
Jeri yang melihat kedua orang tua itu berjalan kaki, hendak menemui Juan Aleksander dan membuat perhitungan dengannya. Tetapi dilarang oleh Bram. Mereka sekarang harus fokus membantu Jero dan yang lainnya untuk pulang ke mansion.
Pak Hans dan Bik Ima yang melihat siapa yang turun menatap penuh haru kepada pria tampan yang berjalan berdampingan dengan Bram. Bik Ima menghapus air matanya yang menetes di pipi.
Vian melihat semua kejadian itu. Dia menatap Jero. Jero tersenyum.
"Pak Hans, Bik Ima nanti saja ya. Kita pulang dulu" ujar Jero meminta Bik Ima dan Pak Hans untuk menahan hatinya.
"Kita masih dilingkungan Aleksander." ujar Jero kepada mereka untuk menahan nahan hati mereka.
Pak Hans dan Bik Ima masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Bram. Sedangkan Jero dan Vian, masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Jeri.
Dua mobil hitam itu bergerak meninggalkan kawasan Aleksander. Mereka berdua sama sama meng klakson penjual nasi goreng. Vian juga melihat beberapa orang menganggukkan kepalanya saat mobil yang ditumpangi mereka lewat.
"Sayang" ujar Vian menuntut penjelasan dari Jero.
"Di rumah" ujar Jero menjawab dengan nada final dari kursi depan.
Vian kemudian terdiam. Dia tidak mungkin memaksakan keberuntungannya untuk mengganggu Jero lagi.
Dua mobil sport hitam keluaran terbaru itu meninggalkan area perumahan Aleksander. Mereka bergerak menuju komplek perumahan mereka sendiri. Vian melihat ke arah kaca. Dia tidak sabar menunggu Jero untuk menceritakan semua semuanya kepada dia.
Mobil kemudian masuk ke dalam gerbang besar yang dibuka secara otomatis saat pintu gerbang berhasil membaca plat mobil yang akan masuk. Vian menatap semua itu. Dia sudah bisa menerka nerka siapa Jero sebenarnya.
"Sabar sayang, jangan menerka nerka sendiri. Nanti pusing sendiri" ujar Jero kepada Vian yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Is kamu menyebalkan Jero. Terlalu banyak rahasia dalam kehidupan kamu sayang. Bikin kepala aku jadi sakit" ujar Vian sengaja menyebut nama Jero dengan penekanan.
"Hahahahaha. Sabar Nona Vian. Nanti Nona juga akan tahu semuanya saat masuk ke rumah" ujar Jeri yang membuat Vian semakin penasaran.
"Jeri, mending diam dari pada bikin saya makin penasaran" ujar Vian protes dengan apa yang dikatakan oleh Jeri.
"Hahahahaha. Dilarang emosi Nona. Emosi akan membuat Nona semakin susah mencerna semua informasi yang dicerna" ujar Jeri memberikan nasehat kepada Vian.
"Jeri, Jeri. loe nasehati seorang dokter Jeri. Aneh loe. Ahlinya loe ingetin." ujar Jero memukul pundak Jeri.
Jeri tersenyum kepada Jero. "Lupa gue"
Tak terasa mobil telah masuk ke area utama mansion. Jeri memberhentikan mobilnya tepat di belakang mobil Bram.
Bik Ima yang melihat Jeri sudah turun dari dalam mobil, bik Ima langsung memeluk Jeri. Bik Ima menangis tersedu sedu. Vian menatap Jero. Jero kebali tersenyum.
"Senyum aja terus, jadi capek nengoknya. Kayak nggak ada yang bisa dilakuin yang lainnya" ujar Vian yang kesal hanya menerima senyum dan senyum saja terus dari Jero.
"Jadi harusnya ngapain lagi selain senyum?" ujar Jero sambil menggoda Vian.
"Kok apa kek. Ngomong kek kalau itu begini atau begitu" ujar Vian ngomel kepada Jero yang memberikan tindakan hanya dengan senyuman saja.
"Bik Ima, Pak Hans, Jeri mari masuk ke dalam. Kita bahas di dalam aja" ujar Jero mengajak mereka bertiga yang sedang berpelukan itu untuk masuk ke dalam mansion.
Mereka mengurai pelukan. Bik Ima, Pak Hans dan Jeri mengikuti Vian, Jero dan Bram masuk ke dalam mansion.
Betapa kegetnya Vian saat melihat fhoto Jero sebesar besarnya terpampang di sebuah figura. Fhoto dimana tidak hanya Jero yang ada di sana tetapi juga seorang wanita yang bisa di prediksi oleh Vian itu adalah Mommy.
Sedangkan di sebelah fhoto Jero dan Mommy juga terpasang lagi figura yang lebih besar. Dimana disana ada tiga pria muda dan satu ibu ibu yang sama dengan yang ada di fhoto Jero.
"Sayang itu fhoto kamu, Felix, Bram dan Mommy kan ya" ujar Vian sambil menunjuk ke arah fhoto yang berempat.
Mereka akhirnya sampai di ruang tamu mansion yang sangat luas.
"Kita duduk sini aja. Biar Bik Ima, Pak Hans bisa kangen kangenan." ujar Vian yang langsung duduk di sofa yang ada.
Bram dan yang lainnya menatap ke arah Vian.
"Ngapain nengok, ini kan rumah saya." ujar Vian kepada mereka semua.
Jero terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Dia sangat senang mendengar Vian mengatakan kalau mansion mereka adalah mansion Vian.
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Para pelayan menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka semua.
"Jadi Bik Ima, sebenarnya Jeri siapa Bik Ima?" tanya Vian kepada Bik Ima.
"Nona, Bibik cuma mau mengatakan kalau Nona sudah seperti Nyonya Jero Asander" ujar Bik Ima sambil menahan tawanya.
"Nyonya Jero Asander? Tunggu bentar" ujar Vian menatap Jero.
"Jadi nama belakang kalian bertiga Asander?" ujar Vian bertanya kepada Jero, Felix dan Bram.
Mereka bertiga mengangguk, mereka mengakui nama belakang mereka adalah Asander.
"Oooooo. Aku makin penasaran, apa hubungan Asander dengan Aleksander" ujar Vian menatap Jero dan yang lainnya.
"Hubungan Asander dengan Aleksander kita bahas nanti malam. Sekarang pertanyaan yang lainnya dulu, masih ada atau tidak?" tanya Jero kepada Vian.
"Adalah, masak ndak ada." ujar Vian kepada Jero sambil menggoyang goyangkan jari tangannya di depan wajah Jero.
"Emang Nona Vian mau nanyak apa lagi?" giliran Jeri bertanya kepada Vian.
Vian memang sangat terlihat penasaran dengan semua kejadian yang ada. Vian melirik ke arah Jero. Jero mengangguk setuju dan memperbolehkan Vian untuk menanyakan hal apapun kepada dirinya ataupun kepada yang lain.
"Bik Ima, Pak Hans, dari tadi Vian penasaran sekali dengan tingkah Bik Ima dan Pak Hans yang memeluk Jeri, seperti memeluk seseorang yang telah lama tidak berjumpa dengan Pak Hans dan Bik Ima" ujar Vian memaparkan apa yang akan ditanyakan oleh dirinya.
"Vian mau tau, itupun kalau Bik Ima dan Pak Hans tidak keberatan memberitahukan kepada Vian." lanjut Vian menatap Pak Hans dan Bik Ima.
"Vian mau tanya, ada hubungan apa antara Bik Ima dan Pak Hans dengan Jeri?" ujar Vian menyebutkan pertanyaannya kepada Bik Ima dan Pak Hans.
Pak Hans menatap ke arah Bik Ima dan Jeri.
"Bapak saja yang jawab" ujar Bik Ima kepada Pak Hans.
"Iya, Bapak saja yang jawab" ujar Jeri yang juga mempersilahkan Pak Hans untuk menjawab pertanyaan dari Vian tadi.
"Sebenarnya Jeri adalah anak kandung kami berdua Nona Vian. Anak kami satu satunya yang harus kami tinggalkan di negara E, karena harus ikut Tuan dan Nyonya ke negara ini.".ujar apak Hans mengutarakan kenapa mereka bisa sampaii berpisah.
"Kenapa Pak Hans dan Bik Ima tega meninggalkan Jeri sendirian di negara E?" ujar Vian melanjutkan pertanyaannya yang lain.
"Bukannya tega Nina. Tidak ada orang tua yang tega meninggalkan anaknya sendirian di negara orang. Tetapi waktu itu kami terpaksa harus meninggalkan Jeri sendirian." jawab Pak Hans mencoba menjelaskan kepada Vian tentang mereka yang meninggalkan Jeri sendirian di negara E.
"Emang apa alasannya? Sebegitu pentingkah alasan itu?" tanya Vian sekali lagi.
Vian masih belum puas mendengar jawaban dari Pak Hans yang menggantung itu. Vian ingin mendengar alasan sebenarnya dari Pak Hans dan Bik Ima.
"Jadi alasan sebenarnya apa Pak sampai sampai harus tega meninggalkan Jeri sendirian" ujar Vian melanjutkan kembali pertanyaannya.
Pak Hans menatap Bik Ima. Dia meminta persetujuan dari istrinya itu untuk menjelaskan semuanya kepada Vian. Bik Ima mengangguk setuju untuk Pak Hans memberitahukan apa pun kepada Vian. Bik Ima tidak ingin ada yang disembunyikan dari Vian mulai sekarang tentang keluarga mereka.
"Jadi, Nona Vian sebenarnya kenapa anak kami Jeri, kami tinggalkan di negara E karena saat itu Tuan Juan Aleksander merasa tersaingi dengan adanya Jeri dalam keluarga. Makanya, saat semua anggota keluarga pindah ke negara ini, Jeri tidak kami bawa." ujar Pak Hans menceritakan kenapa Jeri bisa tidak ikut mereka pindah ke negara ini.
"Terus, Jeri tinggal dengan siapa Pak di negara E?" tanya Vian selanjutnya. Vian bertanya tidak putus putus, dia terus saja bertanya seperti petasan yang dibakar.
"Hay kakak ipar. Kamu dokter atau polisi yang kerjanya tukang Intrograsi terdakwa dan saksi?" ujar Bram yang nggak habis pikir Vian bisa berkali kali bertanya kepada Pak Hans dan Bik Ima.
"Bram, Pak Hans saja tidak marah ditanya tanya. Kenapa kamu yang marah" ujar Vian kepada Bram.
Bram dan Felix kaget, Vian bisa juga bertindak tegas kepada Bram. Nada bicara Vian naik beberapa oktaf ke Bram.
Vian membesarkan matanya kepada Bram. Dia meminta Bram untuk diam saja dan tidak menyela sedikitpun percakapannya dengan Pak Hans dan keluarganya.
"Jadi Pak Hans dan Bik Ima, dimana Jeri tinggal saat Pak Hans dan Bik Ima pindah ke negara ini?" ujar Vian bertanya hal berikutnya kepada sepasang suami istri itu.
"Di rumah Tuan Jero, Nona" jawab Pak Hans.
"Kok bisa?" tanya Vian yang semakin penasaran.
"Sayang udah dulu ya pertanyaannya. Sekarang kita makan malam dulu, karena para maid sudah selesai memasak makan malam untuk kita semua" ujar Jero menghentikan Vian untuk melanjutkan pertanyaan pertanyaannya yang lain.
"Tapi sayang, ini belum kelar. Masak udah harus selesai aja. Belumlah sayang" ujar Vian yang menolak untuk berhenti bertanya kepada Pak Hans.
"Selanjutnya aku sendiri yang akan menjelaskan kepada kamu. Bukan orang lain. Tapi..... " ujar Jero menggantung kalimatnya.
"Tidak sekarang" lanjut Vian yang sudah tau kemana ujung ujung dari perkataan Jero tadi.
"Bener gadis pintar" ujar Jero memuji Vian.
"Hem makasi pria pintar" balas Vian kepada Jero sambil mengacak acak rambut Jero.
"Hahahahaha. Satu satunya orang yang berani megang kepala Jero. Keren" ujar Bram berteriak bahagia, karena sudah ada yang bisa memegang rambut kebanggaan Jero yang sama sekali tidak bisa di pegang oleh siapapun.
"Emang biasanya nggak ada yang boleh megang Bram?" tanya Vian penasaran.
"Nggak kakak ipar selain Felix" jawab Bram.
"Felix kok bisa?" tanya Vian selanjutnya.
"Bisalah kakak ipar. Kan Felix yang tukang potong rambut Jero" jawab Bram.
"Sudah, nggak ada habis habisnya ini pertanyaan. Mari kita makan. Nanti makan malamnya dingin" ujar Jero yang tidak menyangka Vian akan menjadi secerewet ini saat keluar dan bebas dari mansion itu.
Mereka kemudian makan malam bersama. Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Vian kepada Jero. Tetapi Vian menyabarkan hati dan pikirannya. Dia tidak mau membuat Jero marah nantinya.
Selesai mereka semua makan malam, mereka kembali duduk di ruang keluarga. Mereka akan melanjutkan perbincangan tentang berbagai hal.
"Tuan Jero, Bik Ima ngantuk pengen istirahat. Dimana kamar Bik Ima ya Tuan?" ujar Bik Ima yang sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Jeri, antarkan Ibu dan Bapak ke kamarnya. Kamu taukan kamarnya dimana?" ujar Jero kepada Jeri yang diminta olehnya untuk mengantarkan Pak Hans dan Bik Ima ke kamar.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" ujar Vian kepada Jero dihadapan Felix dan Bram.
"Nggak. Nanti panjang lagi." jawab Jero dengan memasang wajah seriusnya.
Vian langsung cemberut mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero.
"hahahahahahaha. Mulutnya langsung sepanjang jemuran" ujar Bram menertawakan mulut manyun milik Vian.
Felix hanya bisa tersenyum saja. Dia tidak severbal Bram jadi orang. Felix menunjukmenunjukkan semua ekspresinya melalui gerakan nonverbal saja. Bisa dengan tersenyum, gerakan mata atau hanya dengan batuk saja.
"Sayang, aku serius mau tanya" ujar Vian kembali mengulang perkataannya kepada Jero.
"Apa sayang?" ujar Jero yang kali ini bertanya kepada Vian.
"Ehm ehm ehm" ujar Vian yang tau harus dari mana memulai pertanyaannya itu.
"Apa?" tanya Jero yang juga sudah tidak sabar lagi mendengar apa yang mau dikatakan oleh Vian.
"Gini, aku kan dari pagi make pakaian ini terus. Apa kita bisa keluar sebentar untuk membeli pakaian? Kan nggak mungkin aku pakai ini terus" ujar Vian kepada Jero sambil menunduk malu.
"Hahahahahaha. Jadi, kamu ragu mengatakan karena hal itu?" tanya Jero kepada Vian.
Vian semakin menundukkan kepalanya dalam dalam.
"Lihat aku sayang" ujar Jero sambil memegang dagu Vian.
Felix dan Bram yang melihat adegan mesra di depan mereka langsung memainkan ponsel mereka masing masing. Mereka tidak ingin mata mereka ternodai oleh hal seperti itu.
"Jadi pengen beli semua semuanya?" tanya Jero sekali lagi kepada Vian.
"Yup." jawab Vian sambil menganggukkan kepala.
"Udah ada di kamar, jadi nggak perlu beli lagi" ujar Jero memberitahukan kepada Vian kalau yang dicarinya sudah ada di kamar Vian.
"Serius?" tanya Vian yang kurang percaya dengan Jero.
"Emang pernah boong?" balik Jero bertanya kepada Vian.
"Nggak." jawab Vian.
"Makasi sayang" lanjut Vian sambil mengecup puncak kepala Jero.
Jero tersenyum kepada Vian. Dia sangat suka melihat Vian yang seperti ini. Vian yang selalu bergembira. Bukan Vian yang seperti memiliki tekanan dalam hidupnya.
"Tidur lagi yuk. Aku akan tunjukin dimana kamar kamu" ujar Jero mengajak Vian untuk beristirahat. Jero akan menunjukkan dimana letak kamar Vian.
"Ngapain cepat cepat. Malam juga belum" ujar Vian saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Besok kerja kan?" tanya Jero kepada Vian.
"Yah mana ada bisa kerja lagi. Kata orang orang, yang punya rumah sakit itu adalah keluarga Aleksander, mereka yang punya rumah sakit. Aku juga nengok dari kops suratnya. Tentu aku udah otomatis dipecat." ujar Vian nyerocos tak tentu arah.
"yah jadi pengangguran deh" lanjut Vian sambil memukul jidatnya dengan telapak tangan.
"Hahahahahaha. Kakak ipar, kakak ipar. Mana ada yang punya rumah sakit itu keluarga Aleksander yang ada keluarga Asander" ujar Bram yang sudah tidak tahan mendengar apa yang dikatakan oleh Vian tadi.
"Jadi yang punya kalian bertiga?" ujar Vian sambil menunjuk Jero, Felix dan Bram dengan jarinya.
"Oh Tuhan, Aku makin penasaran. Bantu manusia tampan yang aku cintai di depan aku ini untuk mau menjelaskan dalam waktu cepat ini Tuhan. Aku nggak mau mati penasaran" ujar Vian berdoa sambil mengangkat kedua telapak tangannya.
"sabar sayaang" jawab Jero.
"sabar teruz" jawab Vian.
Mereka semua kemudian berjalan menuju kamar masing masing yang terletak di lantai tiga mansion. Jero, Felix dan Bram mengantarkan Vian ke kamarnya yang terletak paling ujung.
"Sayang ini kamar Bram" ujar Jero menunjukkan kamar Bram yang terletak di awal belok ke kanan.
"Sebelahnya kamar Felix" lanjut Jero.
"Depan kamar Bram adalah kamar Aku" Jero membuka pintu kamarnya.
Vian melihat kamar yang super mewah dan tertata dengan rapi. Vian semakin dibuat penasaran dengan siapa Jero sebenarnya.
"Nah yang ini kamar kamu. Silahkan masuk. Kami bertiga akan kembali ke kamar masing masing" ujar Jero mempersilahkan Vian untuk masuk ke kamarnya.
Jero dan kedua adiknya masuk ke dalam kamar mereka masing masing. Mereka besok akan membahas tentang perlakuan Juan Aleksander kepada Vian, Pak Hans dan Bik Ima. Tetapi yang paling utama adalah kepada Jero. Juan Aleksander sudah berani menampar Jero. Mereka akan membuat perhitungan karena hal itu.
Peperangan akan dimulai. Kali ini bidak yang akan turun adalah mereka bertiga. Mereka tidak akan memakai bidak yang lainnya.
"saatnya beraksi" ujar mereka kompak dalam kamar masing masing.
"mommy bentar lagi ya mommy" ujar mereka. masih dengan kekompakan.