
"Juan, Mami mau menceritakan sebuah kisah yang membuat semuanya menjadi seperti ini"
"Mami harap kamu mau mendengarnya"
kata Mami sambil menatap ke arah Juan anak laki laki kesayangannya itu.
Rina yang melihat Daddy masuk ke dalam ruang kerja, langsung menuju dapur. Rina membuatkan Daddy teh hijau kesukaan Daddy. Rina membuat sambil memasukkan sesuatu ke dalam minuman Daddy. Rina kemudian tersenyum smirk dengan apa yang dilakukan oleh dirinya itu
"Gue harus bisa jadi Nyonya besar di mansion ini" ujar Rina sambil tersenyum dan mengaduk teh hijau yang telah diberikan sesuatu di dalamnya oleh Rina.
Rina kemudian berjalan menuju ruang kerja Tuan Besar Aleksander. Dia berjalan dengan santai layaknya seperti seorang maid yang benar benar akan memberikan air minum dan potongan puding buah.
Tok tok tok. Pintu ruang kerja di ketuk dari luar oleh Rina.
"Masuk" jawab Daddy dari dalam ruang kerjanya.
Rina membuka pintu ruang kerja Tuan Besar Aleksander. Rina masih bersikap seperti maid pada biasanya. Dia masih belum menunjukkan maksud terselebungnya kepada Tuan Besar Aleksander.
"Tuan besar, teh hijau dan puding buahnya" ujar Rina kepada Tuan Besar Aleksander yang masih sibuk mengetik di laptop miliknya tanpa melihat sedikitpun kepada Rina.
"Taruh di situ aja maid" ujar Tuan Besar masih tanpa melihat kearah Rina yang masih sibuk menarik perhatian dari Tuan Besar Aleksander tersebut.
Rina meletakkan minuman dan juga puding coklat itu di meja kerja Tuan Besar. Rina meletakkan sambil sedikit menyenggol tangan Tuan besar tersebut.
Tuan besar Aleksander melihat ke arah Rina.
"Maaf Tuan tidak sengaja" ujar Rina yang sedikit takut melihat tatapan dingin yang diberikan oleh Tuan besar Aleksander kepada dirinya.
"Kalau sudah selesai silahkan keluar dari ruangan saya. Saya mau bekerja bukan mau melihat kamu yang berdiri di sana dengan pose yang tidak tentu arah itu" ujar Tuan besar mengusir Rina dengan kata kata kasarnya.
"satu lagi, ini kali terakhir kamu mengantarkan teh hijau ke ruangan saya" ujar Tuan besar mengeluarkan larangannya untuk Rina tidak lagi mengantarkan teh hijau kepada dirinya saat dia berada di ruang kerja.
"Maafkan saya Tuan" ujar Rina yang kaget Tuan besar melarang dia untuk mengantarkan teh hijau lagi.
'Bisa gagal rencana gue kalau gue tidak mengantarkan teh hijau ini lagi. Gue harus bisa membuat Tuan besar meralat ucapannya tadi' ujar Rina dalam hatinya.
Rina berpikir keras bagaimana caranya supaya Tuan Aleksander membatalkan apa yang sudah dikatan nya tadi kepada Rina.
"Tuan" ujar Rina berusaha membujuk Tuan besar Aleksander.
"Baiklah saya akan meralat keputusan saya tadi, kalau teh hijau buatan kamu memang sedap" ujar Tuan Aleksander sambil meraih cangkir yang berisi teh hijau yang sudah diisi suatu ramuan oleh Rina.
Rina menunggu dengan sabar hasil dari cicipan teh hijau yang dilakukan oleh Tuan besar itu. Rina menunggu dalam keadaan cemas. Dia sangat berharap kalau teh hijau buatannya itu akan enak dan menyelamatkan dia dari keputusan yang tadi dibuat oleh Tuan besar.
"Ini enak maid. Keputusan saya tadi saya cabut. Kamu saya bolehkan membuatkan teh hijau untuk saya saat saya bekerja. Itu kalau istri saya tidak sempat membuatkannya" ujar Tuan besar kepada maid Rina yang setia menunggu keputusan dari Tuan besar tentang rasa teh hijau yang dibuat maid Rina.
"Terimakasih Tuan. Saya yakinkan kalau setiap teh hijau yang saya buat rasanya akan tetap sama selalu" ujar maid Rina sambil tersenyum.
Tuan besar kemudian kembali fokus kepada pekerjaannya. Sedangkan maid Rina berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Tuan Besar.
"Yes, kamu masuk perangkap gue." ujar Rina saat sudah berada di luar ruang kerja Tuan Besar.
Siapapun yang melihat senyuman Rina saat itu akan membuat mereka yakin kalau Rina bukanlah manusia yang baik. Tetapi manusia yang penuh dengan kejahatan dalam hati dan pikirannya.
"Sekarang tinggal tunggu reaksi dari obat itu." ujar maid Rina sambil menatap pintu ruang kerja Tuan Aleksander.
Rina kemudian kembali menuju dapur. Dia akan menyiapkan makan malam untuk keluarga Aleksander yang telah selesai di masak oleh Bik Ima.
Nyonya Aleksander dan Jero Aleksander terlihat berjalan masuk ke dalam ruang utama mansion. Mereka baru balik dari taman belakang mansion.
"Maid Rina, masak apa untuk makan malam hari ini?" tanya Nyonya besar sambil tersenyum ramah kepada Rina.
"Ada sup ikan kerapu, gulai ikan cakalang dan capcay Nyonya besar" jawab maid Rina mengatakan apa yang dimasak oleh Bik Ima tadi sore.
"Oh ya. Enak enak itu Rina." ujar Nyonya besar memuji masakan yang dibuat oleh Bik Ima.
"Kalau begitu saya ke atas dulu ya" ujar Nyonya besar. Nyonya besar berjalan menuju kamar yang terletak di lantai atas mansion mewah itu. Maid melihat Nyonya besar dengan pandangan penuh kebencian.
"Kamu hanya sebentar saja akan menjadi Nyonya di rumah ini Nyonya. Sebentar lagi saya yang akan menjadi Nyonya di sini" ujar Maid sambil menatap penuh kebencian ke Nyonya besar yang sudah hilang di lantai atas mansion.
Mommy tidak menuju kamarnya ataupun kamar Jero melainkan Mommy dan Jero menuju ruang kerja Daddy yang letaknya persis di depan kamar Jero.
Tok tok tok. Mommy mengetuk pintu ruang kerja Daddy. Mommy tidak ingin langsung membuka saja pintu ruangan itu. Mommy takut nanti Daddy sedang sibuk atau sedang melakukan meeting via zoom bersama dengan kolega bisnis mereka.
"Masuk" ujar Daddy dari dalam ruang kerjanya.
Mommy dan Jero kemudian masuk ke dalam ruang kerja Daddy.
"Hay Mommy, ada apa?" tanya Daddy sambil meraih Jero ke dalam pelukan Daddy.
"Makan malam sudah siap. Apa Daddy sudah mandi lagi?" tanya Mommy saat melihat Daddy sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar.
"Yup, barusan Daddy mandi. Gerah aja tadi, makanya Daddy memilih untuk mandi terlebih dahulu" ujar Daddy kepada Mommy.
"Hay tampan, apa kamu suka bermain dengan Bik Ima?" tanya Daddy kepada Jero yang berada di dalam pelukan Daddy.
"Ka" jawab Jero sambil menyentuh wajah Daddy dengan jari jari tangannya yang masih mungil.
Daddy menangkap jati tangan Jero dengan mulutnya. Jero tertawa saat Daddy menggelituki jari tangan Jero dengan lidah Daddy.
"Haha haha haha" Jero tertawa dan memperlihatkan giginya yang tersusun dengan rapi atas dan bawah.
"Wow gigi kamu sudah banyak ternyata sayang. Bener bener banyak. Daddy baru tahu" ujar Daddy menatap kagum ke arah gigi Jero yang sudah tersusun rapi itu.
"Yah Jero sedih Daddy. Kenapa Daddy baru tahu" ujar Mommy yang berpura pura menjadi Jero.
"Maafin Daddy sayang. Nanti kita beli mobil besar untuk Jero main ya" ujar Daddy berkata sambil menatap ke arah Jero.
"Ayuk Mommy kita makan malam. Setelah itu kita beristirahat. Daddy besok ada meeting pagi Mommy" ujar Daddy mengajak Mommy untuk makan malam bersama.