My Affair

My Affair
Kemarahan Tuan Besar Alexsander



"Mami, apa Mami nggak ada merasakan keanehan sekarang Mami?" ujar Juan bertanya kepada Mami saat mereka berada di dalam mobil menuju mansion utama.


"Aku bener bener merasa aneh dengan kejadian hari ini Mami" lanjut Juan mengatakan apa yang dirasakan oleh perasaannya dalam beberapa jam ini.


Mereka mendapatkan telpon dari asisten Papi saat sedang menikmati makan malam mereka yang tertunda karena Mami lambat memesan menu makan malam dari restoran. Sehingga seharusnya mereka makan malam jan tujuh malam mundur menjadi jam delapan malam, karena kejadian itu membuat Juan dan Mami telat menuju mansion utama. Papi meminta mereka datang jam delapan, sedangkan jam delapan makan malam mereka baru sampai diantarkan oleh kurir ke mansion Juan Alexsander. Juan mengemudikan mobil sport miliknya itu dengan kecepatan tinggi. Dia benar benar penasaran dengan apa yang terjadi. Sampai sampai Papi melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Papi selamani.


"Aneh kenapa?" Mami mulai tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Juan kepada dirinya.


Mami melihat ke arah anaknya yang sedang serius menyetir mobil sport keluaran terbaru dari pabrikan ternama yang memang menjadi salah satu koleksi mobil sport milik Juan Alexsander. Seorang pebisnis muda yang merupakan anak tunggal dari pengusaha yang memiliki perusahaan Alexsander Grub.


"Masak iya Papi meminta kita datang ke mansion melalui asisten Papi. Mami nggak merasa aneh akan hal itu?" ujar Juan mengatakan kepada Mami keanehan apa yang dirasakan oleh Juan atas pesan yang disampaikan oleh asisten Papi kepada dirinya dan Mami.


"Mana pernah Papi selama ini melakukan hal itu kepada kita Mi."


Juan Aleksander menjelaskan kepanya Nyonya besar.


"Biasanya Papi akan selalu menghubungi kita sendiri sendiri untuk datang menemui Papi. tidak pernah selama ini yang pake perantara seperti sekarang" lanjut Juan Aleksander menerangkan pendapatnya kepada Mami.


"aneh kan Mi." lanjut Juan Alexander mulai mengompori Mami kembali.


Juan benar benar tertarik mengompori Mami untuk hal yang satu ini. Bagi Juan itu adalah sebuah hoby yang memang layak untuk dilakukan.


Mami berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya. Mami mencerna semua kejadian yang terjadi dalam beberapa hari ini. Mulai dari Papi yang marah marah karena masalah Vian. Papi yang pergi mencari Vian entah kemana, sampai dengan semua pelayan yang bekerja di mansion Juan menghilang, sampai pada akhirnya pesan yang disampaikan oleh asisten Papi datang dan meminta Mami dan Juan untuk datang ke mansion utama.


"Bener juga Juan, kok bisa bisanya Papi hanya ngirim pesan saja, tidak Papi yang menghubungi kita berdua secara langsung." ujar Mami yang sekarang sudah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya.


"Selama ini Papi tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada kita. Apa ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh Papi dari kita berdua ya?" lanjut Mami bertanya kepada Juan Alexander.


"Aku juga nggak tau Mi" ujar Juan yang memang sama sekali tidak tahu apa alasan Papi meminta asistennya untuk menghubungi Mami dan Juan supaya datang ke mansion utama


"Itulah Mi yang Juan herankan" ucap Juan yang sudah membelokkan mobilnya masuk ke dalam gerbang utama mansion keluarga Alexsander. Logo A sudah terlihat di depan pagar tinggi menjulang itu.


Juan memelankan laju mobilnya. Juan tidak lagi menginjak pedal gas mobilnya seperti tadi Rasa penasaran yang tadi menggebu gebu ingin mengetahui apa yang terjadi, perlahan menjadi turun karena sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Papi kepada Mami dan Jua Alexsander


"Biar nggak nyampe cepat aja di mansion Mami. Mana tau dengan kita telat datangĀ  Papi langsung masuk kamar dan tidur" ujar Juan mangatakan alasan dirinya memelankan laju mobil yang dikemudikan oleh Juan saat sudah masuk ke dalam gerbang mansion utama keluarga Alexsander.


Nyonya besar Alexsander hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya saja mendengar penjelasan yang diberikan oleh juan kepada dirinya, Juan masih juga belum paham bagaimana papinya itu. Tuan besar Alexsander tidak akan pernah beristirahat sebelum semuanya menjadi jelas, kecuali kalau Papi sudah beneran mengantuk, barulah dia akan tidur.


"Juan Alexsander," ujar Mami dengan suara penuh penekanan.


Juan yang mendengar nada dingin dari Mami langsung saja memalingkan wajahnya menatap ke arah Nyonya besar Alexsander yang nada suaranya sudah berubah itu.


"Kamu masih belum mengenal Papi kamu sama sekali Juan, sudah sebesar ini kamu" ujar Mami yang marah karena Juan masih tidak bisa juga mengenali sikap dan sifat dari Tuan besar Alexsander.


"Papi kamu itu pasti akan menunggu sampai kita datang. Apalagi tadi asisten mengatakan kalau ini adalah hal penting dan kita berdua diharapkan cepat sampai. Maka sudah bisa dipastikan Papi akan menunggu kedatangan kita" ujar Mami menjelaskna kepada Juan.


"Sudah cepat kamu kemudikan mobil kamu ini. Mami tidak mau bermasalah lagi dengan Papi" ujar Mami yang sudah semakin kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Juan kali ini.


"Siap Mami" ujar Juan


Juan sangat kesal karena tetap harus bertemu dengan tuan besar Alexsander. Juan sudah membayangkan kalau dia dan Mami akan dimarahi oleh Tuan besar Alexsader, Papinya itu. Juan benar benar tidak ingin dimarahi lagi oleh kedua orang tuanya, melihat usianya yang sudah dewasa itu dan apalagi dia sudah beristri. Menurut Juan di usia dia sekarang ini, sudah tidak layak lagi dia dimarahi oleh orang tuanya.


Mobil hitam sport terbaru yang dikemudikan oleh Juan Alexsander masuk ke dalam perkarangan mansion utama keluarga Alexsander. Juan memarkir mobilnya di tempat biasanya dia parkir.


"Ayok Mi turun. Tapi udah nggak sabar mau bertemu Papi" ujar Juan mengejek Maminya itu dengan terang terangan.


"Kamu marah sama Mami, Juan?" ujar Mami yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya. Mami sama sekali tidak menyangka kalau Juan akan mengatakan hal itu. Kata kata yang seharusnya tidak dikatakan oleh Juan kepada Mami


"Nggak Mi" jawab Juan dengan gaya acuhnya.


Dia sama sekali tidak perduli dengan pertanyaan dari Maminya yang bertanya apakah dia marah kepada Maminya itu. Juan sama sekali tidak ambil pusing dengan apa yang ada di dalam pikirannya Mami. Sekarang yang jadi pikiran Juan adalah apa yang akan di sampaikan oleh Papinya itu. Hanya itu saja yang ada di dalam pikiran Juan pada saat sekarang ini.


Juan turun duluan dari pada Mami dari dalam mobil. Juan sama sekali tidak menunggu Maminya turun terlebih dahulu. Mami yang melihat kelakuan Juan seperti itu hanya bisa geleng geleng saja. Mami tidak menyangka kalau Juan akan melakukan hal bodoh tersebut. Mami mengambil tas tangannya yang di taruh di kursi belakang mobil Juan. Setelah itu, Mami mengikuti Vian berjalan menuju mansion utama yang jaraknya lumayan dari tempat Juan memarkir mobilnya.