
Pagi harinya Vian sudah bangun tepat pukul lima dini hari. Vian meraih ponselnya yang berdering karena alarm pukul lima pagi. Vian mematikan bunyi alarm. Dia kemudian menghubungi Jero. Vian takut kalau Jero nanti bangun terlambat karena semalam tidak tidur nyenyak.
"Hallo Vian, ada apa?" ujar Jero yang ternyata sudah bangun itu.
"Aku kira belum bangun, makanya nelpon subuh subuh. Kita berangkat jam enam ya Jer" ujar Vian kembali mengingat Jero tentang jam keberangkatan mereka menuju rumah sakit.
"Oke Vian sayang. Aku udah siap mandi. Ini mau makai pakaian. Tapi kamu keburu nelpon, makanya sampai nggak jadi makai pakaian" ujar Jero yang memang baru selesai memakai pakaian dalamnya saat Vian menghubunginya.
"Maaf. Aku kira tadi kamu ketiduran. Aku mandi dulu." ujar Vian.
Vian memutuskan panggilan telponnya dengan Jero. Vian malu kepada Jero. Vian mengira Jero belum bangun dari tidurnya. Eeee ternyata Jero sudah selesai mandi dan sekarang sedang beraiap siap untuk berangkat. Sedangkan Vian, sama sekali belum melakukan apa apa.
Vian kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus mandi dengan cepat supaya tidak terlambat menuju rumah sakit.
Sedangkan di kamarnya Jero kembali bersiap siap. Dia heran dengan kelakuan Vian yang menghubungi dirinya pagi pagi begini. Padahal biasanya walaupun berangkat subuh, Vian tidak pernah membangunkan Jero.
"Apa ada sesuatu tadi malam yang terjadi ya?"" ujar Jero mulai curiga.
Jero kemudian memakai pakaiannya dengan berggegas, dia harus mencek sesuatu di ponsel miliknya. Setelah selesai berpakaian, Jero kemudian mengambil ponselnya yang lain. Dia melihat rekaman CCTV kamarnya.
Betapa kagetnya Jero saat melihat apa yang disajikan oleh CCTV kamar. Vian masuk saat dia berteriak teriak menyebut kata kata Mommy. Jero semakin kaget saat mendengar Vian akan bertanya ada apa dengan Mommy Jero.
"Kenapa gue sampai lupa ngunci pintu ya" ujar Jero yang menyesalai kelalaiannya tadi malam.
"Apa yang harus gue jawab ke Vian tentang Mommy. Belum saatnya gue jujur sekarang ke Vian atas semua yang terjadi" lanjut Jero.
Jero terlihat berpikir keras. Dia tidak tau lagi harus menjawab apa nantinya kepada Vian, kalau Vian bertanya tentang Mommy.
"Bram" ujar Jero yang ingat adik angkatnya yang sangat banyak ide itu.
Jero kemudian menghubungi Bram. Bram yang sedang tidur mendengar dengan sayup sayup nada dering khusus untuk Jero. Bram mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Hallo Bang. Ada apa?" ujar Bram menyapa Jero saat dia mengangkat panggilannya.
"Vian mendengar gue nyebut nama Mommy. Apa yang harus gue katakan ke Vian, Bram. Kalau Vian menanyakan tentang Mommy" ujar Jero bertanya kepada Bram.
"Hah serius loe Bang?" ujar Bram langsung sadar dan kehilangan rasa ngantuk di matanya.
"Serius Bram. Makanya gue nelpon loe. Loe kan banyak ide. Ayolah Bram kasih gue ide" ujar Jero menuntut kepada Bram untuk memberikan dia ide menjawab pertanyaan Vian.
"Beri gue waktu berpikir sebentar Bang" ujar Bram.
Bram kemudian berpikir alasan yang masuk akal yang akan diberikan oleh Jero kepada Vian tentang masalah Mommy.
"Bang, kamu ngomong aja yang sebenarnya, katakan saja Mommy meninggal karena sakit. Kita saat itu tidak ada uang untuk membawa Mommy ke rumah sakit. Jadinya Mommy meninggal." ujar Bram memberikan saran kepada Jero untuk menceritakan tentang Mommy sejujurnya kepada Vian.
"Bang, minimal saat loe menceritakan semuanya kepada Vian, Vian tidak merasa dibohongi atau apapun lah itu namanya" ujar Bram memberikan masukan kepada Jero untuk berbicara langsung saja kepada Vian.
Jero berpikir sesaat. Dia menimbang nimbang saran yang diberikan oleh Bram kepada dirinya. Saran yang sangat bisa diterima oleh akal sehat Jero.
"Gue setuju Bang. Vian bukan gadis bodoh yang bisa ditipu" ujar Bram.
"Setuju.Udah dulu ya. Gue harus ngantar Vian ke rumah sakit sekarang, dia ada tindakan operasi. Loe dan Felix berhati hati ya." ujar Jero berpesan kepada Bram untuk selalu berhati hati.
"Siap Bang. Aku dan Felix akan selalu berhati hati. Kamu yang di luar sana yang paling harus berhati hati" ujar Bram balik berpesan kepada Jero.
"Oke sip. Gue putus dulu" ujar Jero.
Jero memutuskan panggilannya dengan Bram. Dia kemudian keluar dari kamar menuju tempat parkir mobil. Jero memanaskan mesin mobil Vian terlebih dahulu. Pada saat itulah Vian datang, dia terlihat sangat cantik dengan pakaian dokternya.
"Siap Nona dokter cantik?" sapa Jero kepada Vian.
"Siap Tuan sopir ganteng" jawab Vian sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke Jero.
"Wow mulai genit dia" ujar Jero yang kaget dengan cara Vian bereaksi.
"Aku cuma pengen memastikan, orang di depan aku ini udah tidak rasain lagi. Nanti dia teriak teriak lagi" ujar Vian mulai menyindir Jero.
"Maksudnya?" tanya Jero pura pura tidak tahu dengan apa yang dikatakan oleh Vian.
"Nggak ada maksud apa apa. Udah ayo jalan. Nanti macet lagi, telat sampe rumah sakit" ujar Vian yang langsung masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Jero menatap Vian sambil tersenyum tipis. Dia kemudian juga masuk ke dalam mobil. Jero melajukan mobil menuju rumah sakit.
'Vian Vian, baru aku goda gitu saja kamu udah nggak bisa jawab. Gimana cara kamu mau bertanya tentang Mommy' ujar Jero dalam hatinya.
Vian terus aja membaca melalui ponselnya. Vian harus memastikan rekam medis pasiennya kali ini. Vian tidak mau gegabah mengambil keputusan. Walaupun dia bukan dokter utama untuk tindakan operasi ini, tetapi dia masih bisa memberikan masukan untuk dokter pertama dalam mengambil keputusan.
"Apa yang kamu baca sayang, terlihat serius sekali?" tanya Jero dari kursi depan. Jero dari tadi memperhatikan Vian yang terus membaca melalui ponselnya itu.
"Ini rekam medis dari pasien yang akan melakukan operasi nanti sayang. Aku nggak mau mengambil keputusan yang salah. Makanya, aku harus memeriksa ulang rekam medis pasien." ujar Vian menerangkan kepada Jero apa yang sedang dibacanya melalui ponsel miliknya itu.
"Bagus itu sayang, kamu harus memastikan keadaan pasien selama ini. Aku sangat setuju dengan apa yang kamu lakukan." ujar Jero yang setuju dengan cara Vian dalam menghadapi operasi pasiennya.
"Makasi sayang Aku rasa semua dokter melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan sekarang. Kami semua ingin memberikan yang terbaik untuk pasien dan keluarganya. Jadi, pasti kami akan membaca berulang kali rekam medis pasien" ujar Vian menerangkan prosedur yang akan dilakukan oleh setiap dokter saat akan memberikan tindakan kepada pasien mereka.
Akhirnya mobil sudah masuk ke dalam area rumah sakit. Vian diturunkan oleh Jero di depan lobby rumah sakit.
"Sayang, aku langsung ke ruang operasi. Kamu pergi beli sarapan tolong ya. Aku operasi hanya satu jam. Setelah aku selesai operasi, kita akan langsung sarapan" ujar Vian kepada Jero.
"Sip. Mau makan apa?" tanya Jero.
"Nasi goreng gerobakan aja. Malas makan makanan elit" ujar Vian yang ntah kenapa tiba tiba pengen makan nasi goreng gerobakan.
"Oke sip. Au beli dulu" ujar Jero.
Vian masuk ke dalam rumah sakit. Sedangkan Jero pergi membeli nasi goreng pesanan Vian. Jero akan membeli nasi goreng gerobakan yang dijual anak buahnya di dekat mansion Juan Aleksander. Di sana semuanya terjamin. Jadi Jero aman memberikan kepada Vian