My Affair

My Affair
BAB 123



Vian kembali masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai tia mansion besar milik kekasihnya Jero tersebut. Vian kemudian mengambil laptop miliknya yang diberi oleh Jero saat Vian mau melakukan pendaftaran kuliahnya kemaren malam. Vian memilih untuk belajar di balkon kamar sambil menikmatiudara yang sepoi sepoi berhembus ke wajah Vian. Vian memang lebih suka dengan ac alami dari pada ac yang memang untuk mobil pribadi. Vian memandang ke arah belakang mansion. Kebetulan balkon kamar Vian menghadap ke danau buatan yang ada di bagian belakang mansion besar itu. Vian menaruh laptop miliknya di atas meja. Vian menghidupkan laptop miliknya itu. Sambil menunggu laptop ready, Vian meneruskan menatap ke arah balkon kamar.


"Wow, ternyata pemandangannya keren banget. Kok gue baru sadar ya pemandangan dari sini sangat luar biasa keren sekali. Gue kira kemaren pemandangannya hanya kolam berenang saja, seperti rumah rumah biasanya" ujar Vian yang sangat kaget dengan apa yang disajikan di bagian belakang mansion mewah milik Jero itu.


Pada bagian belakang mansion tidak hanya kolam renang saja yang ada di saja. Tetapi juga ada danau buatan, lapangan golf mini, kolam ikan koi yang di atasnya ada gazebo. Belum lagi kandang kuda yang letaknya tidak begitu jauh dari mansion utama. Serta yang tidak boleh ketinggalan sama sekali yaitu taman bunga dan tak ketinggalan pohon buah buahan yang sekarang sedang berbuah dan ada yang sudah masak.


"Bukannya itu batang mangga ya?" ujar Vian melihat sebuah batang yang sebenarnya tinggi, tetapi karena Vian berada di lantai tiga mansion, jadi melihat pohon itu tidak begitu tinggi.


"Kalau bener itu buah mangga. Gue akan ambil mangga mudanya dan akan buat sambal mangga untuk makan siang nanti." ujar Vian yang sudah bisa membayangkan kelezatan dari sambal mangga yang akan dibuatnya untuk bekal makan siang Jero dan Felix.


"Apa Jero suka ya, sambal mangga?" ujar Vian yang takut dan segan kalau Jero tidak suka dengan sambal mangga, sehingga sambal itu nanti bisa terbuang karena tidak banyak yang akan menikmati sambal mangga itu.


"Kalau Jero nggak mau ya gue makan sendiri aja. Susah banget" ujar Vian menjawab sendiri pertanyaannya yang diajukan oleh dirinya sendiri.


Vian terlihat berpikir sambil memandang danau buatan itu. Vian memikirkan sambal apa yang akan dibuatkannya untuk makan siang para penghuni mansion. Vian benar benar memikirkan menu sehat apa yang akan dibuat oleh Vian untuk mereka mereka yang mau bekerja itu.


"Jadi menu makan siang hari ini, adalah sambal mangga, Ayam bakar bumbu rujak, tempe dan tahu bacem serta capcay sebagai sayurnya, wow kerupuk jangan lupa, Jero nggak akan bisa makan kalau tidak ada kerupuk" ujar Vian yang sudah memutuskan akan memasak sambal apa untuk makan siang mereka nanti.


Vian masih terus melihat ke taman belakang, alam begitu damai menyapa setiap manusia yang ada di bumi, tetapi sayangnya mereka yang merusak alam, alam yang disalahkan kanepa bisa begini, kenapa bisa begitu, sehingga dia sampai lupa kalau dia akan belajar untuk menyambut perkualiahannya yang akan dilakukan tiga bulan lagi.


"Kalau bisa perceraian aku dengan Juan selesai dalam dua bulan ini. Aku tidak mau kuliah aku terganggu karena harus bolak balik ke negara I guna mengurus perceraian itu" ujar Vian yang memiliki harapan supaya pengurusan perceraiannya dapat dengan cepat diselesaikan. Vian sudah tidak sanggup lagi kalau harus disuruh tetap menjalankan hubungan rumah tangga dengan pria yang terkenal baik di luar tetapi kasar di dalam tersebut.


"Aku harus membicarakan hal ini kepada Jero. Aku sudah tidak sanggup lagi kalau tetap harus menjalankan rumah tangga yang bagai neraka ini dengan pria seperti itu" lanjut Vian yang sudah membulatkan tekadnya untuk segera sembuh dari rasa trauma yang ada dalam dirinya. Vian benar benar ingin melepaskan dirinya dari cengkraman Juan Aleksander dengan semua kejahatan yang sudah diberikan oleh dirinya kepada Vian selama mereka berumah tangga. Tidak hanya sakit fisik diberikan oleh pria itu kepada Vian, tetapi juga sakit psikis.


"Setelah terapi selesai, gue akan langsung mengajukan gugatan. Semoga Jeri bisa menolong gue dan Jero" lanjut Vian sambil melihat ke batang rambutan yang buahnya sudah masak masak. Belum lagi lengkeng yang juga sudah ada yang masak.


Vian kemudian membuka laptop miliknya. Vian akan belajar mengolah soal soal yang diberikan oleh sahabatnya itu. Vian memiliki sahabat karena pada hari itu Vian menolong seorang wanita yang masih kecil,dari penculikan yang sedang marak terjadi kembali di daerah itu.


Berhubung saat Vian menemukan anak yang menangis nangis, saat itu Vian belum memiliki penghasilan sendiri memutuskan untuk memberikan anak kecil itu kepada keluarga yang mampu. Akhirnya anak itu dijaga dan dibesarkan oleh seorang kapolres baik hati yang mau menjaga anak yang dibuang oleh orang tuanya.


Tepat pukul sebelas, alarm jam tangan Vian berdering. Vian melihat jam tangannya itu, Vian mendapati jarum jam sudah berada di angka sebelas. Vian kemudian membawa laptop miliknya ke dalam kamar. Setelah itu Vian melanjutkan langkahnya menuju dapur. Vian akan langsung mengeksekusi bahan bahan makanan yang tadi sudah dipikirkan oleh Vian akan memasak apa untuk menu makan siang mereka.


Vian menuju lantai satu mansion. Vian akan tetap mengambil mangga muda yang ada di taman belakang mansion.


"Tapi siapa yang akan disuruh manjat ya?" ujar Vian berpikir siapa yang akan dimintai tolong untuk membeli minuman untuk dirinya dan busway.


Vian berjalan terus menuju lantai satu mansion keluarga Asander. Vian berharap bisa bertemu dengan salah satu asisten rumah tangga yang bisa dimintai tolong untuk mengambil buah mangga tersebut.


"Pak, bisa saya meminta tolong sebentar?" tanya Vian kepada tukang kebun yang sedang asik mencabut rumput liar yang tumbuh di sela sela. bunga di taman belakang.


"Bisa Nyonya. Ada apa Nyonya?" tanya tukang kebun kepada Vian


"Aku ingin mangga yang itu" ujar Vian sambil menunjuk pohon mangga yang buahnya tidak sebanyak yang di dalam pikiran Vian.


"siap Nyonya" jawab tukang kebun kepada Vian


Tukang kebun kemudian berjalan menuju batang mangga yang manis yang tumbuh di perkarangan kebun belakang. Tukang kebun kemudian mengambil beberapa buah mangga muda yang terlihat sangat ranum itu untuk Vian.


"Nona muda ini" ujar Tukang kebun sambil memberikan kepada Vian mangga muda yang sudah dipetik oleh tukang kebun.


"Terimakasih banyak, Pak" ujar Vian dengan raut wajah menunjukkan kalau dia sangat bahagia mendapat mangga muda yang diberikan oleh tukang kebun itu


"Nona Vian aman kan ya? Kok mintak mangga muda?" ujar tukang kebun yang memiliki pemikiran aneh di kepalanya.


"Ah gue gak boleh berpikiran aneh aneh. Bisa kena marah Tuan Muda gue nanti" lanjut tukang kebun menjawab sendiri apa yang dikatakan oleh dirinya tadi


Vian yang sudah berada kembali di dapur, mengeluarkan semua bahan bahan yang diperlukan oleh Vian dari dalam almari pendingin. Vian akan membuat makanan yang dari tadi pagi sudah dipilihnya untuk di masak.


Vian mengolah semua bumbu yang diperlukan untuk membuat ayam bakar bumbu rujak, capcay dan sambal mangga muda serta kerupuk kulit yang di goreng kembali di kasih kelapa parut yang digoreng.


"Kakak ipar, apa masih ada nasi goreng tadi pagi waktu sarapan?" ujar Bram yang merasakan perutnya sangat lapar dan perlu di isi supaya tidak berteriak teriak lagi.


Vian melihat ke arah Bram. Bram tersenyum kepada Vian.


"Ada apa?" tanya Vian kepada Bram.


Bram terlihat sedikit meringis, hal itu nampak dari raut wajah Bram yang sudah tidak tahan lagi menahan lapar.


"Apa masih ada nasi goreng sarapan tadi kakak ipar, aku lapar banget" ujar Bram mengulang kembali pertanyaannya kepada Vian.


Vian tadi ternyata sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya. Vian saking tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, meminta Bram untuk mengulang pertanyaannya kembali.


"Masih ada, bentar kakak ambilkan. Kamu tunggu saja di meja makan" ujar Vian meminta Bram untuk menunggu di meja makan.


Vian mengambil nasi goreng yang dipanaskannya di dalam alat pemanas nasi. Kemudian menghangatkan kembali omelet yang sudah dingin itu. Vian juga tidak lupa membuatkan secangkur teh untuk menemani sarapan Bram.


Setelah semuanya disiapkan oleh Vian. Vian membawa makanan dan juga minuman untuk sarapan Bram ke meja makan, dimana Bram sudah duduk di sana menunggu sarapannya di antar oleh Vian.


"Ini, selamat makan" ujar Vian menarik makanan dan minuman untuk sarapan yang akan dinikmati oleh Bram sebentar lagi.


"Oh ya kakak ipar, sebelum aku lupa. Kakak ipar nanti berangkat dengan aku ke perusahaan Bang Jero. Itu tadi pesan Bang Jero saat dia menghubungi aku sebentar ini" kata Bram menyampaikan pesan yang harus dilakukan oleh Vian saat mengantarkan menu makan siang mereka.


"Hem emang kamu beneran udah bangun sekarang?" tanya Vian yang penasaran apakah Bram sudah bangun atau akan kembali tidur saat setelah selesai memakan sarapannya itu.


"Udah bangun kakak ipar. Ini yang bangunkan adalah suara menggelegar kekasih kakak itu. Untung aja Bang Jero membangunkan aku, kalau tidak ini perut udah teriak teriak terus" ujar Bram yang mengucapkan rasa terimakasih nya kepada Jero karena Jero sudah membangunkan dirinya, kalau tidak perut Bram pasti sudah habis di gerogoti cacing cacing yang berada di dalam perut Bram saat ini.


"Oh baiklah, kakak masak dulu. Kamu lanjut makan saja, tidak baik begadang kalau tidak dibantu dengan makan yang teratur. Bisa sakit nanti" ujar Vian memberikan nasehatnya kepada Bram untuk menjaga kesehatan selama dia begadang menyelesaikan masalah perusahaan.


Bram kemudian melanjutkan menyuap sarapannya. Sedangkan Vian sudah kembali ke dapur untuk membuat menu makan siang bagi mereka semua. Vian akan berencana makan siang di perusahaan Jero juga. Jadi dia akan membawa semua menu makan siang itu ke perusahaan Jero.


Sedangkan untuk menu makan malam, Vian akan meminta seorang chef di mansion ini untuk membuat menu makan malam mereka. Vian memang memperbolehkan chef memasak menu makan malam. Karena kalau harus tiga kali Vian memasak makanan maka Vian sama sekali tidak sanggup.


"Kalau sudah kuliah aku akan minta chef untuk masak pada siang hari. Biar makan malam aku yang masak" ujar Vian sambil menggiling bumbu rujak untuk ayam bakar yang akan dimasak oleh Vian sebagai menu utama makan siang mereka.


Bram terlihat serius menikmati sarapannya. Dia sama sekali tidak melihat gadget saat sedang menikmati sarapan berupa nasi goreng dan omelet itu. Makanan yang dibuat oleh Vian benar benar enak. Sehingga membuat siapapun yang makan makanan Vian tidak mau menikmatinya sambil melakukan kegiatan lain.


"kakak ipar aku telah selesai. Aku mandi dulu dan bersiap siap ya kakak ipar. Nanti kalau kakak ipar telah selesai masak dan bersiap siap ketuk saja pintu kamar aku ya kakak ipar." ujar Bram memberikan pesannya kepada Vian sebelum dia kembali ke kamarnya.


Bram akan melihat perkembangn perusahaannya yang berada di negara I. Bram juga ingin memastikan kalau pengkhianat itu telah dimasukkan ke dalam tempat yang sepantasnya dia berada di sana.


Bram kemudian menghubungi orang kepercayaan nya di perusahaan dengan cara video call.


"Hay bro bagaimana dengan orang itu?" tanya Bram saat panggilan video sudah terhubung dengan orang kepercayaannya yang sekarang diminta oleh Bram untuk mengatasi masalah di perusahaannya itu


"Sudah gue berikan semua bukti buktinya kepada pihak kepolisian. Mereka sebentar lagi akan turun ke prusahaan untuk menangkap pria kurang wajar tersebut. Dia sudah sangat berani masuk ke dalam perusahaan kita dan membuat gaduh perusahaan" ujar orang kepercayaan Bram dengan nada emosi.


"Baiklah gue serahkan masalah pria tersebut ke elo. Gue mungkin akan kembali ke negara I dua bulan lagi. Kakak ipar gue belum kembali sehat. Kami tidak mungkin meninggalkan Kak Jero di sini sendirian." ujar Bram memberitahukan keadaan di sini kepada orang kepercayaannya itu.


"tidak masalah Bram. Loe urus yang di sana, gue akan urus yang di sini. Gue yakin setelah orang itu di tangkap tangan di perusahaan tidak akan ada lagi yang berani berbuat curang di perusahaan kamu ini" ujar orang itu dari seberang dengan raut wajah yang optimis kalau semua yang akan dilakukan oleh dirinya nanti akan membuat siapapun di perusahaan itu menjadi jera dan tidak akan berani melakukannya lagi.


Mereka berdua kemudian terlibat obrolan seputar bisnis yang sedang mereka kerjakan berdua di salah satu pulau wisata di pulau S. Salah satu pulau terbesar di negara I. Bram dan sahabatnya itu membuat salah satu objek wisata air yang sangat bagus dan aman di daerah itu.


Sedangkan Vian sibuk dengan semua olahan masakannya di dapur. Beberapa orang maid terlihat berdiri di dekat Vian. Mereka diajarkan oleh Vian bagaimana cara mengolah masakan yang sedang di masak oleh Vian.


Tepat satu jam berlalu. Masakan yang diolah oleh Vian telah selesai. Vian kemudian menuju lantai tiga mansion untuk memberitahukan kepada Bram kalau dia telah selesai masak.