
Vian melihat sebuah fhoto yang membuat dirinya menjadi sangat terkejut dan langsung menutup mulutnya. Vian tidak menyangka akan melihat fhoto itu di mansion milik Jero. Fhoto tiga orang yang sangat dikenal oleh Vian, serta berhasil membuat hidup Vian menjadi sangat hancur tak bersisa karena keangkuhan dan kepongahan serta kesombongan mereka bertiga itu.
Jero melihat sikap dan tingkah Vian saat dia melihat fhoto terakhir tersebut. Jero tidak menyangka ekspresi Vian akan sekaget itu. Jero benar benar tidak menyangka ekspresi Vian akan seperti itu. Ekspresi terkejut yang sangat luar biasa.
' Apa wajah aku memang tidak mirip dengan pria itu, sampai sampai Vian baru kaget saat melihat fhoto terakhir' ujar Jero dalam hatinya.
Mereka berdua terus melangkah sampai ke ujung ruangan mansion itu. Jero tersenyum kepada Vian. Jero tidak mau Vian menjadi sangat takut atau menjadi salah pikiran kepada dirinya.
Semua fhoto fhoto yang ada di dalam ruangan itu akan disimpan oleh para maid nantinya. Fhoto fhoto itu akan disimpan oleh maid di sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang mansion. Sedangkan untuk fhoto Jero dan Mommy akan di simpan di dalam kamar Mommy. Tidak akan disimpan di kamar bagian belakang.
"Vian, bagaimana kalau kita duduk di kursi taman samping mansion." ujar Jero mengajak Vian untuk duduk duduk di taman samping mansion.
Taman yang langsung berhadapan dengan berbagai macam jenis pohon buah buahan yang di tanam dalam pot oleh pemilik mansion sebelumnya.
" Oke sayang, Aku sangat setuju kalau kita berbincang di sana" ujar Vian sambil menggandeng tangan Jero dan melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjukkan oleh Jero kepada dirinya tadi.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan. Hendri dan Erik yang dari tadi mengikuti mereka dari belakang, tersneyum melihat kelakuan Tuan muda dan juga Nona muda mereka yang terlihat sangat mesra itu. Hendri dan Erik sangat bersyukur melihat Jero yang sudah kembali menjadi Jero yang dulu.
Mereka akhirnya telah sampai di taman belakang. Hendri tanpa diminta oleh siapapun langsung membentangkan tikar untuk alas mereka menyantap makanan yang sudah di bawa oleh Jero tadi. Erik kemudian membuka kotak bekal yang di bawa oleh Jero.
"Kita makan dulu sayang, nanti aku akan menjelaskan semuanya kepada kamu" ujar Jero menjelaskan kepada Vian kenapa Hendri sudah membantangkan tikar untuk alas mereka menikmati bekal yang dibawa oleh Jero.
"Oh baiklah sayang, kita anggap kita sedang piknik" jawab Vian yang sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh Jero kepada dirinya saat ini.
Jero benar benar memperlakukan Vian seperti seorang ratu. Ratu yang selalu berada di singgasanah hati Vian. Vian tidak akan mungkin mengeluarkan Jero dari dalam hatinya untuk saat ini. Bagi Vian, Jero adalah pria terhebat yang dia temui, terlepas dari masa lalunya yang sangat suram dan bisa dikatakan tidak seindah anak anak lainnya.
"Hendri, Erik duduk di sini saja, nggak usah jauh jauh kayak gitu" ujar Vian mengajak Hendri dan Erik untuk duduk di atas tikar yang sangat luas itu.
Hendri dan Erik menatap ke arah Jero. Mereka berdua tidak ingin lancang main langsung duduk saja di tikar tanpa diizinkan oleh Jero terlebih dahulu. Mereka berdua sangat patuh dengan Jero. Apa yang dikatakan dan disetujui serta dilarang oleh Jero akan langsung mereka lakukan saat itu juga.
"Kalian berdua tidak dengar apa yang dikatakan oleh Nona muda, kalian berdua duduk di sini saja, tidak usah main berdiri seperti itu." ujar Jero menjawab pertanyaan yang tak terucapkan dari Hendri dan Erik saat menatap dirinya seperti itu.
"Terimakasih Tuan Muda" jawab Hendri mewakili Erik untuk mengucapkan rasa terimakasih kepada Jero dan Vian.
Mereka berdua kemudian duduk di dekat Tuan muda dan nona muda mereka itu. Vian memberikan burger dan juga air minum kepada kedua pengawalnya tersebut.
"Hendri, kamu bekerja dengan Tuan muda semenjak kapan?" tanya Vian yang sudah masuk ke dalam inti pertanyaan pertanyaan yang sudah tidak sabar lagi keluar dari dalam mulutnya untuk mengorek semua cerita yang diketahui oleh Hendri dan Erik.
Hendri menatap ke arah Jero, Jero langsung tersenyum. Makna senyuman yang diberikan oleh Jero kepada Hendri sudah diketahui oleh Hendri.
'Makanya jangan percaya dengan ajakan Vian untuk makan bersama dia, dia akan selalu ada maunya saat melakukan hal itu. Vian adalah tipe orang yang akan mewujudkan segala yang diinginkannya, termasuk segala informasi yang ingin diperoleh oleh dirinya. Vian akan melakukan apapun untuk itu' ujar Jero dalam hati dan pikirannya.
Hendri hanya menggeleng lemah saat melihat Jero memberikan kode untuk menjawab semua pertanyaan dari Vian.
"Hendri, jawab aja, Tuan muda kamu tidak akan memarahi kamu atau memecat kamu. Saya jaminannya" ujar Vian memberikan kartu jaminan kepada Hendri.
"Nona muda, saya permisi ke toilet sebentar Nona" ujar Erik yang tidak mau menjadi korban rasa ingin tahu Nona muda mereka berikutnya.
"Op maaf Erik, kamu duduk di sini saja. Nggak usah pakai alasan mau ke toilet segala. Basi" jawab Vian dengan nada ketus yang membuat Erik menjadi duduk kembali dan membatalkan niatnya untuk ke toilet.
Jero yang melihat hal itu tersenyum dengan tingkah Vian. Vian benar benar menunjukkan kalau dia berhak menyandang nama keluarga Asander di belakang namanya sendiri.
"Hendri jawab pertanyaan saya, kamu juga Erik, saya tidak akan mengulang pertanyaan untuk kamu. Capek saya kalau keseringan bertanya. Jadi kalian berdua harus fokus mendengar apa yang akan saya tanyakan" ujar Vian sambil menatap wajah Hendri dan Erik bergantian.
"Siap Nona" jawab Hendri dan Erik bersamaan.
Plok plok plok. Terdengar Jero bertepuk tangan. Vian menatap heran ke arah Jero.
"Kenapa tepuk tangan?" tanya Vian kepada Jero.
"Kamulah orang kedua setelah aku, bisa membuat mereka menjawab dengan kompak. Biasanya akan telat satu orang" ujar Jero menjelaskan kenapa dia bertepuk saat Hendri dan Erik bisa menjawab perkataan Vian bersamaan dan tidak ada yang ketinggalan.
"Oooo, aku kira ada yang lucu" ujar Vian kepada Jero sambil menatap ke wajah Jero dan mengusap wajah itu dengan satu telapak tangan Vian,
Jero menahan tangan Vian di dekat mulutnya. Dia mengecup sebentar telapak tangan Vian. Vian tersenyum atas perlakuan kecil Jero yang romantis itu.
Hendri dan Erik hanya bisa memalingkan wajahnya saja dari apa yang disajikan di depan mata mereka. Mereka berdua sudah harus terbiasa melihat keromantisan antara Tuan dan Nona muda mereka yang tergolong keromantisan level dewa.