
"Ntahlah Mami. Papi berharap juga tidak. Papi tidak ingin ada lagi puzzle dari masa lalu merusak kehidupan kita. Kita sudah cukup bahagia dengan keadaan kita seperti ini." ujar Papi sambil menggenggam tangan istrinya itu. Papi sangat bahagia dengan hidup yang mereka jalani sekarang ini. Papi tidak ingin ada yang merusak kehidupan keluarga mereka. Makanya, Papi berusaha keras menjaga keluarga Aleksander.
Papi memandang Mami dengan begitu dalam. Api api cinta masih terlihat dari pandangan mata kedua orang yang berbahagia itu. Mami tersenyum bahagia ke arah Papi. Mami juga menggenggam tangan Papi dengan lembut. Mami kemudian mencium tangan Papi. Papi menatap Mami dengan lama. Istri yang di dapati dirinya dengan problema rumah tangga yang sangat rumit
"Cinta kita sangat kuat Papi. Mami yakin kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi" ujar Mami berkata kepada Papi.
Mami terus menggenggam tangan Papi. Tangan pria yang begitu di sayanginya walaupun perjalanan cinta mereka itu bukan suatu jalan yang mulus melainkan jalan yang sangat terjal. Bahkan memiliki banyak rintangan. Tetapi akhirnya cinta itu bisa diwujudkan menjadi rumah tangga dengan mewujudkan keluarga bahagia.
Juan yang baru selesai mandi dan berpakaian, melihat kedua orang tuanya saling memuja seperti itu. Juan berharap suatu saat dia akan bisa seperti Papi dan Mami nya.
Juan telah berada kembali di antara mereka. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikemudikan oleh Juan bergerak menuju restoran A. Tempat yang mereka tuju untuk makan malam kali ini.
Juan sudah melakukan reservasi meja saat dia pamitan untuk pergi mandi dan berganti pakaian. Juan juga sudah memesan menu andalan restoran A. Jadi, saat mereka sampai di restoran, mereka tinggal menikmati makan malam yang sudah dipesan oleh Juan Aleksander.
"Juan, apa kau sudah melakukan reservasi meja dan memesan menu makan malam kita?" tanya Mami kepada Juan yang sedang menyetir mobil itu.
"Sudah Mami. Jadi saat kita sampai di sana, kita bisa langsung makan saja lagi. Tidak perlu menunggu lama" jawab Juan yang telah memikirkan segala galanya dengan runut.
"Oke sip. Mami kira kamu lupa mereservasi meja" ujar Mami kepada Juan.
Tidak beberapa lama setelah mengemudikan mobilnya, Juan sudah hampir sampai di restoran A. Dia membelokkan mobil masuk ke parkiran restoran A. Restoran yang sangat sangat sedang booming sekarang ini.
Mobil diparkir Juan di tempat parkir biasa. Setelah itu mereka bertiga turun dari atas mobil. Mereka masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan yang sudah menunggu kedatangan keluarga Aleksander, mengantarkan Papi, Mami dan Juan menuju meja yang sudah di reservasi oleh Juan.
"Ini mejanya Tuan" ujar pelayan kepada Juan.
Papi, Mami dan Juan kemudian duduk di kursi yang telah mereka reservasi tadi. Pelayan datang untuk menghidangkan menu makan malam keluarga Aleksander.
Papi, mami dan Juan menikmati makan malam itu. Mereka bertiga makan dengan sangat lega, karena menurut mereka permasalahan sudah mereka selesaikan. Apalagi sekarang permasalahan sudah tertuju kepada Vian.
"Oh ya Juan, apa kamu akan menggugat cerai istri kamu yang tukang selingkuh itu?" tanya Mami yang ingat kalau Juan belum mengambil tindakan terhadap Vian.
"Belum tau Mami. Tapi sepertinya aku memang akan menggugat cerai dia. Mami bisa bayangkan bukan, kemaren aku dihujat orang. Maka sekarang dialah yang akan dihujat orang. Aku tidak sabar lagi Mami menunggu saat saat itu" ujar Juan Aleksander yang memiliki niat yang sangat buruk terhadap Vian.
"Jangan tergesa gesa Juan. Kita sekarang fokus dulu menaikkan harga saham perusahaan kita yang sempat turun sampai level terendah itu. Setelah itu baru kamu fokus dengan urusan keluarga kamu" ajar Papi meminta Juan untuk fokus kepada perusahaan mereka. Setelah itu baru fokus kepada urusan pernikahannya dengan Vian.
Sedangkan di rumah sakit, Vina memegang pipinya yang memerah karena tamparan dari Juan Aleksander. Tamparan yang tidak diketahui ntah berasal dari kemarahan Juan Aleksander yang bagian mananya. Vian saja kaget saat dirinya ditampar oleh Juan Aleksander.
Vian berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju kaca yang ada di atas wastefel. Vian menatap wajahnya, jejak lima jari terlihat sangat jelas di pipinya putih mulusnya itu.
"Gimana cara nyumpetin dari Jero ya bekas tamparan ini?" ujar Vian sambil meraba pipinya yang sudah memerah karena tamparan dari Juan Aleksander.
"Laki laki tempramen itu memang benar benar tidak memiliki etika sama sekali. Dia dengan gampangnya menampar aku. Padahal aku tidak memiliki salah apa apa lagi dengan mereka" ujar Vian sambil menatap wajahnya di cermin wastafel.
Vian berjalan menuju kursinya kembali. Dia mengambil kotak bedaknya dari dalam tas kerjanya, Vian berdiri di depan kaca, dia mematut matut bekas tamparan itu. Vian meraba bekas tamparan dari Juan. Dia memutar kepalanya memikirkan dengan apa harus ditutupi bekas tamparan yang membekas tersebut.
"Kasih apa ini supaya bisa tertutupi. Mana perlengkapan make-up gue nggak banyak lagi. Gila aja kalau harus memperlihatkan bekas tamparan ini ke Jero. Bisa murka itu anak" ujar Vian yang kehabisan akal melihat bekas tamparan itu.
Vian kemudian menjelajah di langit angkasa lewat mbahgogle. Disana tertulis alat make-up yang bisa menghilangkan dan menyamarkan bekas luka.
"Nah ini dia foundation. Tapi kemana mau di beli. Jero sebentar lagi juga datang. Kenapa gue nggak mikir dari tadi coba" ujar Vian yang kesal kenapa dia tidak kepikiran untuk mencari jalan keluar melalui mbahgogle saja dari tadi.
Vian mengingat ingat, siapa sahabat atau temannya yang membawa perlengkapan make-up yang paling lengkap. Akhirnya setelah berpikir semalaman, sampailah Vian pada satu nama. Nama seseorang yang sering mengajarkan dia bagaimana cara berdandan itu.
"Ah iya suster Ranti. Dia pasti punya foundation. Gue mintak punya dia ajalah." ujar Vian yang akhirnya menemukan ide untuk menghilangkan bekas tamparan itu.
Vian kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku jas dokternya itu. Dia kemudian menghubungi Ranti, suster yang selalu sama dia selama ini. Ranti tadi minta izin harus menjaga bangsal anak. Vian yang tidak ada kegiatan mengizinkan Ranti untuk berkarya di manapun. Jadi Ranti punya pengalaman yang sangat banyak saat berdinas di berbagai ruangan yang ada di rumah sakit itu.
"Hallo Ranti. Apakah kamu membawa kotak make-up kamu ke rumah sakit?" tanya Vian kepada Rina.
"Ada dokter. Apa dokter ada perlu dengan kotak bedak saya?" tanya Ranti kepada Vian sambil melirik seorang perawat lainnya.
Sepertinya suster Ranti dengan perawat itu sudah selesai bergosip tentang kejadian di depan ruangan dokter Vian. Keributan yang membuat heboh seluruh orang yang ada di rumah sakit.
"Kamu antar ke ruangan saya ya Ranti. Saya tunggu di sini saja" ujar Vian kepada oerawat Ranti.
"Siap Nona, akan saya antarkan ke tempat Nona" ujar perawat Ranti.
Vian menunggu perawat Ranti sambil mematut matut pipinya yang habis kena tampar oleh Juan.
Tok tok tok, bunyi pintu ruangan yang diketuk dari luar.
"Masuk" ujar Vian dari dalam ruangannya.
Perawat Ranti membuka pintu ruangan Vian. Perawat Ranti menatap ke arah pipi Vian yang memang terlihat memerah itu.
"Dokter, kenapa dengan pipi dokter. Kelihatannya memerah sekali" ujar perawat Ranri sambil melihat pipi dokter Vian yang sudah memerah.
"Kamu pasti sudah tau Ranti. Jangan pura pura tidak tahu" ujar Vian sambil menatap perawat Rina.
"Maaf, dokter" ujar perawat Rina sambil menatap Vian.
"Tidak apa apa Ranti. Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan jejak merah ini?" tanya Vian kepada perawat Ranti.
"Gampang Nona. Sini saya kerjakan." ujar Ranti membawa Vian untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Vian.
Ranti mengeluarkan isi kotak make-up nya. Dia mengambil satu kotak yang isinya seperti pelembab tetapi warna yang sesuai dengan warna kulit Vian.
"Duduk sini dokter. Saya akan memoles wajah dokter dengan peralatan tempur saya ini" ujar perawat Ranti sambil mengeluarkan peralatan tempurnya.
Vian duduk di dekat perawat Ranti. Perawat Ranti mulai membuka kotak alat tempurnya itu.
"Ini maaf loh dokter, saya terpaksa harus memegang wajah dokter." ujar perawat Ranti yang sebenarnya segan memegang wajah Vian.
"Tidak apa apa Ranti, lakukan saja" ujar Vian sambil menatap ke arah Ranti.
'Lembutnya wajah dokter Vian ini lagi. pasti perawatannya mahal' ujar Ranti dalam hatinya saat memegang pipi dokter Vian yang lembut itu.
Ranti kemudian memasangkan foundation ke wajah Vian. Ranti dengan lembut mengusap wajah Vian. Wajah dari seorang dokter yang sangat baik hati itu. Tapi sayangnya gosip yang beredar di rumah sakit, membuat image dokter Vian menjadi memudar.
Ranti mulai melakukan perawatan kepada wajah Vian yang memiliki bekas tamparan itu. Ranti mengerjakan dengan sangat telaten. Dia tidak mau membuat Vian meragukan keterampilannya itu.
Setelah selama sepuluh menit Ranti mengerjakan wajah Vian, akhirnya pekerjaan itu selesai sudah.
"Selesai" ujar Ranti sambil menatap wajah Vian yang terlihat cantik itu.
Vian menuju wastafel, dia melihat wajahnya yang memang telah berubah menjadi cantik itu. Vian sendiri tidak mengenal dirinya sekarang lagi. Wajah Vian jauh berbeda dengan wajahnya sehari hari.
"Hay, kenapa wajah aku jadi secantik ini?" ujar Vian menatap wajahnya yang berubah sangat cantik.
"Ah kamu bisa aja Ranti. Kamu juga sangat cantik" ujar Vian memuji kecantikan Ranti.
"Ah kalau saya cantik karena polesan dokter. Kalau dokter cantik alami. Saat saya memegang wajah dokter aja, terasa sangat mulus dokter. Nggak ada sedikitpun rasa kesatnya." ujar Ranti memuji kecantikan Vian.
Vian tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti.
"Kalau saya boleh tahu dokter. Skincare merk apa yang dokter Vian pakai?" tanya perawat Ranti penasaran dengan skincare yang dipakai oleh Vian.
"Sama sekali tidak ada suster. Saya tidak memakai produk apapun. Modal saya ke rumah sakit hanya ini" ujar Vian sambil memperlihatkan kotak bedak miliknya.
Kotak bedak milik Vian isinya memang sangat luar biasa minimnya. Hanya sebuah bedak baby dan lipstik saja serta parfum keluaran dari brand ternama yang wanginya akan bertahan sangat lama sekali, sedangkan peralatan make-up yang lainnya tidak ada sama sekali di dalam tas make-up Vian.
"Pantesan wajah dokter Vian begitu mulus, ternyata sama sekali tidak ada memakai skincare. Aku benar benar kagum kepada dokter" ujar perawat Ranti sambil tersenyum.
Vian sama sekali tidak menjawab pertanyaan dan pernyataan dari perawat Ranti. Vian fokus menatap wajahnya di cermin.
"Dokter Vian, aku balik ke ruangan dulu ya" ujar Perawat Ranti sambil menatap Vian dari cermin.
"Sip. Makasi ya perawat Ranti. Akhirnya sudah hilang bekas tamparan itu" ujar Vian menatap wajah cantiknya.
Vian kembali duduk di kursinya. Dia tinggal menunggu Jero datang untuk menjemput dirinya. Vian membaca buku buku untuk perkuliahannya.
Tak berapa lama terdengar pintu yang di ketuk dari luar ruangan. Vian sudah tau siapa yang akan datang itu. Dia membuka pintu ruangannya. Terlihat sesosok pria tampan yang paling dirindui nya itu sudah berada di depan ruangannya sambil tersenyum.
"Hay" ujar Vian menyapa Jero.
Jero menatap wajah Vian dengan seksama. Jero benar benar memperhatikan wajah Vian yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Kenapa memerhatikan aku seperti itu?" tanya Vian sambil menatap Jero.
"Wajah kamu terlihat berbeda dari biasanya. Apa yang aneh ya?" ujar Jero sambil menggaruk garuk dagunya memandang wajah Vian dengan sangat seksama.
"Nggak ada yang aneh. Masih sama kok sayang" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero.
"Nggak beda. Ini asli beda" kata Jero masih menatap wajah Vian dengan tatapan begitu lekatnya.
"Nggak ada beda sayang. Sama" ujar Vian tetap ngeyel mengatakan kalau wajahnya masih sama dengan wajah yang biasanya.
"Sini duduk di sini saja dulu. Aku penasaran dengan wajah kamu. Aku yakin ini ada yang berbeda" lanjut Jero sambil meminta Vian untuk duduk di dekat dirinya.
Vian kemudian duduk di dekat Jero. Jatung Vian berdegub dengan sangat keras. Dia takut kalau Jero menyadari apa yang terjadi dengan wajahnya.
"Sayang, mendekat sini. Aku beneran penasaran dengan wajah kamu" ujar Jero meminta Vian untuk mendekat ke arah dirinya.
Vian mendekatkan wajahnya kepada Jero. Jero mengamati wajah Vian dengan seksama. Jantung Vian berdetak dengan sangat cepat. Dia takut kalau Jero mengetahui apa yang dilakukannya terhadap wajahnya.
"Sayang, kamu mau jawab jujur apa yang terjadi atau aku yang membukanya sendiri. Satu hal ya, kalau aku yang membukanya, maka kamu tau sendirilah ya, apa yang akan terjadi" ujar Jero menatap wajah Vian. Jero menatap lama mata Vian. Jero bisa melihat sebuah rahasia disimpan Vian di dalam hatinya.
"Sayang" ujar Jero memanggil Vian.
"Aku pake make-up." jawab Vian menatap wajah Jero.
"Terus?" ujar Jero selanjutnya.
"Nggak ada terusnya" jawab Vian sambil menatap Jero.
"Nggak yakin" jawab Jero.
"Sekali lagi sayang, mau ngomong sendiri atau" ujar Jero menatap Vian.
"Sayang, nggak ada kenapa kenapa. kamu kok maksa banget ya supaya jadi ada apa apa. Aneh kamu sayang" ujar Vian kepada Jero.
Vian masih berusaha mengelak dari pertanyaan dan rong rongan Jero.
"Oke sayang, berarti pilihan kamu sudah jelas. Aku kabulkan" jawab Jero sambil menatap ke arah Vian.
Jantung Vian berdetak sangat keras. Dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Jero. Vian menjadi sangat takut sekali. Dia menyesal kenapa dari tadi tidak berusaha menjawab pertanyaan Jero dengan jujur.
Jero berdiri dari duduknya. Jero berjalan menuju pintu ruangan Vian. Dia membuka pintu itu. Vian langsung tau apa yang akan dilakukan oleh Jero. Vian menepuk keningnya. Dia tidak bisa lagi berbuat apa apa. Semua yang dilakukannya tadi sia sia saja.
"Hendri, Erik, masuk. Angga Anggi gantikan posisi Hendri dan Erik" ujar Jero memberikan perintah kepada keempat pengawalnya itu.
Hendri dan Erik masuk ke dalam ruangan Vian. Mereka sudah tau apa yang akan terjadi. Hendri san Erik tidak akan bisa lari dari pertanyaan yang akan di ajukan oleh Jero nanti. Mereka harus menjawab jujur semua pertanyaan dari Jero.
"sepertinya Nona Vian tidak menjawab pertanyaan dari Tuan Jero. Makanya kita yang diminta untuk masuk ke dalam ruangan ini. " ujar Hendri berbisik kepada Erik saat mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu.
Hendri dan Erik berdiri di depan Jero dan Vian. Mereka berdua menatap lurus ke depan dengan sikap sempurna.
"jelaskan" perintah Jero dengan mengucapkan satu kata yang maknanya luar biasa itu.
Vian menggeleng lemah kepada kedua pengawal pribadinya itu. Jero menatap semua itu, Jero mengetahui kalau Vian memberikan kode kepada kedua pengawalnya.
"Hendri, Erik. Jelaskan atau kalian berdua saya masukkan ke dalam tempat rahasia itu" ujar Jero mengancam kedua pengawal Vian itu.
Padahal sebenarnya Jero bukan mengancam Hendri dan Erik. Jero sebenarnya mengancam Vian untuk membuka sendiri mulutnya. Jero ingin Vian jujur kepada dia. Jero tidak ingin Vian menutupi sesuatu dari dia.
Hendri dan Erik yang melihat tanda yang diberikan oleh Vian menjadi diam. Mereka tidak mungkin membantah perintah dari Vian. Perintah yang sudah tentu harus mereka patuhi.
"Oke. Kalian berdua masih ingin diam kan ya." ujar Jero yang berdiri dari duduknya.
Jero melayangkan satu tinjunya kepada Hendri dan Erik. Tinju Jero melekat tepat di perut mereka masing masing.
"Uhuk" bunyi batuk Hendri dan Erik berbarengan. Mereka tidak menyangka akan diberikan bogem. mentah oleh Jero di perut mereka masing masing.
Vian menatap Jero. Dia tidak menyangka Jero akan melakukan hal itu. Jero dengan teganya meninju perut kedua pengawal Vian. Vian ternganga melihat semua itu.
"Sayang, biar aku sendiri yang cerita ya. Jangan mereka lagi. Aku aja. Aku mohon sayang" ujar Vian memohon kepada Jero agar dia saja yang bercerita bukan kedua pengawalnya itu.
"Oke. Pilihan kamu sudah tepat sayang. Seharusnya dari tadi kamu memilih untuk menceritakan sendiri kepada aku. Bukan setelah aku memanggil mereka baru kamu akan bercerita sayang" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian.
"Mau gimana lagi. Aku kira kamu tidak akan memaksa, e e e e e e e e ternyata kamu memaksa aku untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Kamu memang tidak membiarkan aku lolos sekalipun sayang" ujar Vian sambil menatap Jero dengan tatapan kesalnya.
...****************...
...**Bagaimana reaksi Jero saat mendengar apa yang akan diceritakan oleh Vian nanti??...
Stay cun kakak. Tunggu lanjutannya ya. Tetap di karya aku ya. Baca juga karya lainnya dengan mengetik nama SUCIATI FDA TRIA**