
Jero memeluk Vian. Dia mengepalkan tangannya di balik punggung Vian. Jero sudah memutuskan sesuatu. Dia akan melakukannya. jero tidak akan menunda lagi. dia akan segera melakukannya. dia sangat tidak bisa melihat Vian diberlakukan seerti ini oleh siapapun.
"Bramantya tunggu saja pengadilan untuk kamu." ujar Jero dengan nada dingin yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Jero menunggu Vian untuk menyelesaikan proses pendaftaran ulang kuliahnya yang akan dilaksanakan dua bulan lagi.
"Gimana udah siap?" tanya Jero kepada Vian yang terlihat sudah mulai santai dan tidak menghadap ke arah laptop lagi.
"Udah. Emang ada apa?" ujar Vian mentap Jero yang sepertinya akan ada kesibukan lainnya.
"Eeee aku rencana ada keperluan untuk bertemu rekan di luar. Kamu mau ikut atau tunggu di rumah sakit saja?" tanya Jero kepada Vian.
Jero sangat berharap Vian mau menunggu dirinya di rumah sakit saja. Jero tidak ingin Vian ikut dengan dia kepertemuan dengan Felix. Jero ingin membahas masalah yang lumayan gawat dengan Felix.
"Aku nunggu di sini ajalah. Kamu nggak lama kan?" tanya Vian yang sudah memutuskan akan menunggu Jero di rumah sakit.
"Lama kayaknya. Kalau kamu mau nunggu di sini, mobil aku tinggal aja. Nanti aku share dimana aku bertemu teman. Kamu bisa susul ke sana. Apa kamu mau?" tanya Jero berharap Vian mau menyusul.
Jero tidak ingin nanti Vian pulang sendirian ke mansion dan membuat dirinya di murkai dan dihadiahi kata kata kasar dari Juan. Di satu sisi Jero juga takut Vian kenapa kenapa di jalan kalau pulang sendirian saja.
"Sip. Aku jemput ke sana. Aku juga nggak pengen pulang sendirian. Males. Kalau dapat hari ini aku mau pulang malam. Malas nengok tu manusia." ujar Vian dengan nada kesal dan sedikit memberengut karena Jero akan pergi tanpa dirinya.
"Udah jangan kesal. Aku sebentar perginya, aku pergi karena ada urusan penting yang tidak bisa aku wakilkan." ujar Jero sambil mengusap kepala Vian.
"Kamu, aku tinggal sekarang sebentar ya. Aku pergi dulu. Makan siang udah aku pesankan. Nanti di antar satpam ke atas." ujar Jero memberitahukan kepada Vian kalau dia sudah memesan makan siang.
"Makasi sayang." jawab Vian sambil mengecup puncak kepala Jero.
"Yah kebalek sayang. Dimana mana aku yang cium puncak kepala kamu seharusnya." ujar Jero sambil tersenyum.
"Hahahahaha. Sekali sekali tak apalah sayang." jawab Vian sambile mengantarkan Jero ke depan pintu ruangan.
Jero kemudian pergi menuju lobby. Dia sudah di tunggu sebuah mobil hitam mewah di lobby rumah sakit. Seorang sopir membukakan pintu penumpang untuk Jero. Jero kemudian masuk ke dalam mobil.
"Tempat Tuan Felix." ujar Jero memberitahukan kemana tujuan mereka sekarang.
Sopir mengendarai mobil menuju perusahaan tempat Felix berada. Jero mengambil tablet yang ada di dalam sebuah kotak yang ada di dalam mobil. Jero mengaktifkan tablet tersebut. Jero mulai membaca trading yang sedang dilakukannya.
"Tuan, kita sudah sampai." ujar Jero memberhentikan mobil tepat di depan pintu masuk perusahaan.
Sopir turun dari dalam mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk Jero. Jero kemudian turun dari dalam mobil. Dia masuk ke dalam perusahaan dengan langkah tegap. Semua orang menunduk saat berpas pasan dengan Jero.
Jero masuk ke dalam lift yang akan langsung mengantarkan dirinya menuju ruangan Felix yang berada di lantai paling atas bangunan perusahaan itu. Bangunan perusahaan yang sangat luar biasa megah. Siapapun yang melihat gedung tersebut akan berdecak kagum. Tetapi sampai sekarang tidak satupun rekan bisnis maupin lawan bisnis mengetahui siapa sebenarnya pemimpin dan bos besar dibangunan megah itu.
Ting bunyi lift yang telah sampai di lantai yang di tuju Jero. Jero kemudian keluar dari dalam lift. Dia menuju ruangan Felix.
Seorang sekretaris menundukkan kepalanya kepada Jero. Jero tidak membalas sapaan dari sekretaris. Jero kemudian masuk ke dalam ruangan Felix. Felix yang memang sudah menunggu Jero langsung berpindah menuju sofa yang ada di dalam ruangan. Jero dan Felix duduk di sana. Mereka akan membahas sesuatu yabg penting berkaitan dengan hidup Jero dimasa lalu. Masa masa yang harus dilalui Jero dengan kekejaman dan pahitnya hidup. Masa lalu yang membuat Jero berubah tiga ratus enam puluh darjat.
"Ada apa lagi?" tanya Felix kepada Jero.
"Gimana? Apa sudah loe kirim ke Tuan dan Nyonya itu fhoto fhoto yang gue kirim semalam?" tanya Jero kepada Felix sambil melipat kakinya.
"Belum. Gue berencana mau minta persetujuan elo yang mana mau dikirim ke Tuan dan Nyonya itu." ujar Felix yang masih belum memutuskan mau mengirim fhoto yang mana ke Tuan dan Nyonya.
"Coba tengok." ujar Jero yang penasaran dengan fhoto yang sudah diedit oleh Felix.
Felix mengambil laptop miliknya. Dia kemudian memperlihatkan kepada Jero hasil editannya tadi pagi. Felix mengerjakan semuanya sebelum dia melakukan meeting dengan perusahaan yang mengajukan kontrak kerja sama.
Jero memperhatikan dengan seksama fhoto yang diedit oleh Felix. Fhoto yang terlihat sangat asli.
"Cetak dan kirim semuanya." ujar Jero memutuskan semua fhoto itu dikirim langsung ke mansion utama kediam Tuan dan Nyonya Alexsander.
"Oke bos." ujar Felix.
Felix masuk ke dalam ruangan untuk mencetak fhoto. Sedangkan Jero menunggu di sofa. Jero mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat mengetik sesuatu di ponsel tersebut.
'Sedang ngapain?' bunyi pesan yang dikirim Jero.
Jero menunggu pesan itu dibaca oleh Vian. Vian sama sekali tidak merespon ataupun membaca pesan yang dikirim oleh Jero kepada dirinya.
'Sedang ngapain??' bunyi pesan chat yang sama kembali di kirim oleh Jero kepada Vian.
Vian masih belum membalas pesan dari Jero. Jero mulai gelisah dengan keadaan Vian. Jero kemudian tanpa menunggu Felux keluar dari ruangan pribadinya langsung saja pergi dari ruangan kerja Felix.
Jero berjalan dengan tergesa gesa. Dia langsung menuju mobil. Untung saja sopir sudah stanbay dari tadi, sopir sama sekali tidak meninggalkan mobil.
"Kembali ke rumah sakit." ujar Jero.
Jero kembali mengambil ponsel miliknya. Dia kembali menghubungi Vian. Tapi sudah berkali kali Jero menghubungi Vian, hasilnya tetap sama. Vian sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Jero. Jero semakin dibuat cemas oleh keadaan itu.
"Lebih ngebut." ujar Jero memberi perintah kepada sopir. Sopir lebih dalam menginjak pedal gas mobil sport keluaran terbaru itu. Mobil melaju dengan kencang membelah jalanan ibu kota.