
Tema yang tepat duduk di sebelah jero mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada Jero sahabat baiknya itu.
" jadi kamu belum pernah naik kereta api kakak ipar?" kata Tama sambil menatap sekilas ke arah Vian, karena tiba-tiba saja tangan Jero sudah mencubit lengan Tama dengan begitu kuat.
" belum sama sekali kalau jauh tapi kalau dekat-dekat sudah sering" jawab Vian sambil melihat sekilas ke arah Tama.
Tama mengganggu angguk kan kepalanya seperti mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Tama sebenarnya sedikit kurang percaya dengan apa yang disampaikan oleh Vian kepada dirinya. Tetapi Tama juga tahu dan sangat mengerti kalau Vian sama sekali tidak pernah berbohong tentang hal apapun. Makanya mau tidak mau Tama harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Apalagi masalah seperti ini tidak ada gunanya juga bagi Vian untuk berbohong.
Mobil yang dikemudian oleh pengawal akhirnya berbelok masuk ke dalam parkiran stasiun. Mereka semua kemudian turun dari dalam mobil.
"Selamat datang Tuan Asander" sapa seorang pegawai dari stasiun yang ditugaskan untuk menunggu kedatangan Jero dan yang lainnya di stasiun mereka.
Jero mengangguk menjawab sapaan yang diberikan oleh pegawai stasiun tersebut kepada dirinya.
"Silahkan ikuti saya. Saya akan mengantarkan Tuan Tuan dan Nona Nona menuju kereta api yang telah menanti kedatangan Tuan Tuan dan Nona Nona" ujar pegawai stasiun kereta api sambil menatap ke arah Jero dan yang lainnya bergantian.
Mereka semua kemudian berjalan mengikuti pegawai stasiun tersebut. Mereka kemudian menuju kereta api yang telah menunggu di lajur rel nya itu.
"Wah ini kereta api apa hotel sayang?" ujar Vian yang langsung saja mengutarakan kekagumannya dengan sangat nyata saat melihat kereta api yang sangat bagus dan mewah itu.
" emang kenapa?" ujar Jero bertanya kepada Vian, kenapa Vian sampai mengatakan hal itu kepada dirinya.
Sebuah kekaguman yng tidak bisa di tutupi oleh Vian. Vian secara langsung mengatakan kepada Jero kekagumannya terhadap kereta api yang akan ditumpangi oleh dirinya saat ini.
"Di negara kita belum ada ntah aku yang nggak tau, ada kereta api sekeren ini" ujar Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya saat dia mengatakan kekagumannya dari kereta api yang akan ditumpangi oleh dirinya saat ini.
"Sayang sayang, bisa jadi di negara kita ada yang lebih bagus. Tetapi, kamunya aja yang nggak pernah naik. Makanya besok atau kapan kapan, kamu harus naik kereta api itu, biar kamu merasakan betapa enaknya naik kereta api tersebut." ujar Jero menjawab praduga atau dugaan yang diberikan oleh vian kepada dirinya saat menanyakan tentang kereta api di negara mereka.
Mereka semua sudah duduk di posisi masing masing. Vian duduk di sebelah Jero. Vian memilih untuk duduk di dekat kaca jendela kereta api. Vian ingin melihat semua pemandangan yang disajikan oleh alam saat ini.
Beberapa palayan yang akan melayani keluarga besar Asander selama perjalanan menggunakan kereta api, sudah berdiri di bagian depan kereta api. Mereka menatap ke arah Tuan tuan dan nona nona tersebut dengan bergantian. Mereka sudah menghafal nama nama mereka masing masing. Mereka sudah diberikan fhoto dan nama nama mereka sejak Bram memutuskan untuk menyewa kereta api itu.
"Selamat Pagi, kami ucapkan kepada Tuan Tuan dan Nona Nona. Selamat datang di atas kereta api Sun Morning ini. Kami berlima akan melayani semua kebutuhan Tuan Tuan dan Nona Nona selama tiga minggu ke depan, saat Tuan Tuan dan Nona Nona berada di kereta api" ujar salah satu pelayan yang di tunjuk sebagai juru bicara dari perwakilan jawatan kereta api itu.
"Kereta api Sun Morning yang sedang Tuan Tuan dan Nona Nona naik sekarang ini terdiri dari tujuh gerbong kereta. Satu adalah bagian tempat masisnis bekerja. Dua gerbong untuk para karyawan kereta, yaitu kami kami ini. Ketiga adalah gerbong tempat kita berada sekarang. Keempat atau yang tepat berada di belakang kita adalah restoran. Gerbong kelima dan keenam adalah tempat beristirahat, di gerbong itu sudah ada kamar kamar yang dilengkapi kasur untuk beristirahat. Gerbong terakhir adalah kamar mandi lengkap dengan tempat beribadah" ujar juru bicara kereta api menyampaikan bagian bagian yang ada di kereta api tersebut.
Juru bicara dari kereta api sengaja diam sebentar untuk menunggu apakah ada pertanyaan yang akan diajukan oleh Tuan Tuan dan Nona Nona yang berada di depan mereka saat ini. Tetapi setelah menunggu beberapa menit, ternyata tidak ada pertanyaan yang akan diajukan oleh mereka yang berada di gerbong tersebut. Jero dan yang lainnya hanya duduk diam saja. Sama sekali tidak ada berbicara atau bertanya kepada juru bicara itu.
"Baiklah kalau tidak ada pertanyaan, kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Selepas dari stasiun, Tuan Tuan dan Nona Nona bisa menuju restoran untuk menikmati cemilan dan hidangan yang kami sediakan" ujar juru bicara kereta api menyampaikan kepada semua yang berada di gerbong itu tentang pelayanan yang mereka berikan.
Juru bicara kembali diam sesaat. Mereka menunggu apakah ada pertanyaan yang akan diajukan oleh Jero dan yang lainnya, atau tidak sama sekali.
Ternyata setelah menunggu sekian menit, sama sekali tidak ada pertanyaan yang akan diajukan oleh Jero kepada juru bicara itu.
Jero dan yang lainnya mengangguk. Para karyawan kemudian pergi ke tempat tugas mereka masing masing.
"Para penumpang kereta Api Sun Morning, kereta api sebentar lagi akan mulai berjalan meninggalkan stasiun negara E. Kita akan menuju negara F, tetapi ada beberapa tempat yang akan kita singgahi sebelum kita menuju negara F. Silahkan menikmati pemandangan indah yang disajikan oleh alam di kiri dan kanan jalan." ujar masinis memberitahukan kepada semua penumpang kalau kereta api sebentar lagi akan melaju meninggalkan stasiun negara E.
"Bagi penumpang yang ingin melihat dari gerbong masinis juga dipersilahkan untuk datang ke lokomotif" ujar masinis kembali memberikan pengumuman yang meancing keingin tahuan Vian.
Tetapi Vian yang mendengar pengumuman itu masih menahan hatinya untuk pergi menuju lokomotif. Dia harus memberitahukan keinginannya terlebih dahulu kepada Jero. Vian tidak mau mengambil keputusan sendiri dan berakibat Jero menjadi emosi kepada dirinya saat itu juga. Jero melohat ke arah Vian, Jero sudah memiliki pemikiran sendiri kalau Vian pasti ada yang ingin disampaikannya sehingga Vian menatap ke arah Jero seperti itu.
"Apa? Tertarik mau ke lokomotif?" ujar Jero yang paham dengan keinginan Vian.
Vian menatap wajah Jero dengan tatapan mata berbinar binar. Vian tidak menyangka kalau Jero paham dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Sayang, kamu paranormal ya?" ujar Vian mulai mengajak Jero bercanda dengan gaya khasnya.
Bram mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada Jero.
"Kakak ipar, abang mah bukan paranormal, tetapi ekspresi kakak ipar itu seperti buku yang terbuka. Dengan mudah dibaca oleh orang lain. Kami saja tau kakak ipar yang langsung ingin masuk kelokomotif, saat masinis mengatakan kalau kita boleh masuk ke dalam lokomotif itu" ujar Bram menjawab apa yang dikatakan oleh Vian kepada Jero.
"Sayang, apa benar aku seperti buku yang terbuka?" ujar Vian bertanya kepada Jero untuk memastikan apakah perkataan dari Bram itu memang ada benarnya atau tidak.
"Jujur ya sayang, kamu memang seperti buku yang terbuka. Makanya orang dengan mudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini sayang" kata Jero sambil menatap ke arah Vian.
Vian tersenyum kepada Jero. Dia sangat senang karena Jero mengakui apa yang dikatakan oleh Bram adalah benar.Jero sama sekali tidak mau menutupi apa yang sebenarnya ada dalam diri Vian.
Saat mereka mengobrol kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun. Bram yang tau Vian sangat suka pemandangan langsung memanggil kakak iparnya itu.
"Kakak ipar, duduk sini, nanti kita akan melewati kebun anggur terbesar yang ada di negara E." ujar Bram mengajak Vian untuk pindah duduk ke arah dekat dirinya berada saat ini.
"Sayang?" ujar Vian menatap ke arah Jero.
"Boleh sayag" jawab Jero kepada Vian.
"Makasi Sayang" ujar Vian.
"Bram, kakak ipar datang" ujar Vain setengah berteriak berkata kepada Bram yang sekarang sedang duduk di tepi jendela kaa besar tersebut.
Jero menatap ke arah Vian yang berjalan dengan semangatnya menuju tempat Bram sedang duduk tersebut. Jero memang mengizinkan Vian untuk dekat dengan saudaranya dan sahabatnya. Tetapi tidak denganĀ masinis. Untuk ke lokomotif, maka Jero akan langsung menemani Vian ke sana. Jero tidak akan mungkin membiarkan Vian pergi ke lokomotif itu sendirian, atau bersama dengan Bram.
Bukan karena Jero tidak percaya dengan Bram maupun Vian. Tetapi, Jero tidak bisa percaya dengan masinis yang berada di dalam lokomotif tersebut. Untung saja Vian sekarang belum meminta untuk masuk ke dalam lokomotif. Jadi, Jero masih bisa sedikit beristirahat dan membiarkan Vian dengan kesenangannya menatap ke luar jendela kaca besar tersebut.