My Affair

My Affair
BAB 41



Mereka berdua kemudian beristirahat. Vian rasa sudah cukup bagi dirinya menguras emosi Jero hari ini. Dia akan secara perlahan bertanya tentang masa lalu Jero. Vian tidak akan mendesak Jero untuk menceritakan semuanya.


Jero juga sama. Dia berjanji akan memberitahukan kepada Vian semuanya tetapi tidak dalam waktu dekat. Jero akan secara perlahan menjawab semua pertanyaan dari Vian.


Pagi harinya Vian terbangun terlebih dahulu, Vian melihat Jero masih tertidur di sofa beralaskan bantalan sofa, bantal yang diberikan oleh Vian semalam ntah terbang kemana oleh Jero.


Vian kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Vian mandi sambil bersenandung lumayan besar, Jero yang telah bangun dari tidurnya mendengar Vian bersenandung langsung tersenyum. Dia tidak menyangka Vian akan bersenandung saat ini.


Jero menikmati senandung Vian dengan bahagia. Dia menjadi sangat bahagia saat mendengar Vian juga bahagia seperti sekarang. Tujuan utamanya untuk. membuat Vian merasa aman dan nyaman sudah dilakukan oleh Jero.


Vian telah selesai mandi. Vian mandi selama lima belas menit dirinya berada di dalam kamar mandi. Vian kemudian keluar dari dalam kamar mandi, Dia melihat Jero sedang asik menonton televisi.


"Hay sudah bangun?" tanya Vian yang keluar dengan memakai jubah mandi. Dia tidak tau mau memakai pakaian apa lagi, karena dia tidak sempat membawa pakaian saat pergi tadi.


"Ini pakaian kamu" ujar Jero memberikan pakaian yang tadi sudah dipesan oleh dirinya melalui Bram.


"Wow makasi sayang, kamu memang yang terbaik" ujar Vian sambil tersenyum kepada Jero.


"Tapi ngomong ngomong kapan kamu membeli pakaian ini sayang?" tanya Vian yang tidak mendapatkan gambaran kapan Jero pergi membeli pakaian untuk dirinya dan juga untuk Jero sendiri.


"Malam tadi lah, saat aku pulang dalam keadaan panik" jawab Jero berbohong kepada Vian.


Padahal yang membeli adalah Bram, di paksa oleh Jero tadi malam sebelum dirinya tidur. Sedangkan Bram sudah terlelap. Tetapi demi abang dan calon kakak iparnya, Bram bersedia untuk pergi ke butik mencari pakaian untuk kakak ipar dan juga abangnya itu. Untung saja pemilik butik adalah sahabat Bram, jadi jam berapapun Bram mau berbelanja butik itu pasti akan buka.


Vian mengambil paperback yang berisi pakaian yang dibelikan oleh Jero. Vian kembali masuk ke dalam kamar mandi, dia mengeluarkan sebuah dress sampai di bawah lutut dengan warna crem, Vian sangat bahagia dengan dress tersebut, dia kemudian memakai pakaian itu di dalam kamar mandi.


"Wow bisa pas ternyata" ujar Vian sambil tersenyum melihat pakaian yang sangat pas di tubuhnya. Vian menatap dirinya di cermin besar yang ada di dalam kamar mandi. Dia terlihat sangat cantik dengan dress yang dibelikan oleh Jero.


Setelah yakin dengan penampilan dirinya, Vian kemudian keluar dari kamar mandi, dia menuju ke arah Jero.


"Sayang pakaiannya kok bisa pas banget ya sayang?" tanya Vian kepada Jero.


Vian berdiri di depan Jero, dia memutar mutar kan badannya memamerkan baju barunya kepada Jero.


"Saking sayang aku sama kamu, makanya aku bisa menentukan langsung berapa ukuran semua pakaian kamu." ujar Jero sambil tersenyum menjawab pertanyaan Vian.


"Termasuk pakaian dalam?" tanya Vian menatap menggoda Jero.


"Ya termasuk itu. Aku udah bisa menggambarkan dan membayangkan berapa saja ukurannya" ujar Jero dengan pedenya kepada Vian.


"Hem mulai ngegombal. Sana mandi lagi, siap itu kita sarapan" ujar Vian meminta Jero untuk pergi mandi.


"Sarapan di sini aja, ngapain ke restoran. Aku udah memesan jasa room service untuk mengantarkan sarapan ke kamar kita." ujar Jero sambil tersenyum.


"Oh baiklah. Kamu mandi aja dulu. Nanti selesai kamu mandi kita akan sarapan bersama" ujar Vian meminta Jero untuk langsung mandi saja.


Jero berdiri dari duduknya, dia mengambil handuk miliknya dan membawa paperbag yang berisi pakaian untuk dirinya sendiri. Jero kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia kemudian mandi tetapi juga ikut ikutan seperti Vian, Jero juga menyanyi di kamar mandi. Suara Jero ternyata sangat wow.


"Hah, jadi dia bisa nyanyi? Mana suara merdu lagi dari pada aku nyanyi." ujar Vian kaget mendengar suara merdu Jero dari dalam kamar mandi.


"udahlah tampan, suara bagus, sayang sayang, semoga di negara E kamu bisa menemukan pekerjaan yang lebih baik dari pada menjadi sopir pribadi. Aamiin" ujar Vian berdoa untuk kemajuan karier Jero.


Tok tok tok, Vian mendengar bunyi pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Vian kemudian membuka pintu kamar, terlihat seorang room service sedang membawa troli yang berisi sarapan untuk Jero dan Vian.


"Nona, kami mengantarkan sarapan untuk Nona dan Tuan" ujar room service kepada Vian.


"Oh Oke, silahkan masuk" ujar Vian mempersilahkan room service untuk masuk ke dalam kamar menghidangkan semua sarapan yang dibawanya.


Room service meletakan semua menu sarapan di atas meja, dia menata dengan begitu indahnya makanan tersebut. Setelah selesai, room service kemudian pamit untuk keluar.


Jero yang telah selesai bersih bersih dan memakai pakaiannya berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat sarapan sudah ada di atas meja. Jero menjemur handuknya di remot yang disediakan di depan pintu masuk kamar mandi hotel.


"Langsung makan atau gimana?" tanya Vian menatap Jero yang terlihat bertambah tampan berkali kali lipat hari ini. Apalagi rambut Jero yang basah semakin menambah tingkat keseksian dari seorang Jero.


"Udah natapnya biasa aja" ujar Jero mulai menganggu dan membuat Vian salah tingkah.


"Ye, mana ada natap. Cuma nengok doang" ujar Vian sambil tersenyum ke arah Jero.


"Yakin nggak natap tadi? Boong hidungnya jadi panjang loh" ujar Jero menggoda Vian.


"Iya natap, kamu bertambah ganteng berkali kali lipat habis mandi tadi, apa lagi dengan memakai pakaian santai kayak gini. Makin ganteng aja" ujar Vian memuji tingkat kegantengan Jero.


"Hahahahahahaha. Akhirnya kamu mengakui kalau aku ganteng. Padahal nih ya kata Mommy aku nggak ganteng tapi manis" ujar Jero sambil memberikan senyuman manisnya.


"Emang gula pake manis segala" balas Vian.


Vian kemudian menuju tempat membuat minuman, dia tadi sudah memanaskan air mineral. Vian berencana untuk membuat teh panas.


"Kamu mau minum apa?" tanya Vian kepada Jero yang sedang sibuk memilih milih siaran televisi.


"Teh panas aja" ujar Jero menjawab tawaran dari Vian.


Vian kemudian membuat dua cangkir teh. Setelah itu, Vian meletakkan di atas meja.


"Kamu udah dapat berita dari mansion Vian?" tanya Jero yang penasaran dengan kondisi mansion saat ini.


" Udah, tadi aku chat dengan Bik Ina menanyakan keadaan rumah." ujar Vian


"Terus?" tanya Jero yang mulai tidak sabaran mendengar kelanjutan cerita Vian.


"Nggak ada ribut apa apa di mansion. Juan Alx Sander tidak pulang ke rumah. Dia dengan Papy pergi ke negara H, untuk mengurus kapal yang tertahan oleh pihak imigrasi. Itu kata Bik Ina tadi" ujar Vian memberitahukan kepada Jero apa isi chatnya dengan Bik Ina.


"Oh. Udah sarapan aja lagi, nanti dingin" ujar Jero mengajak Vian untuk makan sarapan yang sudah diantarkan oleh room service.


Mereka berdua kemudian menikmati sarapan yang dihidangkan. Jero yang teringat dengan perkataan Vian mengambil ponsel miliknya yang biasa dia pakai saat di dekat Vian.


'Tuan besar Aleksander dan Juan Aleksander berangkat ke negara H untuk mengurus kapal yang ditahan pihak imigrasi. Usahakan buat mereka membayar mahal. Kamu tau caranya kan Felix' ujar Jero mengirim pesan chat kepada Felix.


'Gampang itu' jawab Felix.


'Berapa lama Felix? " balas Jero mengirim pesan chat.


'Setengah jam' balas Felix.


'Oke. Satu jam paling lama' balas Jero.


Vian menatap Jero yang sibuk dengan ponsel miliknya.


"Jangan cemburu gitu. Ini satpam rumah sakit bertanya apa kita tidak masuk kerja hari ini" ujar Jero menjawab asal saja kepada Vian.


"Terus kamu jawab apa??" tanya Vian sambil meletakkan dagunya di tangannya yang di berdiri kan.


"Aku Jawab aja kalau Nona Vian sedang tidak enak badan. Jadi, nggak bisa datang ke rumah sakit" jawab Jero sambil melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Vian.


"Dasar bucin" ujar Vian sambil memukul tangan Jero.


"Hahahahaha. Bucin yang salah. Bucin ke istri orang" ujar Jero sambil tersenyum kepada Vian.


"Ya istri di atas kertas aja. Sebenarnya oh no tidak sambil teriak teriak lari keliling lapangan upacara" uajr Vian sambil tersenyum.


"Kamu bucin ke aku nggak?" tanya Jero kepada Vian.


"Nggaklah ngapain bucin ke kamu, yang ada ya kalau bucin ke kamu, aku jadi susah tidur, yang aku ingat wajah kamu saja. Aku nggak kuat bucin" ujar Vian sambil membereskan meja yang tadi untuk tempat mereka makan.


"Yakin nggak bucin ke aku?" tanya Jero sekali lagi.


"Nggak yakin" jawab Vian.


"Hahahahahaha, jadi seharian ini kita mau kemana?" tanya Jero sambil memandang wajah cantik Vian.


"Mall yuk, dari mall nanti kita baru pulang ke mansion. Kalau kita lama lama pergi Bik Ina nanti bisa curiga" ujar Vian yang tidak ingin satu orangpun curiga dengan hubungan dirinya dengan Jero.


"Oke sip. Kita ke mall nanti siap chek out, setelah itu kita kembali ke mansion" ujar Jero setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vian.


Mereka berdua kemudian terdiam sambil menonton gosip yang sedang ditampilkan oleh televisi. Apalagi kalau bukan gosip tentang Juan Aleksander.


"Nyonya besar belum menghubungi kamu?" tanya Jero yang ingat dengan istri Tuan Aleksander.


"Belum, sepertinya dia juga pergi ke negara H. Kalau tidak pasti dia udah nelpon aku, tapi aku bersyukur aja tidak ada yang nelpon, jadi aku bisa tenang tamang aja di sini" ujar Vian yang sangat bersyukur ponselnya dari tadi tidak berdering.


"Oh ya, Felix dan Bram apa pekerjaan mereka sayang?" tanya Vian yang teringat dengan dua adik angkat Jero.


Vian memutar duduknya menghadap ke arah Jero. Sedangkan Jero tetap di posisi semula.


"Mereka berdua bekerja di perusahaan. Jadi, bisa dikatakan mereka berdua lebih sukses dari pada aku" ujar Jero menjawab jujur pertanyaan Vian tentang pekerjaan Felix dan Bram.


"Terus kapan kalian bertiga bertemu?" tanya Vian selanjutnya. Vian sudah mulai gabut sehingga tidak tau apa lagi yang harus ditanyanya kepada Jero.


"Kalau ada keperluan aja. Contohnya aku perlu dengan mereka, maka kami akan bertemu. Atau sebaliknya saat mereka butuh aku, maka kami juga akan bertemu" jawab Jero sambil memasukkan potongan buah pepaya ke dalam mulutnya.


"Ooo." ujar Vian yang tidak tau lagi mau menanyakan hal apa lagi.


"Jadi Vian, kapan kita akan berangkat ke negara E untuk melanjutkan studi kamu?" tanya Jero mengalihkan pertanyaan dan fokus Vian yang mengarah kepada Felix dan Bram.


"Aku belum kasih tau kamu ya?" ujar Vian sambil menatap Jero.


"Belum ada apa? Jangan kamu bilang, kamu menggagalkan kuliah di sana" kata Jero yang takut Vian akan membatalkan kuliahnya di sana karena masalah biaya.


"Nggak lah ngapain batal. Cuma aku harus ke sana di percepat tiga bulan. Jadi, ya tiga bulan lagi kita akan ke negara E. Selamat tinggal kehidupan kelam" ujar Vian dengan sangat semangat.


"Apa kamu akan mengurus surat perceraian kamu dengan Juan?" tanya Jero sambil menatap ke arah Vian.


"Biar dia yang ngurus. Aku tidak akan ngurus. Males dan capek aja" jawab Vian.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan sederhana tentang perkuliahan Vian. Mereka membahas banyak perihal akan kuliah Vian di negara E. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sudah saatnya mereka harus chek out dari kamar hotel.


"Sayang ayuk kita chek out. Tapi kamu mau main ke mall" ujar Jero sambil menggoyang badan Vian yang tertidur.


Vian membuka matanya.


"Aku kumpulin nyawa dulu" ujar Vian.


Jero hanya bisa geleng gelang kepala mendengar perkataan Vian. Jero menunggu dengan sabar Vian yang sedang mengumpulkan nyawa itu.


Setelah dirasa nyawanya sudah terkumpul, Vian kemudian membasuh wajahnya, setelah itu Vian berhias sedikit saja. Dia hanya menghilangkan wajah bantalnya saja dengan bantuan make up tipis.


Setelah yakin dengan tampilannya Vian mengajak Jero untuk melakukan chek out.


"Ayuk chek out. Setelah itu kita ngemall" ujar Vian dengan bersemangat.


"Semangat banget kalau mau ke mall" ujar Jero kepada Vian dengan wajah santainya.


"Iyalah kan jalan jalan. Besok udah kerja lagi" jawab Vian.


Jero dan Vian kemudian keluar dari kamar, Vian menggandeng tangan Jero dengan mesra, mereka masuk ke dalam lift, pada saat itu Vian yang tidak kenal dengan dua pria yang satu liftnya bersikap acuh saja. Padahal kedua pria itu adalah topik pembicaraan Vian setelah sarapan.


"Kayak ada yang mau nyebrang" ujar Bram mengejek Jero dan Vian.


"Waduh kalau iri bilang bos. Makanya jangan chek in dengan cowok. Jadi, nggak bisa gandengan tangan di depan orang" balas Vian yang tersinggung oleh ucapan Bram.


Bram mau membalas ucapan dari Vian, tetapi Felix lebih dulu menendang kaki Bram. Felix memberi kode agar Bram diam tidak cari ribut dengan calon kakak ipar mereka itu.


Akhirnya lift berhenti. Bram berjalan menuju sofa yang ada di lobby begitu juga dengan Vian. Mereka berdua duduk berdampingan. Sedangkan Jero pergi chek out ke resepsionis. Sedangkan Felix hanya mengembalikan kunci kamar saja.


"Gue ke mall sama Vian" ujar Jero memberitahukan kepada Felix, dia akan kemana setelah ini. Dengan suara pelan supaya tidak. terdengar oleh Vian yang sedang memberikan tatapan tidak suka kepada Bram.


"Oke, bawa dua pengawal." ujar Felix.


Felix kemudian menghubungi dua orang anggota mereka. Felix memerintahkan mereka untuk menjaga Vian. Jero tidak usah, karena jangankan melawan dua orang sepuluh orang saja gampang bagi Jero.


Jero yang telah selesai melakukan chek out, menggandeng tangan Vian. Mereka berdua kemudian menuju lobby hotel, mobil sudah berada di sana. Jero dan Vian masuk ke dalam mobil mereka. Begitu juga dengan Felix dan Bram, mereka juga masuk ke dalam mobil.


Felix dan Bram akan mengikuti kemana Jero pergi. Itu usulan dari Bram. Bram tidak ingin sesuatu terjadi kepada Jero ataupun Vian. Makanya dia bersikeras untuk mengikuti Jero dan Vian.


"Kenapa loe ngebet banget pengen ikut mereka?" tanya Felix di atas mobil.


"Perasaan gue nggak enak. Loe tau sendirikan Bang, gimana gue kalau perasaan gue udah nggak enak" ujar Bram.


"Gue tau. Semoga apa yang terlintas di otak lie bentar ini nggak terjadi kepada Jero dan Vian" ujar Felix.


Felix menambah laju mobilnya saaat melihat mobil milik Jero sedikit menjauh dari mobil dia. Felix tidak mau kehilangan jejak Jero. Jero tidak akan mengangkat panggilan kalau di telpon oleh Felix ataupun Bram.


Karena fokus Jero kalau sudah dengan Vian hanya Vian saja. Hal lain berubah menjadi sangat sangat tidak penting sekali.