My Affair

My Affair
Rencana Jero



Jero memeluk erat kedua adiknya tersebut. Bagi Jero mereka berdua adalah segala galanya. Hanya mereka berdua keluarga yang dimiliki oleh Jero. Tidak ada yang lain lagi. Dari dulu mereka selalu saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.


"Hay, sampai kapan kalian bertiga mau berpelukan terus? Kalian anggap apa kami yang lainnya di sini"


Tama mengajukan protesnya kepada Jero dan juga kedua adiknya itu.


Jero melepaskan pelukannya dari kedua adiknya. Dia menatap sahabatnya yang protes tersebut.


"Kalian main ganggu moment keakraban keluarga saja. Dilarang iri bosque" kata Jero sambil memberikan tatapannya kepada Tama yang tadi menjeda apa yang sedang dilakukan oleh ketiga kakak beradik itu.


"Ini mau lanjut cerita atau mau tidur?" kata Jeri menanyakan kepada semua yang berada di sana apakah mereka akan melanjutkan pembicaraan atau akan langsung tidur saja.


"Lanjutkan pembicaraan" jawab Bram dengan sangat antusias dan semangat.


"Lah tadi bukannya mengantuk ya?" kali ini Angga yang mulai merecoki Bram.


"Ais loe jangan bikin gue kena marah gimana, masak ia lo ngomong kembali mengingatkan hal itu lagi."


"Dasar ajudan nggak ada akhlak loe"


Sembur Bram kepada Angga yang merupakan asistennya dan dia juga yang mengungkapkan kebohongan Bram dengan mengatakan kalau Bram sebenarnya tidak mengantuk tetapi pura pura mengantuk.


"Jadi Bram, apa alasan loe yang membuat loe berani pura pura mengantuk tadi?" tanya Tama yang akhirnya melanjutkan pembicaraan pura pura mengantuk Bram tadi.


"Kalian berdua sama aja." kata Bram yang mendadak menjadi sedikit emosi mendengar pertanyaan yang diajukan Angga dan Tama dengan tema mengingatkan kejadian alasan mengantuk Bram. Tadi.


"Alasan mengantuk karena Bang Jero dan Bang Jeri akan mengobrol sesuatu hal yang kita semua pada tidak tahu apa yang akan mereka obrolin"


"Jadi dari pada aku kayak orang begok karena sama sekali tidak mengetahui jalan ceritanya, mending aku pergi tidur aja ke kamar"


Bram pada akhirnya menjelaskan kepada semua orang alasan dirinya memilih untuk mengeluarkan alasan mengantuk tadi.


"Haha haha haha, jadi karena takut tidak bisa nyambung dengan cerita gue dan abang loe, makanya loe pakai alasan aneh bin ajaib itu?" kata Jeri sambil melihat ke arah Bram yang ternyata kadang kadang masih memiliki jiwa anak kecil.


"Ya gitu lah. Aku ini kan memang tipe orang yang akan sangat penasaran dengan obrolan. Nah gimana aku bisa mengikuti alur ceritanya kalau aku sendiri tidak tahu topiknya" kata Bram membela dirinya dengan alasan pengajuan mengantuk yang diberikan oleh Bram tadi.


"Biar gue aja yang jelasin Jer."


Jero lebih memilih untuk menjelaskan kepada semua orang apa sebenarnya yang akan dibicarakan dengan Jeri tadi.


Jeri mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Memang lebih baik Jero sendiri yang menyampaikan apa betul sebenarnya rencana yang akan dilakukan oleh Jero di negara I. Karena semua itu berkaitan langsung dengan Jero dan Vian.


"Jadi gini, rencananya selepas dari negara F dan G. Kita semua akan kembali ke negara I. Abang akan meminta Vian untuk mengurus perceraiannya dengan Juan."


Jero menceritakan rencana yang akan dilakukannya saat mereka sampai di negara I.


"Apa, kakak ipar sudah tahu dengan rencana ini Bang?" kali ini Felix yang bertanya karena penasaran dengan rencana Jero tersebut.


"Vian akan langsung mengurus perceraiannya saat kita semua sampai di negara I" lanjut Jero memberitahukan kepada yang lainnya kapan Vian akan memasukkan gugatan cerainya itu.


"Oh oke." ujar Felix dan Bram bersamaan.


Mereka kemudian kembali terdiam. Jero melihat mereka semua dengan tatapan bertanya tanya.


"Jadi kapan kita pulang ke negara I?" tanya Felix kepada abangnya yang terlihat sangat bersemangat saat membahas tentang kapan mereka akan pulang ke negara I.


"Kita akan terbang langsung dari negara G ke negara I. Jadi kita tidak kembali ke negara E dulu tapi langsung saja." kata Jero mengutarakan rencana yang akan mereka lakukan


"Bang bagaimana kalau kita kembali ke negara E dulu, setelah itu baru terbang ke negara I."


"Barang barang masih banyak yang tinggal di negara E"


Felix memberikan usulannya kepada Jero untuk mengubah rencana perjalanan menuju negara I.


"Bang, aku setuju dengan pendapat Bang Felix. Kita balik ke negara E dulu setelah itu baru ke negara I." Kata Bram yang sangat setuju dengan usulan yang diberikan oleh Felix sebentar ini.


"Apalagi barang barang aku masih banyak yang tinggal di negara E. Barang yang tinggal itu penting semua Bang" lanjut Bram memberikan alasan untuk memperkuat alasan yang sudah diberikan oleh dirinya kepada Jero.


Jero terlihat berpikir sesaat untuk menganalisa pendapat dan usulan yang diberikan oleh Felix dan Bram untuk mengubah rencana mereka.


"baiklah, abang setuju dengan pendapat yang diberikan oleh Bram dan Felix. Kita akan berangkat ke negara I dari negara E saja. Jadi, kita bisa menyiapkan barang barang kita untuk di bawa ke negara I"


akhirnya Jero setuju dengan ide yang diberikan oleh Bram dan Felix untuk berangkat ke negara I melalui negara E bukan langsung dari negara G atau negara F.


"Makasih Bang. Aku dan Bram jadi ada waktu untuk menyiapkan barang barang kami" kata Felix sambil mengucapkan rasa terimakasih nya karena Jero mau menunda keberangkatan menuju negara I.


"Bukti bukti perceraian mereka bagaimana Bang?" kali ini Bram ingat dengan bukti bukti yang akan dijadikan penguat dalam persidangan perceraian antara Vian dan Juan.


"Semua bukti sudah ada di tangan Jeri. Kita hanya tinggal mengajukan permohonan perceraian saja lagi" jawab Jeri yang ternyata sudah melengkapi semua bukti bukti untuk perceraian antara Vian dan Juan.


"Baiklah kalau memang sudah ada semua bukti bukti yang bisa menguatkan terjadinya perceraian itu mari kita lanjutkan saja" kali ini yang berbicara adalah Bram.


"Oh ya Bang. Abang yakin kalau Juan tidak curiga dengan kakak ipar?"


Bram ntah kenapa tiba tiba ingat akan hal itu.


"Maksud kamu Bram?" tanya Felix yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Bram sebentar ini.


"Ya, abang tau sendirilah ya, Kakak ipar sudah pergi dari rumah dalam beberapa hari ini. Apa Juan Aleksander tidak curiga kalau Kakak Ipar pergi dengan orang lain. Itu maksudnya"


Bram menjelaskan maksud dari perkataannya kepada Jero dan Felix. Jero melihat ke arah Bram. Jero meminta penjelasan lebih kepada Bram tentang apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya itu.


Sedangkan di negara I seorang pria dewasa terlihat berjalan mondar mandir di ruang tamu mansion mewah keluarganya. Dia terlihat kesal sesaat sesudah menerima laporan dari orang suruhannya.