
Penerbangan menuju bandara negara E sebentar lagi akan selesai, pesawat akan mendarat di bandara negara E dan semua penumpagn akan transit selama dua jam penerbangan, waktu yang lumayan lama untuk mereka hanya sekedar duduk di bandara tanpa melakukan kegiatan apapun. Vian sudah bangun dari tidurnya dari tadi, dia sudah menikmati pemandangan dari atas sini sampai puas, hamparan awan yang hanya bisa di lihat oleh Vian.
Setelah bosan melihat lautan awan, dia kemudian memutar arah penglihatannya ke arah Jero yang duduk tepat di sebelah Vian seperti biasanya, ternyata Jero masih meringkuk di kursinya. Jero masih tertidur dengan pulas, Jero sama seklai belum bangun dan terlihat ingin bangun. Vian merasa kasihan kalau harus membangunkan Jero yang masih menikmati tidurnya tersebut.
"Kamu kelihatan letih sekali sayang?" ujar Vian sambil mengusap pipi Jero dengan sangat lembut.
Jero yang sebenarnya sudah bangun, hanya bisa diam kembali saat melihat Vian yang sedang menatap lama ke dirinya. Jero membiarkan saja Vian mengelus pipinya dengan lembut. Jero tidak ingin mengganggu kesenangan Vian. Dia membebaskan Vian mau menyentuh wajahnya di bagian mana saja.
"Makasi karena sudah mau mencintai aku yang masih berstatus istri orang ini" lanjut Vian berkata sambil mengusap bibir Jero dengan lembut
"Makasi udah menjaga aku selama ini" lanjut Vian mengutarakan isi hatinya sambil mengusap alis mata Jero yang tebal seperti semut berarak arak.
"Makasi karena udah menjadi tempat curhat aku dulu sebelum kita memiliki hubungan seperti ini" kata Vian sambil menelusuri kerutan di kening Jero dengan jari telunjuknya.
Jero menikmati semua yang dilakukan oleh Vian. Jero tidak mau mengusik kesenangan Vian itu. Jero tidak mau Vian malu karena dia tiba tiba sadar dan memergoki Vian sedang mengusap usap wajah Jero. Vian yang sedang asik melakukan kegiatannya mengeksplor wajah Jero, menjadi menghentikan kegiatannya saat Vian mendengar pengumuman yang diberikan oleh Juan dari pengeras suara yang ada di pesawat
Juan mengatakan kalau sebentar lagi mereka akan mendarat, jadi para penumpang diharapkan untuk duduk dengan betul dan mengencangkan sabuk pengaman kembali. Jero yang mendengar apa yang dikatakan oleh Juan pura pura baru bangun. Akting Jero memang sangat luar biasa sekali
"Udah mau mendarat kita sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian
Jero memasang wajah seperti tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Vian kepada dirinya tadi.
"Iya sayang, tadi Juan mengumumkan kalau kita akan mendarat lima belas menit lagi" ujar Vian memberitahukan isi pengumuman yang disampaikan oleh Juan yang menurut Vian Jero sama sekali tidak mendengar. Padahal Jero mendengar semuanya.
"Sayang kita kemana nanti saat mendarat di bandara negara E?" ujar Jero bertanya kepada Vian.
Vian selalu memiliki rencana untuk mereka lakukan saat mereka sedang berdua melakukan kegiatan.
" Jalan jalan di mall bandara aja sayang. Mau kemana kita, waktu cuma dua jam" ujar Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
Vian terdiam, waktu dua jam dengan meminta sopir untuk datang maka mereka akan bisa ke makam Mommy untuk izin pulang kembali ke negara I. Waktu dua jam itu akan sangat bermakna kalau mereka ke makam Mommy saja dari pada ke mall yang nggak tau harus ngapain. Ya Vian sudah memutuskan mereka akan kemana nanti saat transit pesawat selama dua jam itu.
"Sayang, nggak jadi ke mall. Telpon orang kamu aja sayang Minta mereka untu menjemput kita ke bandara aja" ujar Vian memberitahukan rencananya kepada Jero. Vian berbicara dengan sangat semangat. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakannya di depan makam mommy. Vian membawa misinya tersendiri ke makam mommy itu.
"Terus?" ujar Jero yang penasaran dengan kelanjutan rencana yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Kamu setuju kan sayang dengan ide aku itu?" ujar Vian sambil memegang lengan Jero
"Terus nggak jadi ke mall, tapi tadi mau ke mall?" ujar Jero menatap Vian
"Nggak, di negara I bisa ke mall kapan saja. Ke makam Mommy mana bisa kapan saja, kecuali kalau kita tinggal di negara E, baru bisa kapan saja ke makam Mommy." jawab Vian sambil menatap ke arah Jero
Felix dan Bram mendengar apa yang diobrolkan oleh Jero dan Vian. Mereka berdua tertarik untuk ikut dengan Jero dan Vian. Mereka sebenarnya ingin ke sana juga, tetapi mereka tidak mungkin pergi berdua saja, bisa bisa Bang Jero ngamuk sama mereka karena tidak mengajak dirinya ke makam Mommy.
"Kakak ipar kami berdua ikut ya ke makam mommy" ujar Bram yang semangat saat mendengar kalau kakak ipar dan Abangnya itu akan ke makam mommy saat mereka transit.
"Oke sip. Kita berempat ke makam Mommy" ujar Vian dengan semangat
Jero sangat senang karena Vian lebih mendahulukan untuk ke makam mommy dari pada ke mall sesuai dengan permintaannya yang pertama. Sebenarnya Jero memang akan menawarkan kepada Vian untuk ke makam Mommy saat mereka berdua sudah berkenjung ke mall bandara. Tetapi ternyata Vian merubah rencananya. Jero sangat bersyukur akan hal itu. Dia mendapatkan kekasih yang sangat menyayangi mommy walaupun mommy sudah tidak bisa dilihat lagi.
"Kamu kangen Mommy sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero
"Kami bertiga selalu kangen Mommy Kakak" jawab Bram yang kali ini menyambar jawaban yang akan diberikan oleh Jero kepada Vian
"Tu udah di jawab yang bontot" ujar Jero sambil tersenyum kepada Vian dan kepada adiknya itu.
Vian menatap ke arah Jero, Felix dan Bram. Vian melihat ke wajah tiga pria dewasa yang ternyata sampai sekarang masih merindukan kasih sayang seorang Mommy. Ternyata dibalik tegarnya mereka bertiga, mereka masih merindui Mommy yang pergi terlalu cepat meninggalkan mereka tanpa sempat melihat mereka bertiga menjadi sukses seperti sekarang ini. Sukses yang bahkan bisa menyaingi dan mengalahkan seseorang yang telah menghancurkan keluarga Alexsander dan bahkan membuat Jero memutuskan untuk menukar namanya menjadi Asander.
"Kenapa masih kangen? Bukannya Mommy sudah lama meninggalnya?" ujar Vian melanjutkan pertanyaannya kepada ketiga kakak beradik yang duduk berdampingan itu
"Kami akan selalu kangen sama Mommy kakak ipar, bagaimanapun dan kapanpun sampai kami menemui mommy di surga kami akan tetap kangen." kali ini Felix si pendiam yang menjawab pertanyaan dari Vian
"Bagi kami Mommy masih ada di sini" jawab Bram menunjuk jantungnya
"Mommy adalah kehidupan kami. Mommy adalah jantung kami. Setiap jantung ini masih berdetak, maka Mommy akan tetap kami rindukan" ujar Bram melanjutkan penjelasannya kepada Vian
"Sayang mobil sudah menunggu di depan bandara" kata Jero melaporkan kalau orang yang akan menjemput mereka sudah berada di bandara.
Pesawat yang dipiloti oleh Juan sudah mulai turun. Semua penumpang duduk dengan rapi. Vian menghentikan obrolannya dengan kedua adik Jero.