
"kami permisi dahulu Tuan besar alexsander, kita sepertinya memang tidak berjodoh sama sekali untuk melakukan perkenalan ini" ujar Jero Asander yang pada prinsipnya tidak bisa lagi melanjutkan perkenalan kepada Tuan besar Alexsander tersebut.
"Kami pamit pulang terlebih dahulu, semoga tuan besar alexsander bisa menemukan orang orang yang bisa diajak berkenalan dengan cara yang seperti tuan besar lakukan kepada kami" lanjut Jero sebelum dirinya mengikuti Felix asander dan Bram Asander yang sudah pergi meninggalkan ruangan VVIP dimana di sana sudah terjadi perkenalan yang sangat aneh antara keluarga Asander dengan keluarga Alexsander.
Jero Asander kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan VVIP. Dia benar benar bersedih karena Daddnya itu masih mementingkan harta dari pada yang lainnya. Dia benar benar tidak menyangka bisa terjadi hal yang seperti itu. Jero sangat bersedih akan hal itu
Tuan besar alexsander menatap kepergian Jero, Felix dan Bram. Tuan besar Alexsander berharap bisa melihat rombongan dari ketiga orang yang tadi di ajaknya berkenalan itu, tetapi sayangnya langsung gagal karena Tuan besar Alexsander tidak melakukan perkenalan dengan sangat baik, sehingga membuat Jero dan kedua adilnya memelih untuk langsung pergidari ruangan VVIP tempat mereka bertemu berempat.
"Aku sangat yakin kalau mereka adalah pengusaha. Kalau tidak pengusaha mana mungkin mereka akan bisa dengan leluasa memakai pesawat pribadi" ujar Tuan besar Alexsander berkata sambil duduk kembali ke sofanya.
Tuan besar Alexsander sudah menyaksikan kepergian Jero, Felix dan Bram Asander. Tuan besar Alexsander berharap kalau dirinya akan melihat kendaraan yang menjemput Jero dan kedua adiknya tersebut. Tetapi sayangnya tidak sama sekali, Tuan besar Alexsander tidak bisa melihat dengan apa ke tiga kakak beradik itu kembali pulang menuju mansion atau apartemen mereka masing masing.
"Mereka cepat kali menghilangnya" ujar Tuan besar alexsander kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Tuan besar alexsander kemudian kembali ke dalam ruangan VVIP untuk mengambil ponsel milihnya dan perlengkapan yang lain. Dia akan pulang ke mansion utama untuk membuat perhitungan dengan nyonya mami dan juan alexsander
"Sudah saatnya saya sebagai tuan besar Alexsander membuat perhitungan dengan Nyonya besar Alexsander dan Juan Alexsander" ujar Tuan besar Alexsander yang sudah tidak bisa lagi menahan hatinya untuk mendiamkan apa yang telah dilakukan oleh Nyonya dan Juan Alexsander kepada semua orang. Terlebih lagi kepada istri pertama dan juga anak pertama dari Tuan besar Alexsander.
Tuan besar Alexsander kemudian berjalan meninggalkan ruangan VVIP, dia diikuti oleh lima orang pengawalnya yang selalu menjaga dirinya selama ini. Tuan besar Alexsander langsung menjadi pemandangan yang menarik bagi semua pengunjung bandara. Mereka tidak menyangka kalau mereka akan melihat seorang pengusaha yang ssangat sukses di bidangnya.
"Kita langsung ke mansion utama" ujar Tuan besar Alexsader memberitahukan kepada sopir kemana Tujuan mereka kali ini akan diarahkan.
.....................................................................................................................
VIan, Bram dan Hendri kemudian masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk digunakan oleh para petinggi perusahaan. Mereka semua akan langsung menuju ruangan Jero.
Pintu lift terbuka lebar di depan ruangan milik Jero. Vian menatap ruangan tersebut. Semua dinding terbuat dari kaca. Vian bisa melihat dengan jelas pemandangan kota yang ada sampai ke sudut sudutnya.
"Wow ini desain ruangan sangat bagus sekali. Kenapa Jero memutuskan untuk memakai semua kaca sebagai dinding ruangannya Bram?" tanya Vian kepada Bram yang sekarang sudah berada di sebelah Vian.
"kata bang Jero biar dia bisa melihat makam mommy di sana" ujar Bram menunjuk arah makam mommy mereka.
Vian melihat ke arah yang ditunjuk oleh Bram.
"Terus ke sana." ujar Bram menunjuk arah berikutnya
"emang di sana ada apa Bram?" tanya Vian penasaran dengan arah yang ditunjuk oleh Bram berikutnya.
"di sana adalah mansion keluarga Asander kakak ipar" jawab Bram sambil melihat ke arah Vian.
"oooo oooo berarti secara tidak langsung Jero merasa ada di tengah tengah antara makam mommy dengan mansion utama" ujar Vian menarik kesimpulan sendiri tentang kenapa Jero membuat ruangannya semuanya dengan kaca tebak tersebut..
"Apa Jero nggak takut orang dari luar bisa melihat dirinya di dalam?" tanya Vian kepada Bram.
Sebenarnya pertanyaan Vian adalah pertanyaan terbodoh yang pernah di dengar oleh Bram. Apalagi Vian adalah seorang dokter yang pastinya tahu ada kaca yang tidak bisa dilihat orang dari luar ke dalam. Jenis kaca itulah yang dipakai oleh Jero untuk membangun ruangannya.
"kaca itu hanya bisa kita melihat dari dalam saja kakak ipar. Dari luar nggak akan kelihatan apa apa. Apalagi kalau jauh. Kita di gedung lantai lima belas sekarang kakak ipar" ujar Bram. menjawab pertanyaan dari Vian yang sangat sangat pertanyaan tidak berguna sama sekali.
Vian, Bram dan Hendri kemudian masuk ke dalam ruangan Jero. Mereka melihat Jero, Felix dan Jeri sedang duduk di sana dan berdiskusi tentang perusahaan yang membuat mereka bertiga terlihat berwajah sangat serius, sampai sampai tidak menyadari ada yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada apa sayang? Kelihatannya serius sekali" ujar Vian menyapa kekasih hatinya yang sudah setengah hari tidak bertemu wajah dengan Vian.
Vian kemudian memeluk Jero di bagian lehernya. Dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan Jero.
"Ada masalah sayang. Tapi sudah selesai dieksekusi" ujar Jero menjawab pertanyaan dari Vian tentang apa yang sedang mereka bahas bertiga. Jero memegang tangan Vian yang memeluknya di bagian leher itu.
"Masalah apa kalau boleh Aku tahu sayang?" ujar Vian yang penasaran dengan masalah apa yang sedang terjadi di perusahaan kekasihnya itu.
"Ada yang mencoba masuk ke dalam database perusahaan. Mereka mulai bermain curang dengan perusahaan sayang. Tapi mereka sudah ditangani dengan baik oleh Felix" jawab Jero sambil mengecup lembut tangan Vian yang memeluk leher Jero dengan mesra.
Jero menatap ke arah Vian. Vian membalas tatapan dari Jero. Sedangkan Felix Bram dan Jeri serta Hendri, langsung melongoskan wajah mereka melihat ke arah lain. Sebenarnya kalau boleh memilih mereka bertiga lebih memilih untuk makan di luar dari pada harus melihat kemesraan Jero yang berlebihan kepada Vian setiap ada kesempatan itu.
"Bang, apa masih lama lagi acara makan siangnya? Aku udah lapar ini" ujar Bram memecah acara tatap tatapan antara Jero dengan Vian yang terkadang memang sangat berlebihan itu.
"Bukannya kamu baru selesai sarapan sebelum ke sini?" ujar Jero menjawab pertanyaan dari Bram tentang dia yang sudah kembali lapar padahal baru selesai makan pagi di mansion.
"Itu pagi bang. Sekarang udah siang. Minimal kalau abang nggak memikirkan perut aku. Pikirkan perut Felix yang udah ada sakit magh nya itu" ujar Bram mengingatkan Jero kalau Felix memiliki riwayat sakit magh akut.
"Atau abang mau melihat Felix masuk rumah sakit lagi?" ujar Bram mengingatkan Jero kembali kalau Felix pernah di rawat di rumah sakit gara gara sakit magh nya itu.
Hendri pergi mengambil piring dan beberapa botol air mineral untuk makan dan minum keempat Tuan Muda dan satu nona mudanya itu.
Sedangkan Vian membuka rantang yang dibawanya dari mansion, dan menaruh semua rantang itu di atas meja yang ada di ruangan Jero. Jero melihat makanan yang dibuat oleh Vian.
"Sayang itu apa?" tanya Jero saat melihat menu makan siang yang tidak pernah di lihat oleh Jero selama ini. Jero sangat penasaran dengan makanan tersebut. Jero merasa kenal dengan yang diparut parut itu.
"Yang mana?" tanya Vian saat sudah selesai menaruh semua menu makan siang di atas meja. Vian juga penasaran makanan mana yang ditanya oleh Jero tadi kepada Vian.
"Ini" ujar Jero menunjuk makanan apa yang terlihat asing oleh Jero.
Jero mengangkat tempat sambal yang terlihat aneh itu dimatanya. Vian tersenyum saat tahu makanan apa yang tidak diketahui oleh Jero nama makanann itu.
"Aku nggak pernah melihat makanan seperti ini sebelumnya. Emang ini apa?" ujar Jero melanjutkan pertanyaannya tentang menu makan siang yang terlihat tidak sama dengan menu makan siang yang pernah dilihat dan dimakan oleh Jero selama ini.
"Oooo oooo ooo, ini namanya sambal mangga sayang" jawab Vian sambil tersenyum menyebutkan nama sambal yang tidak pernah dicicipi dan bahkan dilihat oleh Jero
"Sambal mangga? Baru tahu aku sayang kalau ada nama makanan sambal mangga. Terus dimana kamu beli mangga tadi?" tanya Jero yang penasaran kapan Vian ke luar dari mansion untuk pergi membeli mangga.
Dari tadi Jero memperhatikan CCTV rumah, vian sama sekali tidak pernah keluar dari pintu utama mansion. Kecuali saat dia mau pergi ke perusahaan. Makanya Jero berpikir aneh kapan Vian membeli mangga.
"Nggak ada aku beli sayang. Jadi gini, tadi aku" ujar Vian yang tidak jadi melanjutkan kata katanya karena instrupsi yang dilakukan oleh Bram.
"Kakak ipar, Abang gimana kalau nanti saja ngobrolnya. Kasihan Bang Felix kalau lebih lama lagi menahan lapar" ujar Bram yang dengan terpaksa harus menghentikan Jero dan Vian bercerita panjang lebar tentang kapan Vian membeli mangga.
"Bener juga itu sayang. Kita makan dulu nanti baru cerita cerita" ujar Vian yang juga setuju untuk langsung makan siang. Vian juga merasakan lapar di perutnya.
Vian mengambilkan Jero makanan yang tersaji di depan mereka. Setelah itu Vian mengambil untuk dirinya sendiri. Setelah Vian mengambil untuk dirinya, barulah Felix, Bram dan Jeri mengambil makanan untuk mereka. Terakhir mengambil adalah Hendri.
Mereka berenam makan dengan sangat lahap menu makan siang yang dibuat oleh Vian. Mereka makan tidak ada yang mengobrol. Mereka semua berlomba lomba makan sambal mangga yang dibuat oleh Vian. Sambal yang ternyata rasanya sangat segar, sehingga membuat siapa saja yang mencobanya akan menambah dan nambah lagi sampai mereka merasa puas karena sudah makan sambal mangga itu cukup banyak.
"Sayang, enak ternyata sambal mangganya. Aku baru sekali ini mencoba makan sambal mangga. Ternyata ini rasanya. Pedas, manis, asam pokoknya pas" ujar Jero memuji sambal mangga yang dibuat oleh Vian.
"Bener Kakak ipar, ini sambal sangat enak. Aku baru sekali ini mencoba makan sabal mangga ini." kata Bram yang paling banyak menghabiskan sambal mangga buatan Vian
"Haha haha. Enak kan?" ujar Vian yang memang sangat suka sambal mangga. Vian sudah berkali kali membuat sambal mangga waktu dia tinggal di rumahnya. Tapi semenjak menikah dengan Juan, Vian sama sekali tidak pernah memasak lagi. Juan tidak suka makanan yang dibuat oleh Vian.
"Enak sayang. Masih ada lagi ka di rumah untuk makan malam?" tanya Jero menatap ke sambal mangga yang tinggal sedikit lagi di dalam tempatnya.
"Nggak tau juga. Dia yang masukin semua ke dalam tempat adalah bik Ima" ujar Vian menjawab pertanyaan dari Jero.
Vian memang tidak memeriksa lagi ke almari sambal, apakah Bik Ima memasukkan semuanya ke dalam rantang atau masih meninggalkan sedikit di mansion.
"Yah" ujar Jero menatap lemah ke arah Vian.
"Kalau mau aku bikinkan lagi sayang" ujar Vian yang tidak mau Jero bersedih karena kehabisan sambal mangga yang enak itu
"Bener kakak ipar, kalau di mansion habis nanti kakak bikin lagi ya. Aku rela dah mencari mangga untuk bikin sambal mangga itu" ujar Bram yang langsung menawarkan dirinya untuk mencari mangga asalkan Vian mau membuatkan mereka sambal mangga yang lezat seperti sambal mangga yang sedang dimakan oleh mereka tadi.
"Sip" ujar Vian menjawab pernyataan dari Bram.
"Sayang kamu janji ya mau bikinin aku sambal mangga lagi untuk makan malam" ujar Jero yang menuntut Vian untuk membuatkan dia sambal mangga lagi untuk makan malam.
"Janji sayang. Aku akan buatkan sambal mangga untuk kamu makan malam, nanti saat sampai di mansion kalau sambal mangga yang di mansion habis" ujar Vian berjanji kepada Jero akan membuatkan Jero sambal mangga sesampainya mereka di mansion.
"Tapi ada syaratnya" ujar Vian langsung mengajukan syarat kepada Jero.
"Apa?" tanya Jero melihat ke arah Vian.
Vian tersenyum, bahagia. Jero sudah masuk perangkapnya. Vian akan menggunakan sambal mangga sebagai alasan untuk memutuskan jalannya pergi jalan jalan naik kereta api.
Bram melihat Vian yang tersenyum langsung paham dengan maksud dari senyuman Vian. Vian akan menggunakan sambal mangga sebagai alasan untuk mewujudkan keinginannya pergi jalan-jalan menggunakan kereta api.
'Aku penasaran dengan cara kamu mengatakan kepada Abang Jero keinginan kamu itu kakak ipar' ujar Bram dalam hatinya berkata dengan sangat santai.
Bram melihat ke arah Hendri. Hendri mengangguk dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Mereka berdua sama sama mengerti dengan kata kata Vian yang tersurat penuh makna itu.
"Apa sayang? katakan saja" ujar Jero menuntut Vian untuk mengatakan apa syaratnya.