My Affair

My Affair
BAB 108



"Tuan besar bangun Tuan besar" ujar Bik Ima membangunkan Tuan besarnya yang tertidur di sofa ruang keluarga.


Tuan besar Aleksander yang merasa ada seseorang yang memanggil namanya berusaha membuka matanya yang masih berat itu. Tuan besar mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan di ruang keluarga mansion miliknya itu.


"Ada apa Bik Ima?" tanya Tuan besar sambil melihat ke arah maid yang membangunkannya itu.


"Maaf Tuan besar sudah pukul setengah tujuh, apa Tuan besar tidak akan pergi ke perusahaan" ujar Bik Ima mengatakan alasannya membangunkan Tuan besarnya itu.


"Apa sudah jam setengah tujuh?" ujar Tuan besar yang kaget mendengar sekarang sudah pukul berapa.


"Tolong siapkan sarapan Bik. Saya ada meeting jam delapan di perusahaan. Kalau perlu simpan saja dalam kotak makan sarapan saya" ujar Tuan besar memerintahkan kepada Bik Ima untuk menyiapkan sarapan untuk Tuan besar ke dalam kotak bekal. Tuan besar tidak akan bisa sarapan di mansion melihat sekarang saja sudah pukul setengah tujuh, Tuan besar akan meeting jam delapan di perusahaan.


Tuan besar Aleksander kemudian berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua mansion. Dia berjalan dengan sangat lesu, Tuan Aleksander seperti menyandang beban berat di pundaknya saat ini. Cara berjalan Tuan Aleksander menjadi perhatian oleh Bik Ima.


"Tuan tuan yang salah itu anda, kenapa anda harus bermain api tuan. Padahal istri anda adalah seseorang yang sangat baik hati. Tidak neko neko dan tidak banyak ulah dan tidak banyak maunya." ujar Bik Ima berbicara dengan sangat pelan.


"Mau maunya anda selingkuh dengan maid itu. Ntah apa yang anda harapkan dari dia Tuan" ujar Bik Ima selanjutnya.


Bik Ima kemudian memasukkan bekal makanan untuk Tuan Besar ke dalam kotak bekal milik Tuan besar. Bik Ima kemudian pergi meletakkan bekal sarapan itu ke dalam mobil Tuan Besar Aleksander.


Tuan besar akhirnya sampai juga di depan pintu kamar utama. Tuan besar berharap ada istrinya di dalam sana sedang bercanda seperti biasanya atau minimal sedang tidur untuk kali ini.


Tuan besar membuka pintu kamar dengan sangat pelan sekali. Tuan besar kemudian masuk ke dalam kamar utama, dia melihat tidak ada istrinya di sana pada saat ini. Semua impian dan harapannya sirna sudah, Tuan besar sama sekali tidak menemukan istrinya ada di dalam kamar meraka seperti biasanya.


"Dia benar benar marah ternyata" ujar Tuan besar dengan nada sedih dan sedikit menyesal.


Tuan besar menuju ke arah pintu penghubung. Tuan besar mencoba membuka pintu tersebut dengan memasukkan kode seperti biasa. Kode memang masuk, tetapi Nyonya besar sudah memasang kunci di pintu yang ada di kamar Jero.


"Yah" ujar Tuan besar yang tidak menyangka nyonya besar sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik tanpa cela sedikitpun.


Tuan besar akhirnya mengalah, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tuan besar harus gerak cepat karena jam delapan dia ada meeting dengan perusahaan yang akan kerja sama dengan perusahaan Aleksander grub.


Tuan besar mandi dengan bergegas, setelah selesai mandi, biasanya pakaiannya sudah di sediakan oleh istri terbaiknya itu di atas kasur, tetapi kali ini tidak sama sekali. Tuan besar melihat keadaan kasur yang kosong dan tidak ada perlengkapan yang akan dipakai oleh Tuan besar di sana.


"Gini bangetla rasanya nggak diurus oleh istri" ujar Tuan besar yang kesal sendiri.


, saya sebelum dia tidur ke kamar anaknya. Marah sih marah tapi suami tetap harus di urus jangan seenaknya aja seperti ini" ujar Tuan besar yang menyalahkan istrinya karena tidak mengurus perlengkapan yang akan dipakai oleh Tuan besar untuk pergi bekerja seperti biasanya.


Tuan besar berjalan menuju ruang wardrobe miliknya. Dia mengambil pakaian kantor miliknya dan juga pakaian dalam yang akan dipakai oleh dia sendiri. Setelah mengambil semua pakaian yang akan dipakai oleh dia. Tuan besar kembali ke dalam kamar. Dia memakai semuanya, setelah itu Tuan besar menyisir rambutnya dan memakai dadi serta jam tangan. Tuan besar tidak lupa memakai sepatu seperti biasanya.


"Silahkan aja marah, malahan makin bagus. Aku masih ada tempat untuk bermanja manja, salah sendiri kenapa mau maunya ngambek" ujar Tuan besar yang sudah mulai egois kembali dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Cari uang nggak pinter pandai pula marah marah. Sekarang rasain aja sendiri. Urus aja diri sendiri" ujar Tuan besar yang menyalahkan Nyonya besar atas semuanya..


Tuan besar sama sekali tidak intropeksi diri atas kesalahan yang dibuatnya sendiri. Dia malah menyalahkan orang lain yang tidak bersalah.


Tuan besar kemudian berjalan menuju lantai satu mansion. Dia melihat Bik Ima yang sedang menyapu ruang tamu dan ruang.


"Bik Ima mana bekal saya?" tanya Tuan besar kepada maid nya yang mengurus makanan di mansion besar itu.


"Sudah ada di dalam mobil Tuan, tinggal Tuan bawa saja lagi" ujar Bik Ima menjawab pertanyaan dari Tuan besar.


"Oh terimakasih Bik Ima." jawab Tuan besar saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Bik Ima.


"Saya berangkat ke perusahaan dulu" ujar Tuan besar berpamitan kepada maid nya tersebut.


"Hati hati di jalan Tuan" ujar Bik Ima.


"Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi di mansion ini mulai hari ini" ujar Bik Ima memandang kepergian Tuan besarnya yang tidak didampingi oleh Nyonya besar.


"Apa yang kamu tatap Buk?" tanya Pak Hans suami Bik Ima.


Pak Hans dari tadi memerhatikan Bik Ima dari jauh. Bik Ima seperti memikirkan sesuatu saat melihat kepergian Tuan besar mereka dari mansion besar ini.


"Bapak nggak lihat tadi apa, Tuan besar pergi sendiri ke perusahaan tanpa diantarkan oleh Nyonya besar dan Tuan Muda menuju mobil. Tidak seperti hari hari biasanya" ujar Bik Ima menjelaskan kepada Pak Hans apa yang ada dipikirannya dan membuat dia menatap lama ke arah Tuan besar yang sudah pergi menuju perusahaan.


"Sarapan bersama saja mereka tidak sama sekali. Malahan Nyonya besar sama sekali tidak turun ke bawah untuk mendampingi Tuan besar sarapan." lanjut Bik Ima menjelaskan kepada suaminya itu.


"malahan Tuan besar membungkus sarapannya untuk di makan di perusahaan. Ini benar benar suatu perubahan yang sangat luar biasa Pak. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di mansion besar ini ke depannya" lanjut Bik Ima menguraikan kekhawatiran Bik Ima terhadap kelangsungan kebahagiaan yang sempat ada walau hanya sebentar di mansion besar yang dibangun oleh Tuan besar mereka dengan berjuta impian. Tetapi karena keserakahan seorang wanita, kebahagiaan itu menjadi pudar.


"Mau bagaimana lagi buk. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan rumah tangga Tuan dan Nyonya besar" ujar Pak Hans.


"Kita jangan ikut campur terlalu jauh. Takutnya nanti mereka salah tanggapan, jadinya kita yang kena" ujar Pak Hans menasehati istrinya itu.


"Iya Pak. Ibuk nggak akan ikut terlalu jauh" jawab Bik Ima.


Pasangan suami istri itu kemudian kembali bekerja sesuai dengan pekerjaan mereka masing masing. Mereka tidak akan mengurus yang bukan urusan mereka.