My Affair

My Affair
Bandara



"Kamu bener bener bikin aku seperti ratu setiap harinya. Kamu selalu mengiyakan apa yang aku minta. Aku bener bener dibuat nggak bisa menolak bahkan hanya sekedar memiliki perasaan untuk menolak" lanjut Vian masih tetap mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini. Vian mengatakan semuanya, mengatakan semua yang ada di dalam pikirannya. Jero masih tetap dengan gayanya diam dan tidak membantah.


Jero mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vian. Vian sangat jarang memiliki moment moment seperti ini. Moment moment dimana Vian bisa menceritakan semua yang dirasakan oleh dirinya kepada Jero. Biasanya Vian hanya akan mengatakan perasaannya kepada Jero pada saat dia menginginkan sesuatu. Tetapi kali ini sungguh berbeda.


Vian menatap Jero dengan tatapan yang sangat susah diartikan. Vian benar benar tidak tahu lagi bagaimana mengungkapkan apa yang sedang dirasakan oleh dirinya pada saat ini. Rasa yang tidak pernah ada selama ini dan tiba tiba datang dan membuat Vian menjadi luar biasa bahagianya.


"Kamu kenapa diam saja sayang?" ujar Vian yang melihat Jero hanya diam saja dari tadi. Jero sama sekali tidak memberikan pernyataan atau tanggapan apapun kepada dirinya. Jero hanya bersikap diam dan mendengar semua yang dikatakan oleh Vian. Jero benar benar menjadi pendengar yang baik.


"Nggak ada diam. Aku mendengar dan mencerna semua yang kamu katakan ke aku tadi." jawab Jero sambil tersenyum.


"Aku bener bener bahagia mendengar semuanya. Aku tidak menyangka kalau kamu akan sebahagia ini saat bersama dengan aku" lanjut Jero sambil memandang wajah kekasihnya itu.


"Ini bener bener bahagia atau hanya di mulut saja?" ujar Jero yang sudah mulai menggoda Vian lagi. Tingkat ke usilan Jero langsung naik sekian tingkat saat melihat Vian yang sudah kembali diam dan menatap ke wajah Jero.


"Menurut kamu gimana?" kata Vian sambil sedikit menggerakkan badannya di atas pangkuan Jero.


"Sayang jangan lakukan itu kalau tidak ingin kenapa kenapa" ujar Jero memandang Vian.


Kelakuan Vian yang seperti ini membuat sesuatu di sana di bagian inti Jero menjerit sempurna meminta untuk dilepaskan. Tetapi Jero tidak akan mungkin melakukan hal itu. Bisa bisa Jero menjadi seorang pria pecundang kalau melakukannya sekarang. Jero tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak mau dicap sebagai pria pecundang.


"Emangnya aku ngapain sayang? Aku nggak ngapa ngapain" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero dan tetap melakukan hal yang sama. Hal yang membuat sesuatu meronta ronta.


"Jeri tolong urus cepat perceraian Vian dengan pria malang itu" ujar Jero yang sudah tidak bisa lebih lama lagi menanggung akibat dari apa yang dilakukan oleh Vian saat ini.


"Sayang, kamu" ujar Vian yang langsung turun dari atas paha Jero dan berpindah duduk ke tempat duduknya semula.


" Kenapa malu sayang biasa aja"


" padahal kamu dari tadi santai aja kenapa waktu aku memanggil Jerry kamu berubah dan takut terlihat kalau kamu seperti ini?" kata Jero saat melihat Vian yang langsung turun dari pangkuannya dan seperti hendak terjatuh.


"Kalau kita berdua aja nggak ngaruh sayang. Ini kamu manggil Jeri, malulah aku" kata Vian sambil melirik ke arah Jero yang sedang tersenyum jahil.


"Dasar kamu ya sayang. Seneng banget nengok aku kaget nggak jelas kayak tadi. Mana kesandung lagi. Usil kamu kebangetan" ujar Vian yang kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Jero kepada dirinya.


"Haha haha haha, maafkan aku sayang" kata Jero sambil mencubit hidung Vian dengan cubitan lembutnya.


"Haha haha haha, mana ada orang maafin tapi nggak rela sayang. Kamu ada ada aja" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian yang bersungut sungut karena kakinya yang masih terasa sangat sakit itu.


"Kenapa bersungut sungut sayang?" tanya Jero yang heran dengan apa yang dilakukan oleh Vian.


Jero melihat Vian mengusap kakinya dengan agak sedikit kencang. Jero yang melihat hal itu menatap ke arah kaki Vian.


"Kaki kamu kenapa sayang?" ujar Jero setengah panik saat mengetahui kenapa Vian menjadi bersungut sungut seperti itu.


"Kaki aku sakit sayang. Makanya sungut sungut nggak jelas aja dari tadi. Kamunya nggak peka sayang" kata Vian yang setengah kesal karena Jero tidak juga paham kenapa Vian merasa sedikit kesal dengan dirinya.


"Maafkan aku sayang. Maaf" ujar Jero.


Jero membungkukkan badannya yang tinggi menjulang itu Jero dengan ngampangnya meraih kaki Vian yang kata Vian tersandung kursi saat Vian berpindah dengan cepat dari atas pangkuan Jero. Jero kemudian mengusap kaki Vian yang terasa sakit. Jero memberikan pijitan ringan di sana untuk menghilangkan rasa sakit di kaki Vian. Padahal Jero hanya memijit sesuai dengan yang ada di dalam bayangan otaknya saja. Jero sama sekali tidak ada pengalaman dalam urusan pijit memijit, sehingga Jero menggunakan fillingnya saja lagi harus memijit dibagian mana untuk mengurangi rasa sakit di kaki Vian.


Vian tersenyum senyum melihat Jero melakukan hal itu, memijit kakinya dengan sangat sabar untuk mengurangi rasa sakit yang ditanggung oleh Vian. Sebenarnya kaki Vian tidaklah terlalu sakit, cuma karena niat hati Vian ingin mengerjai Jero makanya dia terlihat pura pura sakit di kakinya itu. Satu balas dendam kecil yang dilakukan oleh Vian karena Jero memanggil Jeri saat Vian duduk di atas pangkuannya.


Pesawat yang dipiloti oleh Juan dan Ivan terbang dengan sangat tenang. Penerbangan kali ini tidak ada turbelensi yang berarti. Cuaca sangat bersahabat dengan penerbangan mereka kali ini. Sehingga membuat para pengawal yang duduk di kelas bisnis tertidur selama penerbangan. Sedangkan di kelas VVIP yang terjaga hanya Jero, Vian, Jeri dan Tama yang sedang asik bercerita berdua, membahas tentang salah satu perusahaan yang akan didirikan di negara E dengan tema yang berbeda dengan negara negara lainnya. Kali ini Jero menunjuk Tama langsung yang menjadi direkturnya.


Pesawat berbadan besar dengan merk body AG dengan tulisan ungu menyala sudah mulai turun untuk melakukan pendaratan di bandara negara I, setelah melakukan penerbangan selama lima belas jam dari negara F. Penerbangan terlama yang harus dilakukan kembali oleh Vian yang sebenarnya paling malas melakukan penerbangan. Makanya Vian sangat alergi mendengar kata terbang, tetapi mau apalagi, mulai semenjak ini ke atas Vian harus bisa membiasakan dirinya dengan penerbangan, suka tidak suka, mau tidak mau dia pasti akan selalu terbang menemani Jero ke setiap perusahaan perusahaannya yang ada di berbagai negara.


"Para penumpang yang berbahagia dan terlihat sudah lelah karena harus melakukan penerbangan selama lima belas jam ditambah dengan transit di bandara negara E selama tiga jam, dalam lima belas menit lagi, kita akan melakukan pendaratan di bandara negara I. Semua penumpang diharapkan untuk memasang kembali sabuk pengaman masing masing. Para penumpang diharap untuk duduk di bangku masing masing, bukan di bangku orang lain, atau bahkan di atas orang lain" ujar Juan memberitahukan dan meminta kepada semua penumpang untuk duduk dalam posisi yang baik dan di kursi masing masing karena pesawat sebentar lagi akan mendarat.


Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Juan saat memberikan pengumuman menatap ke arah Jero. Jero tersenyum kepada Vian.


"Kok senyam senyum sayang, ada apa ini? Kenapa Juan bisa ngomong kayak tadi?" ujar Vian bertanya kepada Jero kenapa Juan sampai bisa memberikan pengumuman seperti tadi.


"Sayang, kamu lihat itu" ujar Jero menunjuk sebuah benda hitam yang terletak tepat di depan Vian duduk.


Vian melihat sebuah benda hitam yang ditunjukkan oleh Jero kepada dirinya.


"Bukannya itu kamera sayang?" ujar Vian setelah mengamati beberapa menit benda berbentuk kecil dan berwarna hitam tersebut. Vian menatap lama ke benda tersebut. Vian hendak melepaskan sabuk pengamannya untuk memastikan


"Yup bener sayang, itu kamera yang terhubung langsung ke kokpit" jawab Jero sambil tersneyum kepada Vian