaktu mengurus perceraian itu" ujar Vian yang kembali tidak bersemangat karena dia sama sekali tidak mengetahui apa dokumen yang harus diurusnya karena bagaimanapun juga Jero dan Vian sama sama belum pernah mengurus perceraian dan juga sama sekali belum pernah mencari tahu tentang bagaimana cara pengurusan untuk kasus perceraian.
Sehingga membuat mereka berdua sama sekali tidak mengetahui apa apa saja yang harus mereka persiapkan saat Vian melakukan pendaftaran ke pengadilan agama. Vian tidak mau langkah langkah dalam mengurus perceraian ini tidak berjalan dengan mulus. Vian ingin semuanya berakhir dalam waktu yang sangat singkat dan jelas juntrungannya, tidak harus memakan waktu yang sangat lama hanya untuk sebuah perceraian saja.
Jero terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Dia juga tidak mengetahui apa saja dokumen yang harus dikumpulkan oleh Vian sebagai dokumen dokumen pendukung pada saat Vian akan mendaftarkan gugatan perceraian pernikahannya dengan Juan Aleksander ke pengadilan agama. Jero menyesal kenapa selama ini dia tidak bertanya kepada Jeri atau minimal Jero langsung saja ke pengadilan agama untuk menanyakan tentang apa saja syarat yang harus dipenuhi dalam mengajukan perceraian seperti yang akan dilakukan oleh Vian dalam beberapa hari ke depan. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, pilihannya sekarang Jero harus merubah bubur itu menjadi bubur ayam yang lezat atau menjadikannya lontong supaya tidak terbuang percuma saja.
"Bener juga ya sayang. Apa yang mau kita kumpulin, kita aja nggak tau apa yang harus kita kumpulin" jawab Jero yang pada akhirnya sepakai dengan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Kok aku bisa sampai lupa ya sayang, harusnya aku bertanya kepada Jeri apa saja dokumen yang harus kamu siapkan. Mana ini sudah hari kelima dari Jeri pergi ke pengadilan, Bisa bisanya kita berdua tidak bertanya kepada Jeri dokumen apa saja yang harus kita siapkan untuk proses perceraian kamu dengan pria pewaris perusahaan dan juga kerajaan bisnis Aleksander grub tersebut" ujar Jero yang mengatakan pewaris perusahaan dan kerajaan bisnis Aleksander dengan nada yang sangat sinis dan terlihat dari raut wajah Jero yang menahan amarah dan kebenciannya saat menyebutkan nama keluarga yang paling dibencinya itu semasa hidupnya.
"Gimana kalau kita cari Jeri saja sayang?" ujar Vian yang kembali bersemangat untuk mengumpulkan dokumen dokumen perceraian itu dengan langkah pertama mencari dan menemui Jeri terlebih dahulu untuk menanyakan tentang dokumen dokumen yang harus dipersiapkan oleh Vian sebagai persyaratan dalam mengajukan permohonan perceraiannya terhadap Juan Aleksander.
Jero terdiam mendengar rencana Vian yang memilih untuk mencari Jeri dan menanyakan langsung kepada Jeri apa saja dokumen yang harus dikumpulkan oleh Vian. Jero memang sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Vian untuk mencari Jeri. Tetapi Jero lebih tau siapa Jeri, sehingga mau tidak mau Jero harus menghubungi Jeri terlebih dahulu sebelum Jero melakukan pencarian terhadap Jeri.
"Kok harus telpon dia sayang? Emangnya dia nggak di perusahaan utama?" ujar Vian yang sedikit heran saat mendengar Jero akan menelpon Jeri terlebih dahulu sebelum dirinya dan Vian bertemu dengan Jeri di suatu tempat.
"Ya memang harus di telpon sayang. Aku nggak bisa memastikan Jeri berada di perusahaan utama atau di gedung perusahaan kita yang lainnya. Jadi sebaiknya memang harus di telpon terlebih dahulu." ujar Jero yang sangat mengenal sahabatnya yang sama sekali tidak pernah berkantor tetap.
Jeri adalah tipe orang yang akan berkantor di mana saja sesuai dengan tempat yang diinginkan oleh dirinya. Sehingga di semua perusahaan Asander Grub, maupun JFB Grub selalu ada ruangan yang dikhususkan untuk Jeri. Minimal meja dan kursi dengan nama Jeri tertulis di papan nama yang tertera di sebuah meja. Hal seperti ini berlaku untuk anak cabang perusahaan, sedangkan untuk perusahaan utama akan selalu ada satu ruangan khusus untuk Jeri duduk dan bekerja.
"Jeri orang yang nggak bisa diam di satu tempat saja sayang. Jadi, kalau kita butuh dia, kita harus menelpon dia terlebih dahulu untuk menanyakan posisinya berada di mana sekarang" ujar Jero memberikan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya.
"Oh jadi dimana mana ada ruangannya sayang?" tanya Vian yang tidak menyangka kalau Jeri memiliki ruangan di setiap perusahaan utama dan anak cabang perusahaan. Sehingga mau tidak mau suka tidak suka, Jero memang harus menghubungi Jeri supaya tahu keberadaan Jeri sekarang berada di mana.
"Bener sayang, jadi aku harus menghubunginya terlebih dahulu. Kamu bersiap siap saja dulu di kamar ya. Nanti saat aku sudah mendapatkan posisinya dimana kita berdua langsung berangkat" ujar Jero berkata kepada Vian dan meminta Vian untuk bersiap siap saat dirinya akan menghubungi keberadaan Jeri dimana pada saat ini.
"Oke sayang. Nanti kalau sudah dapat kabar, kamu kasih tahu aku ya" ujar Vian yang sama sekali tidak menolak atau membantah apa yang dikatakan oleh Jero sebentar ini. Vian langsung menurut saja dengan ide dan juga apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.
Jero kemudian menghubungi Jeri. Jeri yang sedang rapat melihat layar ponselnya yang menyala dan melihat nama Jero terpampang di sana.
"Siapa Bang?" ujar Bram yang sekarang sedang duduk berbincang bincang dengan Jeri.
"Siapa lagi kalau bukan abang loe itu" ujar Jeri memberitahukan kepada Bram siapa yang sedang menghubunginya saat ini, saat dirinya sedang mengobrol serius dengan Bram dalam sebuah rencana untuk memajukan perusahaan yang sekarang di pegang kendalinya oleh Bram.