
Tuan besar Aleksander melihat istri dan anaknya sibuk mengemasi barang barang mereka. Mereka berdua sama sekali tidak melihat kepada Tuan besar Aleksander yang sedang berdiri di belakang mereka dengan wajah yang sudah memerah menahan rasa marah dan kecewa. Kekecewaan dari Tuan besar Aleksander ntah tertuju kepada dirinya ntah tertuju kepada mommy dan Jero. Tuan besar Aleksander sendiri tidak mengerti dengan keadaan dirinya sekarang ini. Tuan besar Aleksander tidak menyangka hari ini akan datang juga. Tetapi apalah daya Tuan besar Aleksander, kedua orang itu sudah memutuskan untuk pergi dari mansion besar ini. Mansion yang awalnya dibeli karena untuk mewujudkan keinginan istri tercinta memiliki rumah. Tetapi akhirnya istri itu jugalah yang pergi meninggalkan mansion besar itu, dengan membawa anak dan meninggalkan luka.
"Kalian jangan bawa barang barang yang berasal dari uang saya. Saya tidak rela memberikannya kepada kalian berdua. Silahkan pergi tapi jangan bawa yang tidak hak kalian" ujar Tuan besar Aleksander berkata.
Tuan besar Aleksander mengatakan hal seperti itu karena dia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dia benar benar panik sehingga setiap omongannya keluar begitu saja tanpa dipikirkan.
Tuan besar Aleksander tidak sadar kalau kata katanya itu sudah memporak porandakan hati dan perasaan anak dan istrinya yang selama ini telah menemani hidupnya dari mulai nol sampai bisa sukses seperti sekarang ini.
"Haha haha haha, tenang aja Tuan besar Aleksander, kami tidak akan mengambil barang barang yang dibeli dengan uang anda Tuan. Kami akan membawa barang barang yang saya beli dari hasil uang saya sendiri" ujar mommy berkata kepada Tuan besar Aleksander.
Mommy tidak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut seorang Tuan besar Aleksander. Ucapan yang sangat menyakitkan bagi istri dan anaknya. Ucapan yang selayaknya diberikan kepada seseorang yang telah merusak kehidupan keluarga kecil mereka yang sedang berbahagia itu.
"Dari mana kamu bisa mendapatkan uang, kerja saja tidak. Palingan itu semua tetap di beli dengan uang saya. Tapi, tak apalah kalian bawa, anggap aja sedekah dari saya, kepada orang miskin seperti kalian" ujar Tuan besar Aleksander semakin tidak menyaring dan tidak memikirkan efek dari kata kata yang diucapkannya kepada Mommy dan Argha.
Mommy tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan besar Aleksander, sebuah kepongahan yang tidak disadari oleh Tuan besar Aleksander akan merusak hubungannya dengan Jero Aleksander.
Jero yang mendengar kata sedekah, menatap tajam ke arah Tuan besar itu. Ucapan yang telah membuat dia tersinggung dan bisa melakukan apa saja untuk membalikkan semuanya.
"Terimakasih Tuan besar atas sedekahnya. Saya yakinkan sedekah yang Tuan berikan ini suatu saat akan saya kembalikan dengan tunai" ujar Jero dengan menatap tajam ke arah mata dari Tuan besar Aleksander.
Tuan besar Aleksander tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan bonus tatapan yang seperti itu dari Jero. Tuan besar Aleksander merasa tengkuknya berdiri saat mendengar ucapan dari Jero Aleksander.
"Kamu anak kecil, berani mengancam saya" ujar Tuan besar Aleksander sambil menunjuk Jero dengan tangan kiri.
"Apapun itu yang berani merendahkan harga diri Mommy saya akan saya lawan" ujar Jero menatap tajam ke arah Tuan besar Aleksander.
Jero menepis dan mencengkram dengan kuat telunjuk Tuan besar Aleksander yang tadi digunakan untuk menunjuk dada Jero.
Tuan besar Aleksander terdiam mendengar ancaman yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Ancaman dari seorang anak yang Mommy nya diberlakukan tidak adil.
Akhirnya Nyonya besar Aleksander dan Jero Aleksander sudah selesai berkemas kemas. Mereka hanya membawa masing masing satu travel bag. Itupun tidak terisi dengan penuh.
"Mommy, Jero sudah siap Mommy" ujar Jero berkata kepada Mommy sambil berusaha mendirikan koper kecil milik dirinya.
"Ayuk sayang, kita berangkat. Kita tinggalkan mansion mewah ini dengan kepala tegak" ujar Mommy kepada Jero.
Mereka berdua sudah merelakan dan mengikhlaskan hati dan perasaan untuk meninggalkan mansion besar itu. Mansion yang dalam bayangan mereka akan mengantarkan kebahagiaan, tetapi malahan sebaliknya hanya mengantarkan penderitaan saja.
Mereka berdua menarik koper masing masing. Mommy sangat salut dengan Jero. Jero tidak mau menyusahkan mommy. Dia membawa sendiri koper miliknya. Mereka berdua kemudian turun dari lantai satu mansion. Dari arah belakang Tuan besar Aleksander mengiringi langkah kaki mereka dengan panjang panjang. Tuan Aleksander sangat tidak bisa membayangkan kalau hal itu akan terjadi kepada dia sekarang ini.
Beberapa orang maid menyaksikan hal itu. Termasuk Rina yang baru keluar dari dalam kamarnya.
"Tuan besar ada apa ini? Kenapa Nyonya besar dan Tuan Muda pergi dari mansion ini?" ujar Rina berpura pura bertanya kepada Tuan besar Aleksander.
"Jangan biarkan mereka pergi dari mansion ini Tuan besar. Kalau semua ini adalah saya penyebabnya, biar saya saja yang ergi dari sini Tuan besar. Saya tidak masalah kalau harus berangkat dari mansion besar ini" ujar Rina bertubi tubi mencari cari muka untuk tidak dituduh sebagai penyebab Nyonya besar dan Tuan Muda Aleksander pergi dari mansion besar itu.
"Biarkan saja mereka pergi. Mereka memang tidak layak tinggal di sini lagi" jawab Tuan besar Aleksander.
Rina yang mendengar menjadi menangis, sedangkan dalam hatinya dia tertawa bahagia. Akhirnya dia bisa menjadi Nyonya besar di mansion ini. Belum lagi anaknya yang lahir ini akan mendapatkan nama Aleksander di belakang namanya.
Mommy dan Jero muak mendengar apa yang dikatakan oleh Rina. Mommy dan Jero berhenti di depan para maid yang selama ini telah membantu mereka.
"Sayang, mommy mau ngomong sebentar dengan para maid itu ya" ujar Mommy meminta kepada Jero untuk berbicara sebentar kepada para maid yang ada di mansion.
Jero mengangguk setuju. Dia juga ingin mengucapkan rasa terimakasi nya kepada para maid.
"Maid, saya dan Jero mengucapkan terimakasih dari hati yang paling dalam untuk semua pertolongan dan kerjasamanya kepada saya dan Jero selama kita tinggal bersama" ujar Mommy yang sedikit meneteskan air matanya.
"Saya mohon maafkan saya kalau ada kesalahan baik yang saya dan Jero sengaja atau pun tidak. Kami berdua sangat yakin kami selalu merepotkan kalian semua" lanjut Mommy mengusap air matanya yang jatuh.
Para maid yang memang tahu bagaimana tulus dan baiknya Mommy langsung berhamburan menuju mommy dan Jero. Mereka memeluk dua orang Tuan dan Nyonya pemilik mansion yang terkenal sangat baik itu.
"Hay jangan menangis. Kami saja tidak menangis." ujar Mommy meminta para maid untuk tidak menangis karena mereka berdua harus pergi dari mansion besar itu.
"Maafkan kami Nyonya besar, Tuan muda, karena tidak bisa menolong kalian berdua" ujar Pak Hans yang hanya memeluk Jero saja.
Pak Hans sudah menganggap Jero sebagai anaknya sendiri. Jero sudah seperti Jeri bagi Pak Hans. Apapun yang dikehendaki oleh Jero akan selalu berusaha dipenuhi oleh Pak Hans.
"Jero, kamu harus berjanji dengan kami semua yang menyayangi Mommy untuk selalu menjaga mommy apapun yang terjadi" ujar Pak Hans memberikan tantangan kepada Jero.
"Tenang Pak Hans. Dengan nyawa Jero, Jero akan menjaga Mommy" jawab Jero.
Pak Hans tersenyum kepada Jero.
"Kamu terbaik Tuan Muda." kata Pak Hans sambil menepuk kedua pundak Jero.
"Pundak kecil ini, saya yakin dia akan mampu menopang permasalahan berat yang ada di hadapan Anda." lanjut Pak Hans memberikan nasehatnya.
"Ingatlah Nak. Pejuang sejati tidak pernah berkhianat apapun yang tersaji di depannya." kata Pak Hans memberikan pesan kehidupan kepads Jero.
"Jero paham Pak Hans. Jero akan berjuang demi Mommy dan dendam Jero" ujar Jero dengan tatapan membunuh yang diberikan kepada Tuan besar Aleksander.
Tatapan Jero bukan tatapan seseorang yang terluka, malainkan tatapan dari seseorang yang akan membalaskan apa yang diterimanya selama ini.
"Hay kalian semua, kalau kalian tidak betah lagi kerja di sini, boleh angkat kaki sama dengan mereka. Saya tidak butuh para maid yang mengagung-agungkan seseorang yang matre luar biasa itu" ujar Tuan besar Aleksander kepada para maid.
"Pak Hans, lepaskan Jero. Kami berdua harus pergi dari sini" ujar Mommy meminta Pak Hans untuk melepaskan pelukannya dari Jero.
"Mommy sebentar. Jero ada perlu sebentar" ujar Jero kepada Mommy.
Mommy yang tidak tahu apa yang diinginkan dan akan dilakukan oleh Jero mengangguk setuju dengan permintaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
Jero berjalan ke arah Tuan besar Aleksander dan Rina yang sekarang sudah berdiri berdampingan. Mommy melihat hal itu dan akan mencegah Jero.
"Bentar Mommy" ujar Jero meminta mommy supaya bisa membiarkan Jero sebentar saja untuk berbicara dengan kedua orang itu.
Jero yang sudah tinggi berdiri dengan gagahnya di depan Tuan besar Aleksander dan Rina. Jero menatap mereka dengan tatapan penuh dendam. Rina menjadi menciut melihat ke arah Jero.
"Saya akan balaskan semua ini" ujar Jero dengan menekankan setiap kata kata yang diucapkan oleh dirinya kepada kedua orang yang telah membuat Mommy nya terluka.
"Setiap air mata mommy yang menetes selama ini akan saya balaskan" lanjut Jero.
Siapapun di atas mension itu menjadi kaget dan takut mendengar ancaman yang diberikan oleh Jero kepada Tuan besar Aleksander dan Rina.
Setelah mengatakan hal itu Jero berbalik dan melangkahkan kakinya dengan tegap ke arah Mommy yang sudah menunggu di tempatnya tadi.
Rina yang mengingat ancaman Jero langsung berteriak histeris.
"Tuan besar larang mereka Tuan besar. Larang mereka untuk pergi. Aku ingin mereka tinggal di sini" ujar Rina berteriak karena sangat takut dengan ancaman yang diberikan oleh Jero.
Tuan besar Aleksander berusaha menenangkan Rina. Rina masih terus berteriak teriak meminta tuan besar Aleksander untuk melarang Mommy dan Jero meninggalkan mansion.
"Drama" ujar Jero.
Mommy mengangguk.
"Mari kita tinggalkan mansion penuh drama ini" ujar Mommy kepada Jero.
Mereka berdua melangkahkan kaki dengan sangat ringan untuk meninggalkan mansion besar itu. Mereka berdua sudah meninggalkan semua luka yang ada di mansion tersebut. Mereka berdua pergi dengan kepala tegak.