
"Hendri turunkan kecepatan mobil Hendri" ujar Felix dan Bram bersamaan.
Vian mendengar teriakan dia orang kakak beradik itu di speaker mobil yang ditumpanginya. Vian melihat ke arah Jero dengan tatapan kekaguman dan mulut yang membulat membentuk huruf O.
"Sayang, bukannya itu suara Felix dan Bram?" ujar Vian.
Jero mengangguk.
"Wow, teknologi yang keren" Nada kekaguman saat jelas keluar dari mulut Vian. Jero tersenyum mendengar pujian yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.
"Sudah Hendri, saya sudah tau semuanya, kamu turunkan kembali laju mobil kita" ujar Vian.
Hendri kembali melajukan mobil dalam kecepatan biasa saja. 'Gara gara keingintahuan Nona Vian, gue pasti disemprot dua Tuan Muda itu nantinya' kata Hendri dalam pikirannya. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya nanti. Felix dan Bram terkenal sangat posesif terhadap Jero. Jadi sangat kecil kemungkinan dirinya tidak akan dimarahi oleh kedua Tuan Muda itu.
Mobil yang dikendarai oleh Hendri berbelok masuk ke dalam perkarangan gedung yang sangat bagus.
"Sayang kontras sekali ya dengan gedung yang di depannya" ujar Vian menunjuk ke arah gedung tempat orang mengurus pernikahan.
Jero tersenyum kepada Vian. Dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian. Ntah kenapa sekarang giliran Jero yang merasa tegang.
Vian yang melihat Jero sedikit tegang, meraih tangan kekasihnya itu dan mengecupnya perlahan. Jero menatap ke arah Vian.
"Kamu kenapa?" tanya Vian dengan lembut.
"Tidak ada. Aku tidak menjawab kerena tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan ke kamu" jawab Jero sambil tersenyum. Jero tidak mau Vian salah sangka kepada dirinya.
"Oh baiklah"
"Apa kamu sudah siap?" tanya Jero melihat ke arah Vian yang sudah memegang tas tangannya.
"Sudah. Apa kamu sudah siap?" Vian balik bertanya kepada Jero.
"Sudah." jawab Jero dibarengi dengan anggukan meyakinkan kepada Vian.
"Mari kita turun" ujar Vian.
Hendri hendak membukakan pintu untuk kedua Tuan dan Nona nya itu. Tetapi Vian dan Jero telah membuka pintu itu bersamaan. Mereka ingin turun berbarengan.
Bertepatan dengan mereka turun, sebuah mobil mewah yang Jero dan Vian tahu itu milik siapa berhenti tepat di depan mobil Jero.
Vian menatap lama ke arah mobil itu. Jero menggenggam tangan Vian dengan erat. Jero tidak mau Vian merasa cemas atau takut dengan apa yang dilihat oleh dirinya.
"Santai saja sayang" ujar Jero memberikan semangat kepada Vian.
Vian mengangguk dan tersenyum. Mereka berdua masuk ke dalam gedung pengadilan itu dengan langkah tegap dan saling memberikan dukungan antara satu dengan yang lainnya. Jero dan Vian sama sekali tidak melepaskan tangan mereka.
Jeri, Felix dan Bram datang bersamaan.
"Sepertinya abang dan kakak ipar sudah duluan masuk ke dalam rumah" ujar Bram saat melihat mobil yang di pakai Jero sudah terparkir dengan rapi.
"Yap. Mari kita masuk. Jangan sampai tu Tuan besar mengamuk hanya karena kita telat sampai" kata Jeri yang sebenarnya dirinyalah yang takut diamuk Jero.
Tiga pria tampan itu berjalan masuk ke dalam gedung pengadilan. Mereka bertiga ditatap oleh setiap orang yang ada di sana. Mata mata para wanita sama sekali tidak lepas dari melihat tiga pria tampan yang berjalan masuk dengan gagahnya dan sama sekali tidak peduli dengan orang orang yang menatap mereka tersebut.
"Resiko jadi orang tampan" ujar Bram.
Jeri dan Felix yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram hanya memasang wajah datar saja. Mereka berdua tahu bagaimana cara Bram menikmati orang orang yang menatap dirinya dengan tatapan kekaguman itu. Bram sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh orang orang yang menatapnya dengan penuh kekaguman.
" Hay Bang" sapa Felix kepada Jero.
Jero mengangguk membalas sapaan yang dilakukan oleh Felix kepada dirinya.
"Apa kamu sudah membawa semua buktinya Jeri?" tanya Jero kepada Jeri.
"Mana kakak ipar bang?" tanya Bram saat tidak melihat Vian bersama dengan Jero.
"Sedang di kamar mandi" jawab Jero memberitahukan keberadaan Vian kepada kedua adiknya dan juga sahabatnya itu.
Tepat saat mereka mengobrol, Juan masuk ke dalam ruang tunggu pengadilan. Tetapi Juan tidak sendirian dia berjalan dengan Tuan besar Aleksander.
Vian yang melihat Tuan besar Aleksander, yang baru masuk saat bertepatan dengan dirinya baru keluar dari dalam kamar mandi langsung berjalan dengan cepat. Dia berjalan menuju papi mertuanya yang selalu baik kepada dirinya.
"Papi" sapa Vian.
Vian mengecup tangan Papi mertuanya itu. Bagaimanapun Juan menyakiti hati Vian, tetapi Vian tetap hormat dengan papi mertuanya. Bagi Vian yang salah adalah Juan, jadi papi mertuanya tidak berhak menerima kemarahan dan kebencian dari Juan.
"Kamu dari mana saja sayang?" ujar Papi sambil melihat ke arah Vian. Papi memastikan kalau menantunya itu masih dalam kondisi baik baik saja.
"Masih di negara ini Papi, dan masih bekerja di rumah sakit yang sama" jawab Vian.
"Waktu itu Papi mencari kamu ke sana nak, tetapi kata orang orang di rumah sakit itu, kamu sudah tidak bekerja di sana lagi" jawab Papi.
"Maafkan Vian Papi. Saat itu Vian butuh ketenangan sehingga Vian memilih untuk pergi dari rumah sakit dan negara ini sebentar" kata Vian sambil melihat dan meminta maaf dengan tulus kepada mertuanya.
"Sayang, bukannya kamu yang harus meminta maaf kepada Papi nak. Tetapi seharusnya Papi, karena sudah membuat kamu sakit karena pernikahan ini" ujar Papu dengan lembut kepada Vian.
Vian menggeleng lemah. "Sebagai anak, vian yang harus meminta maaf kepada Papi. Bukan Papi" jawab Vian.
"Boleh Papi peluk kamu?" ujar Papi bertanya kepada Vian.
Vian mengangguk, Papi memeluk menantunya itu di depan semua orang yang ada. Pancaran kasih sayang yang tulus terlihat dimata Papi. Jero tersenyum sekilas melihat apa yang dilakukan oleh Daddynya itu kepada Vian calon istrinya.
"Kamu dengan siapa ke sini nak?" tanya Papi.
"Sama mereka Papi" jawab Vian dengan tegas kepada Papi.
Papi menatap semua laki laki yang ada di sana. Saat Papi menatap kearah Jero, Papi menatap sangat lama, Papi seakan ingat dengan wajah tersebut. Papi seakan tidak asing lagi saat melihat wajah Jero.
Saat itulah Felix dan Bram serta Jeri melihat ke arah Jero. Mereka sedikit agak cemas kalau Tuan besar mengingat siapa Jero sebenarnya. Sedangkan Jero yang ditatap oleh Tuan besar Aleksander yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri, menikmati tatapan yang diberikan oleh Tuan besar itu. Jero berharap Tuan besar Aleksander berusaha menebak dan mengingat dimana dia pernah bertemu dengan Jero.
"Oh wanita ******, ternyata kamu pergi dengan empat pria. Pantesan" ujar Juan yang sudah muak melihat basa basi yang dilakukan oleh Vian terhadap orang tuanya.
"Hay anda Tuan Muda, tolong jaga ucapan anda" ujar Bram yang langsung berdiri dan melangkah maju ke arah Juan.
Jero dan yang lainnya tidak berusaha menahan apa yang dilakukan oleh Bram. Mereka malahan terlihat mendukung Bram.
"Juan" panggil Papi dengan nada ketus dan menahan marah.
"Jaga ucapan kamu. Kita ke sini untuk mendamaikan masalah, bukan mencari masalah" lanjut Papi.
"Denger tu Tuan Muda. Dengar apa yang dikatakan oleh orang tua anda. Anda memang tidak sopan. Anda yang salah, anda juga yang teriak" ujar Bram dengan nada sinis.
Juan yang mendengar bentakan dari Papinya, akhirnya memilih untuk mengalah.
'Kalian akan menerima apa yang telah kalian lakukan terhadap saya' ujar Juan melalui tatapan matanya ke arah Bram
'Saya menunggu itu' balas Bram dengan tatapan matanya ke arah Juan.
Jero hanya tersenyum saja melihat apa yang dilakukan oleh Juan kepada Bram dan begitu juga sebaliknya.
"Saya belum selesai dengan Anda. Sopir" ujar Juan saat dia berjalan di depan Jero dengan tingkah pongahnya.
"Saya tunggu Tuan muda" ujar Jero
Peperangan antara Jero dan Juan akan dimulai. Peperangan yang bukan dikarenakan oleh Vian, tetapi ego antara kedua anak kandung Tuan Aleksander