
"Apa yang dikatakan oleh kamu ada lagi yang menyaksikannya?" tanya Tuan besar Alexsander bertanya tentang saksi yang lain.
Tukang kebun menatap ke arah tuan besae Alexsander. Tukang kebun tidak percaya kalau Tuan besar Alexsander meragukan apa yang telah dikatakan oleh dirinya saat ini. Tukang kebun menganggap kalau Tuan Alexsander tidak percaya kepada apa yang telah diceritakan oelh dirinya, walaupun baru hanya satu cerita saja baru yang dibahas oleh dirinya kepada semua Tuan besar Alexsander.
"Maaf, saya bukan meragukan apa yang kamu katakan, tetapi saya juga ingin mendengar dari mereka yang lainnya. Jadi, tolong jangan salah mengerti dengan apa yang saya katakan sebentar ini"
Tuan besar Alexsander berusaha meluruskan kepada tukang kebun tentang pertanyaan apakah ada saksi yang lain yang melihat kejadian. Tuan besar Alexsander bukan meragukan cerita yang diceritakan oleh tukang kebun itu, tetapi Tuan besar Alexsander ingin pelayan yang lain juga membuka suaranya seputar apa yang telah dilakukan oleh istri dan putranya kepada menantunya yang sangat baik tersebut.
"Baiklah Tuan, maaf saya tadi sempat mengira kalau Tuan besar meragukan kebenaran dari cerita yang saya sampaikan kepada Tuan besar" ujar tukang kebun mengakui kalau dirinya tadi sempat meragukan kepercayaan yang diberikan oleh Tuan besar Alexsander kepada dirinya.
"Tidak masalah, itu sudah biasa. Saya paham kenapa itu bisa terjadi" kata Tuan besar Alexsander yang memang sudah sangat memahami bagaimana karakter pelayannya tersebut.
Siapa orang yang tidak akan tersinggung saat menyampaikan suatu cerita tetapi orang yang mendengarnya kurang mempercayai dan malahan meminta ada saksi yang lain saat melihat kejadian tersebut.
"Tuan besar saya bisa memperkuat apa yang dikatakan oleh tukang kebun" ujar salah seorang pelayan yang memang menyaksikan kejadian yang dikatakan oleh Tukang kebun tersebut.
"Bagaimana ceritanya?" ujar Tuan besar meminta pelayan itu menceritakan apa yang dilihat oleh dirinya kepada Tuan besar Alexsander.
"Baik Tuan saya akan menceritakan apa yang terjadi pada hari itu" jawab pelayan tersebut.
Pelayan menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya kepada Tuan besar Alexsander. Tuan besar Alexsander dan pelayan yang lain mendengar semua cerita yang diceritakan oleh pelayan tersebut. Beberapa orang dari para pelayan yang juga mengetahui dan menyaksikan kejadian yang diceritakan oleh pelayan tersebut mengangguk setuju dengan apa yang diceritakan. Sedangkan yang tidak mengetahui cerita itu hanya bisa geleng geleng kepala dengan raut wajah yang mengatakan kalau orang yang berbuat seperti itu kepada Nyonya muda Alexsander adalah orang yang sangat kejam.
"kenapa kalian ada yang mengangguk dan ada yang menggeleng saat mendengar apa yang diceritakan oleh pelayan ini?" tanya Tuan Alexsander kepada semua yang hadir di ruang tamu itu
"Maaf Tuan besar, saya adalah salah satu dari para pelayan yang hadir yang dari tadi terus saja mengangguk saat mendengar apa yang diceritakan oleh pelayan tadi. Kami di sini yang mengangguk itu adalah orang orang yang mengetahui kejadian yang diceritakan oleh pelayan dan semua cerita itu adalah kebenaran berdasarkan fakta yang sebenarnya" ujar salah seorang penjaga mansion menyetujui apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut.
Tuan besar mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh penjaga mension yang pasti akan melihat semua kejadian karena pekerjaannya adalah berkeliling mansion setiap hari untuk memmastikan keadaan mansion dalam kondisi aman dan terkendali.
"Tuan besar maafkan kami sebelumnya, kami yang menggeleng ini memang sama sekali tidak mengetahui kejadian yang menimpa Nyonya muda, kami tidak mengetahui bukan karena kami menutup mata dan telinga, tetapi karena memang pekerjaan kami tidak ada yang di dalam atau berdekatan dengan mansion" ujar salah seorang laki laki yang kesehariannya memang menjaga kebun belakang mansion dan membersihkan kebun tersebut.
"Sekali lagi maafkan kami yang dari tadiĀ menggeleng karena ketidaktahuan kami ini Tuan besar"
Penjaga kebun bagian belakang mansion kembali meminta maaf kepada Tuan besar mewakili semua pelayan yang dari tadi menggeleng saat mendengar apa yang diceritakan oleh pelayan yang bertugas membersihkan mension utama. Mereka semua sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau hal seperti itu akan terjadi di mansion mereka, terkhusus terjadi kepada Nyonya muda yang terkenal sangat baik tersebut.
Para pelayan yang mengetahui apa saja yang telah dilakukan oleh Tuan muda Juan Alexsander dan Nyonya besar Alexsander kepada Nyonya Muda Vian Alexsander mereka ceritakan semua kepada tuan besar tersebut. Semua cerita mengalir dengan derasnya seperti tsunami yang melanda negara I beberapa tahun yang lalu.
Tuan besar Alexsander yang mendengar apa yang diceritakan oleh beberapa pelayan itu semakin yakin bahwasanya Vian pergi bukan karena pria yang bernama Jero itu, tetapi memang karena keputusasaan dalam diri Vian yang sudah tidak bisa lagi dibendung oleh Vian.
"Baiklah terimasih atas semua laporan yang kalian berikan. Saya mengucapkan terimakasih banyak atas semuanya, atas keterbukaan masalah yang sebenarnya. Kalau tidak ada kalian saya sudah menyangka kalau menantu saya yang baik hati itu memang kabur dengan Jero sopir pribadinya" ujar Tuan besar Alexsander mengatakan kepada semua pelayan yang ada di sana bagaimana tanggapan pertama dirinya terhadap kaburnya Vian dari mansion dengan seorang pria yang merupakan sopir pribadi dari seorang Juan Alexsander yang kemudian menjadi sopir pribadi sekaligus asisten pribadi Vian Alexsander.
Seorang pria memakai jas masuk ke dalam mansion saat Tuan besar menekan salah satu tombol yang ada di remot yang sedang di pegang oleh Tuan besar.
Pria tinggi yang dikenal oleh semua pelayan kalau itu adalah asisten pribadi dari Tuan besar Alexsander langsung paham kalau mereka semua sebentar lagi akan diminta untuk meninggalkan ruang tamu mansion besar ini.
"Tolong antarkan mereka semua ke rumah mereka masing masing ya" ujar Tuan besar Alexsander memerintahkan asistennya untuk mengantarkan semua pelayan menuju rumah yang sudah disediakan oleh pihak perusahaan untuk semua pekerja di perkebunan dan juga pabrik olahan kelapa tersebut.
Semua pelayan pergi meninggalkan mansion besar itu, mereka semua mengikuti asisten yang berjalan paling depan tersebut. Mereka akan menuju rumah yang akan mereka tinggali selama bekerja di pulau tersebut. Rumah yang semuanya serba gratis kecuali bahan makanan. Semua pelayan pergi setelah berpamitan dengan tuan besar Alexsander.
Tuan besar Alexsander menganggukkan kepalanya kepada setiap pelayan yang berpamitan kepada dirinya. Setelah semua pelayan pergi dari mansion dan sekarang berubah status menjadi karyawa perkebunan dan pabrik, bukan lagi karyawan langsung keluarga Alexsander.
"Kamu tolong siapkan makan malam untuk saya" ujar Tuan besar Alexsander meminta pelayan yang bernama Mirna itu untuk membuatkan menu makan malam untuk diriya.
"Saya akan beristirahat sebentar, nanti setelah semua makanan siap kamu tolong panggilkan saja saya" lanjut Tuan besar Alexsander memberikan perintahnya kepada bik Mirna.
"Oh ya kamu Heru, kamu boleh pilih mau kerja jadi tukang kebun di mansion atau mau bekerja di perkebunan" ujar Tuan besar mempersilahkan Heru suami Mirna untuk memilih pekerjaan yang diinginkan oleh dirinya.
"Saya bekerja di kebun mansion saja Tuan besar" jawab Heru yang tidak ingin meninggalkan istrinya dalam waktu yang lama. Sudah cukup mereka terpisah karena waktu itu Mirna di minta oleh Tuan besar untuk bekerja di mansion yang ditempati oleh Juan Alexsander.
"Baiklah, kalau begitu saya izin untuk istirahat dulu" ujar Tuan besar Alexsander berpamitan kepada kedua pelayannya.
Tuan besar Alexsander pergi beristirahat ke dalam kamar utama yang ada di mansion tersebut. Sedangkan pelayannya langsung menyiapkan menu makan malam untuk tuan besar yang sedang memiliki masalah yang berat dalam hidupnya itu.
"Kasihan tuan besar ya buk" ujar Heru kepada Mirna
"Benar Pak, kalau saja waktu itu Tuan besar tetap mempertahankan Mommy dan den Jero, tentu permasalahan ini tidak akan pernah terjadi" ujar Mirna yang juga merupakan saksi hidup bagaimana kejamnya tuan besar Alexsander saat mengusir istri dan anak kandungnya sendiri keluar dari mansion saat malam hari dan hujan yang sangat deras membasahi bumi.