My Affair

My Affair
BAB 25



"Oke Felix. Makasi" ujar Jero.


Jero menutup panggilan telponnya. Dia mengirim semua foto dan video ke email Felix. Setelah semua terkirim, Jero kemudian tidur. Dia besok pagi harus mengantarkan Vian ke rumah sakit.


Tok tok tok. Bunyi pintu kamar Vian diketuk dari luar dengan tidak sabaran. Vian yang sedang memakai pakaiannya berjalan menuju pintu kamar. Dia membuka pintu itu, terlihat di depannya berdiri menjulang Juan Alexsander yang baru bangyn tidur. Rambut Juan Alexsander masih berantakan. Belum lagi bau parfum yang begitu menyengat dan membuat hidung Juan Alexsander menjadi pedih.


"Ada apa?" tanya Vian dengan dingin tanpa menatap wajah Juan sama sekali.


Vian yang ramah dan menyegani suami sudah tidak ada lagi. Vian yang tertinggal hanyalah Vian yang dingin dan tidak sudi menatap wajah Juan Alexsander.


"Tolong buatkan sarapan untuk saya dan dua wanita yang menemani tidur saya semalam." kata Juan Alexsander yang menatap Vian dengan tatapan aneh.


"Baiklah" jawab Vian.


Vian berjalan menuju dapur. Dia akan memasak sarapan untuk Tuan Muda gesrek itu dan dua wanita yang telah menemani malam panjangnya. Dua wanita yang telah menghangatkan ranjang Tuan Muda Alexsander. Dua wanita yang sengaja dibawa Juan Alexsander ke dalam mansion untuk menambah sakit hati Vian dan semakin membuat Vian menderita.


Jero yang baru saja siap membuat teh melihat Vian turun, Jero kemudian dengan sengaja memperlambat jalannya menuju keluar dapur mansion. Dia sengaja menunggu Vian sampai di dapur. Jero juga ingin tahu kenapa Vian turun ke dapur sepagi ini.


"Ada apa?" tanya Jero melihat Vian yang wajah paginya sudah memasang wajah kesal.


"Mau masak sarapan untuk Tuan Muda dan dua wanitanya." jawab Vian dengan dingin.


"Apa!!!" suara Jero terdengar sangat keras.


Jero menerima tatapan tajam dari Vian.


"Bisa nggak untuk dilambatin suaranya. Ini keras banget." ujar Vian protes mendengar suara Jero yang terlalu tinggi.


"Maaf." jawab Jero dengan rasa bersalahnya.


"Siapa yang nyuruh kamu masak untuk mereka bertiga?" tanya Jero yang sudah mulai kembali kesal. Pagi hari sudah ada saja yang membuat dia kesal. Kesal kemaren belum habis sudah datang lagi rasa kesal yang baru.


"Siapa lagi. Udah nanti aja bahas. Aku masak bentar. Kamu mau aku lebihkan?" tanya Vian kepada Jero.


"Sarapan di luar aja." jawab Jero yang nggak mau memakan sarapan yang sama dengan Juan Alexsander manusia gesrek yang nggak jelas itu.


Cup. Sebuah kecupan pagi mendarat di puncak kepala Vian.


"Senyum sayang" ujar Jero kepada Vian yang memang dari tadi berwajah kusut dan menahan rasa marahnya.


Vian memberikan senyum terbaiknya untuk Jero.


"Nah gitu. Aku keluar dulu ya. Senyum cantik itu terus hadir di sana. Jangan cemberut mulu. Kamu kelihatan tua kalau cemberut." ujar Jero menggoda Vian dipagi hari.


Jero ingin Vian selalu tersenyum setiap saat. Bagi Jero senyum Vian adalah prioritas utamanya. Jero kemudian pergi dari dapur, dia tidak ingin ada yang melihat interaksinya dengan Vian yang terlihat cukup berlebihan itu.


Vian mulai memasak sarapan untuk Juan dan dua wanita siaalaan itu. Dia masak dengan rasa kesal. Vian tidak pernah mencoba rasa masakannya lagi. Dia membuat sesuka hatinya saja. Vian menganggap kalau rasa masakan yang dibuatnya sudah pas.


Setelah selesai membuat sarapan, Vian menghidangkannya di atas meja makan. Vian meletakkan tiga piring dan satu cangkir kopi dan dua cangkir teh. Setelah meletakkan semua menu sarapan, Vian naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dia ingin langsung pergi sebelum Tuan Muda gesrek itu meminta Vian untuk menemani mereka bertiga sarapan.


Vian kembali turun menuju lantai bawah. Dia berjalan keluar rumah utama. Jero sudah menunggu Vian, dia membuka pintu mobil saat melihat Vian sudah berada di pintu utama mansion. Vian langsung masuk ke dalam mobil.


"Jalan Jer. Aku nggak mau Tuan Muda itu meminta gue menemani mereka bertiga sarapan." ujar Vian.


Jero melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Vian duduk tidam tenang di kursi belakang. Jero melihat semua itu.


"Nggak ada." jawab Vian.


"Tatap mata aku." perintah Jero.


Vian tidak mampu menatap mata Jero. Dia malahan meneteskan air matanya. Jero memberhentikan mobil di pinggir jalan. Jero melangkahkan kakinya menuju kursi belakang. Jero membawa Vian ke dalam pelukannya.


"Ada apa?" tanya Jero lagi.


Vian menggeleng. Dia masih terus menangis dalam pelukan Jero. Jero membiarkan saja Vian mengeluarkan semua emosinya dan sesak didadanya di dalam pelukan Jero. Jero menenangkan Vian cukup lama. Setelah dirasa perasaannya sudah tenang kembali Vian melepaskan dirinya dari pelukan Jero.


"Udah tenang?" tanya Jero.


Vian mengangguk.


"Terimakasih. Maaf cengeng lagi." ujar Vian sambil tersenyum kepada Jero.


"Tidak apa apa." jawab Jero.


Jero kembali ke kursi kemudi. Dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Vian bekerja.


"Mau ke rumah sakit atau pergi bermain?" tanya Jero sambil menatap Vian.


"Rumah sakit aja." jawab Vian.


"Sip." ujar Jero.


Mobil berbelok masuk ke dalam area parkir rumah sakit. Jero membukakan pintu mobil untuk Vian. Vian kemudian turun dari dalam mobil. Dia kemudian berjalan di depan Jero.


"Temani aku di dalam ruangan ya. Hari ini aku nggak ada pasien." ujar Vian kepada Jero saat mereka sudah berada di dalam lift menuju lantai ruangan Vian berada.


Jero mengangguk. Semua keinginan Vian akan dikabulkannya. Apapun itu, baik yang mudah sampai yang tersulit sekalipun akan tetap dikabulkan oleh Jero.


Mereka berdua kemudian keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruangan Vian yang terletak paling ujung. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan Vian. Jero membiarkan papan depan itu tetap bertuliskan CLOSED.


"Mau ngapain ngajak aku ke dalam ruangan?" tanya Jero menatap Vian.


"Nggak ada. Aku cuma mau mengisi data untuk kuliah semester depan." jawab Vian lagi.


"Jadi juga kuliah di negara England itu?" tanya Jero sambil menatap Vian.


"Jadilah. Ngapain berada di negara ini lebih lama lagi kalau hanya untuk menyiksa diri saja." ujar Vian menjawab pertanyaan Jero.


"Oke sip. Aku akan ikut kamu ke England." jawab Jero.


"Serius?" tanya Vian menatap dengan wajah bahagianya ke arah Jero.


"Ya. Serius." jawab Jero.


Vian memeluk Jero dengan bahagia. Dia sangat senang mendengar Jero akan menemaninya di negara England.


"Udah isi sana." ujar Jero lagi.


Vian mengisi semua biodatanya. Dia sama sekali tidak memikirkan masalah. Bagi Vian yang penting dia keluar dari negara ini. Urusan biaya akan dipikirkannya nanti saja saat sampai di negara itu. Vian bisa bekerja paruh waktu. Intinya bagi Vian adalah dia harus pergi dari negara ini.