My Affair

My Affair
Pembicaraan Di Atas Pesawat



Mereka semua sudah berada di dalam pesawat. Kali ini pesawat akan langsung terbang ke negara I. Mereka tidak akan transit di bandara manapun lagi. Ini adalah penerbangan ke dua, penerbangan yang kata Juan sebagai pilot menyampaikan kalau mereka akan terbang selama tujuh jam penerbangan. Waktu yang hampir sama dengan penerbangan dari negara F ke negera E sebelumnya.


"Sayang," panggil Vian kepada Jero yang duduk dengan tenangnya di kursi tepat di sebelah Vian.


Jero sudah akan menutup matanya kembali untuk masuk ke alam mimpi, tetapi saat mendengar suara Vian yang memanggil dirinya dengan begitu lembut, Jero kembali membuka matanya yang tajam itu.


"Apa, sayang?" jawab Jero sambil menatap ke arah Vian.


"Nggak ada panggil aja" kata Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya sambil tersenyum karena sukses membatalkan niat Jero untuk melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terpotong karena mereka harus transit di bandara negara E.


"Kangen ya? Benerkan kangen? Udah deh ngaku aja kalau memang kangen"


Jero kembali menggoda Vian dengan caranya sendiri. Vian menatap dengan menyipitkan mata indahnya kepada Jero, saat Jero dengan percaya dirinya mengatakan kalau Vian kangen kepada dirinya.


"Mana ada kangen. Kita aja udah ketemu kok ya" ujar Vian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.


"Kamu terlalu percaya diri sayang, untuk mengatakan aku kangen sama kamu" lanjut Vian sambil menjulurkan lidahnya mengejek Jero.


"Haha haha haha seorang Jero Asander bisa dengan percaya dirinya mengatakan kalau aku kangen dengan dia. Aduh aduh sayang jangan ngadi ngadi kayak gini" lanjut Vian sambil susah menahan tawanya karena melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Jero


Jero yang melihat tingkah Vian ingin rasanya menarik keluar lidah Vian. Tetapi diurungkan oleh Jero karena itu hanya sebuah niat usil yang nggak akan pernah dilakukan oleh Jero kepada Vian kekasihnya itu


"Eeee ngaku aja deh sayang. Benerkan kangen" ulang Jero bertanya kembali kepada Vian. Jero juga tidak mau mengalah kepada Vian. Jero tetap kekeh dengan apa yang dikatakan oleh dirinya.


Jero masih tetap yakin dan ngeyel mengatakan kalau Vian kangen kepada dirinya. Felix dan Bram yang menyaksikan keributan kecil itu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka hanya bisa pasrah dengan kelakuan abang dan juga kakak iparnya itu. Sepasang kekasih yang memang sama sama usil apabila mereka tidak memiliki pekerjaan yang berarti yang harus mereka lakukan. Kata mereka sewaktu Felix dan Bram bertanya mereka usil seperti itu supaya tidak membuat mereka bertengkar.


"Iya kangen. Kangen banget sayang" jawab Vian yang pada akhirnya mengalah untuk mengatakan kalau dirinya kangen dengan Jero. Vian sengaja melakukan hal itu supaya Jero berhenti mengatakan kalau Vian kangen dengan Jero


"Nah benerkan" Jero sangat percaya diri mengatakan hal itu kepada Vian. Padahal sebenarnya Jero tahu, Vian mengatakan hal itu kerena sudah bosan mendengar Jero yang tetap yakin kalau Vian beneran kangen dengan dirinya.


"Kangen untuk kerja di rumah sakit. Bukan kangen yang lainnya. Apalagi kangen dengan kamu" kata Vian menjawab perkataan yang dikatakan oleh Jero sebentar ini.


"Udah ketemu sekian hari masak masih kangen. Tiap hari loh sayang kita ketemu. Jadi peluang untuk kengen itu tidak terlalu banyak" kata Vian yang sebenarnya juga ada berbohong. Dia selalu kangen dengan Jero Apalagi besok kalau mereka berdua sudah sama sama bekerja. Tentu waktu bertemu merek semakin berkurang. Vian harus siap siap untuk menanggung rindunya kepada Jero.


Jero tercengang saat Vian mengatakan hal itu. Jero menatap ke arah Vian dengan tatapan tajam dan seperti mencari suatu jawaban di balik mata biru milik kekasihnya itu.


VIan membalas tatapan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Vian menatap mata elang kekasihnya itu. Dia ingin Jero melihat kejujuran dalam matanya. Kejujuran yang memang niat untuk kembali bekerja ke rumah sakit yang membuat Vian ingin kembali ke sana.


"Kita bahas nanti di mansion" ujar Jero menjawab perkataan Vian.


"Tidak bisa di sini saja sayang?" tanya Vian kembali ingin tetap menyelesaikan dan mendapatkan izin kembali bekerja sekarang juga


"Di mansion atau tidak sama sekali" ujar Jero memberikan penekanan kepada Vian untuk mengalah dan menunggu mereka sampai di negara I baru mereka berdua akan membahas tentang permintaan Vian untuk kembali bekerja di rumah sakit sebagai dokter


Huft. Vian menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia hanya bisa menurut apa yang dikatakan oleh Jero. Vian sudah tidak punya pilihan lain lagi. Bagaimanapun Jero adalah kekasihnya. Apapun yang diminta oleh Vian memang harus sepertujuan Jero.


"Sayang" panggil Jero saat Vian sudah mulai bersedih kembali.


'Mau di mansion mau di pesawat yang aku katakan akan sama juga. Jadi katakan di sini saja. Lebih cepat lebih baik' kata Jero dalam hatinya saat melihat perubahan ekspresi yang diberikan oleh Vian sebentar ini.


"Kamu mau dengar aku sebentar?" tanya Jero sambil menghadapkan wajah Vian ke wajah dirinya menggunakan jari telunjuk Jero.


Vian mengangguk, dia kemudian menatap ke arah Jero kekasih hatinya itu. Kekasih yang ingin mengatakan sesuatu kepada Vian, yang menurut Vian memang harus di dengarkan oleh Vian mendapat nya.


"Aku tidak melarang kamu untuk bekerja kembali ke rumah sakit pada intinya. Tetapi aku hanya ingin kamu paham dan mengerti kalau sekarang kamu memaksakan kehendak kamu tanpa aku berhitung dulu tingkat Keamanan kamu, itu rasanya adalah sesuatu hal yang tidak wajar Vian." kata Jero mulai mengatakan apa yang seharusnya memang sudah dikatakan oleh Jero jauh jauh hari kepada Vian.


"Hal itu aku lakukan karena, saat aku muncul ke dunia bisnis kembali, semua orang akan mencari tahu siapa calon istri aku sayang. Mereka semua akan penasaran dengan siapa aku sekarang. Aku tidak ingin hal itu terjadi sayang"


"Aku tidak mau nyawa kamu, privasi kamu menjadi terancam karena kamu dekat dengan aku. Bagi aku kenyamanan kamu dan dua adik aku serta sahabat aku, adalah sesuatu yang sangat penting. Makanya aku harus menghitung semuanya sayang" kata Jero mengutarakan semua yang dirasakan oleh dirinya kepada Vian.


"Satu lagi sayang. Apapun keputusan aku setelah aku memikirkannya dengan sebaik baiknya. Kamu hanya bisa melakukannya saja sesuai dengan jalurnya ya." ujar Jero meminta sesuatu yang menurut Vian tidaklah berat tetapi wajib dilakukan oleh Vian.


Vian mendengarkan semua yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Vian yang semula mengira Jero akan mengurung dirinya dalam sangkar emas dengan mencukupkan semua kebutuhannya ternyata bukan itu alasan sebenarnya dari seorang Jero.


Jero ternyata memikirkan nasib dan keselamatan dari seorang Vian. Jero sungguh sungguh berhitung dengan cermat untuk kebaikan Vian. Jero tidak ingin membuat Vian berada di jurang karena dekat dengan dirinya.


"Sayang, apa kamu mengerti dengan apa yang aku katakan?" ujar Jero bertanya kepada Vian yang sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun kepada Jero.


"Sayang, sekali lagi. Aku bukan ingin mengurung kamu atau aku bukan ingin menghambat karier kamu dan membuang sia sia ijazah yang telah kamu perjuangkan itu" kata Jero melanjutkan pembicaraan nya.


Pembicaraan yang seharusnya dilakukan oleh Jero dan Vian di mansion mereka, saat mereka sampai di negara I. Pembicaraan itu terpaksa dilakukan oleh Jero di sini hanya karena Vian yang sudah tidak sabaran lagi untuk melakukan pembicaraan itu.


"Satu lagi sayang, aku mau menekankan sama kamu. Aku melakukan semua ini murni untuk menjaga kamu, karena aku sayang sama kamu" kata Jero sambil menggenggam tangan Vian dengan lembut.


"aku harus memastikan terlebih dahulu apakah kamu aman dan nyaman di rumah sakit. Atau aku harus membuat rumah sakit yang baru untuk tempat kamu bekerja" lanjut Jero mengatakan semua yang memang harus dikatakan oleh dirinya.


"Aku benar benar harus memastikan semuanya dulu sayang. Setelah aku memastikan keamanan kamu, maka aku baru bisa mengatakan kalau kamu boleh bekerja kembali"


Jero benar benar menjelaskan dengan panjang lebar kenapa dia tidak bisa langsung memberikan jawaban kepada Vian saat Vian meminta izin untuk kembali bekerja.


"Jadi sayang, aku minta kamu untuk bersabar menunggu sampai aku bisa meyakinkan semua orang kalau kamu aman di sana" lanjut Jero.


"apa kamu bisa bersabar sebentar sayang?" tanya Jero kembali kepada Vian sambil menatap wajah kekasihnya itu.


Vian mengangguk, sekarang dia tahu alasan Jero tidak langsung menyetujui permintaannya. Semua bukan karena anggapan yang dibuat sendiri oleh Vian. Tetapi murni karena Jero ingin menjaga Vian agar Vian tidak terancam keselamatannya saat dirinya jauh dari Jero.


"aku paham sayang. Aku akan menunggu sampai kamu bisa merasa kalau aku nyaman dan aman untuk kembali bekerja" jawab Vian.


"Senyum dulu sayang. Jangan bersedih gitu" ujar Jero meminta Vian untuk tersenyum kepada dirinya.


Vian menuruti keinginan dari Jero. Kekasih yang benar benar memikirkan keselamatannya sehingga harus berbuat sesuatu yang sampai sampai mengurung pikirannya untuk meyakinkan kalau Vian akan selamat.