My Affair

My Affair
BAB 131



Bram menatap lama ke pohon mangga yang ternyata lumayan tinggi itu. Sangking tingginya pohon mangga itu, saat dilihat tinggi pohon mangga itu melebihi dari tiga lantai Mansion keluarga Asander.


"Wow tingginya apa gue sanggup tuh untuk memanjat setinggi itu?" kata Bram yang lututnya sedikit goyah setelah menyaksikan betapa tinggi Batang mangga yang harus dipanjatnya.


"buahnya sungguh banyak, tetapi kenapa tidak ada yang berbuah di bagian paling bawah. Kenapa harus bagian atas benar-benar cari kerjaan gue aja tuh buah mangga" kata Bram yang ngomong-ngomong sendiri, saat melihat sendiri dengan mata kepalanya, betapa Tinggi pohon mangga yang harus dipanjatnya, demi mengambil buah mangga yang akan dibuat menjadi sambal mangga tersebut.


"apa nggak ada lagi pohon mangga selain yang di sini. Kenapa harus pohon mangga ini yang berbuah. Pohon paling tinggi di antara tiga buah batang pohon mangga yang ada di Mansion ini" lanjut Bram mengata ngatai sendiri pohon mangga yang ada di depannya.


seorang maid yang baru datang dari arah taman bunga yang terletak di samping pohon mangga yang sedang berbuah lebat itu, melihat dengan tatapan tidak percaya ke arah Bram yang dari tadi terdengar sedang ngomong sendiri dengan pohon mangga yang di depannya itu.


Bram melihat maid tersebut yang berjalan agak menjauh dan menundukkan kepalanya dalam-dalam karena mendengar apa yang dikatakan oleh Bram di depan pohon mangga yang sedang berbuah tersebut.


Miad itu tahu kalau Bram disuruh oleh Jero untuk mengambil buah mangga yang akan dijadikan sebagai sambal mangga oleh Vian.


Akhirnya setelah menguatkan hati dan tekadnya Bram mulai memanjat pohon mangga tersebut. Saat baru memanjat bagian bawah dari pohon mangga itu Bram sudah ingin turun dari pohon mangga tersebut, tetapi dia ingat apa yang dikatakan oleh Jero kalau Vian harus membuatkan Jero sambal mangga setiap hari supaya mendapatkan izin untuk naik kereta api menuju negara F dan negara G.


Akhirnya berkat perjuangan yang gigih dan tekad yang kuat Bram sampai juga di bagian pohon yang berbuah lebat tersebut. Bram melihat ke arah Mansion, ternyata pohon mangga itu tepat berada di depan kamar Felix.


Bram tersenyum melihat kamar tersebut. Sebuah ide terlintas di pikirannya untuk mengerjai Felix yang sedang tidur siang itu. Bram memiliki sebuah ide dan akan langsung dieksekusinya untuk mengerjai Felix yang selalu tidur saat baru pulang dari kantor.


"Awas lo ya Bang. Kalian berdua enak-enakan tidur siang. Nah gue harus manjat pohon mangga setinggi ini hanya untuk mendapatkan mangga yang akan dibuat menjadi sambal mangga. Awas aja lo berdua ya bang akan gue balas satu persatu" kata Bram sambil menatap tajam ke kamar Felix.


Tapi setelah mengatakan hal itu Bram baru sadar kalau dia sama sekali tidak akan bisa membalas dendam kepada Jero dan Felix. Bagaimanapun juga Bram selalu ingat pesan Mommy yang mengatakan kalau dia harus menjaga Jero dan Felix. Sehingga karena hal itu Bram membatalkan niatnya untuk balas dendam kepada Jero dan Felix. Tetapi dia akan tetap mengusili Felix yang kamarnya pas bertepatan dengan pohon mangga yang sedang dipanjat oleh Bram sekarang ini.


Tetapi sebelum mengerjai Felix, Bram terlebih dahulu mengambil buah mangga yang terlihat sudah mengkal dan besar-besar. Bram mengambil cukup banyak buah mangga karena besok Vian akan membuat sambal mangga kembali.


Apalagi saat mereka pergi ke negara F dan negara G,Jero tetap meminta Vian untuk membuat sambal mangga kesukaannya itu. Sehingga mau tidak mau Bram harus mengambil buah mangga yang lebih banyak lagi untuk antisipasi kalau kalau tukang kebun sedang dalam keadaan sakit. Karena tidak biasanya tukang kebun itu tidak kembali saat setelah selesai membersihkan badannya.


Setelah Bram merasa mangga yang diambilnya itu sudah cukup. Bram kemudian mengambil sebuah mangga yang ukuran buahnya lebih kecil. Bram rencananya akan melemparkan buah mangga itu ke pintu yang menuju balkon kamar Felix.


Bram sudah mengambil ancang-ancang untuk melempar buah mangga yang berukuran kecil itu ke pintu kamar Felix


"Satu,dua,tiga" kata Bram menghitung waktu untuk dia melemparkan buah mangga tersebut. Selesai hitungan ketiga Bram melempar buah mangga tersebut ke pintu kamar Felix.


Tetapi sayangnya lemparan pertama Bram meleset tidak mengenai pintu kamar Felix. Lemparan buah mangga Bram hanya mengenai pagar yang memagari balkon kamar Felix.


"Yah," ujar Bram yang kecewa dirinya sama sekali tidak berhasil melempar dengan tepat mengenai sasaran target yang diinginkan oleh Bram.


Bram kemudian mengambil sebuah mangga yang ukurannya lebih besar sedikit daripada mangga yang diambilnya tadi


Bram kemudian mengambil ancang-ancang kembali untuk melemparkan mangga Kedua ke balkon kamar Felix


Mangga kedua tepat mengenai pintu kamar Felix. Pintu kamar yang menghubungkan antara kamar dengan balkon kamar Felix.


Felix yang baru keluar dari kamar mandi mendengar bunyi yang mengenai pintu menuju balkon kamarnya itu. Tetapi, Felix sama sekali tidak mengambil pusing karena dia menganggap kalau itu adalah sebuah benda yang jatuh saja bukan yang sengaja dilempar untuk mengenai pintu balkon kamarnya.


Felix tetap menuju lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian yang akan dipakainya sebagai pakaian santai pada sore hari. Felix memiliki rencana untuk menuju bagian belakang Mansion guna melihat Bram yang sedang berusaha untuk mengambil buah mangga sebagai bahan utama untuk membuat sambal mangga yang menjadi trending topik pembicaraan mereka hari ini.


Felix berjalan menuju pintu kamar. Felix kemudian mendengar kaca jendela kamarnya terkena sesuatu yang sepertinya sengaja dilempar dari arah luar.


Fekix kemudian berbalik untuk membuka pintu balkon tersebut. Betapa kagetnya Felix,saat dia melihat ada beberapa buah mangga yang berukuran kecil tergolek di atas balko kamarnya, malahan di pintu dan kaca jendela terlihat jelas bekas lemparan buah mangga.


Felix kemudian melihat ke arah pohon mangga. Felix mendapati pohon itu cukup bergoyang dengan sangat keras. Felix tahu sekarang siapa yang telah melempar beberapa buah mangga itu ke balkon kamarnya. Felix tahu orang itu sengaja melakukan hal tersebut untuk menjahili Felix yang dikiranya sedang tidur siang. Padahal sebenarnya Felix sama sekali tidak tidur siang.


"Awas kamu ya Bram. Berani menjahili gue" ujar Felix sambil menatap ke arah Bram yang masih berada di atas pohon mangga.


Bram melihat ke arah Felix. Bram sekarang yakin kalau Felix tahu dialah yang telah melemparkan mangga mangga itu ke kamar Felix.


"haha haha haha. Gue harus cepat turun sebum. Bang Felix sampai di bawah" ujar Bram yang memutuskan untuk turun dari pohon mangga.


Felix yang telah sampai duluan di bawah pohon mangga, sudah memindahkan tangga yang digunakan oleh Bram untuk memanjat tadi.


"Bang, jangan lah Bang. Pake apa aku turun, kalau tangganya abang pindahin" ujar Bram yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendri Felix memindahkan tangga yang dipakainya untuk manjat tadi.


Bram sama sekali tidak kehabisan akal, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jero yang sekarang sedang berada di kamar pribadinya.


Jero yang baru selesai mandi mendengar bunyi suara nada dering ponsel miliknya. Dia kemudian mengambil ponsel itu dan melihat nama Bram muncul sebagai orang yang menghubungi ponsel milik Jero.


"Halo Bram ada apa kenapa nelpon Abang jam segini?" ujar Jero bertanya kepada Bram saat dirinya mengangkat panggilan dari adik bungsunya itu.


"Tolongin gue Bang" ujar Bram menjawab sapaan dari Jero saat Jero mengangkat panggilan dari dirinya.


"nolonginnya lo? emang lo Kenapa? lo di mana sekarang? jangan bikin Abang panik Bram. Tolong jawab dengan cepat atau perlu pengawal abang suruh untuk mencari keberadaan kamu sekarang? Bukannya kamu tadi sama pulang dengan Abang? kapan kamu perginya sehingga kamu mengalami suatu kendala di luar sana?" kata Jero yang panik saat mendengar Bram meminta tolong kepada dirinya.


Bram tidak menyangka kalau Jero memiliki pemikiran yang terlalu jauh ke depan. Bram tidak menyangka kalau Jero menganggap dirinya sedang pergi keluar. Padahal tidak mungkin Bram keluar tanpa memberitahukan kepada Jero ke mana dia pergi. Itu bukan kebiasaan dari seorang Bram yang pergi tanpa pamit kepada orang orang yang ada dimension besar itu.


" Bang aku tidak kemana-mana aku masih di Mansion juga tetapi sesuatu terjadi kepada aku di kebun bagian belakang" kata Bram menjelaskan kepada Jero kalau dia tidak keluar tetapi masih berada di dalam lingkungan Mansion.


"Kalau kamu masih berada di mension kenapa kamu berteriak-teriak meminta tolong kepada Abang sambil menelpon seperti ini Bram. Apa yang terjadi Bram, tolong katakan dengan lugas saja bukan seperti ini yang membuat Abang panik Bram" kata Jero Dengan mengatakan setiap kata-kata yang dikeluarkannya dengan nada pasti dan tidak bisa ditoleransi lagi oleh Bram.


"aku berada di batang mangga sekarang Bang. Tadi Abang meminta aku untuk mengambil mangga. Eh kiranya tangga yang aku pakai untuk memanjat dipindahkan oleh Bang Felix sehingga membuat aku tidak bisa turun kembali" Indra menjelaskan kepada Jero apa yang terjadi kepada dirinya supaya Jero membela dirinya dan memarahi Felix yang telah memindahkan letak tangga tersebut dari pohon mangga yang sedang dipanjat oleh Bram.


"Hah terserahlah Bram. Palingan kamu juga menjahili Felix dari atas pohon mangga itu makanya Felix sampai harus mengambil tangga yang kamu pakai kan? Udah itu satu-satu selesaikan sajalah berdua abang capek abang mau tidur" kata Jero yang sama sekali tidak akan menolong Bram untuk turun dari atas pohon mangga.


Bram kembali mencoba peruntungannya untuk merayu Felix agar kembali meletakkan tangga tersebut di tempatnya kembali, sebelum Felix mengambil tangga tersebut dan memindahkannya ke tempat yang lain.


"Bang maafin gue bang, gue tau gue salah, gue telah menjahili elo dengan melempar balkon kamar memakai beberapa buah mangga yang kecil. Tetapi suer itu hanya untuk menjahili lu aja. Tolonglah bang gue takut, gue belum mandi, masak lu tega nengok gue di atas sini sampai malam." kata Bram mencoba merayu Felix yang sekarang posisinya sedang duduk santai sambil memakan buah mangga yang tadi diambil oleh Bram.


"Tetapi ada syaratnya" ujar Felix mengajukan sebuah syarat kepada Bram.


"yah lo sama aja Bang sama Bang Jero dan kakak ipar. Ke adik sendiri pakai syarat-syarat segala" kata Bram yang tidak menyangka kalau Felix akan mengajukan syarat kepada dirinya.


"mau turun atau enggak lo? kalau nggak gue pergi" kata Felix mulai menakut-nakuti Bram.


Bram hanya bisa geleng-geleng kepala dia tidak menyangka kalau kakaknya itu akan melakukan hal seperti ini mengajukan syarat yang entah apa syaratnya tersebut Bram sama sekali tidak mengetahui.


"mau nggak Bram jangan pikir lama-lama gue mau pergi ini capek juga duduk di sini" kata Felix sambil berdiri dari tempat duduknya.


"iya iya apa syaratnya? Cepetan ngomong" kata Bram yang sedikit kesal dengan apa yang dilakukan oleh Felix kepada dirinya.


"Lah kok jadi lo yang kesal sih Bram harusnya abang yang kesal sama lo karena menjahili Banh yang telah capek seharian bekerja" kata Felix yang akhirnya berjalan dua langkah meninggalkan tempat duduknya tadi.


"Bang Felix sayang, aku nggak kesel kok. Tolonglah bang apa syaratnya? Aku mau turun ini udah mau magrib. Aku belum mandi" kata Bram coba membujuk Felix supaya mau memberikan tangga yang tadi digunakan oleh Bram untuk memanjat pohon mangga.


Vian yang capek dari tadi menunggu kedatangan Bram untuk mengantarkan mangga akhirnya berjalan menuju pohon mangga yang ada di bagian belakang mension. Bram sama sekali tidak datang, untuk mengantarkan Mangga yang sudah diambilnya.


"Felix kenapa ada di belakang?" tanya Vian saat melihat Felix yang berada di dekat pohon mangga sambil memegang sebuah tangga.


"mau nolongin Bram yang tidak bisa turun kakak ipar. Dia meminta aku untuk mengambilkan tangga yang ada di bagian belakang Mansion katanya kalai tidak pakai tangga dia tidak akan bisa turun" kata Felix yang memutar balikkan fakta apa yang terjadi sebenarnya.


"Aduh Bram Bram kok tahu kamu tidak bisa manjat, mending tadi kamu pakai penggalan aja untuk mengambil mangga yang ada tersebut jadi tidak perlu sebanyak itu Bram" ujar vian yang kasihan mendengar apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya tentang Bram yang meminta untuk diambilkan tangga.


"nggak apa-apa kakak ipar, udah selesai juga kok. Abang Felix aku ini juga mau kok menolongi aku untuk mengambilkan tangga." kata Bram dengan sedikit menyindir Felix.


Felix hanya tersenyum saja mendengar sindiran yang diberikan oleh Bram kepada dirinya.


"kakak ipar langsung aja buat sambal mangga tersebut karena makan malam sebentar lagi akan dimulai kasihan Bang Jero dan Bang Felix yang sudah lapar" kata Bram yang sangat jengkel dengan kelakuan Felix yang telah memutarbalikkan Fakta apa yang terjadi sebenarnya kepada Vian


Vian mengambil beberapa mangga yang sudah ada tersebut. Vian kemudian kembali ke dapur dan membuat sambal mangga pesanan ketiga kakak beradik itu.


Sedangkan Bram sedang berusaha untuk turun dengan tangga yang dipegangi oleh Felix di bagian bawah. Felix juga cemas kalau adiknya itu nanti jatuh saat berusaha untuk turun dari Batang mangga yang sangat tinggi. Felix juga menyesal telah melakukan tindakan bodoh tadi. Dia tidak menyangka kalau Bram benar-benar takut untuk turun tanpa memakai tangga.


Akhirnya berkat perjuangan dia sendiri, Bram telah kembali menginjakkan kakinya di atas tanah. Bram dan Felix kemudian masuk kembali ke dalam Mansion. Mereka menuju kamar masing-masing karena akan beristirahat sebentar sambil menunggu waktu makan malam yang diperkirakan akan dilakukan pada pukul tujuh malam ini.


Sedangkan Vian terlihat sangat sibuk di dapur untuk membuat menu makan malam. Vian hari ini akan memasak Nila goreng kering, goreng kentang dan tahu serta tempe dan tidak lupa sambal mangga pesanan ketika berada di tersebut yang dalam mengambil buah mangganya saja terjadi drama yang cukup panjang antara Bram dan Felix