My Affair

My Affair
BAB 86



"Sayang, kamu udah nggak apa apakan?" tanya Jero kepada Vian yang sudah duduk bersandar di ranjang besar itu. Vian terlihat sangat lemas sekali. Wajahnya masih pucat pasi menandakan kalau dia masih belum pulih benar.


"Kepala aku udah nggak pusing lagi sayang. Aku tadi pingsan karena syok saja melihat apa yang tersaji di mataku dari tadi. Semuanya nggak sanggup lagi aku tampung, ee ee kiranya aku pingsan" ujar Vian menjawab kecemasan Jero.


"Kamu pasti cemas tadikan sayang, nengok aku pingsan?" tanya Vian menatap dalam wajah tampan Jero. Vian menikmati semua lekuk lekuk wajah Jero. Vian mengangkat tangannya, dia meraba wajah tampan Jero. Wajah yang selalu membuat dirinya merasa teduh.


"Sekarang udah nggak apa apa lagi. Aku dalam keadaan baik baik saja. Cuma pikiran aku aja tadi terlalu penuh." ujar Vian meyakinkan Jero kalau dia dalam keadaan baik baik saja.


"Yakin sayang?" tanya Jero yang masih ragu dengan jawaban dari Vian. Jero menatap dalam dalam wajah Vian. Jero tidak ingin kecolongan lagi, dia harus selalu waspada terhadap kondisi Vian. Jero tidak mau Vian jatuh pingsan sekali lagi.


"Serius sayang, aku udah baikan. Sekarang aja kamu ajak pacu lari bisa aku. Aku yakinkan kalau aku akan menang dan kamu akan kalah" ujar Vian meyakinkan Jero kalau dia beneran sudah sembuh.


"Ye mana ada. Nanti pingsan lagi kamu. Terus kamu menjadi nggak bisa melakukan apa apa lagi. Kamu mau bikin aku panik dan nggak bisa berbuat apa apa lagi." ujar Jero mengejek Vian yang tadi sempat pingsan.


"Nggak sayang, nggak akan pingsan lagi. Aku akan baik baik saja." ujar Vian sambil memberikan senyum hangatnya kepada Jero.


"Yakin sayang?" tanya Jero kepada Vian.


"Yakin yakin yakin" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero.


"Sayang itu siapa?" tanya Vian menunjuk ke arah Greta dan Tama.


"Dokter laki laki yang sok tampan dan keren itu namanya Tama. Dia dokter ahli penyakit dalam di rumah sakit Asander." ujar Jero memperkenalkan Tama kepada Vian.


"Kamu jangan dekat dekat dia ya. Dia aneh, jadi kalau kamu masih bisa menghindar lebih baik menghindar saja dulu dari dia" lanjut Jero.


"Salah Vian. Kamu bukan harus menghindari saya, tetapi menghindari Jero lebih tepatnya. Dia manusia aneh yang harus kamu hindari" ujar Tama yang tidak mau dikatakan harus dihindari oleh Vian.


"Udah udah, sesama harus dihindari dilarang saling mendahului." ujar Jero yang dari tadi hanya diam saja melihat keributan antara Jero dengan Tama.


"Haha haha haha. Jeri marah. Bisa juga Jeri marah atuh Jeri" ujar Tama menggoda Jeri yang dari tadi hanya diam saja.


"Bisalah, ngebunuh elo aja gue bisa. Masak marahin elo gue nggak bisa. Bodoh kali gue" ujar Jeri sambil menatap Tama.


Tama balas menatap Jeri. Mereka bertiga benar benar membuat siapa saja melihat tidak menyangka kalau mereka bersahabat, melihat mereka yang selalu ribut tiap ada kesempatan. Tapi jangan tanya saat satu tertimpa masalah, maka yang dua lagi akan langsung menjadi penolong tanpa diminta.


"Kalau yang wanita cantik itu siapa sayang?" tanya Vian dengan sengaja menekankan kata sayang yang diucapkannya. Nada cemburu terdengar jelas dari mulut Vian.


Greta tersenyum mendengar nada cemburu dari Vian. Greta sadar kalau Vian cemburu dengan kehadiran dirinya di sini sekarang.


"Satu lagi Vian. Karena kita sama sama dokter, aku akan jadi sahabat kamu selama kamu tinggal di sini." lanjut Greta yang memang selalu ngomong apa adanya kepada Vian.


Padahal aslinya Greta bukanlah orang yang banyak omong. Greta hanya berbicara banyak kepada pasiennya saja. Lain dari pada itu Greta akan selalu diam. Makanya banyak orang yang tidak kenal dengan Greta mengatakan kalau Greta adalah dokter yang sombong.


"Oke Greta, aku akan jadi sahabat kamu. Aku tau kamu siapa. Kamu adalah Greta Gabriel seorang psikiater muda yang selalu berhasil membuat pasiennya menjadi sembuh" ujar Vian yang ternyata mengenal Greta dengan sangat baik.


"Nggak segitunya juga Vian. Aku nggak sekeren itu. Aku hanya perantara bagi kesembuhan semua pasien pasien aku. Mereka sembuh karena keinginan mereka kuat, makanya mereka bisa sembuh" ujar Greta yang tidak mau dikatakan sebagai seorang dokter yang sangat ahli di bidangnya.


"Buktinya ada itu satu orang pasien aku sampe sekarang nggak sembuh sembuh, padahal ni ya udah berbagai macam terapi aku kasih. Kayaknya dia memang bebal, makanya nggak sembuh sembuh" lanjut Greta sambil melirik sekilas kearah Jero.


"Aku tau, pasti pasien kamu yang takut naik pesawat terbang itu kan ya?" tanya Vian memperjelas pasien dari Greta.


"Yupi. Ntah apa yang aneh sama diri dia sehingga dia nggak bisa sembuh. Heran juga aku" lanjut Greta dengan semangat membully Jero.


Jero melihat Vian sudah nyaman dengan Greta. Dia juga melihat kode dari Tama untuk meninggalkan Vian berdua dengan Greta.


"Sayang, kamu aku tinggal dengan Greta dulu ya. Aku ada yang mau dibicarakan dengan Felix dan yang lainnya di ruang kerja. Nanti kalau kamu udah mulai bosan berbicara dengan Greta, kamu bisa ke ruang kerja aku yang berjarak dua kamar dari sini" ujar Jero memberitahukan dimana letak ruang kerjanya.


Vian terlihat susah mencerna maksud yang dikatakan oleh Jero. Dia memandang Jero dengan menautkan keningnya seperti orang yang sedang berpikir keras.


"Kakak ipar, maksud Bang Jero itu, ruang kerjanya paling ujung pintunya mentok sama lorong ini" ujar Bram lagi.


"Oke. Nanti kalau aku nggak tau, aku akan telpon salah satu dari kalian bertiga aja. Dari pada aku nyasar di mansion segini gedenya. Dua kali lipat dari pada mansion orang gila itu" ujar Vian yang mengingat sekilas mansion milik Juan Aleksander.


Greta dan Tama saling memandang. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Vian. Jeri yang melihat Tama memasang wajah kaget, langsung saja menginjak kaki Tama. Dia tidak mau membuat Vian merasa malu karena telah salah ngomong.


"Gue titip Vian. Awas aja kalau pingsan lagi" ujar Jero kepada Greta.


"Ngancem gue loe? " tanya Greta kepada Jero.


"Nggak juga" jawab Jero.


"Sayang, aku ke sana dulu ya" ujar Jero yang tidak akan memperpanjang percakapannya dengan Greta yang memakai emosi dan saling mengancam.


Jero, Felix, Bram, Jeri dan Tama berjalan keluar dari dalam kamar Vian. Mereka berlima menuju ruang kerja Jero. Ada beberapa hal yang akan mereka bicarakan kali ini.