My Affair

My Affair
BAB 92



Vian kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia akan membersihkan tubuhnya yang sudah berbau bumbu dapur itu. Vian berdiri di bawah shower yang sudah mengeluarkan air hangat itu. Vian menikmati air hangat yang membasahi tubuhnya tersebut, Vian kemudian menyabuni tubuhnya dan juga tidak lupa menyampho rambut panjang hitam dan bergelombang miliknya. Vian mandi tidak terlalu lama, dia tidak mau semua orang menunggu dirinya di meja makan seperti kebiasaan Vian di negara I.


Akhirnya setelah berkutat dengan ritual mandi yang terlalu ribet karena Vian seorang wanita, Vian kemudian ke luar dari dalam kamar mandi. Vian menuju walking closet miliknya,Vian melihat begitu banyak baju yang terpampang di almari yang transparan tersebut.


"Wow ini benar benar seperti di sebuah rumah mode, aku bisa dengan gampangnya melihat pakaian mana yang harus aku pakai." ujar Vian sambil melihat beberapa gaun midi dress yang bisa dipakainya untuk di rumah.


Vian melihat setiap gaun itu dengan teliti. Akhirnya pilihan Vian jatuh kepada satu midi dress berwarna baby blue warna favorit Vian. Vian kemudian mengambil dress tersebut, setelah itu Vian berjalan ke arah meja kaca yang di dalamnya terdapat pakaian dalam milik Vian. Vian mengambil pakaian dalamnya yang sewarna dengan warna dress yang dipilihnya tadi.


Setelah mengambil semua kebutuhannya, Vian mulai memakai semua atribut kewanitaannya itu. Vian kemudian berdiri di depan meja rias miliknya. Dimana di atas meja rias itu sudah ada berbagai peralatan make up yang merknya sama dengan yang biasa Vian pakai di negara I.


"Wow semua yang biasa gue pakai di negara I ada semua di meja ini. Jero benar benar perhatian kepada gue" ujar Vian dengan nada bangga dan bahagianya memiliki Jero bedara di sisi dan hatinya.


Vian mulai memasangkan semua skincare ke wajah cantiknya itu. Vian memoles wajah cantiknya dengan riasan sederhana saja. Vian tidak mau terlihat seperti ondel ondel, apalagi Jero sama sekali tidak menyukai Vian yang tampil dengan riasan wajah terlalu norak.


Setelah yakin dengan penampilannya Vian menuju kembali ke tempat bagian terpenting dari walkingclosset miliknya. Vian melihat deretan jam tangan mewah yang ada di sana dan ternyata yang lebih mengagetkan Vian lagi adalah


"Wow bener ini semua perhiasan ini bisa gue pakai ya?" tanya Vian saat melihat ada berbagai macam perhiasan di sebelah jam mewah tersebut.


Vian mengambil sebuah cincin, kalung dan gelang yang ada ini sial huruf J. Vian sengaja memilih itu untuk dipakainya setiap hari. Vian kemudian mengambil sebuah jam tangan mewah keluaran dari rumah mode ternama. Vian memakai semua itu dengan rasa bangganya. Dia sangat senang Jero memperlakukannya dengan sebegitunya.


Setelah Vian merasa penampilannya sudah sesuai dan sudah bisa dibawa keluar kamar, Vian kemudian membuka pintu kamarnya. Dia mengetuk pintu kamar Jero yang berada tepat di samping pintu kamar Vian. Jero membuka pintu kamarnya. Dia ternganga melihat kecantikan Vian.


"Sayang, kamu udah tiap hari melihat aku seperti ini masih juga harus mangap kayak gitu" ujar Vian yang selalu protes kalau Jero menatap dirinya dengan tatapan seperti itu.


"Gimana nggak akan mangap sayang, kamu selalu setiap hari semakin cantik. Membuat aku tidak bisa untuk tidak mangap" jawab Jero dengan jujur.


"Ye lah" ujar Vian sambil tersenyum kepada Jero.


Jero kemudian melihat kalung yang dipakai oleh Vian, Vian yang tau pandangan Jero kemana mengangkat gelang dan cincin yang dipakainya. Memang sangat sederhana tetapi berkelas.


"Kamu memakai yang paling tepat sayang" ujar Jero bangga dengan pilihan perhiasan dari Vian.


"Aku ingin kamu selalu ada di hati, nadi, dan juga jari jari aku sayang" jawab Vian sambil menggandeng tangan Jero untuk turun kelantai dua mansion.


Felix dan Bram yang melihat sepasang kekasih itu, hanya bisa saling bertatapan. Mereka berdua sangat bersyukur Jero sudah kemabli lagi. Jero sudah bisa tersenyum lagi semenjak dirinya mendapatkan Vian sebagai kekasih hatinya itu.


Mereka berempat kemudian turun dari lantai dua mansion, mereka menuju meja makan. Betapa kagetnya mereka berempat saat melihat Tama sudah duduk di meja makan lengkap dengan jas kebanggaannya itu.


"Woi Bang, mansion loe udah tetanggaan dengan mansion kami ini ya?" tanya Bram menyindir Tama yang sudah datang sepagi ini.


"Tapi udah gue katakan, kalau gue akan makan tiga kali sehari di mansion ini. Makanan yang dibuat oleh Vian sangat luar biasa enaknya dibandingkan koki di mansion gue" ujar Tama yang membuktikan apa yang dikatakan oleh dirinya kemaren malam sesaat sebelum pulang menuju mansion masinng masing.


" Dasar Tama, nggak boleh nampak yang lezat plus gratis" ujar Bram.


"Lah elo memang kebangetan kali ya Bang. Udahlah loe makan gratis di mansion gue, sekarang kursi gue juga loe bajak" ujar Bram baru sadar kalau Tama duduk di kursi biasa dia tempati.


"Bram, sebanyak itu kursi kenapa loe harus duduk di kursi ini, duduk ajalah di kursi yang lain" ujar Tama meminta Bram untuk duduk di kursi yang lainnya.


Bram melihat ke arah Jero. Jero menggangguk meminta Bram duduk di kursi yang lain saja. Mereka sudah harus sarapan karena Felix dan Bram harus berangkat ke perusahaan utama. Akhirnya Bram dengan sedikit rasa marahnya kepada Tama, duduk di kursi sebelah Felix. Mereka tidak ada yang duduk di sebelah Vian, karena Jero tidak mengizinkan itu terjadi kecuali perempuan yang duduk di sebelah Vian.


Vian mengambilkan sarapan untuk Jero, sedangkan yang lainnya diambilkan oleh pelayan. Hal berbeda terjadi kepada Bram, dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau makanannya ditakar oleh orang lain.


"Ini nasi apa?" tanya Tama saat melihat nasi yang selama ini tidak pernah dilihatnya ada yang seperti ini berbumbu dan juga wangi.


Saat mereka mau memakan sarapan pagi merek ayang sudah terhidang itu. Jeri dan Greta datang bersama. Jero dan yang lainnya menatap ke arah Greta dan Jeri yang datang bersamaan.


"Loe tinggal serumah?" tanya Tama kepada Jeri dan Greta.


"Yup, kenapa sirik?" tanya Jeri yang langsung duduk di sebelah Greta.


Sedangkan Greta duduk di sebelah VIian. Greta mengambilkan sarapan untuk Jeri dan untuk dirinya sendiri.


"Ye nggak lah, gue senang loe berdua udah tinggal serumah" jawab Tama sambil menatap ke arah Greta dan Jeri.


"Kok?" tanya Bram yang penasaran dengan alasan Tama.


"Jadi, makan, istirahat Jeri bisa di kontrol oleh Greta, kalau tidak dia akan seenaknya aja makan dan istirahat" ujar Tama mengatakan kenapa dia sangat senang kalau Jeri dan Greta sudah tinggal dalam satu rumah.


"Udah ngobrolnya, sekarang makan" ujar Jero mengakhiri percakapan yang terjadi di meja makan itu sekarang.


Mereka kemudian sarapan dalam diam, mereka benar benar menikmati nasi uduk yang dibuat oleh Vian. Masakan yang tidak pernah dirasakan oleh Tama dan Greta.


"Ini enak banget" teriak Tama yang sukses menambah nasi uduk sampai tiga kali.


Nasi uduk yang dibuat oleh Vian satu mejig habis oleh mereka sekeluarga. Sedangkan yang satu mejig lagi, memang diberikan oleh Vian kepada semua pelayan yang ada di mansion itu. Vian tau itu akan kurang, tapi Vian ingnin mereka berbagi dan memiliki cara sendiri untuk makan sarapan itu dengan adil dan semua maid mencoba nasi uduk yang dibuat oleh Vian.


"Vian ini enak, ajari gue ya" ujar Greta yang sangat ingin belajar memasak saat dia melihat Jeri makan dengan sangat lahapnya.


"Oke sip, gue akan ajari elo gimana cara memasak semua masakan negara I" ujar Vian berjanji kepada Greta.


"Felik, Bram, kalian ikut dengan Jeri keperusahaan." perintah Jero kepada kedua adiknya itu.


"Gue antar Greta ke rumah sakit dulu Jer" ujar Jeri yang memang selalu melakukan hal itu kepada Greta.


"Mereka bisa pergi dengan mobil mereka sendiri Jeri" jawab Jero dengan singkat.


Mereka semua kemudian meninggalkan mansion. Tinggallah Jero dan Vian yang masih berada di mansion.


"Sayang, kita hanya di mansion saja?" tanya Vian kepada Jero.


Vian tidak ingin menghabiskan hari harinya dengan hanya di mansion saja. Dia ingin berjalan jalan keluar untuk menikmati dan melihat pemandangan di negara U.


"Tidak sayang, kita akan pergi ke suatu tempat yang akan membuka kisah masa lalu aku sayang" jawab Jero


"Kamu siap siap ya, jangan pingsan lagi" ujar Jero meminta Vian untuk tidak pingsan.


"Haha haha. Oke sayang tidak akan pingsan. Aku tidak lelah hari ini" jawab Vian.


"Oke kamu tukar dulu sepatu tinggi kamu itu dengan yang flat saja" ujar Jero meminta Vian untuk menukar sandal yang sedang dipakainya.


Vian kembali kekamarnya, dia akan menukar sendalnya dengan yang flat dan mengambil tas tangan miliknya yang di dalamnya sudah ada semua kebutuhan Vian.


Setelah mengambil semua yang dibutuhkan oleh dirinya Vian kembali menuju Jero yang sudah menunggu Vian di lobby mansion. Mereka berdua kemudian naik ke dalam sebuah mobil sport warna hitam. Di belakang mobil yang dikemudikan oleh Jero, juga ada satu mobil warna hitam yang isinya adalah pengawal dari Jero dan Vian yaitu Hendri dan Erik.