My Affair

My Affair
BAB 39



Resepsionis menatap lama ke arah Jero. Jero mengangguk memberikan kode kepada resepsionis hotel. Resepsionis pun paham dengan kode yang diberikan oleh Jero.


Setelah melakukan prosesur chek in, Jero dan Vian langsung masuk ke dalam lift dan menuju kamar tempat mereka akan menghabiskan waktu malam ini. Menghabiskan waktu kabur untuk tidak melihat kejadian drama di mansion Juan Alexsander.


Akhirnya mereka sampai di kamar yang telah di pesan oleh Jero. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar yang luas itu.


"Vian, kalau aku tinggal sebentar apa boleh?" tanya Jero kepada Vian.


Jero ingin menemui Felix dan Bram untuk membahas permasalahan Wijaya Grub. Jero tidak ingin niatnya untuk balas dendam terganggu oleh keinginan presiden direktur Wijaya Grub.


"Apakah lama?" tanya Vian sambil menatap Jero dengan tatapan memohon kepada Jero untuk tidak pergi lama lama.


"Tidak akan lama palingan hanya dua jam saja" Ujar Jero menjawab pertanyaan Vian tentang berapa lama dia akan pergi.


"Emang mau kemana? Apa aku tidak boleh ikut?" ujar Vian yang sangat berharap Jero mau membawanya ikut.


" Vian, biasanya kalau kamu bisa aku bawa, bukannya selalu aku bawa? Kali ini beneran nggak bisa Vian. Kalau bisa pasti aku akan bawa kamu pergi" ujar Jeri berusaha memberikan pengertian kepada Vian tentang apakah Vian bisa ikut atau tidak.


Vian berpikir sesaat, dia tidak mungkin melarang Jero untuk bertemu dengan orang yang ada keperluan dengan dirinya. Lagian Vian sangat tau kalau Jero terpaksa meninggalkan dirinya karena ada urusan penting yang tidak bisa untuk tidak dihadiri.


Jero menatap Vian. Dia sangat berharap Vian mengizinkan dirinya untuk pergi sebentar keluar.


"Vian apakah aku boleh pergi sebentar?" tanya Jero kepada Vian mengulang permintaannya.


"Boleh, tapi jangan lama lama." ujar Vian mengizinkan Jero untuk pergi tetapi memakai syarat


"Makasi Vian. Kalau kamu rasa, aku pergi udah terlalu lama, kamu telpon aku aja, suruh aku pulang. Maka aku pasti akan pulang" ujar Jero memberikan Vian angin segar.


"Serius, aku boleh nelpon kamu, kalau aku rasa kamu udah pergi terlalu lama? " tanya Vian sekali lagi kepada Jero.


Vian menanyakan hal itu untuk meyakinkan dirinya, kalau yang dikatakan oleh Jero adalah benar.


"Ya kamu boleh menghubungi Aku, saat kamu rasa aku sudah pergi terlalu lama meninggalkan dirimu di sini" ujar Jero meyakinkan Vian, apa yang dikatakan olehnya adalah sebuah kebenaran.


"Oke sip. Kamu harus hati hati perginya jangan ngelamun bawa mobil" Ujar Vian menitip pesan yang dirasa olehnya itu tidak penting. Vian akan sangat yakin kalau Jero akan selalu berhati hati saat dia membawa mobil.


Vian kemudian berdiri dari duduknya, dia menggandeng tangan Jero. Vian mengantarkan Jero sampai ke depan pintu kamar hotel.


"Nanti akan ada room boy mengantarkan makan malam untuk kamu. Kamu harus makan, kalau sampai aku pulang masih ada sisa makan malam, maka aku akan pergi lagi." ujar Jero mengeluarkan ancamannya.


Jero sangat yakin Vian akan makan hanya sedikit saja.


"Iya iya, akan aku habiskan semuanya. Tapi piringnya nggak" ujar Vian mulai bercanda kepada Jero.


"Nanti malam bercandanya ya. Aku mau pergi bentar. Makin lama aku pergi, maka akan makin lama aku pulang" ujar Jero sambil mengecup puncak kepala Vian.


Vian tersenyum bahagia kepada Jero.


"Masuk sana" ujar Jero meminta Vian untuk kembali masuk ke dalam kamar.


Setelah memastikan Vian menutup pintu kamar hotel, barulah Jero pergi menuju lift. Jero kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia meminta Felix dan Bram untuk bertemu di restoran Asander saja. Jarak hotel dengan restoran itu lumayan dekat. Jero tidak mau membuang buang waktunya untuk berlama lama di jalan raya.


"Hallo Felix, loe berdua gue tunggu di Asander restoran. Ruangan Vvip" ujar Jero menyebutkan dimana mereka akan bertemu.


"Oke. Gue dan Bram akan ke sana sekarang juga." ujar Felix menjawab perkataan Jero.


Jero kemudian masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobil miliknya ke restoran Asander. Jero sama sekali tidak memakai mobil yang biasa dipakai oleh Vian. Dia memakai mobil akomodasi hotel yang tidak bermerk. Jero meminimalisir kemungkinan ditemukan oleh Juan atau orang orangnya.


Felix dan Bram juga sudah menuju Asander restoran sesuai dengan permintaan Jero. Untung saja mereka kali ini sedang di luar saat Jero menghubungi, jadi mereka bisa dengan cepat sampai di restoran yang diminta Jero. Kalau tidak, maka mereka akan siap siap diteror terus oleh Jero untuk cepat sampai ke tempat mereka.


"Kayaknya Vian tidak memperbolehkan abang kita itu untuk pergi lama. Makanya dia minta kita bertemu di restoran." ujar Bram berbicara dengan nada mengejek Jero.


"Gue bilangin Jero mau loe?" ujar Felix sengaja menakut nakuti Bram.


"Nggak mampan Bang, loe nakut nakutin gue" ujar Bram sambil menatap lurus ke depan.


"Gue suka Jero bertemu dengan Vian. Jadi, dia kembali memiliki tujuan untuk hidup setelah semuanya yang terjadi" ujar Felix mulai berbicara serius dengan Bram.


"Bang Bang, bukan bertemu mereka mah. Tetapi sengaja untuk bertemu. Jero sendiri yang memilih masuk ke dalam mansion Juan Aleksander. Padahal masih banyak lagi cara untuk dia mendekati Vian" kata Bram sambil menatap kearah Felix sekilas.


"Kita berdua harus terus mendukung apapun yang akan dilakukan oleh Jero. Karena bagaimanapun dia yang berjasa dalam hidup kita." kata Felix dengan nada serius.


"Bener Bang. Kalau nggak ada Bang Jero nggak tau nasib kita berdua akan bagaimana" ujar Bram yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero.


"Dia rela memberikan nama keluarganya untuk kita berdua tanpa syarat apapun." lanjut Bram lagi.


Mereka berdua akhirnya sampai di restoran. Felix memberhentikan mobil di depan pintu masuk restoran. Seorang Vallet yang tau mobil siapa yang datang langsung menuju mobil Felix.


"Tuan Felix Tuan Bram" sapa Vallet sambil menundukkan kepalanya.


"Apa Tuan Jero sudah datang?" tanya Felix yang tidak akan bisa menentukan Jero sudah datang atau belum berdasarkan mobil.


Felix dan Bram tidak tau Jero akan memakai mobil apa ke restoran.


"Siap belum Tuan" jawab Vallet.


Vallet kemudian menerima kunci mobil Felix. Vallet langsung memindahkan mobil tersebut ke tempat parkiran khusus untuk keluarga Asander. Saat itulah sebuah mobil hitam yang bukan keluaran terbaru berhenti di depan Felix dan Bram.


Felix dan Bram pandang pandangan, mereka tidak mengetahui siapa yang berada di dalam mobil itu.


"Siapa?" tanya Felix kepada Bram.


"Lah mana tau gue Bang" jawab Bram yang memang tidak pernah melihat mobil itu di perusahaan maupun di mansion.


Jero hanya tersenyum dan geleng geleng kepala saat melihat Felix dan Bram yang terlihat berpikir saat melihat mobil yang berhenti di depan mereka saat ini.


Jero kemudian membuka pintu mobil dan turun saat melihat Vallet yang lainnya datang untuk menegur pemilik mobil agar memarkir mobil di bestman restoran.


"Hah? " ujar Felix dan Bram kaget saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil.


Jero berjalan mendekati kedua adiknya itu.


"Tutup mulut kalian berdua, masuk lalat baru tahu rasa kalian" ujar Jero menasehati kedua adiknya itu.


"Mobil siapa Bang?" tanya Bram yang memang tidak pernah bisa menahan rasa ingin tahu dirinya.


"Mobil gue lah. Mobil siapa lagi. Emang gue bakat nyuri apa." ujar Jero menjawab pertanyaan Bram.


Mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam restoran. Manager restoran yang melihat siapa yang datang langsung menyapa mereka bertiga.


"VVIP apa ada yang make?" tanya Jero kepada Manager.


Manager mengantarkan Jero dan kedua adiknya menuju ruangan VVIP yang diminta oleh Jero. Manager kemudian membukakan pintu ruangan. Jero dan kedua adiknya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Tolong makanannya." ujar Felix meminta manager menyediakan makanan kesukaan mereka yang sudah diketahui oleh Manager dan koki restoran.


"Siap Tuan" jawab manager.


Manager kemudian keluar dari dalam ruangan VVIP. Dia akan mengambilkan makanan yang diinginkan oleh Jero dan yang lainnya.


"Jadi, apa yang terjadi dengan perusahaan Wijaya Grub itu, kenapa mereka ikut campur dalam urusan Gue?" tanya Jero kepada Felix dan Bram.


"Loe cerita Bram" ujar Felix yang memang tidak bisa bercerita. Felix adalah tipe orang melakukan, bukan tipe orang yang bercerita.


"Jadi gini Bang. Saat kami berdua ngadain meeting dengan Tuan Wijaya, saat itulah video dan berita itu tersebar. Asisten Tuan Wijaya memberitahukan kepada Tuan Wijaya kalau pekerjaan mereka telah selesai" ujar Bram memulai ceritanya.


"Setelah itu, ntah karena bahagia atau kesenangan, Tuan Wijaya bercerita kepada kami apa yang menyebabkan dia berbuat seperti itu." Lanjut Bram bercerita.


"Apa?" tanya Jero yang memang sudah tidak sabaran lagi.


"Dua perusahaan itu memang tidak pernah menjalin kerjasama. Sebenarnya bukan tidak pernah tetapi hampir pernah dan gagal. Ntah kenapa gagal kami juga nggak tau" ujar Bram yang langsung menjawab sebelum Jero bertanya kenapa bisa gagal.


"Bram langsung ke intinya. Kenapa mereka melakukan hal itu" ujar Jero yang mulai kesal Bram tidak juga masuk ke inti pembicaraannya.


"Penyebab utamanya, anak satu satunya Tuan Wijaya mencintai Juan. Mereka sudah pergi melamar Juan Aleksander dengan resmi. Tetapi di tolak karena Juan Aleksander leblebih memilih menikahkan Juan Aleksander dengan Vian Bramantya" Ujar Bram melanjutkan ceritanya.


"Tetapi ada yang lebih fatal Bang." ujar Bram dengan hati hati.


"Apa?" tanya Jero menatap Bram dan Felix.


Pada saat itu manager dan beberapa pelayan masuk ke ruangan VVIP, mereka membawakan pesanan makanan untuk Jero, Felix dan Bram.


"Bang, boleh nggak gue makan dulu, nanti baru lanjutin ceritanya. Gue laper Bang" ujar Bram yang memang sudah sangat kelaperan.


"Oke. Kita makan dulu, siap itu loe lanjutin ceritanya." ujar Jero kepada Bram.


"Setuju. Itu baru keren" jawab Bram sambil tersenyum bahagia.


"Dasar leo, yang dipikirin perut aja terus" ujar Felix sambil memukul tangan Bram dengan sendok.


Mereka bertiga kemudian makan dalam diam. Mereka menikmati hidangan yang telah disediakan. Dalam waktu tiga puluh, makanan sudah berpindah ke dalam perut mereka bertiga.


"Loe makan kayak orang nggak pernah makan Bram." ujar Jero saat melihat bagaimana banyaknya Bram menikmati makanan yang dihidangkan.


"Hahahaha. Makanan enak banyak Bang. Tapi makanan di restoran ini sangat jarang gue makan Bang" ujar Bram yang memang sangat jarang ke restoan yang sekarang mereka berada.


"Jadi, gimana kelanjutan pembicaraan kalian tadi?" tanya Jero yang masih penasaran dengan kelanjutan cerita Bram tadi.


"Target Tuan Wijaya selanjutnya adalah Vian Bramantya" ujar Bram memberitahukan kepada Jero target selanjutnya Tuan Wijaya.


"Wow. Dia mau bermain dengan Gue?" ujar Jero dengan nada dingin.


"Apa dia nggak tau Vian Bramantya itu siapanya gue?" Lanjut Jero dengan percaya dirinya.


"Lah emang nggak tau Bang. Loe ngado ngasi Bang." Ujar Bram sambil memukul keningnya sendiri.


"Iya juga ya Bram. Gue emang lah ya" Jero mulai bisa bercanda kembali.


"Tapi kalau dia menargetkan Vian, maka dia harus siap siap melawan gue." ujar Jero dengan nada dinginnya.


"Jadi sekarang kita harus ngapain Bang?" sekarang giliran Felix yang bertanya kepada Jero.


"Kita tunggu aja dia mulai. Gue nggak akan mulai duluan. Tapi kalau Tuan Wijaya sudah mulai mengusik Vian. Jangan harap mereka akan bisa berada di dunia bisnis lagi" ujar Jero sambil meremas serbet yang berada di dekat dirinya.


Felix dan Bram menatap ngeri ke wajah Jero yang sedang marah itu. Mereka sudah bisa membayangkan apa yang terjadi kepada Wijaya Grub kalau sempat mereka mengusik Vian.


Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolan ringannya. Obrolan seputar pekerjaan yang sedang mereka lakukan masing masing.


Tiba tiba ponsel Jero yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Jero melihat siapa yang menghubunginya.


"Siapa?" tanya Felix kepada Bram.


"Kakak ipar" jawab Bram memberitahukan kepada Felix siapa yang menghubungi Jero.


Jero kemudian mengangkat panggilan dari Vian itu.


"Hallo Vian, ada apa?" tanya Jero kepada Vian.


"Jero balik sekarang ya. Aku takut sendirian" ujar Vian kepada Jero dengan nada suara yang takut.


"Ada apa Vian?" tanya Jero yang mulai paranoid karena mendengar ancaman yang diberikan Tuan Wijaya.


"Pokoknya pulang sekarang" ujar Vian mulai menangis.


"Iya iya, aku pulang sekarang" ujar Jero mulai panik dan cemas dengan Vian.


Jero langsung berdiri dan berjalan cepat keluar ruangan VVIP


"Bang, Vian nginap di hotel Asander kan ya?" ujar Bram yang ingat dimana Vian dan Jero menginap.


"Bener, kenapa?" tanya Jero kembali


"Bang, tinggal telpon Andre saja untuk keamanan kenapa harus panik begini Bang" ujar Bram yang ingat kepala pengamanan di sana adalah Andre.


"Loe hubungin Andre. Suruh dia berdiri di depan kamar Vian." Perintah Jero kepada Bram.


Bram kemudian menghubungi Andre kepala keamanan hotel Asander. Bram meminta Andre untuk berjaga di depan kamar Vian, menjelang Jero sampai di sana.


Jero masuk ke dalam mobil yang telah di parkir, begitu juga dengan Felix dan Bram. Mereka berdua akan menginap di Hotel Asander. Mereka tidak mungkin membiarkan Jero menghadapi perlawanan dari Tuan Wijaya sendirian.


Dua mobil itu melaju dengan sangat kencang. Jero dan Felix menggeber maksimal mobil mereka masing masing. Dalam waktu lima belas menit mereka sampai di hotel. Vallet kemudian memarkir mobil mereka ke parkiran khusus.


Jero, Felix dan Bram langsung masuk ke dalam lift. Mereka menuju kamar Vian.


"Ada yang mencurigakan Ndre?" tanya Bram kepada Andre yang setia berdiri di samping kamar Vian.


"Tidak ada Tuan. Semua berjalan biasa saja" ujar Andre menjawab bagaimana keadaan di sekitar kamar Vian.


"Oke sip. Sekarang loe boleh kembali. Kami akan menginap di kamar sebelah" ujar Bram.


Jero kemudian masuk ke dalam kamar, begitu juga dengan Felix dan Bram, mereka masuk ke kamar tepat di sebelah kamar Jer. Sedangkan Andre, dia tetap berjaga jaga di lantai tersebut dengan dua orang pengawal yang lainnya.