My Affair

My Affair
Pesta Kemenangan



Sebenarnya pembicaraan tiga beradik itu belumlah selesai, mereka bertiga sama sekali belum sampai kepada keputusan final tentang apakah mereka bertiga akan pulang ke negara I besok, atau Felix dengan Bram yang pulang ke negara I, atau bisa jadi juga keputusannya Felix sendirian yang akan pergi ke negara I sesuai dengan pembicaraan antara Felix dengan Bram saat di kamar Jero tadi sore. Tetapi karena mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di kafe dimana tempat perayaan kemenangan Jero dan Vian akan dilaksanakan membuat pembicaraan yang sedang hangat hangatnya itu harus berhenti mendadak. Vian yang sebenarnya mau ikut serta dalam pembicaraan itu menjadi mengundurkan dirinya karena mobil sudah berhenti di parkiran kafe. Vian tidak mau melanjutkan pembicaraan karena berbicara di dalam mobil berhenti hanya akan membuat sempit perasaan saja karena suasana yang sempit sehingga membuat siapa saja akan menjadi sempit pikirannya.


"Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraannya" ujar Jero yang merasa belum puas dengan pembicaraan itu. Pembicaraan yang belum menghasilkan apa apa.


"Kenapa harus di ulang lagi Bang. Kan udah jelas Felix besok akan pulang ke negara I" ujar Felix yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


"Belum Felix. Kita belum sampai di finis. Kesimpulannya belum kita dapatkan. Sehingga pembicaraan itu akan kembali kita lanjutkan setelah kita melakukan perayaan seperti yang diminta oleh para pengawal tersebut." ujar Jero menjawab komplenan yang diberikan oleh Felix sebentar ini.


Jero menatap ke arah Felix. Jero meminta Felix untuk mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Bram pada saat ini. Felix mengangguk dan mengerti dengan maksud tatapan Jero. Apalagi tadi Felix sempat melihat ke arah Bram yang sudah terlihat tidak mood lagi untuk ikut perayaan kemenangan Jero dan Vian dalam pertandingan tenis tadi siang.


"Oh baiklah Bang. Nanti akan kita lanjutkan pembicaraannya" ujar Felix dengan nada pasrah karena harus menurut dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya sebentar ini. Apalagi Felix melihat bagaimana keadaan emosi Bram yang sudah tidak stabil dan tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan acara yang sudah disusun oleh Bram.


Semua orang sudah turun dari dalam mobil mereka masing masing. Manager kafe sudah menunggu rombongan Jero ini dari tadi. Rombongan Jero memang telat setengah jam dari perjanjian yang dibuat oleh Bram dengan pemilih kafe tersebut.


"Maaf kami telat" ujar Bram dengan nada dinginnya


Manager kafe yang rencananya akan menyapa Bram sambil sedikit menyindir kedatangan mereka yang telat setengah jam itu, memundurkan kembali niatnya. Manager bisa mendengar kalau Bram dalam posisi tidak berminat untuk membahas permasalahan terlambat.


"Mari masuk Tuan Tuan dan Nona Nona" ujar Manager mempersilahkan rombongan Jero untuk masuk ke dalam kafe tersebut. Welcome drink yang biasanya disediakan oleh pihak kafe di depan pintu masuk sekarang tidak lagi diberikan di sana, melainkan sudah di letakkan di atas meja yang akan ditempati oleh Jero dan yang lainnya.


Jero dan yang lainnya serta pengawal kemudian masuk ke dalam kafe. Suasana kafe itu sangat luar biasa indahnya. Lampu lampu memenuhi kafe sehingga membuat suasana menjadi sangat bagus dan menarik. Siapapun yang sudah menyewa atau datang berkunjung ke kafe itu tidak akan menyesal saat sampai di sana. Pemandangan, keindahan yang disajikan sesuai dengan harga yang harus di bayar saat berkunjung ke kafe tersebut.


"Silahkan duduk Tuan Tuan dan Nona Nona" ujar manager meminta Bram, Jero, Felix, Tama, Jeri, Vian dan Greta untuk duduk di sebuah meja panjang yang sudah disediakan oleh pihak kafe untuk tempat duduk Jero dan keluarganya.


"Silahkan menikmati welcome drink yang telah kami sediakan" ujar manager memberitahukan kepada Jero dan yang lainnya minuman apa yang sudah menanti mereka saat ini.


Sedangkan para ajudan, sopir dan pengawal yang lain duduk di kursi kursi yang juga sudah disiapkan untuk mereka. Mereka semua duduk menjadi satu, tidak terpisah pisah berdasarkan siapa yang mereka kawal.


"Apa sudah bisa kami menyiapkan hidangan makan malamnya Tuan?" ujar manager kafe bertanya kepada Bram.


"Gimana Bang? Apa makan malamnya dihidangkan sekarang?" ujar Bram bertanya kepada Jero.


"Tanya pengawal" jawab Jero yang menyerahkan keputusan apakah mereka akan langsung makan malam atau tidak kepada pengawal yang sekarang posisi duduknya berada di depan meja yang ditempati oleh Jero.


"Tanya sama mereka yang memakai pakaian putih putih itu saja. Kami yang di meja sini akan menurut dengan mereka" ujar Bram memberitahukan kepada manager kafe kepada siapa manager itu harus bertanya.


Manager kafe kemudian berjalan menuju rombongan para pengawal yang duduk di meja depan meja tempat Jero dan yang lainnya duduk.


"Tuan tuan maaf, apakah makan malam sudah bisa kami hidangkan?" ujar manager kepada para pengawal yang sedang heboh membicarakan apa yang mau mereka katakan.


Pengawal yang mendengar pertanyaan dari manager, langsung saja menatap ke arah manager kafe itu. Tatapan yang diberikan oleh semua pengawal adalah tatapan dingin sedingin es. Manager kafe yang mendapatkan tatapan seperti itu dari para pengawal hanya bisa terdiam sesaat. Manager tidak mengira akan mendapatkan tatapan seperti itu. Dalam bayangan manager Tuan tuan dan ona nonanya saja baik, berarti pengawal mereka juga akan ramah. ternyata oh ternyata sama saja dengan pengawal yang lainnya.


"Maaf Tuan Tuan, tadi saya sudah dari meja Tuan Bram. Tuan Bram meminta saya untuk bertanya kepada Tuan Tuan, apa menu makan malam akan disajikan sekarang atau nanti saja" ujar manager kafe yang sudah mendadak menggigil saat ditatap seperti tadi oleh para pengawal yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang itu.


Josua melihat bagaimana ketakutannya manager kafe itu saat diberikan tatapan yang luar biasa oleh rekan rekan Josua yang lainnya. Josua harus bertindak sebelum manager kafe mengeluarkan sesuatu yang tidak layak dikeluarkannya di depan orang ramai.


"Siapkan sekarang saja manager. Kami juga sudah lapar" ujar Josua yang kali ini menyelamatkan manager kafe dari hal yang bisa membuat malu diri manager kafe itu sendiri.


"Baiklah Tuan, kalau begitu para pelayan kami akan mengantarkan menu makan malam yang sudah dipesan" ujar manager kafe.


Manager kafe dengan secepat kilat berjalan meninggalkan kerumunan orang orang yang memakai pakaian putih itu.


"Mereka sejujurnya keren keren, tetapi mengerikan" ujar manager kafe tersebut sambil berjalan dengan cepat meninggalkan tempat yang mengerikan tersebut.


Semua pengawal melihat bagaimana ketakutannya manager tersebut. Mereka kemudian tertawa dengan keras sekali. Jero yang melihat kelakuan para pengawal hanya membiarkan saja. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap dan kelakuan para pengawalnya itu.


"Kenapa bisa CEO menerima mereka untuk menyewa tempat ini. Bisa bisa mati berdiri gue melayani mereka semua" lanjut manager itu.


Akhirnya manager sudah sampai di dapur kafe. Dia melihat semua menu yang dipesan oleh Bram sudah terhidang di meja panjang yang ada di dapur. para pelayan yang sudah dibreefing untuk melayani rombongan yang menyewa kafe mereka sudah stanbay menunggu perintah yang akan diberikan oleh manager untuk mengantarkan makanan ke meja meja yang sudah terisi oleh orang orang yang memesan kafe.


"Sudah silahkan hidangkan. Kalian sudah tau bukan di meja yang mana kalian harus menghidangkan makanan?" ujar manager kepada semua pelayan yang sudah siap itu


"Sudah manager" jawab mereka dengan kompak


"Jangan sampai tertukar" kata manager memberikan peringatan kepada semua pelayan


"Siap manager" jawab mereka dengan kompak