
Hari ini Vian terlihat sedang dalam kondisi tidak mood. Suster melihat perubahan yang terjadi di dalam diri Vian. Vain selama operasi lebih banyak diam, saat mereka sampai di ruangan Vian masih juga banyak diam, sama sekali tidak seperti Vian biasanya yang selalu ceria dan selalu menggoda rekan rekannya yang lain. hari ini vian berkali kali di goda oleh rekan rekan kerjanya, hanya di balas Vian dengan senyuman kecil saja.
"Maaf dok, apa saya bisa tanya sesuatu?" ujar Suster dengan nada segan karena dia tidak ingin dikatakan tidak sopan karena terlalu ingin ikut campur urusan Vian.
"Apa Sus, tanya aja. Tidak masalah" ujar Vian sambil duduk di kursi kerjanya.
Vian telah selesai melakukan satu operasi hari ini. Masih ada satu kegiatan operasi lagi yang akan dilaksanakan nanti siang sekitar pukul dua siang.
Suster memilih duduk di depan Vian. Vian melihat ke arah suster tersebut.
"Kenapa hari ini dokter seperti tidak mood?"
" Maaf kalau saya lancang bertanya."
"Saya perhatikan dari tadi Dokter seperti sama sekali tidak mood. Ada apa dok?" tanya suster.
Vian menatap kosong ke arah suster. Beban yang dipikul nya saat ini sangat berat. Tetapi sayangnya Vian tidak sempat dan tidak bisa mengatakan atau berbagi cerita dengan mereka.
"Maaf Sus untuk saat ini, aku tidak bisa mengatakan apa apa, maaf bener bener maaf" kata Vian.
"Oke dok tidak masalah. Tapi aku cuma mau berpesan, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya" kata suster menitipkan pesan kepada Vian.
"Terimakasih Sus, saya akan mengingat pesannya. Saya sungguh berterimakasih banyak atas pesan yang kamu berikan" jawab Vian.
Suster kemudian kembali ke tempatnya. Masih ada beberapa pasien yang sebentar lagi akan diperiksa oleh Vian.
Vian kembali termenung, dia mengingat semua yang dikatakan oleh pegawai pengadilan itu. Sebenarnya Vian tidak takut dengan ancaman yang diberikan oleh pegawai pengadilan itu. Tetapi Vian takut kalau Jero terpengaruh oleh mereka, dan pada akhirnya meminta Vian untuk tidak tinggal serumah dengan Jero sampai sidang perceraian mereka selesai.
"Semoga Jero tidak memiliki pemikiran seperti tadi" ujar Vian berdoa dalam hatinya.
Suster melihat Vian kembali bengong seperti tadi. Suster sekarang sangat yakin kalau Vian sedang ada masalah berat yang sedang dipikirkan oleh dirinya.
"Dokter, apa pelayanan hari ini kita undur saja sampai besok?" tanya suster yang tidak sampai hati melihat Vian yang duduk termenung seperti seseorang yang tidak ada gairah hidupnya.
"Jangan Sus, mereka sudah susah susah datang ke sini, masak harus kita undur." jawab Vian yang sudah memakai jas dokternya.
"Apa dokter yakin? Saya lihat dokter sedang banyak pikiran"
"Saya yakin Sus. Saya akan mengenyampingkan dulu apa yang sedang saya pikirkan. Saya akan konsentrasi dengan pasien saya terlebih dahulu" jawab Vian yang sekarang sangat yakin kalau dirinya pasti bisa menjadi dokter yang profesional.
"Baiklah Dok, saya akan panggil pasien pertama. Hari ini ada sekitar delapan orang pasien saja" kata suster memberitahukan kepada Vian berapa orang pasien yang akan mereka periksa hari ini.
"Okeh, kita akan berikan pelayanan terbaik buat mereka." jawab Vian dengan semangat.
"Lets go dokter" jawab Suster yang ketularan semangat Vian.
Suster kemudian memanggil pasien pertama. Vian terlihat sangat bersemangat melayani dan memeriksa kondisi pasiennya itu. Vian benar benar terlihat seperti tidak ada masalah sama sekali. Vian yang pemurung tadi sudah hilang ntah kemana, langsung berganti dengan Vian yang ramah dan periang seperti Vian vian sebelum ini.
"Wow dokter bener bener keren. Bisa mengesampingkan permasalahan. Dokter terbaik" ujar suster memuji Vian yang sungguh bisa mengendalikan moodnya.
"Yah itulah dokter, kita pelayan ini harus bisa mengenyampingkan kepentingan pribadi, permasalahan pribadi. Kita harus bisa membuat diri kita selalu bahagia. Supaya pasien pasien kita juga bahagia melihat kita" kata Vian melanjutkan nasehatnya kepada suster.
"Oke dok siap. Ini pasien kita terakhir" ujar suster.
"Bukannya delapan?" tanya Vian yang kaget karena masih ada pasien berikutnya.
"Seharusnya dok. Pasien ini telat daftar" jawab suster.
"Huf masih ada lagi. Padahal ini udah masuk jam makan siang" kata Vian saat melihat jam dinding ruangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Ya bener harus happy walaupun belum makan siang" jawab Vian sambil memperlihatkan wajah yang tersenyum terpaksa.
"Haha hahaha, dokter harus ikhlas. Senyumnya harus tarik sepuluh senti kiri dan kanan" lanjut suster yang berhasil menggoda Vian.
"Hem ya sepuluh senti" jawab Vian.
Suster memanggil pasien berikutnya. Setelah itu dirinya langsung keluar dari ruangan Vian. Vian yang tidak menyadari apa yang dilakukan oleh suster membiarkan saja suster tersebut pergi.
Jero masuk dengan gagahnya ke dalam ruangan Vian. Vian yang baru saja sadar menatap lurus ke arah Jero.
"Sayang, aku masih ada pasien satu lagi" ujar Vian dengan wajah memelas.
"Iya sayang. Aku pasiennya" jawab Jero dengan santai sambil duduk di depan Vian.
"Jangan ngasal sayang. Aku sedang nggak mau bercanda" lanjut Vian.
"Aku nggak bercanda sayang. Coba kamu lihat sendiri saja, siapa nama terakhir dari urutan pasien kamu hari ini." ujar Jero.
Vian membaca nama terakhir dari urutan nama nama pasien yang di tulis oleh suster.
Via tersenyum saat membaca nama terakhir dari pasiennya itu.
"Gimana? Percayakan kalau aku pasien terakhir kamu" ujar Jero dengan santainya.
"Jadi apa yang sakit tuan?" tanya Vian dengan ramah.
Vian menempatkan dirinya sebagai seorang dokter sedangkan Jero sebagai seorang pasien yang datang untuk berkonsultasi kepada dirinya.
"Jadi apa yang Bapak rasakan sekarang?" tanya Vian dengan profesional sebagai seorang dokter bertanya kepada pasiennya
"begini dok, di bagian ini saya sering terasa berdebar debar dokter" kata Jero sambil memegang dadanya yang tepat di sana letak jantung Jero.
"Apa Tuan ada riwayat penyakit jantung?" tanya Vian sambil menatap Jero dengan tatapan serius.
"Terkadang dokter" jawab Jero membalas pandangan yang diberikan oleh Vian.
"Kapan?" tanya Vian selanjutnya.
"saat seperti sekarang ini dokter" jawab Jero.
"Apa anda tahu peraturan rumah sakit ini Tuan?" pertanyaan selanjutnya dari Vian.
"Tidak tahu dokter."
"Apa dokter bisa memberitahukan peraturan itu kepada saya?" sekarang giliran Jero yang bertanya kepada Vian.
"Peraturan paling utama dan paling penting adalah" Vian dengan sengaja menggantung kalimat yang akan diucapka oleh dirinya.
"Adalah....... " sambar Jero
"Adalah tidak boleh menggoda dokter yang sedang mengerjakan pekerjaannya" jawab Vian
"Wow, aku sedang tidak menggoda dokter" ujar Jero mengelak.
"Oh ya?" tanya Vian.
"Ya oh" jawab Jero