
"Sayang mobil jemputan kita sudah berada di bandara" ujar Jero memberitahukan kepada Vian kalau mobil yang akan membawa mereka berempat menuju makam Mommy sudah ada di bandara. Jadi saat mereka sudah turun dari pesawat mereka akan langsung berangkat menuju makam mommy
"Siap sayang, berarti nanti kita akan langsung berangkat dan tidak akan menunggu mobil jemputan dulu, itu sangat keren sayang" ucap Vian yang sangat bangga dengan cara kerja tim tim yang ada di Asander Grub, kerja mereka sangat taktis dan tidak membutuhkan sekian kali intruksi dari pimpinan.
"Para penumpang yang terhormat, pesawat sebentar lagi akan melakukan pendaratan. Kepada semua penumpang diharap untuk memasang kembali sabuk pengaman dan duduk dengan tenang di posisi masing masing. Sekali lagi kami mengingatkan kalau kita akan transit selama lebih kurang dua setengah jam. Terimakasih atas perhatiannya dan selamat menunggu transit yang lumayan lama" ujar Juan yang suaranya terdengar dari pengeras suara yang ada di kabin pesawat.
Vian kembali merapikan duduknya. Dia sudah berhenti untuk berbicara dengan Felix dan juga Bram. Jero kembali memasangkan sabuk pengaman Vian dengan erat. Jero tidak mau nanti saat pesawat mendarat terjadi sesuatu kepada Vian karena tidak memakai sabuk pengaman dengan benar.
Pesawat sudah mulai turun, tidak beberapa lama pesawat sudah menurunkan rodanya, Juan dan Ivan sudah siap untuk mendaratkan pesawat besar itu. Pesawat keluaran terbaru yang memang di buat khusus untuk perusahaan Asander Grub.
Juan dan Ivan berhasil mendaratkan pesawat tanpa terjadi guncangan yang hebat. Semua penumpang bertepuk tangan memberikan penghargaan kepada kedua pilot yang telah berhasil mendaratkan pesawat dengan sangat mulus. Juan dan Ivan serta empat orang pramugari berdiri di depan pintu pesawat.
"Terimakasih Juan, Ivan" ujar Jero memberikan selamat kepada kedua pilot yang telah berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus,
"Felix, seperti biasa" ujar Jero memberikan perintah kepada Felix.
Felix mengambil ponsel miliknya. Dia kemudian terlihat mengetikkan sesuatu. Tiba tiba ponsel Juan dan ponsel Ivan bergetar bersamaan. Sebuah pesan chat masuk ke dalam posel mereka. Mereka berdua melihat sekilas pesan itu, mereka sudah tahu apa yang masuk ke dalam akun mereka
"Terimakasih Tuan muda" ujar Ivan
"Loe banyak gaya bro" ujar Juan sambil memukul pundak Jero.
"Loe mau ikut dengan gue?" ujar Jero yang tahu kalau Juan juga kangen dengan Mommy.
"Ya, tapi gue tinggalkan pesan dulu sama Ivan apa saja yang harus dilakukan oleh dirinya. Loe tunggu di mobil aja" ujar Juan
Semua rombongan telah turun dari dalam pesawat. Mereka melakukan kegiatan masing masing. Jero tadi sudah mengatakan kepada Jeri dan Tama apa yang akan dilakukan oleh dirinya selama mereka transit di bandara. Jeri yang sebenarnya ingin ikut membatalkan niatnya karena Greta yang mendadak demam dan butuh istirahat. Sedangkan Tama dia ada perkuliahan umum di rumah sakit tempat Tama diminta menjadi dosen. Jadi, Tama juga tidak akan bisa ikut dengan Jero ke makam Mommy. Sedangkan para pengawal akan berjalan jalan di mall dan juga akan tetap ada yang menemani Jeri, Greta dan Tama di ruang tunggu khusus penumpang pesawat privat jat.
Jero, Vian, Felix dan Bram serta Juan sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka menuju makam Mommy.
"Pak bisa berhenti di toko bunga sebentar?" ujar Vian meminta sopir untuk berhenti di toko bunga yang ada di sepanjang jalan menuju pemakaman elit tersebut.
"Bisa Nona muda" ujar sopir menjawab permintaan dari Vian
"Berhenti di toko bunga yang biasa saja Pak" ujar Bram memberikan saran kepada sopir untuk berhenti di toko bunga yang biasa mereka kunjungi sebelum pergi ke makam Mommy
"Siap Tuan muda" jawab sopir yang memang akan membawa Vian ke toko bunga yang sudah biasa mereka kunjungi asal membutuhkan bunga.
Toko bunga yang didirikan oleh Mommy untuk seorang mantan pelayan mansion utama keluarga Alexsander. Pelayan yang diusir oleh istri baru Tuan besar Alexsander karena membela Mommy. Pelayan yang sekarang sudah memiliki kebun bunga sendiri dan memiliki lima toko bunga besar yang tersebar di negara E.
Tetapi walaupun mereka bertiga sering datang membeli bunga ke toko tersebut dan juga sering bertemu dengan mantan pelayan yang ditolong oleh Mommy, pelayan itu sama sekali tidak mengenali Jero. Jero yang tumbuh besar memang sengaja tidak pernah mendekat ke arah orang orang yang mengenalnya selama ini. Jero benar benar menjauh dari kehidupannya yang lama. Jero mengubur semua itu dan menjadikan kenangan lamanya sebagai motivasi untuk bertumbuh dan menjadi sukses seperti sekarang ini.
"Sayang, kamu turun?" ujar Vian mengajak Jero untuk turun membeli bunga.
"Kamu sama Bram dan Juan aja ya sayang" ujar Jero yang tiba tiba saja menjadi sangat malas untuk turun membeli bunga.
Padahal selama ini Jero tidak akan pernah membiarkan Vian sendirian apalagi di keramaian seperti di toko bunga itu. Ini adalah kali pertama Jero membiarkan Vian turun hanya dengan Bram dan Juan tanpa di dampingi oleh Jero.
"KAmu yakin Bang, nggak nemanin Kak Vian turun?" ujar Felix yang melihat Jero menatap lurus Vian yang berjalan di tengah tengah Bram dan Juan.
"Kamu akan tahu nanti dari Bram, kenapa Abang nggak mau turun Felix" jawab Jero yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari toko bunga tersebut.
Bram, Vian dan Juan kemudian memilih bunga bunga yang hendak mereka beli. Pilihan mereka jatuh kepada bunga yang sama. Tiga bunga yang menjadi favorit Mommy selama Mommy hidup dan tiga bunga ini juga di taman di sekitar makam Mommy sehingga walaupun Jero dan kedua adiknya dan ketiga sahabatnya tidak bisa datang ke makam Mommy, Mommy masih bisa menghirup aroma tiga bunga kesukaan dari mommy itu karena sudah tumbuh subur mengelilingi makam mommy.
Vian, Bram dan Juan telah kembali dari dalam toko bunga tersebut. Bram menatap ke arah Jero, Jero mengangguk tanda mengerti dengan arti tatapan dari Bram.
"Ada apa Bram?" ujar Felix yang tidak mengerti dengan bahasa isyarat yang diberikan oleh Bram kepada Jero.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di luar sana, sehingga kamu dan Bang Jero saling memberikan bahasa isyarat?" lanjut Felix merasa cemas dengan kode kode yang diberikan oleh Bram kepada Jero.
"Nanti kita bahas" ujar Bram menjawab pertanyaan rasa ingin tahu dari Felix yang sangat khawatir dengan kedua saudaranya itu
"Terpenting aman bukan?" ujar Felix ingin memastikan apakah kedua saudaranya itu dalam keadaan aman atau tidak.
"Aman" jawab Bram
"Oke" ujar Felix yang sudah kembali nyaman saat mendengar kata aman yang diucapkan oleh Bram.
Felix dan Bram kemudian terdiam, mereka sekarang sudah masuk ke dalam area pemakaman orang orang kaya di negara E. Pemakaman yang di buat seprivat mungkin. Untuk masuk ke sana saja harus mempunyai kartu untuk masuk dan minimal terdaftar di dalam data base, pengunjung yang diizinkan masuk oleh keluarga yang dimakamkan di situ.
Mobil hitam besar itu kemudian di parkir oleh sopir di bawah pohon kayu ek yang sudah tua dna sangat rimbun. Pohon kayu Ek yang tidak pernah gugur daunnya saat musim gugur datang.
Jero, Vian, Felix, Bram dan Juan kemudian turun dari dalam mobil. Mereka melangkah dengan pelan dan hening menuju makam Mommy yang terletak di tempat yang paling privat dan tempat itu tidak memiliki akses untuk siapapun ke sana, kecuiali satu orang tukang bersih bersih makam yang bisa ke sana. Untuk masuk ke makam khusus keluarga Asander, maka mereka harus melewati satu pos jaga dan mereka di minta untuk menscan sidik jari mereka supaya di izinkan untuk masuk ke dalam area pemakamam.
Jero, Vian dan kedua adik Jero serta Juan memilih untuk duduk di sisi kiri dan kanan makam Mommy. Mereka bertiga menaruh bunga bunga yang mereka beli tadi ke atas makam Mommy.
Jero kemudian memimpin doa untuk mendoakan Mommy nya yang sudah lama berpulang kembali kepada sang pemilik kehidupan.
Mereka berlima berdoa dengan sangat khusyuk sekali. Tidak ada dari mereka berempat yang mengangkat kepalanya nya.
'Pemilihan tempat yang bagus. Kakak ipar memanglah ya' ucap Bram di dalam pikirannya sendiri.
"Apa sayang?" ujar Jero sambil mengusap nisan yang bertuliskan nama Mommy tetapi nama keluarga sudah berganti menjadi Asander.
"Aku sekembalinya kita ke negara I. Aku mau bekerja kembali di rumah sakit. Boleh ya sayang?" ujar Vian yang pada akhirnya mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya kepada Jero.
"Apa kamu yakin untuk kembali bekerja?" ujar Jero menanyakan kesiapan Vian untuk kembali ke rumah sakit.
"Sudah yakin sayang. Lagian Greta juga akan bekerja di rumah sakit itu" ujar Vian sengaja membawa bawa Greta supaya Jero mengizinkan Vian untuk kembali bekerja seperti semula.
Jero terlihat berpikir. Vian yang tadinya sibuk menata bunga yang dibeli ke atas makam mommy ikut ikutan mengusap batu nisan Mommy.
"sayang" ujar Vian kembali memanggil Jero dengan tujuan mengingatkan Jero kalau dia memang butuh bekerja.
"Kita bahas saat udah di mansion aja ya sayang?" ujar Jero yang belum bisa memutuskan untuk saat ini, apakah dia mengizinkan Vian untuk kembali bekerja ke rumah sakit atau tidak mengizinkan Vian.
Jero benar benar harus memikirkan hal ini dengan sangat matang terlebih dahulu. Apalagi sekarang Jero tidak akan mungkin menemani Vian di rumah sakit karena dia sudah harus kembali memimpin perusahaan Asander Grub.
"oke sayang. Tapi aku harap kamu mengabulkannya ya" ujar Vian kembali mengutarakan keinginannya kepada Jero.
"kamu cari alasan dan argumen yang paling tepat supaya aku mengizinkan kamu untuk kembali bekerja sayang" kata Jero meminta Vian untuk mencari argumen yang bisa meyakinkan Jero kalau hal itu layak untuk dijadikan alasan Vian kembali bekerja.
"oke. Itu cukup gampang sekali. Aku akan memberikan kamu semua alasan yang membuat aku harus kembali bekerja." kata Vian sambil menatap ke arah Jero.
"Sip sayang. Aku akan tunggu alasan kamu ya. Kamu harus bisa meyakinkan aku dengan semua alasan yang kamu rasa adalah alasan yang tepat" kata Jero sekali lagi.
Mereka kemudian kembali menatap ke makam mommy yang ntah kapan mereka bisa datang ke sana lagi.
"Mommy, ini Bram Mommy. Bram dan Bang Felix, Bang Jero, Bang Juan dan kakak ipar Vian hari ini mau balik ke negara I, Mommy walaupun kami nggak ke sini melihat Mommy, tapi Mommy pasti tahukan kalau Mommy selalu ada di sini" ucap Bram yang air matanya sudah mulai menganak sungai.
Bram berkata sambil menaruh tangannya di jantungnya itu.
"Mommy, Bram dan Abang akan selalu mendoakan Mommy. Mommy pasti akan selalu melihat dan mengawasi kami dari sana" lanjut Bram berkata dengan tata bahasa yang sudah tidak beraturan lagi.
"Mommy sejujurnya Bram kangen sama Mommy. Kenapa Mommy udah lama nggak datang ke Bram. Apa karena Bram udah jadi adik yang baik, makanya Mommy nggak pernah datang lagi?" ujar Bram yang ternyata dulu sangat sering bermimpi bertemu Mommy dan wajah Mommy akan langsung sendu kalau Bram tidak mengikuti apa yang dikatakan oleh kedua abangnya itu.
Bram msih terus mencurahkan isi hatinya kepada Mommy. Ini adalah sesi yang paling di tunggu tunggu oleh Bram. Mereka bertiga akan dapat giliran untuk mencurahkan perasaannya kepada Mommy saat mereka bertiga datang bersama, tetapi kalau datang sendiri sendiri maka mereka tidak perlu bergiliran untuk bercerita kepada Mommy.
"Bang, udah" ujar Bram yang pada akhirnya menghentikan curhatannya kepada Mommy tentang semua hal yang dirasakan oleh Bram.
Bram sudah merasa puas karena telah selesai bercerita kepada Mommy.
"mommy, kami semua pamit dulu ya. Kami pasti akan datang lagi. Kalau tidak akan bersama sama sendiri sendiri pun kami akan datang" ujar Jero.
Sebuah bunga putih jatuh ke tangan Jero. Jero mengambil bunga tersebut dan memberikan kepada Vian.
"Simpan ya sayang" ujar Jero.
"bukannya jatuh ke tangan kamu sayang?" ujar Vian
"aku udah saat kita datang pertama kali ke sini saat kita baru datang dari negara I. Sekarang giliran kamu menyimpannya." ujar Jero memberitahukan kepada Vian.
"baiklah sayang terimakasih" ujar Vian.
Vian menaruh bunga tersebut di balik casing ponselnya. Untung saja casing ponsel Vian bening, sehingga bunga tersebut terlihat jelas.
Mereka semua kemudian pergi meninggalkan makam Mommy. Mereka di sana selama satu setengah jam. Bram mencurahkan semua yang dirasakan oleh dirinya kepada Mommy, makanya rencana semula mereka hanya satu jam di makam Mommy menjadi molor menjadi satu setengah jam.
"Molornya lama" ujar Felix saat melihat jam tangannya.
"Tapi aku suka. Aku bisa lama menatap mommy" lanjut Felix.
"Oh ya Juan, apa loe nggak telat sampai di pesawat?" ujar Jero bertanya kepada Juan.
"telat dikit nggak apa apa. Lagian tadi gue udah chat Ivan, kata Ivan semuanya oke. Gue tinggal terbang saja lagi dan chek seperti biasa sebentat" jawab Juan yang memang sudah melakukan koordinasi dengan Ivan.
Mobil melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan sepi karuna hujan ternyata mengguyur jalanan menuju bandara. Vian sudah bergelung kembali ke tangan Jero. Vian harus bermanja manja dengan Jero supaya dirinya diizinkan untuk kembali bekerja.
"Taktik mulai jalan" ujar Bram mengomentari kelakuan Vian.
Vian membesarkan matanya kepada Bram. Vian tidak mau Jero terkontaminasi dari apa yang dikatakan oleh Bram sebentat ini.
"Udah santai aja sayang. Kamu kan memang selalu gini saat ingin sesuatu. Aku sangat hafal sayang" kata Jero sambil mengusap puncak kepala Vian.
Jero sudah memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dia besok hanya perlu diyakinkan oleh Vian dengan argumeb argumen yang akan semakin memperkuat keputusan Jero.