My Affair

My Affair
151 KERETA API



Jero, Vian, Felix, Bram, Jerry, Tama dan Greta, mereka semua sudah berada di dalam satu mobil dengan di supiri oleh dua orang pengawal. Mereka kali ini akan menuju stasiun tempat mereka akan memulai perjalanan menuju negara F dan Negara G. Perjalanan yang di gadang gadang oleh bram sebagai perjalanan yang mengasikkan.


Vian selama di perjalanan menuju stasiun selalu memegang tangan zero dengan begitu kuatnya. Hal ini mengandung kecurigaan dari Jero.


" kenapa megang aku terlalu kuat?" Kata Jero yang akhirnya bertanya kepada Vian, kenapa Vian memegang tangannya dengan begitu kuat.


" aku cuma takut saja karena ini perdana melakukan perjalanan jauh menggunakan kereta api. Biasanya di negara kita, aku hanya melakukan perjalanan dari kota J ke kota Y. Jarak yang tidak begitu jauh untuk dilakukan dengan perjalanan memakai kereta api" kata Vian menceritakan kepada Jero kenapa dirinya harus memegang Jero dengan begitu kuat.


" last kamu aja takut, terus kenapa masih mentah untuk pergi jalan-jalan naik kereta api?" tanya Jero kepada Vian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan apa yang diinginkan oleh Vian.


" bagaimana lagi sayang, aku juga penasaran dengan cerita bram yang mengatakan sangat asik perjalanan menuju negara tersebut dengan memakai kereta api. Aku sangat penasaran dengan pemandangan yang disajikan" kata Vian menyampaikan alasannya kenapa tetap bersikukuh ingin pergi memakai kereta api dalam perjalanannya menuju negara f tersebut.


" hnangisem baiklah sayang nanti kalau kamu takut jangan nangis ya" ujar Jero sambil menatap kearah Vian sambil tersenyum kecil.


Tema yang tepat duduk di sebelah jero mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada Jero sahabat baiknya itu.


" jadi kamu belum pernah naik kereta api kakak ipar?" kata Tama sambil menatap sekilas ke arah Vian, karena tiba-tiba saja tangan Jero sudah mencubit lengan Tama dengan begitu kuat.


" belum sama sekali kalau jauh tapi kalau dekat-dekat sudah sering" jawab Vian sambil melihat sekilas ke arah Tama.


Tama mengganggu angguk kan kepalanya seperti mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Tama sebenarnya sedikit kurang percaya dengan apa yang disampaikan oleh Vian kepada dirinya. Tetapi Tama juga tahu dan sangat mengerti kalau Vian sama sekali tidak pernah berbohong tentang hal apapun. Makanya mau tidak mau Tama harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Apalagi masalah seperti ini tidak ada gunanya juga bagi Vian untuk berbohong.


Mobil yang dikemudian oleh pengawal akhirnya berbelok masuk ke dalam parkiran stasiun. Mereka semua kemudian turun dari dalam mobil.


"Selamat datang Tuan Asander" sapa seorang pegawai dari stasiun yang ditugaskan untuk menunggu kedatangan Jero dan yang lainnya di stasiun mereka.


Jero mengangguk menjawab sapaan yang diberikan oleh pegawai stasiun tersebut kepada dirinya.


"Silahkan ikuti saya. Saya akan mengantarkan Tuan Tuan dan Nona Nona menuju kereta api yang telah menanti kedatangan Tuan Tuan dan Nona Nona" ujar pegawai stasiun kereta api sambil menatap ke arah Jero dan yang lainnya bergantian.


Mereka semua kemudian berjalan mengikuti pegawai stasiun tersebut. Mereka kemudian menuju kereta api yang telah menunggu di lajur rel nya itu.


" emang kenapa?" ujar Jero bertanya kepada Vian, kenapa Vian sampai mengatakan hal itu kepada dirinya.


Sebuah kekaguman yng tidak bisa di tutupi oleh Vian. Vian secara langsung mengatakan kepada Jero kekagumannya terhadap kereta api yang akan ditumpangi oleh dirinya saat ini.


"Di negara kita belum ada ntah aku yang nggak tau, ada kereta api sekeren ini" ujar Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya saat dia mengatakan kekagumannya dari kereta api yang akan ditumpangi oleh dirinya saat ini.


"Sayang sayang, bisa jadi di negara kita ada yang lebih bagus. Tetapi, kamunya aja yang nggak pernah naik. Makanya besok atau kapan kapan, kamu harus naik kereta api itu, biar kamu merasakan betapa enaknya naik kereta api tersebut." ujar Jero menjawab praduga atau dugaan yang diberikan oleh vian kepada dirinya saat menanyakan tentang kereta api di negara mereka.


Mereka semua sudah duduk di posisi masing masing. Vian duduk di sebelah Jero. Vian memilih untuk duduk di dekat kaca jendela kereta api. Vian ingin melihat semua pemandangan yang disajikan oleh alam saat ini.


Beberapa palayan yang akan melayani keluarga besar Asander selama perjalanan menggunakan kereta api, sudah berdiri di bagian depan kereta api. Mereka menatap ke arah Tuan tuan dan nona nona tersebut dengan bergantian. Mereka sudah menghafal nama nama mereka masing masing. Mereka sudah diberikan fhoto dan nama nama mereka sejak Bram memutuskan untuk menyewa kereta api itu.


"Selamat Pagi, kami ucapkan kepada Tuan Tuan dan Nona Nona. Selamat datang di atas kereta api Sun Morning ini. Kami berlima akan melayani semua kebutuhan Tuan Tuan dan Nona Nona selama tiga minggu ke depan, saat Tuan Tuan dan Nona Nona berada di kereta api" ujar salah satu pelayan yang di tunjuk sebagai juru bicara dari perwakilan jawatan kereta api itu.


"Kereta api Sun Morning yang sedang Tuan Tuan dan Nona Nona naik sekarang ini terdiri dari tujuh gerbong kereta. Satu adalah bagian tempat masisnis bekerja. Dua gerbong untuk para karyawan kereta, yaitu kami kami ini. Ketiga adalah gerbong tempat kita berada sekarang. Keempat atau yang tepat berada di belakang kita adalah restoran. Gerbong kelima dan keenam adalah tempat beristirahat, di gerbong itu sudah ada kamar kamar yang dilengkapi kasur untuk beristirahat. Gerbong terakhir adalah kamar mandi lengkap dengan tempat beribadah" ujar juru bicara kereta api menyampaikan bagian bagian yang ada di kereta api tersebut.


Juru bicara dari kereta api sengaja diam sebentar untuk menunggu apakah ada pertanyaan yang akan diajukan oleh Tuan Tuan dan Nona Nona yang berada di depan mereka saat ini. Tetapi setelah menunggu beberapa menit, ternyata tidak ada pertanyaan yang akan diajukan oleh mereka yang berada di gerbong tersebut. Jero dan yang lainnya hanya duduk diam saja. Sama sekali tidak ada berbicara atau bertanya kepada juru bicara itu.


"Baiklah kalau tidak ada pertanyaan, kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Selepas dari stasiun, Tuan Tuan dan Nona Nona bisa menuju restoran untuk menikmati cemilan dan hidangan yang kami sediakan" ujar juru bicara kereta api menyampaikan kepada semua yang berada di gerbong itu tentang pelayanan yang mereka berikan.


Juru bicara kembali diam sesaat. Mereka menunggu apakah ada pertanyaan yang akan diajukan oleh Jero dan yang lainnya, atau tidak sama sekali.


Ternyata setelah menunggu sekian menit, sama sekali tidak ada pertanyaan yang akan diajukan oleh Jero kepada juru bicara itu.


"Baiklah kalau tidak ada pertanyaan lagi, kami undur diri. kalau di antara Tuan dan Nona ada memerlukan kami, tinggal tekan tombol merah yang ada di kursi Tuan dan Nona. Terimakasih, selamat menikmati perjalanan" ujar juru bicara sambil tersenyum


Jero dan yang lainnya mengangguk. Para karyawan kemudian pergi ke tempat tugas mereka masing masing. kereta api kemudian perlahan meninggalkan stasiun kereta api.