My Affair

My Affair
BAB 75



Dua mobil hitam SUV mewah terlihat meninggalkan mansion dengan beriringan, dua mobil mewah itu akan menuju rumah sakit Harapan Kita. Mereka akan mengambil buku nikah milik Vian yang tertinggal di dalam mesin printer di ruangan Vian.


Mobil mulai mendekati komplek rumah sakit harapan kita. Vian menggenggam erat tangan Jero yang ada di sebelahnya. Wajah Vian menjadi sangat puas, keringat bercucuran di wajah cantiknya. Vian berusaha menyeka wajahnya dengan tisu. Tapi rasa takut itu tidak mau pergi dari diri Vian. Vian semakin takut saat mobil mulai memasuki area rumah sakit.


Jeri yang melihat semua itu yakin kalau Vian masih trauma dengan keadaan yang ada di rumah sakit. Dimana di rumah sakit itu orang dengan terang terangan menghina Vian. Berbagai hinaan diterima oleh Vian. Vian yang sudah memiliki begitu banyak beban semakin bertambah dengan apa yang dikatakan oleh orang orang yang ada di rumah sakit.


'Kasihan nya kamu Vian. Akibat ulah kedua orang tua kamu, yang tidak mau kehilangan harta benda mereka. Kamu menjadi seperti ini. Semoga kamu cepat terbebas Vian. Aku akan meminta Greta untuk membantu kamu. Aku yakin Greta tidak akan menolak untuk membantu kamu menjadi seperti semula' ujar Jeri dalam hatinya mendoakan Vian dengan tulus.


Jero menatap ke arah Vian.


"Kenapa sayang?" tanya Jero yang yakin Vian masih menyimpan trauma itu.


"Takut" jawab Vian dengan jujur mengatakan apa yang dirasakannya kepada Jero.


"Takut kenapa?" tanya Jero mengajak Vian untuk berkomunikasi dan mengeluarkan semua yang dirasakannya.


Jero tidak ingin Vian berkutat dengan rasa takutnya yang semakin lama akan semakin membuat Vian tertekan.


"Takut nanti mereka menatap aku, membicarakan aku" lanjut Vian mengatakan apa yang menjadi sumber ketakutannya.


Jero merengkuh Vian kedalam pelukannya. Dia tidak menyangka kalau kekasihnya itu memiliki trauma mendalam karena kejadian yang selama ini terjadi kepada dirinya.


Vian yang selama ini dikenal Jero sangat kuat, ternyata memupuk trauma di dalam hati dan pikirannya.


"Sayang, jangan dipikirkan lagi hal itu ya. Biarkan saja. Anggap saja mereka tidak ada"


"Lagian sayang, kita nggak butuh mereka. Mereka yang butuh kita."


"Atau, aku pecat saja mereka semuanya, dan menukar dengan semua dokter, perawat dan karyawan rumah sakit. Iya sayang?"


"Kalau kamu mengatakan iya, maka sekarang juga aku akan memecat mereka semua. Aku akan berhentikan mereka semua"


Jero memberikan beberapa alternatif terbaik untuk Vian. Jero selalu mengutamakan Vian di atas kepentingan siapapun. Bagi Jero, kebahagiaan Vian adalah prioritas utamanya.


Vian semakin memeluk Jero. Rasa takutnya tidak bisa dikendalikan nya lagi. Vian benar benar dibuat stress oleh semua kejadian yang menimpa dirinya.


"Vian, jangan seperti ini Vian. Coba kamu tengok ke rumah sakit" ujar Jero meminta Vian untuk melihat ke arah rumah sakit.


"Tidak Jero. Aku takut. Jangan paksa aku" ujar Vian.


"Aku bisa gila dengan semua ini Jero. Jangan paksa aku, aku nggak mau, aku benci rumah sakit ini. Aku benci mereka semua." teriak Vian dengan nada miris. Hati Jero seperti teriris iris oleh sembilu saat mendengar Vian berkata seperti itu.


Kekasih mana yang nggak akan bersedih saat mendengar kekasihnya berbicara akan gila karena semua beban yang ada. Jero tidak bisa menerima semua itu. Jero harus mengeluarkan Vian dari belenggu yang mengikat dirinya saat ini.


Vian semakin memeluk erat tubuh Jero. Dia benar benar tidak mau menatap ke arah rumah sakit. Vian benar benar takut untuk melihat ke sana.


"Jero, lebih baik Vian kita bawa ke Greta bagaimana?" ujar Jeri yang ingat psikiater terbaik di negara E.


"Sepertinya Vian membutuhkan pertolongan dari Greta" kata Jeri sambil memandang kasihan kepada Vian.


Jeri yang sangat kasihan melihat Vian yang seperti ini. Vian yang takut akan semua hal yang membuat dia menjadi down dan bersedih.


Greta adalah seorang psikiater yang juga merupakan kekasih hati Jeri. Sekarang Greta harus ditinggalkan oleh Jeri di negara E. Maksud Jeri pertama hanya mau bertemu dengan Bram dan melihat dari jauh kedua orang tuanya. Tapi ternyata sekarang harus menyelesaikan permasalahan Vian. Jeri tidak mungkin menolak membantu Jero dan Vian.


"Setuju Jeri. Loe dengan gue berangkat sekarang. Gue nggak mau menunggu lama lagi. Masalah perceraian Vian bisa kita urus setelah Vian bisa menghilangkan trauma nya ini. Gue takut sesuatu terjadi kepada Vian." kata Jero yang langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh Jeri.


"Hubungi Bram. Minta Bram untuk menyuruh pilot menyiapkan pesawat kita. Gue nggak bisa nunggu lagi" ujar Jero yang panik melihat Vian yang sama sekali tidak mau melihat ke arah rumah sakit.


Jeri kemudian menghubungi Bram. Jeri meminta Bram untuk menyiapkan pesawat. Mereka bertiga akan berangkat ke negara E.


Bram dengan sigap menyuruh pilot untuk menyiapkan pesawat milik Jero. Setelah itu Bram menghubungi Felix.


"Apa?" teriak Felix yang sedang dalam meeting dengan para manager perusahaan.


"Oke Abang akan langsung ke bandara" ujar Felix.


Felix menutup meeting dengan tergesa gesa. Semua manager melihat ke arah Felix yang pergi dengan langkah yang bisa dikatakan separo berlari itu.


"Ada apa dengan keluarga Tuan Felix. Sepertinya telpon tadi membuat Tuan Felix tidak bisa tenang. Lihat saja itu, dia terburu buru untuk pergi" ujar salah satu manager.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Tuan Felix dan keluarganya. Mereka orang orang baik, yang memandang kita dengan hasil dan kemampuan kerja kita" ujar manager yang lain.


Semua manager dalam ruangan itu menekurkan kepalanya mendoakan yang terbaik untuk keluarga Tuan Felix Asander.


Felix dan Bram serta Jeri dan Hendri mengemudikan mobil mereka dalam kecepatan tinggi. Mereka berkejaran dengan waktu. Pesawat di berikan izin untuk terbang satu jam lagi.


"Sayang kita mau kemana?" tanya Vian saat melihat mobil tidak menuju mansion Asander, melainkan menuju tempat lain yang setau Vian adalah bandara untuk privat jet.


"Kita akan terbang ke negara E sayang" ujar Jero menjawab pertanyaan Vian.


"Kok? Tapi mau urus perceraian dulu baru ke sana. Kenapa mendadak?" tanya Vian kepada Jero.


"Ada yang lebih penting untuk dikerjakan di sana" jawab Jero.


"Apa sayang?" tanya Vian.


Jero meremas bantalan jok mobil dengan sangat keras. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Vian. Bisa bisa Vian mengamuk dan tersinggung dengan apa yang akan dikatakan oleh Jero nantinya. Makanya Jero memilih untuk diam saja.


"Ada kerjaan di sana yang harus diselesaikan oleh aku sayang. Dan lagian Jero juga mau mengenalkan kamu dengan kekasihnya" kata Jero yang asal comot saja dengan memakai nama Jeri.


"Oh ya. Jadi, saat kamu kerja aku ada temannya dong. Kalau gitu aku jadi semangat sayang. Aku akan main dengan kekasih Jeri" ujar Vian dengan bersemangat.


Vian sudah kembali menjadi Vian yang biasanya. Sudah hilang Vian yang memiliki rasa takut seperti tadi. Vian benar benar sudah menjadi Vian sebelum semua masalah muncul kepermukaan.


Vian sangat senang ada teman selama dia harus menunggu Jero bekerja. Dua mobil telah terparkir di parkiran. Jeri melihat mobil Bram dan juga mobil Felix sudah terparkir terlebih dahulu dari pada mobil mereka.


"Garcep juga mereka. Lebih dahulu sampainya dari pada kita" ujar Jeri dengan pelan.


Jero sama sekali tidak memperhatikan mobil yang terparkir di sebelah mobil mereka. Jero sibuk dengan pikirannya sendiri. Jero tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada Vian.


Mereka bertiga kemudian bergegas masuk ke bagian chek in untuk pesawat pribadi. Mereka di sana sudah ditunggu oleh Felix dan Bram. Mereka berdua membawakan pasport milik mereka berlima.


"Kalian mau kemana?" tanya Jero saat melihat pasport yang diberikan sebanyak lima buah.


"Ke negara E Bang" jawab Bram dengan nada pasti.


"Hah? Ngapain kalian ke sana coba" ujar Jero yang tidak menyangka kedua adiknya itu akan ikut ke negara E, meninggalkan perusahaan mereka di sini.


"Nengok kuburan Mommy. Abang nggak bisa melarang kami dengan alasan apapun. Abang ingatkan kesepakatan kita di depan Mommy. Tidak ada yang meninggalkan saudaranya saat saudaranya pergi kemanapun" ujar Bram mengingatkan kembali Jero dengan janji mereka bertiga di depan Mommy saat mommy sudah dalam masa krisis.


Jero terdiam kalau Bram sudah menggunakan kalimat sakti tersebut. Kalimat yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh Jero. Bram menatap Felix, dia mengajungkan jempolnya kepada Felix lewat punggung.


"Terserah kalian berdua. Abang ikut aja, tapi satu yang pasti, perusahaan nggak boleh terabaikan. Mau sampai kapan di negara E, terserah aja. Tapi setiap ada permasalahan perusahaan dan tujuan kita belum sampai kalian tetap harus siap untuk terbang kapan saja ke negara I" ujar Jero meminta kepada kedua adiknya untuk siap kalau di butuhkan di negara I suatu saat nanti.


"Masalah gampang itu Bang. Pesawat ada. Jadi, mau pulang balek pun kami siap" jawab Bram.


"Yang penting ikut kan ya Bram" ujar Jeri menimpali perkataan Bram.


"Suai Bang" jawab Bram sambil tersenyum penuh kemenangan kepada Jeri.


Mereka berlima kemudian masuk ke dalam ruang tunggu termasuk Hendri dan Erik. Mereka juga akan ikut terbang ke negara E.


Pesawat telah disiapkan oleh pilot. Mereka sebentar lagi akan terbang. Penerbangan mendadak yang terpaksa harus mereka lakukan karena keadaan Vian yang cukup mengkhawatirkan.


Mereka menunggu sebentar di ruang tunggu penerbangan privat jet. Jero dan yang lainnya duduk duduk sambil mengobrol berbagai hal. Vian terlihat mendekat ke arah Jero.


"Kenapa sayang?" tanya Jero saat melihat Vian mendekat ke dirinya dan sedikit takut.


"Mereka pasti ngobrolin aku. Mereka melihat ke sini dari tadi" ujar Vian kepada Jero.


Felix dan Bram yang berada di dekat Jero bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Vian. Mereka sungguh kasihan melihat Vian seperti itu.


"Nggak sayang. Mereka tidak membicarakan kamu. Mereka lagi membicarakan hal yang lain" ujar Jero kepada Vian.


Vian menggeleng lemah.


"Nggak, mereka ngomongin aku. Mereka jahat. Mereka nggak tau apa apa tapi ngomongin aku" ujar Vian sambil terisak.


Jero memeluk Vian dengan erat. Kekasihnya sekarang benar benar sudah depresi berat.


"Bram, lakukan gerak cepat Bram" ujar Jero kepada Bram yang dari tadi melihat semua kejadian.


"Felix telpon mansion. Katakan kepada semua maid untuk tidak ada yang saling mengobrol antara satu dengan yang lainnya" ujar Jero yang kepada Felix.


Jero tidak ingin nanti sampai di mansion negara E, Vian melihat para maid mengobrol dan Vian berpikiran kalau para maid menggosipkan dirinya