
"Tuan muda, apakah kami boleh nambah menu makanan nya?" ujar Ivan yang ternyata masih lapar tersebut.
"Silahkan Ivan. Tapi nanti gaji kamu bulan ini akan di potong" kata Tama yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ivan kepada Bram.
"Maaf Tuan Muda Tama, bukannya saya membantah apa yang Tuan muda katakan, tetapi yang menggaji saya bukan Tuan muda Tama, tetapi Tuan Bram" jawab Ivan sambil melihat ke arah Bram
Bram memberikan jempolnya kepada Ivan. Ivan bukan hanya seorang asisten bagi Bram, tetapi juga kawan akrabnya. Bram kalau tidak bisa menceritakan rahasianya kepada kedua abangnya itu, pasti akan menceritakan permasalahannya itu kepada Ivan.
"Bener itu Van, yang bayar gaji loe kan gue" ujar Bram menyetujui dan mendukung apa yang dikatakan oleh Ivan.
"Tapi tadi sudah dikatakan oleh Bram, kalian semua boleh meminta apapun saat ini. Jadi, silahkan saja, pesan apa yang kalian mau" ujar Jero berkata kepada semua pengawal supaya tidak ada lagi pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
"Terimakasih Tuan Muda" jawab semua pengawal dengan kompak.
Pengawal sudah bisa membayangkan apa yang akan mereka makan kali ini. Mereka pasti akan memuaskan semua keinginan mereka untuk makan. Bukannya selama ini mereka tertahan untuk makan, tentu saja tidak. Tetapi mereka selama ini makan enak dalam keadaan bekerja, sehingga terkadang mereka sama sekali tidak bisa menikmati makanan yang sedang mereka makan. Makanya saat ini mereka akan menikmati rasa makanan itu dengan sebenar benarnya.
Para pengawal memanggil para pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka, para pelayan yang dipanggil oleh para pengawal datang menghampiri para pengawal itu, mereka mencatat semua pesanan makanan yang diminta oleh seluruh pengawal. Mereka rata rata memesan minuman soft drink dan cemilan cemilan ringan.
Jero kemudian melihat ke arah kedua adiknya itu, mereka akan membahas kembali permasalahan tentang keberangkatan ke negara I.
"Jadi, kamu mau ke negara I ikut dengan Felix, Bram?" ujar Jero kembali menanyakan hal yang sama kepada Bram.
"Aku mau kita bertiga dan calon kakak ipar pergi ke negara I. Bukan hanya aku dan Bang Felix saja" kata Bram menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
Vian dan yang lainnya langsung melihat ke arah ketiga saudara yang sedang membahas perjalanan menuju negara I. Mereka sama sekali tidak mengetahui kalau Felix akan berangkat ke negara I. Vian tahu tapi baru saja saat mereka sedang di atas mobil dalam perjalanan menuju kafe. Vian juga belum sempat bertanya lebih lanjut kepada Jero apa yang menyebabkan Felix harus kembali besok ke negara I.
"Sayang boleh aku bertanya sesuatu?" ujar Vian yang memang sudah sangat penasaran sekali dengan apa yang dibicarakan oleh Jero dengan kedua adiknya itu.
"Silahkan sayang, apa yang mau kamu tanyakan?" ujar Jero yang sebenarnya sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Vian kepada dirinya.
"Kenapa Felix harus besok ke negara I?" ujar Vian bertanya kepada Jero.
"Felix saja lah langsung yang menjelaskan kepada kita semua ya, kenapa Felix harus kembali besok ke negara I" ujar Jero berkata kepada semua anggota keluarganya.
Asisten dan para pengawal Felix yang sedang bercanda langsung terdiam saat mendengar kalau Tuan muda mereka harus kembali ke negara I. Para pengawal akan mendengarkan langsung apa yang menyebabkan Felix harus kembali secepat itu ke negara I.
"Sebelumnya aku harus meminta maaf kepada Abang Abang dan Kakak kakak karena permasalahan yang sedang akan aku hadapi, Abang abang dan Kakak kakak tidak bisa menikmati liburan yang seharusnya menyenangkan ini" ujar Felix yang sebenarnya sangat segan dengan semua yang ada di sana.
Felix sangat tahu kalau Vian menginginkan liburan ke negara G. Tetapi yang namanya masalah tentu tidak bisa ditentukan kapan dia bisa datang dan kapan dia tidak boleh datang. Manusia hanya bisa menjalani dan mengatasi serta menyelesaikan permasalahan yang datang itu, karena yang namanya manusia akan selalu memiliki masalah dalam hidup mereka, apapun bentuknya.
"Terjadi sebuah kecurangan di salah satu anak cabang perusahaan yang ada di negara I." ujar Felix memberitahukan kepada mereka semua apa yang sedang terjadi di negara I
"Kalau seperti itu, kita pulang semua, Mereka sudah mulai berani melawan dan berbuat kecurangan" ujar Jeri yang memang paling alergi dengan yang namanya musuh dalam selimut alias pengkhianat.
Jero yang mendengar apa yang dikatakan oleh Tama menjadi sangat tertarik dengan hal itu. Jero sama sekali tidak sampai pikirannya ke sana saat siang tadi Felix melaporkan hal itu kepada Jero saat dirinya mau beristirahat siang.
"Kenapa loe sampai ke sana pikirannya Tam?" ujar Jero bertanya kepada Tama.
"Jer, coba loe pikir, udah berapa lama perusahaan di negara I di bangun oleh Felix dan Bram, mana pernah ada yang namanya pengkhianatan terjadi di sana."
"Benerkan apa yang gue bilang, Felix, Bram?" ujar Tama mengarahkan langsung pertanyaannya kepada Felix dan Bram.
"Benar Bang, ini adalah kejadian pertama" ujar Felix menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tama kepada dirinya.
"Berarti perusahaan pesaing sudah menganggap kalau perusahaan JFB Grub sudah menjadi pesaing yang cukup membuat mereka terancam. Makanya, mereka mulai menyelundupkan orang orang mereka ke dalam perusahaan kalian bertiga." ujar Tama menjelaskan hipotesa miliknya.
"Tapi Bang, dalam perekrutan karyawan saya melihat dan menyeleksi sendiri siapa yang akan saya angkat menjadi karyawan" uajr Felix membela dirinya dari kesalahan yang dikatakan oleh Tama.
"Felix, abang bukan menuduh kamu berbuat sedikit kesalahan, tidak sama sekali. Tolong analisa dengan baik baik apa yang abang katakan tadi" ujar Tama membenarkan dan meluruskan apa yang dikatakan oleh Felix tentang dirinya adalah salah. Tama sama sekali tidak bermaksud menyalahkan Felix atau Bram di sini.
Felix kembali merenungkan apa yang dikatakan oleh Tama kepada mereka semua yang ada di tempat itu. Felix sekarang menyadari apa maksud yang dikatakan oleh Tama kepada dirinya dan juga Bram.
"Jadi maksud abang, mereka masuk bersih tetapi setelah di dalam baru mulai di recoki oleh orang luar?" ujar Felix yang sudah bisa menyimpulkan apa yang dikatakan oleh Tama kepada dirinya
"Ya itu maksudnya" ujar Tama
"Semakin menarik" kata Jeri yang memang paling suka dengan hal hal permainan kotor seperti ini.
"Sama, semakin menarik" ujar Jero yang memiliki sifat yang sama dengan Jeri
"Mereka belum tahu bagaimana efek dari apa yang mereka kerjakan. Kita pulang besok" ujar Jero memutuskan dengan nada dingin
"Setuju kita pulang besok" ujar Vian.
Vian sangat paham bagaimana hati dan perasaan Jero saat ini. Seseorang yang dari kecil sudah merasakan efek dari pengkhianatan. Sudah bisa dipastikan kalau Jero akan meledak ledak sekarang ini. Tetapi karena sekarang mereka sedang di tempat keramaian makanya Jero tidak meluapkan kemarahannya itu.
Pengawal yang menyimak apa yang dibicarakan oleh tuan muda mereka, menjadi sangat geram dengan tingkah perusahaan pesaing yang dengan teganya memanfaatkan seseorang untuk tujuan mereka. Para pengawal sudah bisa membayangkan apa yang akan menimpa perusahaan pesaing tersebut.
"Akan sama dengan perusahaan yang sudah sudah, mereka apa tidak tahu kalau Felix dan Bram adalah adik dari Jero Asander pemilik perusahaan Asander Grub yang berkuasa penuh di negara E. Mereka cari mati sendiri" uajr Josua berkata dengan pelan tetapi di dengar oleh Ryan
"Benar Jo, mereka telah membangunkan singa tidur" ujar Ryan yang juga sudah menyaksikan bagaimana kecamnya Jero membasmi orang orang yang berkhianat kepada dirinya.
"Mereka tidak belajar dari perusahaan Alexsander grub, yang dijungkir balikkan dan di akusisi oleh Asander Grub dengan memakai nama perusahaan lain" kata Josua