
Jero, Vian dan yang lainnya terlihat sedang terlelap dengan nyenyak di kursi mereka masing masing. Begitu juga dengan dua orang pramugari yang berkeja melayani mereka dalam penerbangan kali ini juga terlihat sedang tidur nyenyak di kursi mereka.
Tepat setengah jam sebelum pesawat landing. Pramugari sudah dibangunkan oleh pilot. Pilot meminta pramugari untuk membangunkan semua penumpang yang tertidur dan meminta penumpang untuk membetulkan posisi duduk mereka kembali.
Salah seorang pramugari membangunkan Vian terlebih dahulu. Pramugari itu takut untuk membangunkan Jero. Makanya, dia lebih memilih untuk membangunkan Vian.
"Nona Vian, Nona Vian, bangun Nona. Kita sebentar lagi akan landing Nona" ujar Pramugari membangunkan Vian dengan sangat sopan.
Vian yang mendengar sayup sayup namanya di panggil oleh pramugari, berusaha membuka matanya yang sudah sangat berat itu. Vian melihat pramugari berdiri di sebelah dirinya.
"Nona, maaf mengganggu kenyamanan tidur Nona. Pesawat sebentar lagi akan landing. Jadi, kami terpaksa membangunkan setiap penumpang. Bisakah Nona menolong kami membangunkan Tuan Jero?" ujar Pramugari yang membangunkan Vian dari tidurnya.
"Hem bisa, bisa. Akan saya bangunkan. Terimakasih karena sudah membangunkan saya." jawab Vian sambil menangkup kan kedua tangannya di depan dadanya.
Pramugari kemudian membangunkan penumpang yang lainnya. Sedangkan Vian menatap wajah tampan yang sedang tidur nyenyak di sebelahnya itu.
Vian yang tidak tega membangunkan Jero, akhirnya memposisikan badan Jero senyaman mungkin. Vian juga membetulkan seltbelt yang di pakai oleh Jero.
"Kakak ipar, kenapa Bang Jero tidak dibangunkan?" tanya Bram yang penasaran melihatmu Vian lebih memilih untuk tidak membangunkan Jero yang sedang tertidur nyaman itu.
"Kasihan Bram. Jadi biarkan saja Jero tidur." ujar Vian yang tidak tega melihat bagaimana trauma yang menghantui Jero saat pesawat take off. Vian tidak mau melihat Jero seperti itu lagi saat landing yang akan dilakukan oleh pesawat sebentar lagi.
"Oh baiklah kalau begitu. Kami mengerti dengan tujuan kakak ipar" jawab Bram sambil melihat ke arah Jero yang benar benar terlelap.
Vian sudah membuat posisi Jero senyaman mungkin. Vian tidak ingin Jero kenapa kenapa saat mereka akan mendarat di landasan pacu bandara.
Pilot mulai melakukan semua mekanisme pendaratan. Roda pesawat sudah keluar, guncangan sudah mulai terasa. Tetapi saat roda pesawat tiba di landasan pacu, pilot berhasil melakukannya dengan sangat mulus. Sama sekali tidak terasa guncangan saat roda pesawat menyentuh aspal landasan pacu.
Pesawat kemudian berhenti di tempatnya. Para pramugari mempersilahkan penumpang untuk turun. Pesawat akan transit selama dua jam. Pesawat transit untuk pengisian bahan bakar dan juga mengisi kembali konsumsi yang sudah berkurang.
Vian kemudian membangunkan Jero yang terlelap itu. Sedangkan Felux, Bram dan Jeri sudah bersiap siap untuk turu dan menikmati perjalanan merek di bandara negara tersebut. Mereka berencana untuk membeli beberapa menu makanan. Perut mereka mendadak merasakan lapar yang amat sangat. Padahal mereka tadi sudah makan, makanan berat yang disediakan oleh pramugari.
"Sayang, sayang bangun sayang. Kita udah mendarat. Kamu mau turun dari pesawat atau tidak?" ujar Vian membangunkan Jero yang seperti habis menelan pil obat tidur.
"Kakak ipar, apa abang Jero siap makan pil obat tidur ya. Tengok aja tidur tidurnya nggak bangun bangun" ujar Bram yang melihat Jero tertidur sangat pulas.
"Kayaknya Bram." ujar Vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bram.
"Ada air Bram?" tanya Vian yang udah nyerah membangunkan Jero.
Orang yang dibangunkan oleh Vian itu sama sekali tidak memberikan tanda kalau dia akan bangun.
"Bang, bangun bang" ujar Bram menggoyang pundak Jero. Tapi hasilnya sama saja. Jero tidak memperlihatkan tanda tanda untuk bangun dari tidurnya.
"Kakak ipar. Kecup aja bibirnya. Dia pasti bangun" ujar Bram memberikan ide yang sangat luar biasa kepada Vian.
"Gile loe" ujar Vian menatap Bram dengan tatapan menjengkelkan.
"Serius. Sekali sekali. Kalau kakak ipar malu ada kami bertiga. Kami akan tutup mata kak. Kakak kasihan lah sama kami. Kami bertiga ini udah lapar sangat kakak" ujar Bram yang memang sudah menahan laparnya.
"Huft" ujar Vian melepaskan nafasnya dengan sangat berat. Dia tidak menyangka kalau Bram akan memberikan ide luar biasa gila itu.
"Nah kan bener, tu orang bangun dia." ujar Bram bersorak saat melihat Jero perlahan membuka mata elangnya itu.
Jeri hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat tingkah Jero. Jeri sudah tahu kalau Jero tadi sebenarnya udah bangun. Tapi, Jero ingin mengerjai Vian. Makanya Jero sengaja untuk tidak bangun saat Vian membangunkannya dari tadi.
"Sayang, hanya satu kecupan? Nggak ada yang lain?" tanya Jero kepada Vian di depan kedua adiknya dan sahabatnya.
Vian mengambil tas kecil miliknya. Dia kemudian berdiri tepat di hadapan Jero.
"Halalin dulu mas bro. Baru di kasih lebih" ujar Vian menantang Jero untuk menghalalkan dirinya.
"Ayo loe Jer. Ditantangin Vian untuk minta dihalalin. Kuat nggak loe nge halalin Vian" ujar Jeri dengan santai nya.
"Loe urus dulu perceraian Vian. Habis masa idah empat puluh jarinya, langsung gue kawinin Vian" ujar Jero menjawab tantangan dari Vian.
"Asiap pulang dari negara U, gue akan urus perceraian Vian. Tenang aja loe" ujar Jeri menjawab tantangan dari Jero.
"Bang, balas dendam kita?" ujar Felix dengan sangat pelan.
Felix takut terdengar oleh Vian yang sedang diajak ngobrol oleh Bram sepanjang turunan tangga pesawat.
"Tetap jalan Felix. Kita akan bayar kontan tangisan dan rasa sakit yang ditahan oleh Mommy saat saat ajal akan menjemputnya" ujar Jero yang tidak akan lupa apa tujuan utamanya dalam hidup.
Tujuan utama yang akhirnya membawa dia ke jenjang kesuksesan. Semuanya berlatar belakang dendam yang ntah kapan akan padam di hari Jeri, Felix dan Bram. Tiga anak manusia yang disia siakan oleh seseorang. Tiga anak manusia yang harus berjuang untuk kehidupan mereka. Tiga anak muda yang berjuang dan mewujudkan semua mimpi mereka saat ini.
Mereka semua akhirnya tiba di bandara. Jero menggenggam tangan Vian. Setiap wanita yang ada di bandara menatap kagum ke pada enam pria yang ganteng ganteng dan keren keren. Tetapi menatap iri kepada Vian. Sudahlah dia cantik di tambah dikelilingi enam pria tampan. Dengan satu orang menggenggam tangan Vian.
"Makan dimana Bram?" tanya Jero yang tidak ingin memilih restoran. Dia ingin Bram yang memilih restoran mana mereka akan makan.
"Restoran biasa aja Bang. Enakan di situ dari pada tempat lain" jawab Bram yang memang sudah mencoba tempat lain dan rasanya memang paling enak di restoran tempat mereka biasa makan kalau berada d bandara ini.
Mereka bertujuh kemudian berjalan menuju restoran yang diminta oleh Bram. Mereka semua akan makan siang di sana, dengan pilihan menu yang sudah tau masing masing nya.
"Sayang, aku pesan apa ya? Kalian semua udah tau mau makan apa, sedangkan aku yang baru pertama ke sini nggak tau harus makan apa" ujar Vian yang sama sekali tidak ada rekomendasi untuk memilih menu makanan apa.
"Nasi goreng aja sayang, enak itu. aku juga nasi goreng yang aku pesan" ujar Bram meminta Vian memesan nasi goreng saja.
Mereka akhirnya menunggu pesanan sambil mengobrol ringan. Hendri dan Erik, sama sekali tidak canggung satu meja dengan bos mereka. Mereka terlihat santai dan menikmati kebersamaan ini.
Akhirnya pesanan yang ditunggu tunggu datang juga. Mereka semua menyantap menu makan siang itu dalam diam. Mereka sangat menjalani apa yang dikatakan oleh Mommy saat masih hidup
"Jangan pernah ngomong saat makan. Jangan pernah mengumpat makanan yang tidak enak. Jangan pernah makan bersisa" ujar Mommy kepada tiga anak yang baru beranjak dewasa.
Sampai sekarang perkataan dan nasehat Mommy itu tetap dilaksanakan oleh Jero dan kedua adiknya serta semya orang yang tinggal bersama mereka.
Dalam jamuan makan malam bisnis atau jamuan bisnis, Jero dan yang lainnya tetap akan makan dalam diam. Walaupun ada yang mengajak mereka berbicara, mereka sama sekali tidak merespon. Yang akan merespon adalah pengawal yang sedang menjaga mereka. Merekalah yang nanti memberitahukan kepada lawan bicara, kalau Jero dan kedua adiknya tidak akan berbicara saat sedang menyantap hidangan apapun. Mereka akan mengambil porsi menu yang sesuai dengan kapasitas perut mereka. Mereka tidak akan pernah meninggalkan makanan sisa.
Pengajaran yang sangat bagus di berikan oleh Mommy kepada ketiga putranya itu. Putranya juga mengajarkan kepada setiap orang yang bekerja kepada mereka bertiga. Kalau Momny masih hidup, Mommy pasti akan bangga dengan ketiga putranya itu.