My Affair

My Affair
157 BARU



"Kakak Ipar, tapi mau lihat pemandangan yang bagus. Ayok sini, ikut sama Aku. Sebentar lagi kita akan melihat pemandangan yang sangat indah di bagian belakang gerbong" ujar Bram yang datang menemui Vian dan Jero yang tadi terlihat asik mengobrol menceritakan tentang keinginan Vian ingin melihat pemandangan yang disajikan oleh alam melalui gerbong masinis atau biasa dikenal dengan nama lokomotif.


Bram memang sudah pergi melihat lihat seluruh keadaan gerbong kereta. Bram sangat bersemangat berkeliling karena Bram ingin memastikan di tempat dan posisi manakah melihat pemandangan yang paling bagus dan mantap. Bram tidak ingin perjalanan kali ini berakhir dengan sia sia. Dia harus bisa menikmati pemandanganyang disajikan oleh alam pada tempat yang tepat. Bukan asal asalan saja.


Vian menatap ke arah Jero, sebenarnya Vian ingin langsung berdiri dan pergi mengikuti Bram. Tetapi, Vian ingin diberikan izin oleh Jero untuk bisa ikut dengan Bram ke tempat yang dikatakan oleh Bram tadi untuk melihat pemandangan yang menarik menurut Bram. Vian tidak mau main langsung pergi saja, bagaimanapun sekarang dia adalah tanggung jawab Jero. Apalagi Vian sangat tahu bagaimana Jero menjaga dirinya selama ini. Jangankan untuk ilang atau apapun, tergores saja Jero sudah sangat panik. Makanya Vian tidak mau hal itu terjadi, sehingga mau tidak mau dia harus meminta izin kepada Jero sebelum melakukan sesuatu. Walaupun sebenarnya jarak dimana dia akna berdiri sangat dekat dengan Jero.


"Apa aku boleh ikut dengan Bram, sayang?" ujar Vian meminta izin kepada Jero untuk diperbolehkan ikut dengan Bram ke tempat yang bisa melihat pemandangan dengan begitu luas.


"Apa tidak bisa melihat pemandangannya dari gerbong ini saja sayang?" ujar Jero menawarkan kepada Vian untuk melihat pemandangan dari gerbong itu saja.


"Baiklah kalau begitu" jawab Vian yang malas berdebat dengan Jero.


Vian diperbolehkan untuk pergi naik kereta saja sudah kemajuan. Apalagi sekarang Vian meminta untuk pisah gerbong dengan Jero. Vian sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dan di jawab oleh Jero kepada dirinya. Jero yang melihat Vian sedikit lemas saat mendengar jawaban dari nya, kemudian tersemum kepada Vian. Vian melihat senyum itu.


"Jadi, aku boleh ke sana?" tanya Vian sekali lagi dengan nada bersemangat dan pandangan mata berbinar binar.


Jero mengangguk menandakan dirinya mengizinkan Vian untuk pergi melihat pemandangan yang dikatakan oleh Bram sebentar ini. Jero sangat mengerti dengan keinginan Vian. Apalagi tujuan mereka pergi naik kereta api ke negara F dan negara G memang untuk melihat pemandangan sepanjang perjalanan itu. Makanya, Jero tidak mau menolak dan melarang keinginan Vian tersebut. Bagi Jero, selagi bisa dia mewujudkan semua keinginan Vian maka dia pasti akan mewujudkannya. Karena visi dan misi Jero adalah ingin membuat Vian selalu bahagia.


"Kamu jaga kakak ipar kamu" ujar Jero menitipkan Vian kepada Bram.


"Kayak yang mau kemana aja Bang. Gue dan Kakak ipar hanya di gerbong restoran. Disana kaja belakangnya lebar, jadi bisa melihat pemandangan yang ditinggalkan oleh kereta api" ujar Bram mengatakan kepada Jero kemana tujuan dirinya dengan Vian.


"Oh baiklah" jawab Jero dengan santai.


Semua orang yang mendengar apa yang dikatakan Jero tadi, dan melihat tanggapan yang diberikan oleh Jero saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Bram, hanya bisa tersenyum dan geleng geleng kepala. Mereka sampai sekarang masih tidak percaya seorang Jero yang terkenal dingin dan kejam itu, bisa menjadi selembut dan seprotektif ini dengan seorang wanita yang tidak ada hubungan keluarga dengan Jero.


"Loe ternyata bisa protektif juga sobat. Bram hanya mengajak Vian tiga gerbong dari tempat kita berada, loe langsung nitip. Gimana kalau Bram ngajak Vian jalan jalan di negara F." ujar Tama yang memang selalu mengambil kesempatan yang ada untuk menggoda Jero dengan segala keajaiban yang diperlihatkan oleh Jero pada saat ini.


Hal - hal yang tidak pernah terjadi selama ini, langsung terjadi saat Jero dekat dan menjalin hubungan serius dengan Vian. Jero yang terkenal dingin kepada setiap wanita yang berusaha medekatinya, ternyata sangat protektif saat sudah menambatkan hati dan pikirannya kepada satu wanita. Benar benar pria idaman setiap wanita yang ada di muka bumi ini.


"Tenang sayang, aku akan baik baik saja. Aku jalan dulu ya" ujar Vian berkata kepada Jero untuk menyenangkan hati dan perasaan Jero.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Jero dengan lembut. Jero  menatap kagum ke arah Vian. Jero memang sangat suka kejutan kejutan kecil yang diberikan oleh Vian kepada dirinya. Salah satunya kecupan singkat seperti yang dilakukan oleh Vain sebentar ini.


"Hati hati sayang" ujar Jero berpesan kepada Vian supaya Vian berhati - hati saat berada tidak di dekat Jero.


"Kalau aku kenapa kenapa, salahin aja Bram sayang" jawab Vian sambil melihat ke arah calon adik iparnya yang hanya bisa menganga saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian untuk menyalahkan dirinya saja, kalau ada sesuatu yang terjadi kepada Vian nantinya.


Bram sangat hafal bagaimana Jero kalau sudah marah, kalau sesuatu yang disayanginya terganggu, apalagi ini adalah sosok wanita yang dicintai oleh Jero. Bram tidak mau nyawanya melayang hanya karena Vian mengalami sesuatu saat bersama dengan dirinya.


"Batal ajalah bawa kakak ipar." jawab Bram yang memilih untuk duduk kembali di dekat Felix.


"Haha haha, nggak akan terjadi apa apa. Jangan marah anak bontot. Mari kita pergi" ujar Vian mengajak Bram untuk pergi dari tempat itu.


"Aku nggak mau kehilangan momen indah yang disajikan pemandangan" jawab Vian yang langsung menarik Bram untuk berdiri.


Greta yang sebenarnya juga sudah bosan berada di tengah para laki laki yang dari tadi hanya bercerita bisnis itu, ikut ikutan berdiri dari duduknya. Dia akan ikut dengan Bram dan Vian menuju tempat yang dikatakan oleh Bram sangat asik untuk melihat pemandangan yang ditinggalkan oleh kereta api.


Vian, Bram dan Greta kemudian berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh Bram sangat asik untuk menikmati pemandangan yang ditinggalkan oleh kereta api.


"Jadi Jer, kapan loe akan memasukkan gugatan perceraian antara Vian dengan Juan?" ujar Jeri yang sebenarnya dalam beberapa hari ini akan kembali ke negara I.


"Itulah, gue belum ada mendiskusikan hal itu kembali kepada Vian" jawab Jero sambil melihat ke arah tempat Vian berjalan tadi.


Baru sebentar Vian pergi dari dekat Jero, Jero sudah mengingat wanita cantik itu kembali. Hal ini menjadi perhatian dari Jeri dan juga Tama, dua pria yang merupaakn sahabat baik dari Jero. Sedangkan Felix jangan ditanya dia dimana. Walaupun ini namanya liburan. Bagi adik kedua Jero itu, sama sekali tidak ada yang namanya liburan. Dia akan selalu tetap bekerja seperti biasanya.


"Kalau cara loe seperti ini  ke dia mah, lebih baik saran gue ya Jer. Lo cepat cepat aja urus perceraian antara Vian dengan Juan. Terus loe nikahin aja Vian" kata Tama memberikan ide kepada Jero untuk cepat cepat mengurus perceraian antara Vian dengan Juan, supaya Jero bisa menghalalkan Vian untuk menjadi istrinya.


"Gue akan ngomong dengan Vian, semoga dia sudah bisa gue bawa kembali ke Negara I untuk mengurus perceraian antara dirinya dengan Juan" jawab Jero yang berharap Vian memang sudah bisa kembali di bawa ke negara I dan tidak meresa tertekan lagi.


"Jer, ada yang harus gue omongin ke elo" ujar Jeri dengan nada serius.


Jero dan Tama langsung menatap ke arah sahabat mereka berdua itu. Tidak biasanya Jeri mengatakan hal seperti itu saat dia akan berbicara dengan Jero maupun Tama.


"Ada apa?" ujar Jero dengan nada penasaran mendengar cara berbicara Jeri kepada Jero dan Tama.


"Gue rencananya habis dari perjalanan dari negara F dan G ini, akan pergi ke negara I, membawa Greta" ujar Jeri memberitahukan kepada Jero dan Tama keinginannya untuk membawa Greta ke negara I.


"Membawa Greta ke negara I?" ujar Tama mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Jeri kepada mereka berdua.


Jero dan Tama merasa heran dengan keputusan yang dibuat oleh Jeri. Mereka berdua melihat menatap tajam ke arah Jeri, meminta Jeri untuk memberikan alasan lebih kepada mereka berdua. Jero dan Tama sangat yakin kalau Jeri memiliki alasan sendiri kenapa dirinya memilih untuk membawa Greta ke negara I. Apalagi Jero dan Tama tahu kalau Greta sangat menyukai dan betah tinggal di negara I.