My Affair

My Affair
Yah Masalah Lagi!!!!!!!!!



Vian membesarkan matanya kepada Bram, saat Bram memanas manasi keadaan dengan menghasut Jero dengan perkataan perkataannya. Bram membalas apa yang dilakukan oleh Vian kepada dirinya. Bram juga ikut ikutan membesarkan matanya ke arah Vian. Jero dan Felix yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya melihat kelakuan Vian dan Bram.


"Benerkan Kakak ipar pasti ingin pergi kan ya. Jujur ajalah kakak ipar, jangan pakai bohong segala. Benerkan ya?????? Is ngaku ajalah kakak ipar, bohong itu dosa loh" ujar Bram sambil melihat ke arah Vian dan melihat Vian dengan tatapan mengolok olok Vian.


"Anak kecil jangan mulai jadi tukang adu domba ya. Mana ada aku semangat tadi untuk pergi ke negara A" ujar Vian masih berusaha mengelak atas keinginannya untuk pergi ke negara A.


"Jadi sayang, kamu bener bener ingin pergi ke negara A?" Jero mengulang kembali pertanyaannya kepada Vian.


"Kali ini aku bertanya serius sayang" ujar Jero.


Bram hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada Vian.


"Bang, kamu jadi kekasih itu peka dikit napa. Ini ndak pekak yang ada" ujar Bram yang menyindir Jero dengan sangat pedas.


"Maksud kamu?" jawab Jero dengan nada sedikit tinggi. Jero marah karena dikatakan pekak oleh Bram.


"Jangan lewat batas Bram" ujar Jero memperingatkan Bram


"Ya, kakak ipar itu ingin pergi jalan jalan ke Negara A. Makanya tadi dia ngomong 'ayo sayang, kita yang pergi minta tanda tangan'" Bram kembali mengulang apa yang dikatakan oleh Vian kepada Jero. Bram mengabaikan peringatan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Menurut Bram, Jero yang kurang peka memang harus diberikan pengertian yang luar biasa kepada dirinya agar tidak terjadi miskomunikasi dengan Vian.


Jero melihat ke arah Vian. Vian tersenyum membalas tatapan itu.


"Huft, ya sudah" ujar Jero saat tahu arti dari senyuman yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.


"Bram, kamu cepat bikin kontrak kerjanya. Kita yang akan langsung berangkat ke negara A." ujar Jero yang pada akhirnya menyetujui untuk pergi ke negara A.


"Haha haha haha haha"


Felix dan Bram tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Jero sebentar ini. Pria yang pertamanya tidak ingin berangkat ke negara A, pada akhirnya luluh hanya karena senyuman seorang wanita yang dicintainya.


"Abang, abang, kamu bener bener bucin. Aku kira yang bucin adalah Jeri, ternyata lebih parah bucin nya kamu Bang" ujar Bram sambil geleng geleng kepala melihat kadar kebucinan yang dimiliki oleh Jero kepada Vian.


Vian melihat kalau ejek mengejek ini akan berjalan lama, membuat dirinya harus menengahi pertikaian tidak jelas itu secepatnya. Vian tidak mau Jero menjadi bulan bulanan kedua adiknya.


"Jadi, kapan kita berangkat sayang?" kata Vian dengan senyum sumringah nya.


"Oh ya, aku sampai lupa. Aku tentu harus mengurus cuti dulu ke managemen rumah sakit"


"Gimana ini sayang" ujar Vian yang seketika perkataan perkataannya menjadi tidak jelas dan tidak menentu.


Jero, Felix dan Bram saling pandang pandangan. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Vian.


"Apa mungkin kakak ipar lupa kali ya Bang, kalau yang punya rumah sakit ini adalah Abang?" ujar Bram bertanya kepada Jero.


"Biarkan saja dia pusing sendiri." jawab Jero yang males menanggapi keogepan Vian saat ini.


Mereka bertiga kembali membicarakan kontrak bisnis yang harus dibuat oleh Bram. Jero tidak ingin ada kesalahan dalam kontrak bisnis tersebut, makanya mereka membahas dengan sangat detail.


"Jadi, kontraknya akan kita bahas tiga jari ke depan Bram. Kamu buat dulu draf nya, nanti akan kita bahas lagi bertiga" ujar Jero memberikan batas waktu kapan draf kontrak kerja itu harus siap oleh Bram.


"Siap Bang" jawab Bram yang sangat semangat karena diberikan kepercayaan oleh Jero dan Felix untuk mengatur kontrak kerjasama dengan perusahaan besar dari negara A.


Memang sudah selayaknya pula Bram diberikan kepercayaan oleh Jero dan Felix untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan besar. Hal ini akan semakin membuat Bram menjadi percaya diri dalam mengurus perusahaan ke depannya.


Saat mereka bertiga asik berbincang dan Vian sedang sibuk menulis surat permohonan cutinya, pintu ruang kerja Vian terbuka lebar. Mereka berempat di tambah dengan Hendri langsung melihat ke arah pintu yang terbuka tersebut.


"Is natap nya sebegitu banget. Kayak kami ini musuh saja" lanjut Greta.


"Kalian berdua masuk apa tidak bisa ketok dulu?" ujar Jero.


"Atau harus gue ajarin, tata karama masuk ke dalam ruangan orang?" lanjut Jero dengan nada sinis.


"Hay bro santai. Vian saja yang punya ruangan tidak ngamuk, masak kamu yang numpang ngamuk" balas Jeri yang sengaja mengatakan hal itu.


"Ya memang Vian yang punya ruangan. Tapi loe jangan lupa, gue kekasih yang punya ruangan"


"Apa harus gue lebih perjelas lagi?" kata Jero sambil melihat dengan tatapan dinginnya ke arah Jeri.


"Ya ya ya ya. Gue salah" akhirnya Jeri memutuskan untuk mengalah kepada Jero. Jeri tidak ingin berdebat lama dengan Jero.


Jeri dan Greta duduk di sebuah sofa yang berada di depan Felix dan Bram.


"Jadi apa urusan loe datang?" ujar Jero langsung to the point menanyakan tujuan kedatangan dari Jeri ke rumah sakit.


"Gini, sidang mediasi untuk Vian dan jatuh akan dilakukan dalam dua hari lagi" ujar Jeri memberitahukan tujuannya datang ke rumah sakit untuk menyampaikan informasi tersebut.


Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jeri, berdiri dari kursi kerjanya. Dia berjalan menuju Jero. Berhubung Jero hanya duduk di sofa single, sehingga membuat Vian harus duduk di tangan sofa yang diduduki Jero.


"Maaf Jeri, apa bisa kembali di ulang?" kata Vian yang tadi kurang mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Jeri kepada Jero.


"Kamu akan sidang mediasi dengan Juan dalam dua hari ke depan" ujar Jeri mengulang kembali informasi yang diberikannya kepada Vian.


"Dua hari ke depan?" Vian mengulang apa yang dikatakan oleh Jeri kepada dirinya.


"Huft" ujar Vian dengan lemah.


Bram yang melihat Vian menghembuskan nafasnya dengan berat hanya bisa tersenyum kecil saja.


"Apa?" ujar Felix bertanya kepada Bram.


"Batal ke negara A" jawab Bram.


"Oh pantesan" balas Felix yang sekarang mengerti kenapa Vian menghembuskan nafasnya dengan berat.


Vian terdiam dan cukup lama mencerna apa yang dikatakan oleh Jeri kepada dirinya.


"Jeri, apa tidak bisa diundur?" ujar Vian.


"Apa diundur!" Jero langsung berdiri saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini.


"Apa kamu masih ingin menjadi istri dia, sehingga kamu meminta sidangnya untuk diundur?" Jero langsung murka mendengar apa yang dikatakan oleh Vian saat ini. Jero sama sekali tidak menyangka kalau itu respon yang diberikan oleh Vian.


Vian menatap tajam ke arah Jero.


"Hay, apa kamu meragukan cinta aku ke kamu?" ujar Vian balik bertanya kepada Jero.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan Vian" ujar Jero semakin emosi kepada Vian.


"Kamu yang mulai Jero" ujar Vian mulai emosi.