
"Sayang apakah kamu Siap sayang untuk masuk ke dalam manaion, dan menyaksikan apa yang disajikan oleh semua gambar gambar yang ada di dalam manaion itu?" tanya Jero memastikan kesiapan Vian satu kali lagi. Jero tetap tidak ingin Vian kenapa kenapa. Makanya Jero bertanya sampai berkali kali kepada Vian.
"Siap sayang! Aku sangat siap untuk menyaksikan semuanya, baik itu berita baik ataupun berita buruk" jawab Vian dengan nada pastinya.
"Tapi aku minta sama kamu. Kamu akan menjawab dan menjelaskan semuanya kepada aku tanpa menutupi satu kisah pun. Aku tidak mau kisah ini selalu di tutup tutupi. Aku tidak mau itu terjadi. Apa kamu bisa janji sama aku?" giliran Vian memberikan ultimatum kepada Jero.
"Siap sayang, aku akan menjelaskan semuanya dan akan menenangkan semuanya setiap fhoto yang kamu lihat. Aku akan menjelaskan semua kejadiannya sama kamu. Itu janji aku sama kamu sayang" jawab Jero yang sangat yakin dan akan menepati janjinya untuk menjelaskan setiap yang ditanya oleh Vian nantinya.
"Are you ready honey?" tanya Jero sekali lagi kepada Vian
"I'am ready honey" jawab Vian sambil mengepalkan tangannya.
Jero menatap Vian dengan tatapan bangganya. Vian benar benar selalu memberi kejutan kepada Jero. Kejutan kejutan dengan tingkah Vian yang tidak memikirkan statusnya sebagai apa. Bagi Vian status tidaklah penting, Vian menganggap semua orang adalah sama, yang membedakan hanya akhlaknya saja.
Jero kemudian membuka pintu mansion yang sudah dibuka kuncinya oleh Hendri. Vian langsung menutup mulutnya saat melihat fhoto berukuran besar terpajang di depan dinding mau masuk ke dalam mansion.
"Sayang bisa jelaskan itu?" taya Vian saat melihat fhoto yang sangat besar itu.
Fhoto yang dilihat oleh Vian adalah fhoto seorang Ayah sedang menggendong anaknya. Sedangkan istrinya memeluk Ayah dan anak itu dari arah belakang.
"Sayang, pertanyaan pertama, kenapa ada fhoto Tuan Aleksander di mansion ini" ujar Vian mulai bertanya kepada Jero sesuatu yang tidak dimengerti oleh Vian.
"karena rumah ini adalah milik keluarga Aleksander sayang. Mansion ini milik mereka sebelum mereka pindah ke negara I" jawab Jero dengan jujur kepada Vian.
"Terus apakah anak kecil yang digendong oleh Tuan Aleksander itu Juan Aleksander?" tanya Vian kepada Jero.
Jero menggeleng saat Vian bertanya hal itu. Jero menanti nantikan Vian bertanya hal tersebut.
"Tidak sayang, anak itu bukanlah Juan Aleksander. Tuan Aleksander memiliki seorang anak laki laki dari istrinya yang lain lagi." ujar Jero menjawab pertanyaan dari Vian.
"Terus siapa yang di fhoto itu sayang?" tanya Vian yang sudah melihat fhoto fhoto yang lainnya. Vian hanya akan bertanya kalau fhoto itu di cetak dengan ukuran besar oleh Jero.
"Istri pertama dan anak pertama dari keluarga Aleksander" jawab Jero dengan nada dinginnya.
"terus apa mereka tinggal di daerah sini?" tanya Vian penasaran dengan istri pertama dan juga anak pertama dari Tuan Aleksander.
"Untuk sekarang tidak. Anak kandungnya ntah di mana. Sedangkan istrinya sudah meninggal." ujar Jero memberitahukan kepada adiknya itu.
"Sayang, bukannya orang kaya kaya itu akan mencari istri kedua kalau istri pertama tidak punya anak. Kok Tuan Aleksander itu berbeda?" tanya Vian kepada Jero.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju fhoto fhoto yang lain. Vian mengamati dengan detail semua fhoto yang di pajang di sana. Vian sama sekali tidak melewati fhoto fhoto tersebut.
Tiba tiba Vian berdiri di depan sebuah fhoto yang juga sama besar dari fhoto yang pertama. Tapi kali ini anak laki laki itu sudah besar. Anak laki laki itu membawa koper keluar dari mansion untuk dirinya dan mamanya. Sehingga hal itu menyebabkan penerus asli keluarga Aleksander tidak bisa di temukan.
Vian menyimpan semuanya di dalam pikirannya. Dia tetap berjalan menuju fhoto fhoto yang lainnya. Nah saat Vian sampai di sebuah pintu yang di dalamnya adalah ruang kerja milik Felix dan Bram, terpampang lah spanduk dengan tulisan besar besar Bagi yang puasa penuh pergi lamang dan kuahnya.
"Sayang kita duduk di situ yuk" ujar Vian yang sudah tidak sanggup lagi untuk melihat fhoto fhoto yang di pajang di lantai satu mansion.
Mereka berdua kemudian duduk di salah satu sofa. Tiba tiba saja Jero ingin mereka makan di gazebo bagian belakang yang menatap pohon anggur yang sangat banyak.
"Kita duduk di gazebo belakang aja sayang. Lebih enak" ujar Jero mengajak Vian untuk ke bagian belakang mansion.
Mereka berdua akhirnya sampai di gazebo tersebut. Jero menatap Vian. Vian berbalik menatao Jero dengan tatapan tajam dan fokusnya.
"Katakan dan ceritakan" ujar Vian dengan nada tingginya kepada Jero.
Vian tidak menyangka akan menemukan bukti bukti tersebut di rumah itu. Tapi Vian tidak mempermasalahkan semua bukti itu. Bagi Vian sekarang yang terpenting Jero menceritakan semuanya dengan tidak ada menyumpeti sesuatu hal dari Vian.
Sedangkan di negara I. Juan Aleksander pergi keluar dari mansion. Dia akan bertanya kepada teman temannya yang masih kenal dengan Jero.
"Kenapa nasib gue seperti ini banget ya. Papi dan Mami datang, setelah itu mereka main pergi saja, dan belum ada mengingat di mana letak tempat kita akan pergi itu" uang Vian yang pilihan kosa katanya sudah amburadul.
"Gue harus cari tahu siapa itu Jero. Kenapa setiap kali aku ngomongin Jero, Papi dan Mami langsung mengalihkan pembicaraan bahkan sampai bisa menggagalkan meeting." ujar Juan Aleksander sambil menatap pintu mau masuk gazebo.
"Tapi kemana harus gue cari tahu ya" ujar Juan yang tidak tahu bagaimana caranya dirinya mencari tahu kalau kita yang meminta payung.
Juan Aleksander kemudian mengemudikan mobilnya menuju mansion kedua orang tuanya yang letaknya cukup jauh dari mansion Juan Aleksander.
Dia ingin menanyakan tentang Jero kepada mereka berdua.
"tapi apa mereka akan memberitahukan kepada aku tentang siapa Jero sebenarnya?" tanya Juan Aleksander kepada dirinya sendiri.
"Kalau mereka tidak mau menceritakan kepada aku, ke siapa lagi aku harus bertanya. Satu satunya adalah Pak Hans dan Bik Ima. Tetapi mereka sudah tidak gue ketahui lagi keberadaannya" ujar Juan Aleksander memikirkan orang orang yang bisa memberitahukan kepada dirinya tentang siapa Jero sebenarnya.
"Atau apa aku harus kembali ke negara E, untuk mencari semua bukti tentang siapa Jero sebenarnya?" ujar Juan lagi dengan mengajukan solusi yang lainnya.
"tapi lebih baik gue ke mansion papi dan Mami dulu. Mana tau mereka berbaik hati ke gue untuk menceritakan semuanya" ujar Juan yang akhirnya memutuskan untuk mendatangi kedua orang tuanya menanyakan perihal Jero itu siapa.