
"Adalah......... " ujar Jero sambil menatap ke arah Vian. Jero mendekatkan wajahnya ke wajah Vian. Jero memberikan senyuman jailnya kepada wanita yang dicintainya itu. Wanita yang sampai mati akan disayanginya.
"Adalah, dilarang dan tidak diizinkan menggoda dokter. Itu perbuatan yang sangat salah" jawab Vian dengan lugas.
"Nggak ada menggoda dokter" kata Jero membela dirinya.
"Ini namanya menggoda dokter Tuan tampan" balas Vian dengan memajukan wajahnya ke depan.
"Nah siapa yang menggoda. Dokter yang goda pasien, ngomong kalau pasiennya tampan" balas Jero yang bisa memainkan kata kata.
"Mana ada saya ngomong Tuan tampan"
Vian tidak mau kalah dengan Jero. Dia membalas Jero dengan kata katanya.
"Hay dokter dilarang berbohong kepada pasiennya" tegur Jero dan menunjuk Vian dengan jari telunjuknya.
"Hay, pasien di larang menunjuk dokter" balas Vian dan menangkup jari telunjuk Jero dan mengecupnya perlahan.
Vian mengikuti permainan yang dibuat oleh Jero. Vian sama sekali tidak membiarkan dirinya kalah bermain kata kata dengan Jero.
"Jadi apa saya bisa memeriksa Anda Tuan pasien?"
Vian bertanya dengan gaya genitnya. Vian benar benar berusaha menjadi seorang dokter yang terlihat genit kepada pasiennya.
"Tentu bisa dokter. Saya sudah merasakan sakit dari tadi. Sakitnya berdenyut denyut seperti sebuah harum yang menusuk nusuk dada saya dengan tajamnya" jawab Jero dengan gaya khasnya.
"Apa anda berusaha merayu saya lagi Tuan?"
"Ya, anggap saja seperti itu untuk yang sekarang ini Dokter. Saya sedang merayu dokter pribadi saya" jawab Jero.
"Silahkan berbaring di kasur itu. Saya akan mulai memeriksa kondisi kesehatan Anda" kata Vian sambil berjalan menuju kasur tempat biasanya pasien berbaring dan diperiksa oleh Vian.
Jero berjalan menuju kasur sambil memegang dada sebelah kanannya. Dia berjalan seperti seorang pasien yang sedang menderita sakit jantung.
Vian yang melihat gaya jalan kekasih hatinya itu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Vian tidak menyangka kalau Jero bisa seperti itu.
"Sepertinya jantung kamu harus diikat Tuan" kata Vian saat dirinya telah selesai memeriksa Jero.
"Diikat?" Jero memasang wajah pura pura berpikir.
"Tenang saja dokter, sebentar lagi saya akan mengikat orang yang akan selalu mengikat jantung saya ini" jawab Jero.
"Sayang boleh jujur?" tanya Vian dengan suara memelas.
Jero mengangguk.
"Capek sayang bermain peran seperti ini. Mana aku lapar lagi" kata Vian sambil memegang perutnya yang sudah meronta ronta minta diisi.
"Jadi kamu dari tadi belum makan?" tanya Jero kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
Vian menggeleng, dia memang belum sempat makan, karena baru sampai rumah sakit langsung masuk ruang operasi, kemudian layanan kesehatan seperti biasanya.
"Huf, kamu bener bener" ujar Jero menahan rasa kesalnya kepada Vian.
"Mau bagaimana lagi sayang, nggak sempat akunya makan malam" jawab Vian dengan santai.
"Jangan bikin aku marah Vian" kata Jero dengan nada emosi.
"Itu udah marah."
"Bisakan sayang marahnya nanti saja. Aku laper sayang, bener bener laper, nggak sanggup lagi aku sayang menahan laper" lanjut Vian.
Jer menarik tangan Vian untuk keluar dari ruangannya itu. Dia tidak tahu kalau Vian menahan rasa sakit ditangannya saat ini.
Jero tidak lupa memutar pemberitahuan yang ada di pintu ruangan Vian menjadi tulisan closed.
"Kamu ambil tas Nona Vian. Saya akan tunggu di mobil" perintah Jero kepada Hendri dan pengawal pribadi Vian.
"Siap Tuan" jawab pengawal Vian.
Jero da Vian serta Hendri dan pengawal Vian yang sedang berlari mengejar Jero dan yang lainnya itu berjalan dalam satu ritme perjalanan menuju parkiran rumah sakit. Jero sekarang dalam mode marah. Siapapun yang menyapa dirinya sama sekali tidak didengar oleh Jero. Jero tetap fokus kejalanan yang ada di depan dirinya saat ini.
"Hendri ligat" pekik Jero kepada Hendri yang berada di belakangnya.
Hendri berlari menuju mobil. Dia tidak mau Jero memaki makinya di depan orang ramai.
"Cepat masuk sayang" kata Jero seperti orang yang panik keluarga mengalami kecelakaan atau sebagainya.
"Sayang santai dong. Aku belum mau mati atau melahirkan sayang" Kata Vian saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kamu tidak tau bagaimana rasanya tidak makan seharian sayang. Itu adalah hal yang sangat pedih. Aku tidak mau kamu merasakan hal seperti itu" kata Jero dengan suara yang dibalut rasa sedih yang luar biasa.
"Makanya aku sangat kesal saat kamu mengatakan belum makan siang. Aku bener bener marah sayang" lanjut Jero menyuarakan kekesalannya.
"Apa kamu marah sama aku sayang?" tanya Vian.
"Tidak aku sama sekali tidak marah sama kamu sayang. Tetapi sama diri aku sendiri, kenapa dengan bodohnya aku tidak mengerti kalau kamu belum makan siang. Malahan aku dengan semangatnya mengajak kamu bercanda" jawab Jero dengan nada sedih.
"Untuk apa aku kerja keras di luar sana sayang, kalau calon istri aku saja tidak makan siang. Nggak ada gunanya sayang. Harta banyak kalau kamu tidak makan siang" kata Jero dengan emosi.
Vian menggenggam tangan Jero. Dia mengusap tangan yang selama ini sudah mencari uang untuk dirinya.
"Sayang, tolong ingat batas kerasnya. Kamu harus makan. Aku nggak mau dengar sekali lagi kalau kamu terlambat makan. Bagi aku makan kamu itu yang terpenting"
"Aku mohon sayang" lanjut Jero memohon dengan sangat kepada Vian agar Vian ingat untuk makan. Baik makan siang, pagi ataupun malam.
"Ada tidak ada aku, kamu harus makan sayang" lanjut Jero.
"Apa kamu bisa berjanji akan hal itu kepada aku sayang?" tanya Jero dengan menatap tajam ke arah Vian.
Vian mengangguk "aku berjanji. Aku tidak akan telat makan lagi. Aku akan pastikan itu kepada kamu sayang"
"Tolong pegang janji kamu sayang. Aku rela nggak pegang uang, asalkan kamu makan sayah" kata Jero meminta Vian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Siap sayangku, cintaku, pria yang paling aku sayang. Aku akan pegang janji aku. Aku janji akan makan setiap waktu." kata Vian mengulang janjinya sambil meyakinkan Jero.
"Boleh pinjam ponsel?" tanya Jero.
Vian memberikan ponselnya. Jero menekan beberapa kombinasi angka di layar ponsel Vian.
Jero menyetel alarm untuk Vian makan. Setiap alarm itu berbunyi maka yang akan tampil adalah fhoto Jero bukan yang lainnya.
"Sebegitunya" ledek Vian.
"Harus. Kalau tidak maka kamu akan tidak ingat lagi untuk makan, aku nggak mau kejadian itu terulang kembali"
'Tuan benar benar mencintai Nona Vian. Hanya masalah makan saja Tuan bisa semarah ini kepada Nona Vian. Apa lagi kalau Nona Vian sempat terluka, ntah apa yang akan terjadi lagi. Bisa dipastikan dunia akan gempar oleh Tuan Muda' ujar Hendri dalam hatinya.
'Nona Vian layak berbahagia, karena mendapatkan Tuan Muda yang luar biasa perhatian. sangat jarang seorang CEO pemilik perusahaan begitu bucinnya sama kekasihnya sendiri. Terlebih dengan latar belakang Nona Vian seperti sekarang ini' kata pengawal Vian dalam hati dan pikirannya