
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Vian kepada Jero sesaat setelah tiga ibu ibu sosialita berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Boleh. Tanyakan apa yang mau kamu tanyakan" jawab Jero.
Vian menaruh sendok makannya. Dia kemudian melihat ke arah Jero. Jero yang melihat Vian dalam posisi serius ikut ikutan menaruh sendok makannya.
"Ada apa sayang, sepertinya sangat serius" ujar Jero.
"Sayang, apa tidak masalah, kalau kamu menarik semua saham kamu dari swalayan milik Tuan Atmajaya? Bukannya itu kerugian yang besar bagi kamu?" ujar Vian.
"Sayang sayang, kerugian itu tidak seberapa. Aku tidak ambil pusing sayang, dengan yang namanya kerugian."
"Aku sama sekali tidak memikirkan tentang kerugian."
"Aku hanya memikirkan kamu sayang. Kalau masalah rugi biarkan saja, masih banyak pintu rezeki yang lain. Tapi kalau kamu di hina seperti tadi di depan aku, maka jangankan kerugian kehilangan perusahaan saja aku rela" kata Jero dengan mantap menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya.
"Tapi sayang" kata Vian yang berat hati menerima jawaban yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Tidak ada tapi sayang. Bagi aku yang terpenting adalah kamu. Harta, bisnis nomor sekian" jawab Jero yang tidak akan bisa dibantah lagi oleh Vian.
"Oke sayang kalau sudah itu keputusan kamu. Maka aku tidak akan membantah atau bertanya lagi tentang masalah ini" ujar Vian.
Mereka berdua melanjutkan obrolan seputar kedatangan para pegawai pengadilan. Vian tetap dengan keputusannya untuk terus tinggal di mansion Jero. Jero juga sama, dia tidak mengizinkan Vian untuk keluar dari mansionnya itu.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Jero.
"Sudah" jawab Vian.
Hendri berjalan untuk pergi melakukan pembayaran, setelah itu mereka berempat berjalan keluar dari dalam restoran mewah tersebut. Sebenarnya Hendri bisa saja tidak membayar karena itu adalah restoran milik Jero. Tetapi Jero tidak ingin melakukan hal itu, dimanapun dia makan atau belanja, dia pasti akan tetap membayar sesuai dengan harga yang telah ditentukan.
"Kita langsung ke mansion Hendri" ujar Jero yang tidak ingin ke perusahaan lagi.
"Tapi sayang, tas aku tinggal di rumah sakit" kata Vian yang ingat kalau dia tidak membawa tas saat meninggalkan rumah sakit tadi.
"Maaf Nona muda, ini tasnya" Pengawal Vian memberikan tas kerja milik Vian.
"Oh, terimakasih banyak. Maaf sudah terlalu merepotkan" kata Vian.
"Tidak apa apa Nona, sudah pekerjaan saya Nona" jawab pengawal pribadi Vian.
Vian karena kekenyangan terus juga karena sudah terlalu lelah, akhirnya tertidur sepanjang perjalanan menuju mansion. Jero hanya menatap ke arah wajah kekasihnya yang tertidur tersebut. Wajah lelah Vian tergambar jelas di sana.
"Kamu lelah dan capek tapi berusaha terlihat untuk baik baik saja sayang" ujar Jero dengan suara pelan.
Jero kemudian merebahkan kepala Vian ke pundaknya. Dia benar benar tidak menyangka kalau wanita yang sekarang sedang berada dalam pelukannya itu memiliki jiwa yang keras. Setiap keputusan yang diambil oleh Vian tidak akan bisa diubah oleh siapapun termasuk oleh Jero sendiri.
"Sayang, kita sudah sampai" kata Jero membangunkan Vian saat mobil yang dikemudikan oleh Hendri telah sampai di depan mansion.
Vian sama sekali tidak memperlihatkan tanda tanda untuk bangun. Dia masih memejamkan mata indahnya itu.
"Sayang bangun" Jero mencoba sekali lagi membangunkan Vian tetapi hasilnya masih tetap sama. Vian masih tertidur dengan lelap.
Hendri melajukan mobil yang dikendarainya kembali. Dia sama sekali tidak bertanya kepada Jero tujuan mereka kemana. Hendri hanya menuruti perintah yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.
"Kita kemana lagi Tuan?" tanya Hendri yang tidak tau lagi mau kemana membawa mobil karena sudah berjalan putar putar ibu kota selama kurang lebih setengah jam dengan tujuan yang tidak jelas.
"Balik ke mansion saja Hendri" perintah Jero.
Hendri mengarahkan mobilnya menuju arah mansion kembali.
"Sayang kok kita nggak sampe sampe mansion" kata Vian saat dirinya membuka mata dan melihat kalau mereka masih di jalan menuju mansion tapi dari arah yang berbeda.
"Ini kan bukan jalan yang seharusnya kita lalui" lanjut Vian sambil melihat ke arah luar jendela.
"Memang bukan." jawab Jero dengan santainya.
"Kok bisa? Bukannya dari tadi kita jalan pulang?" Vian masih heran dengan suasana pada saat ini.
"Seharusnya kita sudah sampai dari tadi sayang, bukan masih di jalan seperti sekarang ini" lanjut Vian masih dengan ketidak percayaan dengan apa yang dilihatnya.
"Hendri, kenapa kita masih di jalan. Jelaskan ke Nona Vian" ujar Jero sambil melihat ke arah Vian dengan tersenyum geli. Dia benar benar ingin tertawa besar saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini.
"Maaf sebelumnya Nona. Tetapi karena Tuan Muda sudah meminta saya untuk menjawabnya, maka akan saya jawab" kata Hendri yang juga menahan tawanya saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Vian kepada dirinya tadi.
"Jadi sebenarnya, kita sudah sampai mansion empat puluh lima menit yang lalu" kata Hendri.
"Tetapi karena Nona yang tidak mau juga bangun bangun saat Tuan Muda sudah dua kali membangunkan Nona yang sedang tidur, membuat Tuan Muda meminta kepada saya untuk kembali mengemudikan mobil tanpa tujuan yang jelas." kata Jero menjelaskan kepada Vian kenapa mereka sekarang masih berada di jalan belum sampai juga di mansion.
Vian menatap ke arah Jero. Jero mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Hendri kepada Vian.
"Jadi aku ketiduran sepanjang jalan dan selama itu sayang?"
"Ya sayang, kamu ketiduran sepanjang jalan. Dan ini bukan kejadian pertama, kejadian yang sudah kesekian kalinya" kata Jero menjelaskan kepada Vian tentang kejadian Vian yang tertidur di atas mobil yang sudah berulang kali terulang.
"Huft"
Vian benar benar malu atas apa yang telah terjadi. Dia bisa bisanya tertidur di mobil dan bahkan yang lebih membuat malu lagi, saat dibangunkan dia sama sekali tidak terbangun dari tidurnya. Suatu hal yang tidak bisa dibayangkan oleh Vian dan ternyata terjadi.
Mobil kembali masuk ke dalam pekarangan mansion besar dan luas itu. Hendri memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu utama masuk ke dalam mansion. Jero dan Vian keluar dari pintu yang berbeda.
"Hay Bang, kenapa malam sekali pulang?" tanya Bram yang sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Jero dan Vian yang dari tadi belum pulang.
"Aku lihat di aplikasi, mobil yang abang bawa berjalan tidak tentu arah. Hampir saja aku menyuruh para pengawal mencari mobil itu kalau dalam lima menit lagi abang tidak sampai di mansion" lanjut Bram tanpa ada jeda sedikitpun.
"Oh tadi ada yang merasa kurang jalan jalan, makanya di ajak jalan jalan dulu. Eeee ternyata kelamaan" jawab Jero.
"Boong. Tadi aku ketiduran di atas mobil, nah karena nggak bangun bangun saat dibangunkan, mobil jalan lagi muter muter nggak jelas." jawab Vian sambil duduk di sofa sebelah Bram.
"Hah? Bisa kayak gitu?" tanya Bram kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Vian.
"Bisalah, namanya aja orang capek" jawab Vian dengan acuhnya.