
Tepat pukul setengah tujuh malam waktu negara F. Jero, Vian, Felix, Bram, Jeri, Greta dan Tama serta pengawal yang ada di villa besar itu telah selesai bersiap siap, mereka telah stanbay di ruang tamu villa, mereka semua sudah dalam kondisii siap untuk berangkat menuju kafe yang sudah di booking oleh Bran untuk acara malam ini. Mereka tinggal berangkat menuju cafe yang telah di pesan oleh Bram untuk tempat mereka mengadakan perayaan atas kemenangan tim Jero dan Vian saat pertandingan tenis yang dilakukan pagi menjelang siang tadi.
"Sudah siap semua?" ujar Bram bertanya kepada semua pengawal.
"Siap Tuan Muda" jawab mereka dengan kompak.
"Keempat abang abang tercinta dan juga dua calon kakak ipar yang cantik cantik, apakah sudah siap untuk berpesta pada malam ini?" ujar Bram yang memang selalu norak seperti ini kalau di tengah tengah keluarganya. Tetapi kalau sudah di luar, maka orang orang tidak akan bisa menemukan Bram yang seperti ini. Bram yang norak, Bram yang banyak omongan dan Bram yang nggak tau malu.
"Siap Bram" jawab Tama yang mewakili Jero, Felix dan Jeri menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bram kepada mereka berempat.
"Siap selalu Bram" kali ini Greta menjawab mewakili Vian.
"Oke keren" ujar Bram
Kali ini ntah kenapa seluruh pengawal ntah ditentukan atau ntah dipaksa semua memakai pakaian serba putih putih, padahal biasanya mereka memakai pakaian hitam kalau nggak warna warna gelap. Sedangkan Jero tetap dengan ciri khasnya pakaian serba hitam, hingga membuat Vian menyesuaikan dengan Jero dan yang lainnya juga menyesuaikan dengan Jero.
"Sayang, kenapa semua pengawal bisa kompak memakai pakaian serba putih putih?" ujar Vian bertanya kepada Jero saat melihat semua pengawal mereka tanpa terkecuali memakai pakaian serba putih putih. Sehingga membuat Jero, Vian, Felix, Bram, Jeri, Greta dan Tama seperti berada di tengah tengah kapas, karena baju mereka berwarna senada, sedangkan pengawal memakai warna putih.
"Nggak tau juga sayang, sepertinya mereka dikondisikan untuk memakai pakaian itu. Kalau nggak dikondisikan mana mungkin mereka semua memakai pakaian putih." jawab Jero yang sebelumnya juga heran melihat pakaian yang dipakai oleh para pengawal mereka. Tetapi Jero menemukan jawabannya dengan sangat cepat. Para pengawal mereka memiliki satu grub chat, sehingga semua informasi bisa di bagi di grub itu, jadi tidak mustahil bisa membuat para pengawal kompak memakai pakaian putih.
"Sudah Bram? Bisa berangkat sekarang?" tanya Jero kepada si pemegang acara.
"Sudah Bang" jawab Bram dengan tegas.
Mereka semua memang sudah siap untuk berangkat menuju kafe tersebut. Para pengawal sudah tidak sabaran lagi untuk berpesta.
Josua dan Ryan kemudian membukakan pintu untuk Jero, Vian, Felix dan Bram.
Sedangkan Jeri, Greta dan Tama dalam satu mobil dengan asisten dan juga sopir pribadi Jeri.
Pengawal yang lain masuk ke dalam lima mobil mini bus. Begitu juga dengan para pengawal Felix, Bram dan Tama. Untuk menghemat mobil yang harus keluar mereka memilih untuk memakai mini bus yang muat banyak orang di dalamnya.
Tujuh mobil hitam bergerak beriringan meninggalkan villa mewah itu. Ke tujuh mobil bergerak menuju kafe yang telah dipesan oleh Bram. Kafe yang terletak di tepi pantai, sehingga para pengawal bisa duduk duduk dan bercengkrama di tepi pantai.
"Bang, beneran besok mau ke negara I?" ujar Bram bertanya kepada Felix saat mereka berdua sudah duduk di dalam mobil dan duduk berdampingan.
Felix menatap ke arah Bram. Felix bertanya tanya dari siapa Bram tahu kalau dia akan ke negara I besok, padahal Felix hanya memberitahukan keberangkatannya kepada Jero saja.
"Dari siapa kamu tahu kalau Abang mau ke negara I?" ujar Felix bertanya kepada Bram.
Felix mengangguk, kemudian
"Haha haha haha, lupa gue. Maafkan Abang kamu yang alfa ini ya." ujar Felix yang lambat menyadari hal tersebut.
Bagaimana Bram tidak tahu kalau Felix akan berangkat ke negara I walaupun Felix tidak memberikan informasi itu kepada Bram. Bram adalah pemegang penuh setiap armada baik bus, kapal, pesawat milik Asander Grub. Jadi setiap armada itu mau di pakai, maka siapa yang menjadi penanggung jawab armada itu akan memberitahukan kepada Bram kalau mereka ada jadwal keberangkatan.
"Kebiasaan. Jadi, apa benar abang mau ke negara I besok? Ada apa?" ujar Bram kembali bertanya kepada Frans.
"Iya, besok rencananya abang akan terbang ke negara I. Ada masalah di salah satu anak cabang perusahaan" ujar Felix menjawab pertanyaan yang diajukan oleh adik kesayangannya itu.
"Apa itu Bang? Berat?" lanjut Bram bertanya kepada Felix.
"Kelihatannya tidak. Kenapa mau ikut? Tega ninggalin Bang Jero di sini sendirian?" ujar Felix menggoda Bram dan memberikan pilihanĀ yang sangat berat kepada Bram.
Bram melihat ke arah Felix. Dia tahu kalau Felix sengaja melakukan hal itu kepada dirinya.
"Abang sengaja narok gue dalam posisi ini Bang?" kata Bram sambil melihat ke arah Felix.
"Sengaja sih ndak Bram. Tapi mumpung bisa" jawab Felix sambil menahan tawanya saat melihat wajah Bram yang langsung berubah itu.
Bram menjadi kesal kepada Felix. Felix telah melakukan suatu hal yang dengan sengaja membuat Bram harus berada di posisi sulit.
Jero bisa mendengar dengan sangat jelas pembicaraan antara kedua adiknya itu. Jero kemudian melihat ke arah belakang.
"Apa kamu mau ikut dengan Felix ke negara I, Bram?" ujar Jero bertanya kepada Bram sambil tersenyum menatap ke arah adik bungsunya itu.
"Jangan buat posisi aku menjadi sangat rumit Bang" ujar Bram menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
"Mana ada abang bikin kamu menjadi rumit. Nggak ada. Nggak sama sekali" kata Jero meyakinkan Bram kalau Jero sama sekali tidak manaruh Bram dalam posisi sulit.
"Iyalah, udah jelas aku nggak akan bisa ninggalin antara abang atau bang Felix. Malah sekarang nyuruh aku untuk milih antara ikut abang atau bang Felix" ujar Bram yang kesal dengan kedua abangnya itu.
Bram tidak akan pernah bisa memilih mau pergi dengan siapa walaupun itu hanya sebentar. Lain cerita kalau mereka masih dalam satu negara yang sama. Bram masih bisa pergi dengan nyaman, tetapi karena sudah beda negara mana dia tidak akan pernah bisa memilih. Hal itu sangat diketahui dengan sangat jelas oleh Jero dan Felix. Makanya kedua abangnya itu dengan usil menanyakan sesuatu yang membuat Bram menjadi sangat kesal.
"Bagaimana kalau abang pulang besok juga ke negara I?" ujar Bram memberikan pilihan kepada Jero.
"Mana bisa, calon kakak ipar kamu belum puas berliburan di negara F" kata Jero memberikan alasan dirinya tidak bisa pulang ke negara F karena Vian masih belum puas untuk liburan.