My Affair

My Affair
BAB 55



"Masih berani kamu menjawab perkataan saya? luar biasa kamu jadi manusia. Kamu masih bisa menjawab, kamu terbuat dari apa?" ujar Papi murka kepada Juan yang sudah berani menjawab perkataannya tadi. Papi menunjuk Juan dengan tangan kirinya.


"Kamu jangan pernah menguji saya Juan. Saya tidak suka diuji uji oleh siapapun." ujar Papi semakin murka kepada Juan. Papi tidak. ingin siapapun menguji nguji kesabarannya. Apalagi ini anaknya, penerua perusahaannya sendiri.


Juan dan Mami terdiam karena kemarahan Papi. Papi benar benar murka mendengar apa yang dikatakan oleh Juan. Juan masih berani menjawab perkataan dari Papi.


"Kamu sekarang memang sudah sangat keterlaluan Juan. Lihat sekarang akibat dari kalakuan kamu yang player yang hobby celup sana celup sini. Perusahaan menjadi korbannya" ujar papi dengan sangat murka. Papi tidak bisa lagi menahan dan mengontrol amarahnya kali ini. Apalagi saat Papi tahu kalau harga saham mereka sampai terjun bebas tadi pagi.


Papi terlihat bergetar saat duduk di ruangan kerjanya itu, karena selain ruangan berac yang cukup dingin, belum lagi pikiran dan perasaan Paai yang sudah marah dan terbakar api.


"Kamu seharusnya bisa memilah milah mana yang baik untuk perusahaan dan mana yang buruk untuk perusahaan. Bukan melakukan hal yang seperti ini Juan." lanjut Papi sambil menatap dengan tatapan tajam nan membunuh kepada Juan Aleksander.


Papi terdiam. Papi sudah tidak tahu lagi akan berbicara apa lagi. Papi pasrah melihat harga saham yang sudah terjun bebas. Papi hanya berharap para rekan bisnis mereka tidak membatalkan perjanjian bisnis secara sepihak.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan lagi. Kesalahan ini sudah sangat fatal. Kita hanya tinggal menunggu dan mencari tahu siapa dalang dibalik semua permasalahan yang terjadi sekarang." ujar papi yang sudah sedikit bisa. mengendalikan emosinya sendiri.


"Satu lagi, semoga saja para rekan bisnis kita tidak membatalkan kerjasama yang telah kita jalin selama ini secara sepihak. Kalau lah hal itu terjadi siap siap saja kita harus merasa hidup di bawah." ujar Papi menjelaskan resiko dari semua hal yang terjadi karena peristiwa ini.


Mami mengelus dadanya, dia tidak mau hidup susah lagi. Bagi Mami sudah cukup hidup susah yang dulu, dimana Mami hanya jadi pelayan di mansion ini. Mami tidak mau merasakan hal itu lagi, dimana dia harus bangun jam tiga subuh dan tidur saat semua pekerjaan telah selesai, tanpa adanya tidur siang.


Juan Aleksander terlihat terdiam. Dia juga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan oleh dirinya. Seandainya dia tahu siapa dalang di balik semua kejadian ini. Maka, bisa dipastikan Juan Aleksander akan murka kepada orang itu. Tapi kali ini, Juan Aleksander tidak mengetahui siapa dalang di balik kejadian yang sedang terjadi. Jadi, Juan Aleksander tidak tahu mau marah kepada siapa.


"Papi, aku rasa ini karena aku dipaksa menikah dengan wanita itu. Wanita yang sama sekali tidak aku cintai. Semenjak aku menikah dengan dia kesialan kesialan selalu menimpa aku" ujar Juan yang kali ini menjawab dengan menyalahkan Vian kepada Papi.


Plak. Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Juan Aleksander. Papi bertambah murka karena perkataan Juan, yang menuduh pernikahan dirinya dengan Vian lah yang membuat semua kejadian ini terjadi.


"Jangan pernah sekalipun melemparkan kesalahan kamu kepada orang lain. Apalagi dia itu istri kamu sendiri. Kamu dari keluarga Aleksander, jangan pernah melemparkan kesalahan kepada orang lain, apalagi kamu laki laki. Pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan sendiri. Kamu dengar Juan Aleksander" ujar Papi yang kembali murka mendengar Juan Aleksander melemparkan kesalahannya kepada Vian.


"Juan, Mami mohon jangan katakan hal hal yang tidak berguna lagi Juan. Jangan menambah dan memperumit masalah. Kamu laki laki yang menjalankan bisnis. Kenapa kamu harus melemparkan kesalahan kepada orang lain. Mami tidak pernah mendidik kamu seperti itu" ujar Mami yang kecewa dengan anaknya. Anak yang diperjuangkan nya untuk mendapatkan semua kedudukan dan kemewahan seperti sekarang.


Mami beralih menatap ke arah Papi. Mami teringat dengan perkataan Papi yang mengatakan kalau mereka bisa jatuh miskin kalau, beberapa perusahaan membatalkan kerjasama mereka.


"Papi, apa kita tidak bisa menyewa seorang detektif untuk melacak siapa yang telah berbuat hal ini kepada kita? Mami rasa kalau kita minta tolong kepada yang ahlinya, permasalahan ini bisa diketahui siapa dalangnya Papi. Mami rasa dengan melakukan hal ini, kita bisa memberikan tindakan kepada mereka Pi" ujar Mami kepada Papi yang memiliki ide untuk meminta bantuan kepada seseorang untuk membantu mencari tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini.


"Orang mana yang Papi sewa? Apa Papi yakin dengan kemampuannya dalam hal seperti ini?" tanya Mami yang tidak ingin Papi salah menyewa seseorang untuk melakukan penyelidikan.


"Aku tidak salah orang. Aku yakin, dia sebentar lagi pasti akan menghubungi aku dan memberitahukan siapa dalang di balik semua hal yang terjadi sekarang ini" ujar Papi yang sangat yakin Jeri akan mengirimkan bukti bukti dalang di balik tersebarnya video dan fhoto Juan sedang bersama wanita penghibur di televisi dan media cetak.


"Saat aku mendapatkan dalangnya, maka mereka akan tahu, bagaimana kejamnya aku saat aku dibohongi dan ditusuk dari belakang. Ini berlaku bagi siapa saja, termasuk anggota keluarga aku" ujar Papi memberikan peringatan kepada keluarganya.


Mami terdiam cukup lama mendengar apa yang dikatakan oleh Papi. Jantung Mami berdetak sangat cepat saat mendengar ancaman itu dari mulut seorang Tuan Aleksander.


"Kami tidak mungkin akan mengkhianati Papi" ujar Mami sambil memeluk Papi dari belakang.


"Papi, apa menurut Papi ini ada kaitannya dengan perusahaan yang menjalin kerjasama dengan kita?" tanya Juan yang matanya gatal melihat kemesraan yang tidak seimbang sedang disajikan oleh kedua orang tuanya di depan matanya saat ini. Mami terlihat sangan ingin menunjukkan kehangatannya kepada Papi. Sedangkan Papi bersikap dingin saja.


"Ntahlah Juan. Saya tidak bisa menebak semua kejadian ini sekarang. Begitu banyak kemungkinan kemungkinan yang bisa terjadi." jawab Papi.


"Kita tunggu sajalah berita dari seseorang itu" lanjut Papi yang memang hanya bisa menunggu berita dari Jeri saja lagi untuk membuka siapa sebenarnya yang telah berani bermain api dengan Tuan Aleksander.


Papi termenung cukup lama. Dia membolak balik semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya semenjak mereka tinggal di negara E dan pindah ke negara I karena kejadian yang luar biasa, sehingga membuat Tuan Aleksander harus pergi dari negara E. Negara yang begitu banyak kenangan bagi Tuan Aleksander.


"Mungkin aku salah telah mengusir mereka dari dalam rumah itu dan dari hidup aku" ujar Papi mengatakan sesuatu yang membuat Mami dan Juan yang mendengar terkejut. Papi saja tidak sadar telah mengatakan hal tersebut dengan suara yang besar, padahal maksud Papi, Papi mengatakan hal itu dengan suara kecil saja.


Tapi keterkejutan mereka berdua berbeda. Juan terkejut karena tidak tau apa yang terjadi sebelum dirinya masuk ke dalam rumah ini. Sedangkan Mami terkejut karena Papi mengingat kembali kisah lama itu. Kisah yang sudah puluhan tahun tenggelam dalam mansion mewah di negara E.


"Papi, kenapa bahas masalah itu lagi?" ujar Mami marah kepada Papi.


"Mami tidak suka Papi membahas itu lagi. Itu adalah cerita masa lalu dari kehidupan kita di masa lalu" lanjut Mami yang tidak suka kalau Papi membahas bahas hal hal yang sudah berlalu.


Papi diam saja lagi, Papi tidak mau memperkeruh suasana dengan menjawab perkataan Mami lagi. Papi tidak ingin menambah nambah beban pikirannya dengan kemarahan Mami karena Papi terlanjur membahas masalah masa lalu.


Juan terlihat menatap Papi dan Mami. Juan ingin menanyakan apa yang terjadi di dalam keluarganya dulu. Tetapi, Juan enggan untuk menambah keributan di dalam keluarganya lagi. Sudah cukup Papi memiliki beban karena permasalahan yang dibuat oleh dirinya, dia tidak mungkin menambah lagi.