
Jero mengambil ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi Vian. Tetapi sudah tiga kali Jero melakukan panggilan keoada Vian, Vian masih belum mengangkat panggilan dari Jero.
"Mungkin Dia sudah tidur" ujar Jero sambil memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku celana.
Vian yang berada di mansion sudah dari tadi tertidur. Vian benar benar mengantuk setelah membaca novel online dengan judul "Kepahitan sebuah cinta". Sehingga tanpa sempat memberikan kabar kepada Jero, Vian sudah tertidur terlebih dahulu
" Kita berhenti di penjual nasi goreng aja bro. Gue laper. Dua adik itu tidak memberikan gue makan malam. Sungguh tega mereka, membiarkan kakak mereka kelaperan malam malam." ujar Jero kepada pengawal untuk berhenti di depan penjual nasi goreng gerobakan yang sangat disukai Vian. Jero juga sangat suka, apalagi Jero sudah lama kenal dengan koki yang memasak nasi goreng tersebut.
"Siap Tuan Jero" ujar pengawal.
Pengawal memberhentikan mobil di bagian depan penjual nasi goreng. Orang orang terlihat ramai berada di sana. Beberapa orang terlihat keluar masuk dari dalam tenda biru itu.
"Tuan sangat ramai" ujar pengawal kepada Jero.
"Biarkan saja, saya tidak dikenal oleh mereka bro. Kalau Felix dan Bram baru terkenal. Lihat saja nanti, tidak akan ada yang menunduk kepada saya" ujar Jero kepada pengawal.
"Loe turun juga bro. Makan dulu baru balik mansion" ujar Jero memerintahkan pengawal itu untuk ikut turun dari dalam mobil.
Jero sangat yakin kalau pengawal itu juga belum sempat makan malam. Apalagi tadi dia juga ikut dengan Bram menuju Perusahaan Wijaya untuk mencabut saham yang mereka tanam sebanyak empat puluh persen.
"Baik Tuan" jawab pengawal tanpa bisa membantah sama sekali apa yang dikatakan oleh Jero.
"Bro juga belum makan kan?" tanya Jero kepada pengawal.
"Siap belum Tuan" jawab pengawal.
Jero dan pengawalnya turun dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam warung dan langsung duduk di pojokan. Pengawal sama sekali tidak bisa menyap penjual nasi goreng yang seharusnya dia sapa itu.
Seorang pengawal yang kali ini diminta untuk membantu penjual nasi goreng, mendatangi tempat Jero dan pengawal.
"Mau pesan apa Tuan?" ujar pengawal yang sangat susah mengganti kata sapaan saat harus mengobrol dengan Jero.
"Seperti biasa saja. Tolong katakan kepada chef itu" ujar Jero menjawab pertanyaan pengawal.
Ternyata pesanan sesuai keinginan Jero sudah dibuatkan oleh chef tersebut. Pengawal hanya tinggal menyajikan saja lagi ke meja Jero. Pengawal membawa pesanan Jero dan pengawal yang menjadi sopir pribadi Jero malam ini.
Jero terlihat santai saja menyantap hidangan nasi goreng yang lezat itu. Sedangkan pengawal terlihat sangat susah untuk melahap makanannya.
"Loe kenapa bro? Santai aja makannya nggak usah kaku kayak gitu. Loe seperti kalau gelang yang mau putus aja" ujar Jero menegur pengawal yang makan dengan kaku dan gugup itu.
"Bu bukan begitu Tuan. Segan saya makan semeja dengan Tuan." ujar pengawal sambil menunduk.
Pengawal sangat pelan menaikan nasi goreng ke dalam mulutnya. Padahal perutnya benar benar lapar, apalagi rasa nasi goreng yang sangat nikmat ini membuat perut pengawal semakin keroncongan.
"Udah santai aja, nggak usah cemas dan takut. Makan seperti biasa aja. Sekarang saya bukan Tuan Besar kamu, anggap saja saya rekan kamu" ujar Jero sambil melihat sedikit ke arah pengawal.
Pengawal itu mengangguk tanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Jero kepada dirinya.
Tiba tiba saat Jero sedang menikmati makan nasi goreng tersebut, datang seorang pengawal yang membawa berita tidak mengenakkan sama sekali bagi Jero dan juga bagi pengawal yang sedang menyantap nasi goreng itu.
"Tuan, sepertinya Tuan Besar Aleksander mau datang Tuan" ujar pengawal yang datang dengan tergesa gesa dan membawa berita yang sangat menyebalkan bagi Jero.
"Kok loe tau?" tanya Jero kepada pengawal.
"Pengawal mereka bertanya apa nasi goreng masih ada, karena Tuan mereka akan datang" ujar Pengawal memberitahukan kepada Jero perihal kedatangan Tuan Aleksander.
"Huf mana nasi goreng belum habis lagi. Ngapain coba dia datang ke sini makan nasi goreng. Masih banyak tempat lain di luar sana" ujar Jero dengan kesal.
Jero menyelesaikan makannya sebelum nasi goreng habis. Jero meninggalkan uang untuk membayar nasi goreng yang dimakannya.
"Jangan lupa bro" ujar Jero mengingatkan koki yang sekarang menjadi penjual nasi goreng gerakan.
"Siap Tuan Jero. Saya tidak akan lupa" ujar koki sambil mengangkat kedua jempolnya ke depan Jero.
Setelah itu Jero dan pengawal berjalan menuju mobil. Mereka akan langsung pergi menuju mansion Juan Aleksander.
Bertepatan dengan mobil Jero melaju ke mansion, mobil milik Tuan besar Aleksander berhenti di depan penjual nasi goreng. Tuan besar dan Tuan Muda Aleksander turun dari dalam mobil. Setelah memastikan kedua Tuan itu turun dari mobil, sopir memarkir mobilnya di tempat parkir yang tadi di huni mobil Jero.
" Kami pesan nasi goreng dua sekalian mie goreng. Minumnya teh panas dua gelas." ujar Juan Aleksander menyebutkan makanan dan minuman yang mereka pesan.
Koki yang melihat kedua Tuan Aleksander itu telah berada di dalam, langsung mengirim sebuah pesan chat kepada salah beberapa chanel televisi yang memang dikendalikan oleh JFB Grub.
Siaran televisi yang semula menampilkan berita dunia dan sinetron remaja mendadak masuk ke dalam berita bisnis.
Tuan besar Aleksander mendengar suara dari penyiar televisi menyebut nama besar keluarganya. Dia kemudian melihat ke arah televisi besar yang terdapat di warung gerobak sederhana itu.
Pada layar televisi tertulis dengan besar "Tuan Muda Alexsander Mabuk Mabukan dengan Wanita Baru", Tuan besar menganga tidak percaya dengan apa yang ditampilkan oleh televisi, ditambah lagi dengan fhoto fhoto yang ditampilkan. Semua itu semakin membuat Tuan Besar menahan amarahnya. Juan Alexsander yang berada di sebelah Tuan besar juga ikut menganga melihat apa yang ditampilkan oleh televisi.
"Bisa pindah chanelnya Bang?" tanya Juan kepada salah satu pelayanan.
"Bisa Tuan" jawab pelayan yang memindahkan chanel televisi ke chanel yang lain. Tapi apa yang ditampilkan masih tetap sama dengan chanel sebelumnya.
"Bisa pindah ke yang lain?" ujar Juan dengan nada tinggi.
Pengawal yang tidak suka dimaki itu langsung memberikan remot kepada Juan.
"Silahkan cari sendiri Tuan. Saya ada kegiatan lain" ujar Pengawal sambil memberikan remot kepada Juan Alexsander.
Juan Aleksander mencari chanel televisi yang lain. Tetapi semua chanel sama saja menampilkan kasus yang dibuat oleh Juan Aleksander.
Tuan besar Alexsander langsung berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju mobil. Sopir yang sedang menyuap nasi goreng langsung berdiri dan berjalan lebih dahulu dari pada Tuan Besar. Juan yang melihat Papi sudah jalan, berlari mengejar Tuan Aleksander.