
Jadi, wanita ini siapa Bang?" tanya Bram sambil melihat ke arah Vian.
Felix dan Jeri juga mengalihkan pandangan mereka kepada Vian. Sosok wanita yang tadi ditanyakan oleh Bram kepada Jero.
Walaupun tadi Bram mendengar perkataan Jero, tetapi Bram ingin Jero memperkenalkan Vian kepada mereka bertiga dengan formal.
"Oke kalau kalian bertiga meminta aku memperkenalkan Vian dengan resmi. Baiklah denger ya, tolong pasang telinganya, aku memperkenalkan dia hanya satu kali saja tidak lebih." ujar Jero meminta Felix, Bram dan Jeri untuk memasang telinga mereka saat Jero memperkenalkan Vian.
"Namanya Vian Bramantya, kalian boleh memanggilnya dengan Vian atau sapaan yang menurut kalian lebih hormat, dia kekasih gue, kalian harus menghormati dia, seperti kalian menghormati gue. Ada paham?" ujar Jero memperkenalkan Vian dengan sangat singkat kepada kedua adiknya dan sahabatnya itu.
"Oh namanya Vian" ujar Bram menyebut nama Vian dengan hati hati.
"Aku panggil Kakak ipar aja ya Bang. Lebih keren dari pada Kak Vian." ujar Bram yang mulai usil kembali menggoda abangnya itu.
"Serah loe aja mana yang asik. Asal jangan manggil sayang aka ke Vian. Gue bunuh loe hidup hidup" ujar Jero sambil menatap tajam ke arah Bram.
"Ow takut Bang" ujar Bram yang memang hobbynya mengganggu Jero dan yang lain.
"Sayang, kamu nggak mau ngenalin nama nama mereka dan mereka ke aku?" ujar Vian yang merasa dicuekin oleh Jero dan yang lainnya. Mereka sibuk berbincang sedangkan dia sama sekali tidak diajak untuk berbincang bincang.
"Maaf sayang, emang kamu mau kenal sama mereka bertiga? Nyesel kamu nanti sayang mau kenal dengan mereka bertiga. Kalau aku lebih milih untuk nggak kenal sama mereka sayang" Jero menjawab pertanyaan Vian dengan kata katanya yang sedikit tajam kalau di denger orang lain, tapi biasa aja bagi tiga orang yang ada di depannya ini.
"Sayang" ujar Vian memanggil Jero dengan nada peringatan.
"Hahahahaha. Kena marah dia" ujar Bram sambil tersenyum melihat Jero yang dimarahi oleh Vian.
Jero menatap tajam ke arah Bram. Bram langsung berhenti tertawa dalam sekejap karena tatapan yang diberikan oleh Jero kepda dirinya. Tatapan yang bermakna diam kalau tidak lewat.
"Kita mulai dari yang bawel dari tadi itu ya sayang. Pria itu namanya Bram, dia adik aku yang paling terakhir. Dia bekerja di perusahaan JFB" ujar Jero memperkenalkan Bram kepada Vian.
Bram berdiri dari duduknya.
"Perkenalkan kakak ipar cantik, nama saya Bram. Saya adik bungsu dari Abang Jero dan Abang Felix, kedua abang yang sangat baik dan sayang sama saya" ujar Bram masih dengan sikap konyolnya.
Jero dan Felix hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan adik bontot mereka yang akan selalu bertingkah seperti ini ke semua orang.
"Kalau yang itu" ujar Jero sambil menunjuk ke arah Felix.
Vian melihat ke arah Jero menunjuk.
"Namanya Felix. Dia adik di bawah aku, dia bekerja di perusahaan induk dari JFB Grub. Dia beda dari Bram. Dia luar biasa kaki. Jadi kalau dia ngomong ya yang penting penting aja" ujar Jero memperkenalkan adiknya satu persatu.
"Kalau yang ini, ini sahabat Aku yang baru datang dari Negara E. Sepertinya dia mendapatkan kehormatan untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa Juan Aleksander." ujar Jero sambil menatap ke arah Jeri.
"Namanya Jeri. Dia bekerja di salah satu perusahaan ternama di negara E." ujar Jero memperkenalkan Jeri yang tidak lain adalah sahabatnya itu.
Felix dan Jeri menganggukkan kepalanya menyapa Vian. Vian membalas dengan menganggukkan kepalanya juga.
"Kakak ipar, boleh aku bertanya satu hal?" tanya Bram sambil menatap Vian. Bram sama sekali tidak mau melihat ke arah Jero. Dia sudah tau Jero pasti akan membesarkan matanya kepada Bram.
"Yup mau tanya apa Bram?" tanya Vian dengan ramah.
"Pernah nggak kena marah sama abang aku yang terkenal galak itu?" tanya Bram dengan raut wajah serius.
Vian melihat ke arah Jero. Jero mengangguk meminta Vian menjawab sesuai dengan kenyataan.
"Kalau aku tidak pernah kena marah oleh Jero. Tapi, kalau Jero sering kena marah. Sebelum ke sini aja baru siap kena marah dia" ujar Vian sambil menatap Jero dengan tatapan penuh cinta.
"Serius kak? Kenapa?" tanya Bram yang sangat senang mendengar kalau Vian baru siap memenuhi Jero.
"Yap, dia pulang sangat larut malam, malam tadi. Katanya sih dari tempat kalian berdua" ujar Vian sambil menunjuk ke arah Felix dan Bram.
"Oooo. Dari rumah kami nggak malam. Ayo Bang, loe nyangkut dimana?" ujar Bram sengaja memancing Jero.
"Emang jam berapa dia dari rumah loe Bram?" tanya Vina sambil menaruh dagunya di tangannya yang menupang dagu tersebut.
Bram melakukan hal yang sama dengan Vian. Jero, Felix dan Jeri hanya bisa menatap mereka berdua saja, yang mendadak bisa menjadi sahabat tak terpisahkan itu.
"Kalau nggak salah jam sembilan kurang. Emang jam berapa dia sampai rumah?" tanya Bram lagi kepada Vian.
"Nggak tahu juga, pokoknya dia datang aku udah tidur. Males nunggunya. Katanya nih ya, kalau pulang nelpon. Mana ada dia nelpon" ujar Vian yang memang seharian ini belum ada lihat ponselnya.
"Eeee sayang, nelpon aku sayang, coba tengok ponsel kamu. Kalau tidak percaya aku nelpon tadi malam saat mau pulang" ujar Jero yang nggak mau dikatakan oleh Vian berbohong.
Vian mengambil ponselnya dari dalam tas. Vian melihat ponselnya, Vian membuka panggilan ternyata memang ada Jero menghubunginya tadi malam sebanyak lima kali.
Jero mengangkat alisnya ke hadapan Vian. Vian tersenyum malu.
"Gimana?" tanya Jero kepada Vian yang terlihat malu itu.
"Ada sayang. Aku nggak ada buka ponsel dari semalam" ujar Vian membela dirinya.
"Makanya sayang, kalau mau bully orang itu tengok tengok dulu sayang. Pastikan dulu datanya valid atau ndak." ujar Jero sambil menatap Vian dengan tatapan sayang.
"Maaf sayangku, cintaku, aku salah" ujar Vian sambil balas memandang Jero dengan tatapan penuh cinta.
Felix dan Bram saling memandang.
"Bang, bentar ya Bang. Abang nyuruh kami berkumpul ke sini untuk nengok abang dengan Vian bertatapan mesra atau mau ngapain?" ujar Bram yang lebih memilih untuk bertanya dari pada memendam apa yang dipikirkannya sendirian.
"Gue nyuruh kalian ke sini untuk mengenal Vian. Juga agar Vian mengenal kalian bertiga" ujar Jero menjawab pertanyaan Bram.
"Oh, gue kira ada yang lain Bang" ujar Bram sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
Jero melihat sahabatnya yang dari tadi diam saja.
"Loe kenapa dari tadi diam aja, sakit gigi? " tanya Jero kepada Jeri yang memang sejak tadi diam saja. Tidak ada kata kata yang dikeluarkan oleh Jeri dari dalam mulutnya.
"Nggak, gue bahagia aja nengok elo dalam keadaan seperti ini. Gue udah lama banget tidak melihat elo seperti ini. Terakhir lihat waktu mommy masih sehat" ujar Jeri sambil melihat ke arah Jero.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan. Vian dengan luar biasanya bisa luwes berbicara dengan Felix dan Bram serta Jeri.
Tiba tiba ponsel milik Vian berdering. Vian melihat panggilan dari dr. Heru.
"Siapa?" tanya Jero saat melihat Vian melihat ponselnya.
"dr Heru. Dokter ruangan ICU sayang. Boleh aku angkat betar?" tanya Vian kepada Jero.
"Sini aja" ujar Jero yang mulai posesif saat tau siapa yang menghubungi Vian.
"Mulai posesif" ujar Bram yang sengaja berbicara dengan suara keras agar didengar oleh Jero.
Vian mengangkat panggilan dari dr Heru.
"Hallo dokter, ada apa?" tanya Vian yang sudah langsung mengaktifkan loudspeaker ponselnya saat berbicara dengan dokter Heru.
"Dokter Vian dimana? Apakah jam tiga nanti bisa nolong saya operasi? Kami membutuhkan satu dokter lagi" ujar dokter Heru menyebutkan kepentingannya menggubungi Vian.
"Bentar dokter Heru" ujar Vian.
Vian melihat ke arah Jero. Vian meminta izin secara tersirat kepada Jero melalui isyarat matanya.
"Boleh" jawab Jero memperbolehkan Vian untuk melakukan tindakan operasi.
"Oke dokter Heru, saya akan datang" ujar Vian memberitahukan dia bisa melakukan tindakan operasi jam tiga sore ini.
"Terimaksih dokter Vian. Maaf sudah merepotkan dokter Vian yang harusnya sudah beristirahat di rumah" ujar dokter Heru berusaha berlama lama berbicara dengan Vian.
"Tidak apa apa dokter. Saya akan datang sebentar lagi" Jawab Vian ingin menghentikan pembicaraan antara dirinya dengan dokter Heru.
"Biar saya jemput dokter Vian" ujar dokter Heru masih berusaha untuk berbicara dengan Vian.
Vian yang malas dengan gaya dokter Heru langsung mematikan sambungan telpon itu. Dia terlihat cemberut dan tidak suka dengan gaya dokter Heru kepada dirinya.
"Kenapa?" tanya Jero yang melihat perubahan dari ekspresi Vian.
"Males jadinya pergi operasi. Gaya dokter Heru membuat aku nggak nyaman" ujar Vian mencurahkan isi hatinya kepada Jero.
"Sayang, profesionalitas jangan dicampur adukkan dengan urusan pribadi sayang." ujar Jero mengingatkan Vian untuk tidak mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
"Tapi sayang" ujar Vian yang memang malas untuk pergi ke rumah sakit, karena gaya dokter Heru tadi.
"Sayang denger. Kamu pergi dengan Bram ke rumah sakit. Dokter Heru kenal dengan Bram. Biar Bram mengatakan kalau kamu adalah kekasih kakak Bram. Maka, aku yakinkan ke kamu dokter Heru tidak akan macam macam lagi dengan kamu" ujar Jero memberikan solusi kepada Vian untuk pergi dengan Bram ke rumah sakit dan menyelesaikan masalah yang dibuat oleh dokter Heru.
"Dengan Bram sayang?" tanya Vian meyakinkan apa yang didengarnya dari perkataan Bram.
"Yup. Dengan Bram. Biar Bram yang menyelesaikan sayang. Kamu akan aman setelah itu." ujar Jero meyakinkan Vian kalau semuanya akan aman setelah Bram memberitahukan semuanya kepada dokter Heru nanti.
"Kamu yakin sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero tentang hal itu kembali.
"Sayang apa pernah aku membuat kamu kecewa sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian.
Vian menggeleng. Jero selalu akan menepati janjinya saat dia mengatakan aman, maka akan aman. Tetapi kalau Jero mengatakan tidak aman, maka tidak akan aman.
"Sekarang, kamu pergi dengan Bram ke rumah sakit. Kamu tunggu jadwal operasi kamu, sedangkan Bram akan mencari dokter Heru. Kamu tenang aja, semua akan diselesaikan oleh Bram." ujar Jero kembali meyakinkan Vian.
"Oke sayang, aku akan pergi dengan Bram sesuai dengan yang kamu katakan." ujar Vian mantap dan setuju dengan pendapat dari Jero.
"Bram antar Vian ke rumah sakit, terus tolong katakan ke Heru untuk bersikap sopan kepada Vian" ujar Jero dengan nada yang terdengar sangat tajam di telinga Vian.
"Oke Bang. Gue akan selesaikan dengan baik ke Heru" ujar Bram menjawab perintah yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Ayok kakak ipar. Mari kita ke rumah sakit" ujar Bram dengan semangat.
Bram sangat suka melakukan hal ini. Dia paling suka saat harus memakai nama belakangnya dalam melaksanakan satu tugas yang diberikan.
"Sayang aku jalan dulu. Nanti aku pulang kamu yang jemputkan?" tanya Vian yang sebenarnya nggak suka pisah dengan Jero.
"Tentu iya sayang. Mana boleh kamu pulang lagi dengan Bram. Keenakan di dia. Nggak enak di aku" jawab Jero sambil tersenyum kepada Vian.
Vian dan Bram kemudian keluar dari dalam restoran. Mereka akan menuju rumah sakit. Bram akan menyelesaikan dokter Heru. Bram tidak akan memecat tetapi akan memberikan peringatan kepada dokter Heru untuk tidak berbuat seenaknya kepada Vian lagi.
"Hay bro kapan loe datang? Gimana dengan perusahaan?" tanya Jero saat sudah memastikan Vian sudah jauh dari ruangan VVIP.
"Semuanya aman terkendali. Ini adik loe ngubungin gue untuk ke sini. Makanya gue datang. Belum lagi tuh Tuan Besar yang ogeb itu menyuruh gue untuk ya tau lah loe ya." ujar Jeri menggantung ucapannya.
"Nanti ceritanya, kita makan hidangan penutup dulu" ujar Jero.
Felix menghubungi manager restoran. Dia meminta agar manager menghidangkan makanan penutup untuk mereka.
********************************************
Apa yang akan dilakukan oleh Bram kepada dokter Heru???
Apa yang akan dibicarakan oleh Jero dengan Jeri dan Felix???
Nantikan episode berikutnya kakak.
singgah juga di novel aku yang lainnya kakak
Suamiku Bukan Milikku
It's My Dream
Kepahitan Sebuah Cinta
Kesetiaan Seorang Istri**