My Affair

My Affair
Cerita Dimulai



Seorang pelayan yang merupakan orang lama yang sudah bekerja dengan Papi akhirnya terbangun dari tidurnya. Pelayan itu melihat Papi yang membuka matanya dan sangat jelas sedang memikirkan sesuatu hal.


"Tuan besar, maaf apa yang Tuan pikirkan?" Ujar pelayan itu akhirnya bertanya kepada Papi.


"Apa kamu sudah bisa menceritakan apa yang terjadi selama ini, dengan sejelas jelasnya?" ujar Papi bertanya kepada pelayan itu.


Pelayan terlihat berpikir. Dia mempertimbangkan semuanya sebelum mengatakan sesuatu hal kepada Tuan besarnya itu. Papi menunggu dengan sabar keputusan yang akan diambil oleh Tuan besar tersebut. papi sama sekali tidak bisa mendesak atau memaksa pelayan supaya bisa mengatakan apa yang ada di dalam otaknya saat ini.


"Baik Tuan besar. Saya akan bercerita" Akhirnya pelayan memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Tuan besar tersebut.


"Pada hari itu. Jero melihat Vian dilempar oleh Juan dari dalam rumah. Jero yang sudah tidak tahan melihat semua itu berlari dari dalam rumah. Dia menghempas Juan Aleksander ke lantai mansion. Jero membantu Vian berdiri. Jero sama sekali tidak perduli dengan keadaan Juan Aleksander yang terlempar itu. Jero tetap melangkahkan kakinya menuju Vian" kata pelayan memulai ceritanya.


FLASHBACK


"Anda benar benar tidak manusia Tuan Muda" ujar Jero dengan emosi.


"Hay, siapa anda. Anda orang luar, jangan ikut campur masalah keluarga Aleksander." ujar Juan dengan emosi melihat kelakuan Jero.


Jero ingin menjawab. Tetapi Vian sudah memegang tangan Jero dan menggeleng ke arah Jero. Vian tidak mau keributan ini semakin meluas dan melebar kemana mana dan membuat semua orang kena amarah Juan Aleksander. Jero kembali diam, dia mengerti dengan keinginan Vian.


Juan Aleksander melangkah maju menuju Jero dan Vian. Jero menyembunyikan Vian di balik punggungnya. Juan mengangkat tangannya. Plak sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jero. Jero sebenarnya bisa mengelak dari tamparan yang diberikan oleh Juan Aleksander tetapi Jero membiarkan dan menerima saja tamparan itu.


Pak Hans, Bik Ima dan juga Vian terkejut melihat Jero yang ditampar dengan kuat oleh Juan Aleksander. Jero menatap Juan dengan tatapan tajam.


"Anda akan membayar semuanya dengan harga sangat mahal Tuan Juan Aleksander. Saya pastikan Anda akan membayar dengan sangat mahal apa yang telah Anda lakukan kepada Vian dan juga tamparan ini" ujar Jero dengan nada dingin yang membuat siapa saja tidak mampu menatap wajah Jero.


Wajah yang sudah diliputi kemarahan, wajah yang sudah merah padam, wajah yang diliputi kebencian yang luar biasa. Kebencian yang sudah tidak ditutup tutupi lagi oleh Jero.


"Hahahahahaha. Jero, Jero, Jero. Kamu saja tidak memiliki nama belakang Jero, bagaimana bisa kamu membalaskan sakit hati wanita ****** itu dan juga tamparan dari saya" ujar Juan masih dengan sikap pongah dan arogan nya.


Jero menatap Juan. Bik Ima dan Pak Hans sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya Jero saat ini. Kemarahan yang sudah sampai di puncaknya.


"Pak, apa Tuan Jero bisa mengendalikan emosinya Pak?" tanya Bik Ima kepada suaminya itu. Bik Ima terlihat sangat cemas sekali dengan reaksi yang diberikan oleh Jero.


"Tenang saja Bik. Bapak percaya dengan pengendalian diri Tuan Jero. Tidak ada yang sebaik Tuan Jero, Bik" ujar Pak Hans menenangkan rasa takut istrinya itu.


"Hay lacurrrr udah berapa kali pria rendahan ini meniduri kamu?" ujar Juan memaki istrinya dengan kata sapaan yang sangat sangat di luar batas toleransi Jero.


Jero kembali ingin melawan Juan. Jero sudah mengangkat tangannya dia ingin sekali menghajar mulut kasar Juan Aleksander. Tapi dia dihentikan kembali oleh Vian. Vian menggeleng kepada Jero.


"Hahahahaha. Gimana manusia rendahan ini bisa membalas saya. Dengan wanita saja dia takut. Bawa sana mimpi kalian berdua untuk membalas seorang pewaris tunggal perusahaan Aleksander" ujar Juan masih dengan sikap arogan nya.


"Nona Vian Bramantya, Saya Juan Aleksander menyatakan bahawasanya, Anda mulai detik ini dengan sesadar sadarnya saya dan tanpa paksaan dari pihak manapun, menjatuhkan talak satu kepada Vian Bramantya" ujar Juan menjatuhkan talak satu kepada Vian. Juan menatap Vian dengan sangat lama. Dia berharap Vian meratapi dan takut kehilangan Juan.


"Alhamdulillah" ujar Vian mengucapkan syukur di balik badan Jero.


Juan terbelalak mendengar reaksi dari Vian. Juan tidak menyangka kalau Vian menerima dengan sangat senang dan bahagia kata kata cerai yang diberikan oleh Juan.


Jero tersenyum Vian mengucapkan kata kata itu. Vian keluar dari belakang punggung Jero. Dia berjalan ke depan, Jero memegang pergelangan tangan Vian.


"Tidak apa apa" ujar Vian sambil tersenyum kepada Jero.


"Aku masih bisa mengendalikan diri aku. Kamu jangan cemas" lanjut Vian sambil memegang tangan Jero dan memberikan senyumnya kepada Jero.


"Tuan Juan Aleksander, saya Vian dan tidak ada embel nama keluarga, mengucapkan terimakasih kepada Anda karena telah melepaskan saya dari belenggu pernikahan ini." ujar Vian kepada Juan Aleksander.


"Bik Ima dan Pak Hans, terimakasih karena selama ini sudah menerima saya dengan baik di mansion besar ini. Saya pamit pergi ya. Semua kasih sayang kalian tidak akan Vian lupakan" ujar Vian sambil menjatuhkan kedua telapak tangannya ke depan dada.


"Bik Ima jangan nangis. Baik baik di sini ya. Doakan juga Vian di luar sana juga baik baik saja" ujar Vian sambil mengusap punggung Bik Ima untuk meredakan tangis bik Ima yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.


"Bik Ima boleh ikut dengan dia kalau bik Ima mau. Itupun kalau bik Ima bisa hidup susah. Pak Hans juga bisa ikut sekalian. Saya tidak butuh orang orang yang telah berkhianat dengan saya" ujar Juan Aleksander dengan arogan.


Juan Aleksander menatap ke arah Bik Ima dan Pak Hans.


"Oh baik Tuan Muda. Terimakasih juga sudah mengeluarkan kami dari mansion ini. Saya dengan istri saya sudah lama ingin pergi dari mansion ini, tetapi karena masih segan dengan Tuan besarlah kami bertahan tinggal" ujar Pak Hans kali ini yang menjawab perkataan Juan Aleksander.


"Oh kalau begitu bagus. Silahkan pergi" ujar Juan sambil menunjuk pintu keluar mansion.


"Ibuk ambil pakaian kita" ujar Pak Hans meminta istrinya mengambil pakaian mereka di belakang.


"Bik Ima tolong sekalian barang barang saya ya" ujar Jero yang enggan meninggalkan Vian sendirian di medan perang ini.


"Anda Vian, jangan ambil satupun barang di kamar Anda. Karena itu pemberian dari rasa kasihan kami kepada Anda, karena Anda sudah dijual orang tua Anda kepada kami" ujar Juan yang melarang Vian untuk mengambil barang barang di kamar.


"Oooo tidak masalah Tuan Muda. Saya masih mampu membelinya" ujar Vian dengan angkuh dan mengangkat kepalanya tinggi tinggi.


Jero bangga melihat sikap Vian. Sikap inilah yang diinginkan oleh Jero selama ini. Akhirnya kali ini Jero bisa melihat sikap itu.


Bik Ima kembali ke dalam mansion. Dia menuju bagian belakang mansion. Bik Ima mengambil beberapa pakaiannya dan pakaian suaminya. Setelah itu dia mengambil barang barang Jero yang ternyata memang suda dalam satu koper.


Bik Ima kembali ke dalam ruangan utama mansion. Terlihat Pak Hans sudah berada di dekat Jero. Sedangkan Vian di sisi kiri Jero. Bik Ima kemudian. Berdiri di sisi Pak Hans suaminya.


"Kami pamit Tuan Muda" ujar Pak Hans mewakili mereka berempat.


Mereka berempat kemudian berjalan keluar dari area mansion yang besar itu. Mereka berjalan sambil bergenggaman tangan. Jero menggenggam tangan Vian. Pak Hans menggenggam tangan Bik Ima.


Satpam yang melihat keempat orang itu keluar dari mansion utama sambil membawa koper milik mereka, berjalan menyongsong Pak Hans yang berjalan paling depan.


"Pak Hans dan yang lainnya mau kemana?" tanya satpam dengan rasa penasarannya.


"Kami keluar dari mansion ini. Tolong kamu jaga Tuan Muda ya" ujar Pak Hans yang masih memikirkan keselamatan Tuan mudanya.


"Tapi kenapa?" tanya satpam penasaran.


"Tuan muda menceraikan Nyonya muda. Kami membela Nyonya muda, akhirnya kami diusir dan kami berdua mengucapka Alhamdulillah" ujar Pak Hans bercerita kepada Satpam.


"Aku ikut kalian ya" ujar Satpam dengan tatapan memohon untuk diajak Pak Hans dan yang lainnya.


"Maaf tidak bisa. Kamu temani Tuan Muda saja" ujar Pak Hans dengan nada pasti menolak satpam untuk ikut dengan mereka.


Satpam membukakan pintu pagar mansion. Pak Hans, Bik Ima, Jero dan Vian berjalan keluar dari gerbang mansion.


Tin tin tin. Bunyi klakson sebuah mobil mewah yang berada di belakang mereka yang sedang berjalan menuju gerobak penjual nasi goreng.


"Pak Hans, Bik Ima berenti sebentar" ujar Jero meminta Pak Hans dan Bik Ima untuk berhenti.


Bram dan Jeri menghentikan mobil yang mereka kemudikan ke tepi jalan. Bram dan Jeri turun dari dalam mobil mereka masing masing.


Jeri yang melihat kedua orang tua itu berjalan kaki, hendak menemui Juan Aleksander dan membuat perhitungan dengannya. Tetapi dilarang oleh Bram. Mereka sekarang harus fokus membantu Jero dan yang lainnya untuk pulang ke mansion.


Pak Hans dan Bik Ima yang melihat siapa yang turun menatap penuh haru kepada pria tampan yang berjalan berdampingan dengan Bram. Bik Ima menghapus air matanya yang menetes di pipi.