
Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada dirinya, membuat dia memiliki sebuah ide di kepala cantiknya itu. Dia akan meminta hal itu kepada Jero kekasihnya. Vian sangat yakin kalau Jero pasti akan mengabulkan keinginannya untuk melihat hal yang diinginkan oleh dirinya itu.
"Sayang, boleh minta sesuatu?" tanya Vian sambil menatap jauh ke dalam mata elang dingin milik kekasihnya itu.
Jero menatap Vian dengan sangat lama. Jero tadi memang melihat Bram berkata kepada Vian. Tetapi, dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Bram kepada Vian, karena sedang mengobrol dengan Jeri dan Felix.
"Apa sayang?" ujar Jero menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya.
"Hem apa boleh, kita berhenti sebentar di kebun anggur di dekat daerah sini?" kata Vian mengutarakan apa yang diinginkan oleh dirinya untuk dilakukan oleh Jero.
Jero menatap Vian dengan tatapan cukup lama sekali. Dia ingin Vian mengatakan hal yang sama dengan lebih jelas. Sehingga Jero bisa memutuskan apa yang akan dilakukan oleh dirinya.
"Kata Bram, perusahaan anggur di daerah sini, bisa menerima pengunjung yang datang untuk memetik buah anggur maupun untuk melihat proses pembuatan anggur" ujar Vian memberikan penjabaran nya kepada Jero, supaya Jero mau membawa dirinya untuk pergi ke perusahaan anggur itu.
"Hem baiklah kalau memang itu keinginan kamu sayang, mari kita singgah di perkebunan itu." jawab Jero.
"Hay Jer, kita memakai kereta api. Apa mungkin kereta api akan berhenti di depan perusahaan mereka.?" ujar Tama mengingatkan Jero kalau mereka sedang menggunakan kereta api sebagai moda transportasi.
"Bener juga" kata Jero yang baru ingat kalau mereka memakai kereta api.
"Bram" panggil Jero saat melihat wajah Vian yang sudah berubah menjadi sedikit sedih.
Jero tidak mau membuat Vian bersedih. Walaupun sebenarnya Vian tidak sengaja membuat wajahnya itu menjadi bersedih. Kesedihan di wajah Vian, murni reflek dari apa yang dirasakan oleh Vian saat mendengar kalau mereka memakai kereta api dan sangat tidak mungkin untuk berhenti di perkebunan anggur itu.
Bram yang mendengar dirinya dipanggil oleh Jero langsung saja berjalan menuju Abangnya itu.
"Apa Bang?" ujar Bram saat dirinya sudah berada di dekat Jero.
"Kakak ipar kamu minta berhenti di perkebunan anggur, di mana kita bisa berhenti?" ujar Jero bertanya kepada Bram dimana mereka bisa berhenti untuk mewujudkan keinginan dari Vian tersebut.
"Kita bisa berhenti di stasiun dekat perkebunan itu Bang."
"Aku pernah berhenti di sana dulu" lanjut Bram menjelaskan kepada Jero lebih terperinci karena Jero menatap panjang ke mata elang milik Bram.
"Kamu urus semuanya"
Jero memberikan perintahnya kepada Bram.
"Siap Bang" jawab Bram sambil memberikan jempolnya kepada Vian.
Bram kemudian berlalu menuju gerbong lokomotif untuk menyampaikan kepada masinis kalau mereka akan berhenti di stasiun yang dekat dengan perkebunan anggur. Mereka akan berhenti disana selama lebih kurang dua jam.
"Sayang makasi" ujar Vian sambil mengecup puncak kepala Jero.
"Loh mau kemana?" ujar Jero saat melihat Vian yang sudah berdiri dari posisi duduknya saat ini.
"Mau ke kamar mandi. Mau ikut?" kata Vian kepada Jero sambil memandang wajah kekasih hatinya itu.
Jero langsung berdiri dari duduknya menyambut tawaran yang diberikan oleh Vian kepada dirinya. Jero menguji keberanian Vian yang dengan sengaja mengatakan untuk mengajak Jero ke kamar mandi.
"Tidak sayang. Kamu nggak boleh ikut. Aku nggak mau ada kamu di kamar mandi" ujar Vian berteriak menjawab perkataan dari Jero.
Vian langsung berlari terbirit beirit menjauh dari Jero untuk menuju kamar mandi saat Jero mulai membalik badannya.
"Haha haha haha. Kakak ipar kakak ipar. Udah jelas Bang Jero aneh, masih juga di lawan. Kakak ada ada aja. Mau masuk mulut buaya kak?" ujar Felix tertawa terbahak bahak melihat kelakuan sepasang kekasih yang absurd itu.
Jero kembali duduk di kursinya. Mereka kemudin melanjutkan kembali percakapan yang sempat tertunda gara gara kelakuan Vian dan Jero yang kadang kadang bisa menjadi hiburan oleh yang lainnya.
"Bang, sudah aku kondisikan dengan masinis. Kita bisa berhenti di stasiunĀ dekat sini." kata Bram memberitahukan hasil diskusinya dengan masinis kereta api tersebut.
"Aku juga sudah mengomunikasikan juga kepada pihak perkebunan untuk menyediakan kita transportasi menuju perkebunan mereka."
"Mereka sudah menyetujui hal itu. Sekarang sudah ada dua kendaraan menunggu kita di stasiun" lanjut Bram memberitahukan semua hasil pembicaraan dirinya dengan pihak perkebunan.
"Oke sip. Berarti keinginan makhluk kecil ajaib itu akan terwujud" ujar Jero sambil tersenyum simpul.
"Siapa makhluk kecil ajaib?" ujar Vian yang ternyata mendengar apa yang dikatakan oleh Jero sebentar ini.
"Kamulah sayang. Siapa lagi. Kamukan makhluk kecil ajaib yang paling aku cintai" lanjut Jero menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya tentang siapa makhluk ajaib yang dikatakan oleh Jero tadi kepada Bram.
"Enak aja bilang aku bocah ajaib. Aku nggak ajaib sayang yang ajaib itu kamu" balas Vian sambil duduk di atas pangkuan Jero.
Kelakuan Vian ini sontak membuat semua orang yang berada di gerbong itu menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Vian saat ini. Jero yang mendapatkan serangan mendadak itu juga menjadi terkejut. Dia tidak menyangka kalau Vian akan melakukan tindakan seperti itu di depan semua sahabat Jero.
"kenapa kaget sayang? nikmati aja" ujar Vian berkata kepada Jero sambil memandang sekilas ke wajah Jero.
Jero hanya bisa tersenyum dengan tingkah kekasihnya itu. Tingkah yang kadang kadang bisa membuat Jero tertawa sendiri saking absurd dan tidak jelasnya kelakuan yang dilakukan oleh Vian. Tetapi Jero sangat maklum akan hal itu. Kadang Vian berbuat seperti itu, semata mata karena dia mencintai jero.
"Sayang, kamu tukar baju sana, pakai baju hangat. Kita akan turun di stasiun depan. Tinggal berapa menit lagi" ujar Jero meminta Vian memakai baju hangat karena cuaca yang tidak mendukung untuk Vian berada di luar gerbong kereta api memakai pakaian yang sekarang digunakan oleh Vian itu.
"Jadi juga kita berhenti di perkebunan itu sayang?" ujar Vian dengan mata yang terlihat sangat bahagia saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.
"Jadi sayang, Bram sudah mengurus semuanya. Sekarang tinggal kamu berganti pakaian untuk menuju tempat itu." kata Jero memminta Vian untuk mengganti pakaiannya.
"emang kalau ini salah ya sayang?" tanya Vian sambil menatap pakaiannya.
"Di luar udara dingin. Aku takut kamu membeku nantinya" balas Jero yang langsung melarang dan tidak setuju dengan keinginan Vian untuk memakai pakaian yang dipakainya sekarang saat berada di kebun anggur itu.
"Oke sayang, aku ganti pakaian dulu" ujar Vian sambil langsung berlari menuju kamar miliknya yang berada di gerbong yang berbeda.
Jero hanya bisa geleng geleng kepala melihat reaksi yang diberikan oleh Vian saat dirinya mengatakan kalau Bram sudah mengurus semuanya dan mereka bisa berjalan jalan di perkebunan anggur itu.
"Kebahagiaan yang besar hanya dengan melakukan pekerjaan sedikit saja" ujar Jero berkata dengan pelan tetapi bisa di dengar oleh semua sahabatnya.