
Sore harinya Vian telah selesai bekerja. Dia juga telah merapikan semua barang barangnya. Vian juga telah membersihkan meja kerjanya dan meletakkan kembali semuanya ke tempat semula. Semua sudah kembali rapi, Vian sangat suka dengan kerapian. Makanya setiap selesai bekerja Vian akan selalu membersihkan ruangan pribadinya.
Vian membuka pintu ruangan dan menguncinya. Dia melihat Jero yang sedang serius menerima telpon dari seseorang. Vian menatap lama Jero. Setelah lama Jero tidak juga selesai menelpon, Vian memutuskan untuk berjalan mengendap endap ke arah Jero. Tetapi, siapa sangka Jero sudah tau siapa yang akan mengagetkannya.
"Oke sip. Saya akan menjaga Nyonya Tuan." ujar Jero pura pura menerima telpon dari Juan Alexsander. Jero tidak ingin Vian bertanya siapa yang menghubunginya. Jero tidak ingin Vian curiga ataupun cemburu. Jero sangat menjaga perasaan Vian.
"Yah dia lagi." ujar Vian sambil melongos kesal karena yang menghubungi Jero adalah Juan Alexsander manusia yang dihindari oleh Vian untuk bertemu tatap muka. Vian benar benar tidak ingin mendengar nama Juan lagi. Dia seperti alergi mendengar nama itu di sebut sebut.
"Apa?" ujar Jero sambil menatap Vian yang mengatakan kalimat tersebut dengan sengaja.
"Nggak ada apa apa." jawab Vian sambil menatap Jero.
"Terus?" ujar Jero menatap Vian.
"Kenapa nggak jadi ngagetin aku?" tanya Jero.
"Males aja, kamu lagi telponan dengan dia." jawab Vian mengungkapkan kejujuran kenapa dia tidak jadi mengagetkan Jero.
"Hahahaha. Santai aja dong, nggak boleh jutek. Aku kan kerja dengan dia." ujar Jero sambil mengacak rambut Vian dengan sayang.
"Ye" ujar Vian protes rambutnya diacak acak oleh Jero.
"Sudah siap untuk pulang?" tanya Jero kepada Vian.
Vian mengangguk. Mereka kemudian berjalan menuju parkiran mobil. Vian berjalan paling depan. Sedangkan Jero mengikuti dari belakang. Mereka tidak ingin terlihat tidak seperti asisten dengan Nyonya. Mereka tidak ingin manjadi subjek pembahasan banyak orang.
Mereka berdua naik ke atas mobil dengan Vian duduk di kursi belakang. Mereka tidak mau membuat orang orang di rumah menjadi curiga kalau Vian duduk di kursi depan sebelah Jero. Vian dan Jero tidak ingin repot repot menjelaskan ke semua orang kenapa Vian duduk di depan bukan di belakang.
Jero melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dia sudah mengetahui kalau Juan Alexsander sedang terlilit masalah yang lumayan berat. Jero sengaja tidak memberitahukan kepada Vian, karena kalau diberitahu nanti Vian bisa mencurigai dirinya kenapa Jero bisa tau kalau Juan sedang terlilit masalah.
Mobil yang dikendarai oleh Jero berbelok masuk ke dalam mansion keluarga Alexsander. Jero memberhentikan mobil tepat di pintu masuk mansion. Vian melihat mobil Juan sudah parkir di tempatnya.
"Perasaan belum lima hari. Kenapa udah pulang aja?" ujar Vian menatap mobil Juan.
"Capek kali." ujar Jero sambil tersenyum ke arah Vian.
"Capek kahtun kahtun ya." ujar Vian sambil turun dari mobil.
"Cemburu?" ujar Jero yang masih terdengar oleh Vian.
"No." jawab Vian sambil menutup pintu.
Vian tidak cemburu tetapi Vian kesal, kalau Juan sudah pulang maka dia tidak akan leluasa lagi di rumah. Makanya Vian menjadi kesal saat melihat mobil Juan sudah ada di tempat biasa.
Vian masuk ke dalam rumah. Sedangkan Jero memarkir mobilnya di tempat biasa. Jero kemudian mencari informannya yang selalu mengatakan apa yang terjadi kepada Jero.
"Apa Tuan Juan sudah pulang Bik? Saya tadi melihat mobilnya sudah di parkiran seperti biasa." ujar Jero sambil mencomot sepotong buah melon yang dipotong potong Bik Ina.
"Sudah. Tapi langsung masuk ke dalam kamae pribadinya " ujar Bik Ina memberikan informasi secara tak sadar kepada Jero.
"Apa dia terlihat sedang emosi?" tanya Jero lagi yang butuh banyak informasi saat ini.
"Yup. Saat pulang Tuan muda membanting pintu ruang utama. Setelah itu dia langsung masuk kamar dan tidak keluar keluar lagi. Bibik juga tidak mengerti kenapa Tuan Muda seperti itu." ujar Bik Ina kepada Jero.
"Mungkin capek dan letih habis perjalanan keluar kota Bik." ujar Jero sambil menahan senyumnya.
"Bisa jadi." ujar Bik Ina yang kembali melanjutkan membuka kulit buah dan memotongnya.
Tiba tiba saat Jero masuk mengambil air minum dari dalam almari pendingin, terdengar teriakan menggelegar Tuan Muda Alexsander.
"Vian!!!!!!!!!" teriak Juan Alexsander dengan begitu kerasnya hingga akan membuat orang yang mendengar teriakannya akan menjadi tuli seketika.
Vian yang baru selesai mandi dan beres beres bergegas keluar kamar. Dia tidak ingin teriakan berikutnya datang.
"Vian!!!!!!!!!!" terdengar teriakan berikutnya dari Juan.
Vian setengah berlari masuk ke kamar Juan. Jero yang melihat mulai kepo. Jero naik ke lantai dua rumah. Dia ingin mendengar apa yang terjadi antara Vian dan Juan di kamar Juan.
Plak. Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Vian. Vian memegang pipinya yang memerah akibat tamparan keras yang diterimanya dari Juan.
"Apa salahku lagi." teriak Vian yang sekarang sudah tidak memikirkan lagi nasib keluarganya. Keluarga yang telah menjual dirinya ke seseorang pengusaha yang kejam.
Keluarga yang tega menjuak anaknya demi sebuah kerjasama bisnis. Pernikahan yang oada akhirnya membuat anak mereka menjadi sengsara, sedangkan mereka asik menikmati hasil dari pernikahan bisnis itu.
"Semenjak aku nikah dengan kau tidak ada satupun keberhasilan yang diraih perusahaanku. Semuanya hanya kehancuran." teriak Juan murka.
Juan memuntahkan semua kekesalannya kepada Vian. Juan sama sekali tidak memikirkan perasan Vian. Dia hanya menginginkan kemarahannya, rasa kesalnya tersalurkan. Tidak akan dipendamnya sendiri rasa itu.
"Makanya ceraikan aku. Biar perusahaan itu kembali jaya." balas Vian dengan teriakan yang lebih menggelegar.
"Jangan mimpi." ujar Juan makin murka mendengar permintaan Vian yang tidak masuk diakalnya itu.
Juan kembali melayangkan tangannya ke arah pipi Vian. Vian menangkis dengan tangannya. Dia tidak membiarkan lagi Juan untuk menamparnya.
"Jangan pernah menganggap aku sampah Tuan Juan. Aku berhak untuk bahagia." ujar Vian yang murka dengan sikap Juan.
"Hahahaha. Seseorang yang sudah aku beli tidak berhak untuk bahagia." jawab Juan dengan murka.
Vian kemudian keluar dari kamar Juan. Dia membanting pintu dengan sangat keras. Vian benar benar sudah tidak bisa lagi menerima hinaan dari Juan. Vian sudah muak diperlakukan seperti binatang oleh Juan.
Jero melihat Vian keluar dari kamar Juan dalam keadaan marah. Dia menarik tangan Vian dan membawa Vian masuk ke kamarnya. Jero memeluk Vian. Dia tidak lupa mengunci kamar Vian terlebih dahulu. Jero tidak ingin ketahuan oleh orang lain kalau dia berada di kamar Vian saat ini.
Vian menangis dalam pelukan Jero. Dia menangis terisak isak memikirkan nasibnya yang benar benar sial. Dia sama sekali seperti tidak berhak untuk bahagia.
"Jero, kenapa aku seperti tidak berhak untuk merasakan bahagia. Kenapa??" ujar Vian sambil menangis.
"Kenapa dia harus seperti itu kepada aku Jero. Aku salah apa?" tanya Vian lagi.
"Aku nggak pernah ingin menikah dengannya. Kenapa aku dituduh membuat perusahaannya gagal terus. Padahal selalu aku mendokan semoga perusahaannya maju." ujar Vian masih dengan tangisnya.
"Jero, aku ingin pergi. Bawa aku pergi." ujar Vian frustasi berat dengan semua kejadian yang menimpa dirinya.
"Aku udah nggak sanggup lagi tinggal di sini. Lama lama aku di sini aku bisa gila Jero. Aku tidak ingin gila. Aku ingin bahagia Jero." ujar Vian yang terisak isak menangis.
Vian meluapkan semua kekesalannya di dada Jero. Jero dengan setia memeluk Vian. Mereka cukup lama berdiri.
Vian masih terus memeluk Jero. Sampai dirasa Jero kalau Vian sudah kembali tenang. Jero mengangkat wajah Vian. Ternyata Nyonya Mudanya itu sudah tertidur dalam tangisnya. Jero menggendong Vian, dia membaringkan Vian di atas ranjang besarnya.
Setelah menyelimuti Vian, Jero keluar dari kamar Vian. Dia ingin melihat Juan. Tapi sayangnya Juan terlihat meninggalkan mansion dengan tergesa gesa.
Bik Ina yang sedang berada di pantry melihat ke arah Jero yang baru turun dari tangga.
"Kamu dari mana?" tanya Bik Ina.
"Dari lantai atas Bik. Kenapa?" tanya Jero.
"Wah perang dunia sudah terjadi lagi. Nyonya Muda kembali ditampar oleh Tuan Muda." ujar Bik Ina.
"Kapan?" tanya Jero pura pura tidak tau.
"Sebentar ini." jawab Bik Ina sambil mengusap air matanya.
"Kenapa menangis bik?" tanya Jero
"Gimana ndak akan menangis. Aku sedih melihat Nyonya Muda yang selalu menjadi pelampiasan Tuan Muda." jawab Bik Ina yang sangat sayang dengan Vian.
Bik Ina akan selalu merasa kasian melihat Vian yang selalu disiksa oleh Juan.
"Sekarang kemana perginya Nyonya Muda dan Tuan Muda?" tanya Jero.
"Nyonya kayaknya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Tuan Muda seperti biasa kalau udah punya masalah. Kemana lagi kalau nggak mabuk." ujar Bik Ina memberitahukan kemana Tuan Mudanya pergi.
"Oh. Saya kebelakang dulu Bik. Mau istirahat." ujar Jero yang meninggalkan Bik Ina di dapur.
Jero memastikan sekelilingnya aman. Dia sudah memasang alat peredam di dinding kamarnya. Jadi teriakpun Jero di kamar, tidak akan ada orang yang mendengar.
Jero mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Jero menghubungi Felix orang kepercayaannya yang akan selalu setia melayani apa yang dikatakan oleh Jero.
"Felix laporan" ujar Jero.
"Sabar Tuan Muda. Saya sedang makan. Bisa tunggu sebentar?" ujar Felix yang baru bisa menikmati santap malamnya setelah melakukan apa yang diinginkan oleh Jero tadi pagi.
"Felix, lima menit." ujar Jero memberikan limit waktunya kepada Felix.
Jero memutuskan saja panggilan itu. Felix hanya bisa menatap ponsel miliknya. Sedangkan kepala pelayan berusaha menahan senyumnya melihat Felix yang sedang kesal.
"Ketawa ketawa aja Pak Hans. Memang sudah nasib saya melayani Tuan Muda gesrek itu." ujar Felix yang sudah kadung kesal dengan tingkah Jero.
"Sabar Tuan Felix. Tuan Felix taukan kenapa Tuan Muda bisa seperti itu." ujar Pak Hans sambil tersenyum kepada Felix.
"Sejujurnya saya tidak tau Pak Hans, apa yang terjadi dengan Jero. Apa Pak Hans bisa memberitahu saya?" ujar Felix menatap Pak Hans.
Deringan ponselnya membuat Felix menatap layar ponsel. Tuan Muda Calling tertulis di sana.
"Yah lima menit berjalan dengan sangat cepat." ujar Felix sambil menatap layar ponselnya.
Felix mengangkat panggilab itu. Dia tidak ingin Jero murka lebih parah lagi.
"Felix jangan tanya apapun kepada Pak Hans. Cukup besok saya kasih tau." ujar Jero yang mengetahui kalau Felix berencana untuk bertanya kepada Pak Hans yang sudah ikut dengan Jero dari dia bayi.
"Hahahaha. Maaf Jero. Bukan maksud." ujar Felix yang nggak mau Jero menjadi murka.
"Sekarang laporkan." perintah Jero kepada Felix.
"Siap Tuan Muda." jawab Felix.
"Tadi saat Tuan Muda meminta saya untuk meeksekusi secara perlahan lahan. Saya hanya membuat satu kapal milik perusahaan Alexsander harus berurusan dengan migrasi negara A. Tuan Muda taukan sahabat kita di sana menjadi kepala imigrasi. Nah kapal itu tidak lulus tes. Makanya harus tertahan di sana." ujar Felix melaporkan apa yang dilakukannya kepada Juan yang sampai membuat Juan murka.
"Apa isi kapal?" tanya Jero.
"Wah lengkap. Paling penting kapal akan ditahan selama lima belas hari. Sahabat kita yang di sana akan mempersulit prosesnya. Jadi, kita tinggal tunggu saja, perusahaan rekanan dari Alexsander akan mengamuk." ujar Felix.
"Setelah itu sudah tau kan apa yang akan terjadi." kata Felix yang ternyata lebih licik dari Jero.
"Hahahahaha. Ternyata loe lebih licik dari gue Felix." kata Jero yang baru tau kalau Felix ternyata licik.
"Gue berguru dari siapa. Yang namanya murid itu harus mengambil semuanya dari guru dan menambah dengan bakatnya sendiri." ujar Felix ngeles.
"Ya serah loe. Makasi atas kerja loe." ujar Jero yang tidak pernah segan mengucapkan terimakasih kepada orang orang yang telah menolongnya.
"Oh ya gimana calon kakak ipar gue. Apa dia baik baik saja atau udah jadi samsak lagi?" ujar Felix bertanya hal yang sensitif kepada Jero.
"Loe gmtau dari mana?" tanya Jero lagi.
"Nebak aja. Orang seperti Juan Alexsander akan meluap luapkan kemarahannya kesembarangan orang." ujar Felux yang memang murni tau dari tabiat Tuan Muda Alexsander itu.
Jero memutuskan panggilan telponnya dengan Felix tanpa melakukan pemberitahuan. Felix menatap layar ponsel miliknya yang mati mendadak itu. Dia benar benar nggak habis pikir dengan sikap Tuan mudanya yang asal main putuskan telpon saja setelah mendapat apa yang diharapkannya.
"Ponsel sama orang yang nelpon sama sama nggak ada otaknya. Masak mati mendadak aja dia." ujar Felix ngomel sendiri sambil menatap layaf ponsel miliknya yang sudah tidak ada lagi tanda tanda orang sedang menghubungi.
"Sabar Tuan Muda jangan cepat marah. Nanti kalau Tuan muda marah marah Tuan muda cepat tua. Siapa yang akan menemani saya dalam menghadapi perangai Tuan Muda Jero." ujar Pak Hans kepala pelayan sambil melihat lihat kerja pelayan yang sedang membersihkan meja.
"Yayayayaya dan ya. Pak Hans terlihat bahagia saat saya dibuat puaing oleh Jero. Pak Hans nggak ngrasain gimana pusingnya mengurus perusahaan, belum lagi permintaan gila dari Jero. Pusing saya Pak Hans." ujar Felix sambil meninggalkan Pak Hans yang hanya bisa tersenyum saja.
Pak Hans sudah tau bagaimana sikap dan begitu sayangnya Felix kepada Jero. Jerolah yang menjadikan Felix seperti sekarang.