My Affair

My Affair
Keluarga Alexsander Semakin Kacau



"Berhubung para pelayan tidak ada di mansion, sebaiknya saya masak untuk makan malam kami berdua" ujar Mami sambil bangun dari posisi tidurnya.


Mami yang merasa badannya dan pikirannya sudah kembali normal berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya.


"Bersih bersih dulu setelah itu baru masak menu makan malam" ujar Mami sambil mengambil handuk yang sudah di susun rapi oleh para pelayan sebelum mereka pergi dari mansion milik Juan Alexsander.


Mami melangkahkan kakinya yang sudah mulai terasa sedikit lebih ringan dari pada saat mengetahui bahwasanya para pelayan di mansion besar ini telah pergi berjalan menuju kamar mandi. Mami akan keramas terlebih dahulu, setelah itu baru dirinya akan memasak menu makan malam.


Sedangkan di lantai dua mansion, Juan Alexsander yang telah selesai membersihkan tubuhnya karena sehabis bermimpi tentang hal yang sangat menakutkan dalam jiwanya itu langsung berjalan menuju lantai satu mansion. Juan turun sambil sedikit bersiul dengan ringan. Juan sedang berusaha menetralkan kembali pikirannya saat ini setelah apa yang disaksikannya di mansion, dimana para pelayan tidak seorang pun berada di mansion miliknya itu.


"Apa gue pesan makanan saja ya, untuk menu makan malam dengan Mami malam ini?" ujar Juan Alexsander sambil membuka layanan pemesanan makanan melalui aplikasi ojek online tersebut.


Baru saja Juan Alexsander akan memesan makanan melalui aplikasi pemesanan tersebut, Mami yang berjalan dari kamar memanggil Juan.


"Ada apa Mi?" jawab Juan yang kaget Mami memanggil dirinya dengan nada sedikit tinggi.


"Mami kira kamu belum bangun Juan. Mami takut kok siapa yang duduk di bangku itu, makanya Mami panggil kamu dengan cukup kuat" kata Mami menjelaskan kepada Juan kenapa Mami sampai berteriak memanggil Juan saat ke luar dari dalam kamarnya.


"Aku kira Mami belum bangun Mami." ujar Juan menjawab perkataan dari Mami yang baru saja sampai di dapur.


"Mami mau ngapain?" tanya Juan saat melihat Mami sudah berada di dapur dan memakai celemek untuk memasak menu makan malam untuk dirinya dan juga Juan Alexsander.


"Mau masak makan malam untuk kita lah Juan. Di sini sudah tidak ada pelayan lagi, sedangkan perut Mami lapar, emang perut kamu tidak lapar?" tanya Mami sambil menatap ke arah Juan Alexsander.


"Lapar lah Mami, tapi apa tidak lebih baik kita beli siap aja Mami, dari pada Mami harus capek capek masak. Sambil menunggu pesanan datang, kita bisa mengobrol membahas tentang kasus pelayan yang hilang dan juga Papi" ujar Juan Alexsander memaparkan kepada Mami tentang rencana yang dimiliki oleh Juan Alexsander tersebut.


Mami menimbang nimbang apa yang dikatakan oleh Juan Alexsander tersebut. Mami memikirkan efek baiknya kalau dirinya memesan makanan dari luar saja.


"Bener kamu Juan, memang lebih baik kalau kita memesan menu makan malam saja dari pada Mami yang memasak." kata Mami yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Juan untuk membeli menu makan malam dari luar saja.


"Sekalian kita bisa menghemat tenaga dan melanjutkan diskusi tentang berbagai permasalahan yang sedang kita hadapi ini" ujar Mami menambahkan alasan Mami memilih untuk memesan makanan dari luar dari pada membuat sendiri menu makan malam untuk dirinya dan Juan


"Mami mau makan malam dengan menu apa?" tanya Juan kepada Mami yang sekarang sudah duduk di sofa ruang keluarga.


"Sup ayam di restoran langganan keluarga kita aja Juan" ujar Mami memilih menu makan malam berupa sup ayam sekaligus menentukan langsung di restoran mana menu sup ayam itu harus di pesan oleh Juan.


Juan kemudian melakukan pemesanan untuk menu makan malam yang akan di makan oleh dirinya dan juga Mami. Juan memesan dua porsi sup ayam dan juga tidak lupa crosiant dan roti prancis untuk menu pendamping dari sop ayam yang menjadi menu utama makan malam mereka berdua.


"Mami menurut Mami kepada semua pelayan di rumah ini ya?" tanya Juan kepada Mami saat mereka sudah duduk berhadap hadapan di  sofa ruang keluarga yang sangat luas tersebut.


"Itulah Juan, Mami juga tidak bisa menebak mereka kemana, karena bagaimanapun juga, mereka bukanlah orang dari negara ini, mereka semua dari negara E, apa mungkin mereka pulang ke negara E tanpa sepengetahuan kamu ya?" jawab Mami yang juga tidak mengetahui dan tidak memiliki gambaran kemana semua pelayan itu perginya hari ini.


"Kemana lah mereka ya" kata Juan berusaha mengingat ingat dan menerka nerka dalam pikirannya kemana semua pelayan itu akan pergi.


"Sudah, tapi sama sekali tidak di angkat Papi panggilan dari Mami" jawab Mami yang memang sudah berkali kali menghubungi Papi tetapi sama sekali tidak di respon oleh Papi.


"Kok bisa gitu banget Papi ya Mi," ujar Juan yang nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Papi kepada Mami.


Papi dengan gampangnya mengacuhkan panggilan telpon dari Mami. Padahal selama ini tidak pernah hal itu terjadi antara Papi dengan Mami, malahan biasanya mereka berdua saling menghubungi antara satu dengan yang lainnya.


"Atau jangan jangan Papi sudah tahu lagi Mami apa yang kita lakukan terhadap Vian"


Juan menduga duga apa yang sudah terjadi selama mereka tidak bersama dengan Papi.


"Mami, aku hanya takut kalau papi tahu semuanya. bisa habis kita Mami."


"Mami tahu sendirilah bagaimana sayangnya Papi kepada menantunya itu. Sedangkan sudah pergi dengan pria lain saja dia masih sayang" ujar Juan berkata dengan nada sinis dan terlihat sangat tidak suka dengan apa yang telah dilakukan oleh Papi terhadap Juan apalagi terhadap Mami.


"Itulah Mami juga heran kenapa Papi bisa seperti itu bersikap kepada kita berdua." kata Mami mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Mami mengira Papi tidak akan melakukan hal seperti ini" lanjut Mami sambil menatap jauh ke depan.


"Jadi kemana kita harus mencari semua pelayan dan juga Papi, Mami?" tanya Juan kepada Mami sambil menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi.


"Mami, kira kita harus kembali ke negara E untuk mencari mereka. Mami yakin kalau mereka semua pasti pergi ke sana" jawab Mami memberikan ide kepada Juan untuk mencari Papi dan juga para pelayan ke Negara E, Negara tempat asal mereka semua.


"Oh ya Juan. Kamu hubungi saja pilot pesawat perusahaan, mana tahu dia di minta oleh Papi untuk mengantarkan para pelayan pergi ke suatu tempat, saat Papi tahu apa yang telah kita lakukan kepada wanita tersebut" ujar Mami mengatakan hal yang sangat masuk akal kepada Juan.


"Bener juga ya Mi, kenapa nggak kepikiran dari tadi juga ya mi" ujar Juan.


Juan mengambil ponsel miliknya, dia kemudian menghubungi pilot pesawat perusahaan. Juan terlihat bercakap cakap dengan orang di seberang sana dengan nada serius dan sekali sekali terlihat Juan mengerenyitkan keningnya karena tidak mengerti atau sangat marah mendengar apa yang dikatakan oleh pilot kepada dirinya. Mami yang melihat bagaimana ekspresi Juan menjadi sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Juan dengan pilot pesawat perusahaan tersebut.


Setelah berbicara lebih kurang setengah jam, Juan kembali ke dekat Mami. Bertepatan dengan Juan yang baru saja duduk di sofa ruang keluarga, mendadak harus berdiri lagi saat mendengar bel pintu mansion tersebut di ketuk dari luar.


Juan membuka pintu mansion, ternyata kurir dari restoran tempat mereka memesan makanan datang membawa dua kotak hitam dengan logo emas di tangan kurir. Juan memberikan uang sesuai dengan tagihan yang di bawa oleh kurir, sekaligus memberikan sedikit kelebihan berupa tip kepada kurir yang telah bersedia mengantarkan menu makanan untuk dirinya dan Mami.


Juan kembali ke dekat Mami.


"Mami makan malam kita sudah sampai, bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu, setelah itu baru kita lanjutkan pembicaraan kita sesuai dengan hasil telpon antara aku dengan pilot pesawat" kata Juan mengajak Mami untuk makan malam terlebih dahulu.


"Oke Juan mari kita makan" kata Mami yang setuju untuk makan malam dengan Juan sekarang.


Perut Mami sebenarnya juga sudah sangat lapar, sehingga Mami perlu menikmati makan malamnya terlebih dahulu, sebelum perutnya semakin sakit.