
"Ini makhluk kalau nggak diangkat telpon langsung ngamuk aja sekali, main telpon ke orang lain saja. Bener bener bikin gue pusing sangat" ujar Jeri yang kesal dengan tingkah Jero yang kalau menelpon tidak diangkat maka akan menghubungi orang lain supaya telpon dari Jero bisa langsung diangkat.
"Jeri" teriak Jero dengan nada tinggi saat mendengar Jeri memaki maki Jero dengan gaya khasnya.
Jeri kaget mendengar suara Jero yang berteriak dari dalam ponsel. Jeri menatap ke arah asistennya.
"Maaf Tuan panggilannya sudah terhubung dengan Tuan Muda Jero" ujar asisten memberitahukan kepada Jeri kalau sebenarnya telpon dirinya dengan Jero sudah terhubung.
"Hah serius?" ujar Jeri yang tidak menyangka kalau telpon itu sudah terhubung dengan Jero.
"Loe kenapa nggak ngomong dari tadi kalau telpon itu udah tersambung. Jadi gawat kan ya" ujar Jeri mengomel kepada asistennya itu.
"Yah mana saya tau kalau Tuan Jeri akan mengomel" jawab asisten yang tidak mau disalahkan oleh Jeri.
"Woy sudah jangan main salah menyalahkan sekarang yang paling penting angkat telpon dari Bang Jero" ujar Bram melerai pertengkaran tidak berarti yang terjadi antara Jeri dengan asistennya itu.
Jero yang mendengar suara Bram, langsung saja mematika telponnya. Dia sudah tahu siapa yang harus dihubungi nya sekarang yang tidak pakai drama keributan antara Tuan dan asisten.
Dret dret dret dret giliran ponsel Bram yang bergetar di atas meja. Bram melihat siapa yang menghubunginya.
"Udah bisa gue tebak" ujar Bram saat melihat siapa yang menghubunginya saat ini.
"Hallo Bang, ada apa?" ujar Bram saat menyapa Jero yang berada di seberang sana uang sekarang menghubungi Bram.
"Katakan kepada Jeri untuk tidak kabur. Abang dan Vian akan ke sana sekarang juga" ujar Jero memberitahukan keperluannya kepada Bram.
"Oke Bang nanti akan aku beritahukan kepada Bang Jeri kalau abang akan bertemu dengan dirinya di sini" ujar Bram
Jero kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Bram. Sedangkan Bram yang sudah tidak lagi berbicara dengan Jero memberitahukan kepada Jeri kalau Jero akan menemui dirinya di sini.
Jero yang sudah mengetahui dimana keberadaan Jeri, langsung berlari masuk ke dalam lift untuk menuju kamar Vian dan mengajak Vian pergi ke tempat itu.
Tok tok tok tok. Jero mengetuk pintu kamar Vian dengan tidak sabaran. Dia benar benar ingin cepat cepat pergi dengan Vian menuju dimana keberadaan Jeri berada sekarang.
"Sabar sayang" ujar Vian yang bisa melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya saat ini.
Vian membuka pintu kamar, dia melihat Jero berdiri di depan pintu kamarnya dengan memakai jas dan sudah berpenamlklan sangat rapi sekali.
"Sayang, kamu udah tau dimana posisi Jeri saat ini?" ujar Vian saat melihat Jero yang sudah berpakaian rapi.
"Sudah sayang, aku sudah tahu dimana Jeri harus kita temui" ujar Jero sambil tersenyum kepada Vian.
"Oh baiklah mari kita berangkat. Aku juga sudah siap" ujar Vian yang sudah siap untuk berangkat bersama dengan Jero ke tempat Jeri sesuai dengan tempat yang sudah dikatakan oleh Bram tadi.
Jero menggandeng tangan Vian kekasihnya itu menuju lantai satu mansion utama untuk mengambil kunci mobil.
Jero menyambar salah satu kunci mobil yang ada di gantungan. Biasanya Jero pasti akan menatap lama dan amat susah menentukan mobil yang mana yang akan mereka pakai. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka Rinjani harus menunggu Jero menjatuhkan pilihannya kepada mobil yang akan dipakai oleh Jero pada saat itu.
"Nggak sayang, mana yang dapet aja kuncinya, kita harus segara berangkat. Bisa bisa tu makhluk ajaib yang dari tadi ngomel kabur dari ruangan Bram" ujar Jero yang tanpa disadarinya sudah bisa mengomel dengan panjang lebar suatu hal yang selama ini tidak pernah dilakukan oleh Jero.
Para maid yang mendengar Jero mengomel langsung menganga tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Jero saat ini.
"Sayang, tengok ekspresi para maid" ujar Vian meminta Jero melihat ke arah semua maid yang sedang menatap dengan mulut menganga ke arah Jero.
"Kalian semua kenapa?" ujar Jero menyapa semua pelayan yang menatap tidak percaya ke arahnya dengan mulut yang terbuka lebar selebar piring.
"Ngg ngg nggak ada Tuan Muda. Tidak ada apa apa" ujar Maid dengan nada cemas saat dirinya di sapa oleh Jero.
"Nggak ada apa apa tetapi kenapa kalian menganga seperti itu?" ujar Jero bertanya kepada para maid yang berdiri di hadapannya sambil menekurkan kepala mereka sedalam dalamnya.
Para maid tidak ada yang berani menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada mereka semua. Mereka masih menekurkan kepalanya sedalam dalamnya.
Vian yang melihat apa yang terjadi hanya bisa pasrah dan geleng geleng kepala saja melihat apa yang dilakukan oleh Jero.
"Sayang sudah, mereka sudah sangat takut itu. Jangan banyak gaya kayak gini" ujar Vian sambil meremas tangan kekasihnya.
Jero membalas meremas tangan Vian.
"Sayang, aku nggak akan ngapa ngapain mereka sayangku. Mereka itu adalah orang yang sangat berguna dan membantu kita selama ini" ujar Jero sambil tersenyum ke arah kekasihnya itu.
"ye lah yang nggak ngapa ngapain mereka tetapi mata mereka menatap takut ke arah kamu sayang" ujar Vian menjawab bantahan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Haha haha hahaha. Kali ini beneran nggak ada ngapa ngapain mereka sayang. Beneran" ujar Jero yang memang sama sekali tidak ada niat untuk mengapa ngapain para maid yang tadi menatap Jero dengan tatapan menganga seakan akan tidak percaya kalau yang berbicara tadi adalah bos besar mereka yaitu Tuan Jero yang terhormat.
"Mari kita jalan, lama lama nanti kamu beneran akan marah kepada semua maid" ujar Vian mengajak Jero untuk pergi dari hadapan para maid yang masih menunduk karena takut itu.
Vian menggandeng tangan Jero untuk melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti karena maid yang menatap melongo ke arah Jero. Mereka berdua berjalan menuju garase mobil, dimana Jero menyimpan semua mobil mobil miliknya.
"Jadi mobilnya yang mana Sayang?" ujar Vian yang tidak tahu mau naik ke mobil yang mana saking banyaknya mobil dalam garase itu.
"Gampang sayang" ujar Jero menjawab keraguan Vian saat melihat begitu banyak mobil di dalam garase yang seluas bangunan utama itu.
Dalam garase mewah itu berjejer mobil mobil mewah dan mobil mobil sport keluaran terbaru. Jero kemudian memencet sebuah tombol yang ada di remot mobil yang sedang di pegangnya itu. Sebuah mobil terlihat hidup lampunya.
"Wow" ujar Vian saat melihat mobil apa yang menyala dengan terang lampunya itu.
"Kenapa?" kata Jero yang melihat heran ke arah Vian yang kaget saat melihat mobil apa yang menyala lampunya.
"Mobilnya wow" ujar Vian mengatakan apa maksud dari kata wow yang dikeluarkan oleh dirinya sebentar ini.
"Ya wow. Ayok masuk" ujar Jero mengajak Vian untuk masuk ke dalam mobil.
Vian dan Jero kemudian masuk ke dalam mobil sport yang menyala lampunya itu. Jero kemudian mengemudikan mobil menuju perusahaan Bayu untuk bertemu dengan Jeri yang berada di sana. Mereka akan membahas beberapa hal yang memang harus mereka diskusikan sekarang juga.