
"Nggak usah Bik. Biarkan Vian beristirahat sekarang. Nanti saja panggilkan saat Tuan Muda sudah pulang. " Kali ini Tuan Besar Alexsander yang menjawab pertanyaan Bik Ina.
Nyonya besar yang tadinya akan menjawab iya panggilkan terpaksa memilih membungkam mulutnya. Nyonya besar sangat tau posisi. Kalau dia membantah, maka dia tidak akan selamat dari hardikan Tuan Besar Alexsander.
Bik Ina kemudian kembali ke dapur, Bik Ina membuatkan minuman untuk Tuan dan Nyonya besar Alexsander.
"Silahkan diminum Tuan, Nyonya besar. Saya pamit ke belakang dulu." Ujar Bik Ina yang kembali ke dapur.
Jero yang sudah sampai di tempat dia sekarang, mengeluarkan ponsel miliknya. Dia harus menghubungi Vian. Jero tidak ingin Vian masih tidur saat kedua mertuanya sudah datang. Jero juga ingin Vian melihat Tuan Besar Alexsander marah marah kepada anaknya itu. Kepada pria yang selama ini selalu memarahi Vian.
Jero memencet nomor Vian yang sudah hafal oleh dirinya. Jero menunggu sampai panggilan itu tersambung. Pada panggilan pertama dan kedua Vian tidak mengangkat sama sekali. Jero berjalan mondar mandir di teras rumah sederhana tempat dia menghilang sesaat.
"Vian kamu kemana." ujar Jero yang sama sekali tidak bisa menghubungi Vian. Jero semakin pusing dengan Vian yang kalau tidur udah seperti kerbau tidur.
Jero kemudian mengulang panggilannya kembali. Jero hampir saja kehilangan kesabarannya, yang menunggu Vian mengangkat panggilan telpon tersebut.
Vian yang sayup sayup mendengar getaran ponselnya dengan perlahan membuka mata. Dia meraih ponsel tersebut. Vian melihat nama My Boss tertera di ponselnya. Vian merasa tidak pernah menulis nama seperti itu di ponselnya. Dia kemudian melihat nomor ponsel yang tertera. Ternyata yang menghubungi nya adalah Jero.
"Yah kapan pula Jero menukar namanya sendiri" Ujar Vian yang juga hafal nomor Jero. Vian geleng geleng kepala membaca nama yang tertulis tersebut. Dia kemudian tersenyum geli sendiri.
"Hallo, maaf tadi aku ketiduran. Ada apa? " Tanya Vian sambil mengerjap ngerjakan matanya menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada di dalam kamar.
"Kumpulkan dulu nyawa yang masih di bantal dan di guling." ujar Jero kepada Vian dengan nada kesal.
Vian diam sesaat, dia menarik nafasnya dalam dalam.
"Sudah, jangan pake kesal. Tadi aku ketiduran makanya nggak angkat telpon. Ada apa?" tanya Vian lagi kepada Jero. Vian sangat tau kalau ada berita penting yang akan diberitahukan oleh Jero kepada dirinya.
"Aku pergi keluar ada perlu. Kamu di rumah akan aman saat Tuan Muda Juan pulang." ujar Jero memberitahukan kalau dia tidak ada di rumah.
"Pergi nggak ngajak ngajak." Ujar Vian yang mulai kesal kepada Jero. Kalau tau Jero hanya mengatakan hal itu, Vian tidak akan mengangkat panggilan telpon tersebut, dia lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya.
"Jangan kesal. Bukan aku nggak mau ngajak kamu. Biasanya kan aku ngajak kamu terus kemana mana. Kali ini aku beneran tidak bisa ngajak kamu." Ujar Jero berusaha memberikan pengertian kepada Vian. Jero harus menahan egonya. Vian kalau bangun tidur langsung diajak ngomong serius tidak akan langsung nyambung. Akan banyak drama tak jelas yang diberikan oleh Vian kepada Jero.
"Kenapa? " Tanya Vian lagi. Vian masih tetap kesal, karena tidak dibawa keluar oleh Jero.
Vian penasaran sekali kenapa dia sama sekali tidak diajak oleh Jero untuk pergi. Biasanya Jero akan selalu mengajak Vian untuk pergi kemanapun Jero pergi.
"Alasannya karena ada Tuan dan Nyonya besar Alexsander di mansion. Jadi, gimana cara aku membawa menantu mereka saat mereka ada di mansion. Bisa bisa aku dibunuh mertua kamu. apa kamu mau aku mati cepat? " Ujar Jero memberikan alasan yang tepat kepada Vian.
"Apa? Papi dan Mami di sini?" Tanya Vian kaget mendengar perkataan Jero. Dia sama sekali tidak tau kalau Tuan dan Nyonya besar Alexsander datang ke mansion mereka.
"Kenapa kaget? " Tanya Jero kepada Vian.
Tanpa disadari Vian, apa yang dikatakannya kepada Jero, semakin membuat Jero menaruh dendam yang semakin dalam.
Jero mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Sehingga buku buku jari tangannya terlihat. Seseorang yang menghidangkan segelas kopi hitam pahit dan goreng pisang di depan Jero menjadi was was. Dia tau kalau Jero sedang menahan amarahnya. Mereka tidak ingin Jero melampiaskan kemarahannya kepada mereka. Mereka tidak bisa membayangkan hal itu kalau terjadi. Hanya dua manusia yang bisa menandingi Tuan Jero saat sedang marah, yaitu Tuan Felix dan Tuan Bram yang sama sekali tidak ada di rumah itu sekarang.
"Kamu yang sabar sayang. Mereka akan menerima balasan dari semua kelakuan mereka terhadap kamu." ujar Jero dengan pelan dan nada dingin mematikan yang terdengar pedih di telinga orang yang tau siapa Jero sebenarnya.
"Aku juga berharap begitu sayang." kata Vian yang tidak sadar sudah memanas manasi Jero.
Jero kaget Vian mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya. Padahal dia tadi sudah berusaha berkata dengan pelan, agar Vian tidak bisa mendengar apa yang dikatakan olehnya. Tetapi ternyata Vian mendengar semuanya.
"Udah dulu telponnya. Kamu cuci muka, setelah itu turun ke bawah. Sapa mertua kamu." kata Jero kepada Vian.
"Kalau aku malas bagaimana? Seharusnya tadi kamu bawa aku. Jadi, aku nggak perlu ketemu mereka." ujar Vian dengan nada merajuk.
Jero sebenarnya ingin sekali membawa Vian. Tetapi, Jero yang sudah bisa menggambarkan apa yang akan terjadi antara Tuan dan Tuan Muda Alexsander, makanya memutuskan untuk meninggalkan Vian di mansion.
"Sudah sayang. Percaya sama aku. Kamu nggak bakalan rugi tinggal di mansion sekarang ini." ujar Jero meyakinkan Vian.
"Sekarang, ikuti apa yang aku katakan tadi. Pergi cuci muka terus turun dan sapa mertua kamu. " kata Jero mengulang perkataannya.
"Sayang, kamu ingat. Melihatkan rasa marah kita kepada orang yang menjadi pusat kemarahan kita, bukanlah suatu hal yang baik dalam perang. Jadi, bersikap santai saja sama mereka. Anggap tidak terjadi apa apa. Anggap saja kamu tidak tau apa apa." Ujar Jero memberikan nasehat kepada Vian.
Vian menyimak dan menganalisa apa yang dikatakan oleh Jero.
Semua yang dikatakan oleh Jero adalah benar. Semarah marahnya kita jangan diperlihatkan, biarkan mereka menganggap kita tidak tau. Maka dengan ketidak tahuan itu kita menyerang mereka.
"Baik sayang. Aku akan turun dan menyapa mertua terbaik sejagat raya itu. Huek." ujar Vian yang langsung berlagak muntah di ujung kalimatnya.
"Hahahahaha. Sabar sayang." Ujar Jero.
"Sabar selalu sayang. Aku matikan telpon dulu ya. Aku mau menjadi menantu yang baik." Kata Vian sambil tersenyum sinis mendengar perkataannya sendiri.
"Hahahahaha. Ingat pesan aku sayang. Jangan perlihatkan singa, tapi bersikaplah seperti anak kucing manis. Paham sayang?" ujar Jero meyakinkan Vian.
"Paham sayang" jawab Vian.
Jero kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Vian. Vian kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu nanti dia akan bersikap seperti menantu yang tidak tau apa apa.
"Vian mainkan peran kamu dengan baik" ujar Vian menyemangati dirinya sendiri.